"Habis ini kamu mau kemana Nat ?" tanya seorang sahabat perempuan saya
"nggak tau, belum cari informasi lagi. kamu sendiri gimana ? sudah tau mau ambil jurusan apa ?"
kami masih berdiri melihat papan pengumuman nilai Ujian Akhir Sekolah yang menentukan kelulusan kami.
muncul seorang laki-laki dari belakang kami dan melihat papan pengumuman, "wah, nilai gue cukup nggak ya buat masuk negeri. belajar lagi deh gue" ucapnya menggerutu sendiri
"Eh Nata, Angel. gimana kalian selanjutnya ? gue denger-denger kalian mau nyoba di Jogja ?"
"kalau gue sih iya, cuma masih bingung nih Ndre jurusan apa. nggak tau kalo Nata"
"gue mau ambil sains murni tapi belum tau jurusan apa. lo sendiri gimana ?"
"gue mau nyoba negeri di Jakarta aja deh, biar nggak terlalu banyak biaya. lumayan kalo dapet bisa nggak ngekos juga kan"
kami masih berdiri di depan papan pengumuman, sementara anak lain sudah sibuk ngobrol di kantin atau di taman sekolah.
"Nat, ikut gue yok. makan di atas, lumayan tadi dapet launch box gratis. ada dua nih" ucap Toni dari jauh
"Ngel, Ndre. gue ke Toni dulu ya, laper soalnya hehe kalo bingung sekarang nambah bikin laper. bye" saya langsung menuju ke arah Toni
saya dan Toni menuju ke lantai 4 dimana hanya terdapat ruangan laboratorium. Sekolah kami hanya ada satu gedung utama, bangunan kantin dan masjid terpisah. Lantai 1 merupakan tempat administrasi dan ruang kelas 1, Lantai 2 terdapat ruang guru dan kelas 2 IPA, IPS, Lantai 3 terdapat perpustakaan dan ruang kelas 3 IPA, IPS.
Lantai yang saat ini saya pakai untuk tempat makan ini biasa menjadi tempat tongkrongan semasa sekolah, terdapat lorong panjang dengan toilet di sebelah tangga. Lantai yang menjadi tempat anak kelas 3 untuk melakukan berbagai macam hal sebenarnya karena kelas 2 atau kelas 1 sudah jelas tidak bisa memasuki wilayah ini karena harus melewati ruang kelas kami, kecuali mereka yang diizinkan oleh kelas 3 untuk ikut bergabung. Terdapat Lab. Komputer, Lab. Bahasa, Lab. Fisika, Lab. Kimia dan Lab. Biologi disini.
"Nat, udah tau mau masuk universitas mana ?" Tanya Toni
"belum kepikiran, tapi udah tau jurusannya"
"ambil apa ?"
"sains murni aja kayanya"
"ikut Angel ke Jogja juga ?"
"enggak, kejauhan. ribet ngurus izinnya"
"izin ke orang tua ?"
"iya Ton, males gue ngomongnya"
Toni memberikan satu kotak makanan, lalu kami buka dan makan bersama. Kami makan di lorong karena semua Lab terkunci, posisi kami berada di depan Lab. Fisika, lalu sebelah kanan kami Lab. Biologi dan dekat dengan tangga. Kami berdua sudah terbiasa seperti ini tapi baru kali ini hanya berdua, dan kami sudah tahu sebenarnya apa yang akan terjadi jika hanya berdua di tempat ini.
Brakkk!!!
terdengar suara sesuatu jatuh di dalam Lab. Biologi, sementara saya dan Toni saling menatap dan tersenyum kecil. Saya sudah pernah mendengar cerita ini dari teman-teman lain, tapi tidak peduli karena bukan kami yang mengalaminya.
srekkkk!!! Brakkkk!!!
kali ini suaranya lebih heboh, dan saya sudah mulai kesal karena jam makan saya diganggu
"kalau laper jangan ganggu orang makan. ngiler lo" ucap saya sembarangan
Toni cuma tertawa melihat tingkah saya ini
tidak lama kemudian, pintu Lab yang tadinya tertutup kemudian terbuka seperti kena angin, ya begitulah pikir saya, itu hanya tertiup angin saja, saya dan Toni melanjutkan makan sampai selesai.
"Nat, liat tuh" kata Toni menunjuk pintu
kemudian saya berdiri hendak menghampiri pintu itu, sesaat saya berdiri, pintu itu bergerak kencang dan terbanting sehingga menimbulkan suara yang sangat keras 'BRAKKKKK!!!'
"GUE NGGAK PERNAH GANGGU ELU DISINI, GUE CUMA MAU MAKAN, NGGAK ADA NIAT GANGGU WILAYAH ELU" saya teriak dan tetap menghampiri pintu itu
saat saya memegang gagang pintu itu, ternyata pintu tersebut dalam keadaan terkunci karena saya bisa melihat besi yang menjadi penyangga kunci. dengan kata lain, pintu ini sebenarnya terkunci sedari awal.
saya dan Toni yang menyadari hal itu langsung balik badan dan berjalan santai, terdengar suara pintu terbuka dan kami berdua tetap berjalan. Sampai di dekat tangga, sebelum turun saya sempatkan untuk menengok ke arah belakang dan berkata pelan "jangan sampai saya hancurkan semuanya yang ada disini"
Toni mendengar hal itu, ketika dia melihat ke arah saya katanya saat itu saya tersenyum menyeringai seperti hendak mewujudkan perkataan saya itu. tapi Toni dengan berani menarik saya turun, sementara saya hanya ingat kalau saya menuruni tangga seperti biasa dan tidak ada yang saya lakukan.
sesampainya di bawah, kami disapa oleh beberapa anak lainnya dan Toni nampak biasa saja tidak membahas hal yang terjadi barusan. saya hanya ikut obrolan itu dan tidak tahu apa yang terjadi tadi saat turun dari lantai itu.
(beberapa bulan setelahnya)
"yakin mau ngerantau Nat ?" Tanya kak Rachel yang sedang ada di rumah membantu Ibu saya memasak karena mau ada acara keluarga
kak Rachel ini sepupu saya yang tinggal dekat rumah saya, karena sedari kecil sering main bersama jadi dia tahu tentang saya
"yakin lah kak, emang kenapa nggak yakin ?"
"nggak ada yang bangunin pagi pagi loh kalo mau kuliah" ledeknya
"yaah kak, bosen lah disini terus. kan Nata juga mau ngerasain jadi anak rantau kak"
"Tante, ini Nata mau bandel nih katanya" ucap si kakak ini memprovokasi Ibu saya
"Bu, kalo saya bandel berarti kak Rachel yang ngajarin bu"
"kalian tuh kalo ketemu, rame aja berdua. Nata besok kereta jam berapa ?"
"jam 9 bu, masih bisa santai emang belum packing ? jauh loh itu, nanti kalo ada yang ketinggalan nggak ada yang antar"
"iya bu, beres kok"
"Nat, itu lemari sama PS nggak dibawa sekalian ?" ledek kak Rachel
"Mobil kak Rachel boleh Nata bawa sekalian nggak ?"
"tuh kan Tante, Nata mau bandel tuh pasti disana tuh" kata kak Rachel
(keesokan harinya)
"Halo Nat! Dimana ?" Ucap seorang laki-laki paruh baya di ujung telepon sana
"Halo om, saya sudah sampai di stasiun" gw menaruh barang bawaan di tempat duduk di peron
"Kamu keluar saja nanti saya ada di pintu utara" ucapnya
"Pintu utara tuh sebelah mana ya om ? maaf" ucap gw yang celingukan mencari tulisan di pintu keluar
"Kamu dari arah datang langsung ambil kiri saja, saya disana" ucapnya
"Oke om, saya jalan kesana" saya kemudian menutup telepon dan berjalan ke arah yang ditunjukkan
Setelah sampai di depan pintu, gw lihat dia berdiri dan menyambut. Dia adalah kerabat lama ayah saya, karena kesibukan ayah yang sering keluar kota jadi nggak ada yang bisa nganterin, abang saya pun sibuk ngurusin skripsi sambil kerja, Ibu bukan tipe yang bisa jalan jauh sendirian, terus akhirnya ayah menghubungi si Om Luki ini untuk temani saya saat awal baru pindah, dan dia juga tinggal disini.
"Gimana perjalanan lancar ?" Ucap om Luki
"Alhamdulillah lancar om" saya langsung mencium tangannya
"Puji Tuhan kalau begitu, kita langsung atau makan dulu ?" Katanya yang langsung merangkul saya layaknya ponakan kecilnya dan langsung berjalan ke arah mobilnya
"Saya udah makan om, tadi mamah bawain bekel" kata saya sambil mengelus perut tanda kenyang
"Yaudah, kalo gitu makan dulu" katanya tertawa
"Lah, si Om lucu bener" kita berdua tertawa
Kemudian kita menuju tempat makan. Selama perjalanan gw sibuk perhatiin jalanan yang kanan kirinya asing buat saya, dan mencoba menikmati kiri kanan yang masih terlihat hijau. Kita banyak berbincang soal kegiatan saya semasa sekolah, lalu cerita bagaimana nanti ketika sudah masuk kuliah. Bodohnya saya karena ternyata Om ini merupakan salah satu dosen di fakultas saya, dia kenal karena ada pelatihan dengan ayah saat di Jakarta.
"semoga gue nggak diajar sama dia" ucap gw dalam hati
Alasan saya nggak mau diajar dia karena kalau nilai jelek akan berpengaruh terhadap kondisi ekonomi saya selama disini. Bahaya lagi bisa kena deportasi nantinya
(sesampainya di kosan)
"Ini kamar kamu Nat" kata Om Luki membuka pintu kamar
Di depan pintu terdapat nomer kamar 18. Saya sempat bingung kok nomernya sampai sebanyak ini karena yang saya lihat ada 4 bangunan terpisah dan memang terlihat banyak kamar
Saya melihat ke dalam, isinya seperti yang dibicarakan tadi sama Om Luki, bahkan sampai catnya baru dan terlihat masih basah.
"Kalo ada apa-apa nanti kamu hubungi ibu kosnya aja, saya kirim nomernya ke kamu. Terus besok kan masih belum ada kegiatan, kalau bisa kamu beli barang-barang untuk perlengkapan dulu. Lokasi ini sentral jadi kalau kamu jalan ke depan gang sudah bisa menemukan banyak toko perlengkapan" ucapnya dengan menunjuk ke arah dimana lokasi perlengkapan itu berada
"Iya Om, nanti saya beli beberapa sih tapi kayanya yang penting tuh saya mesti punya colokan sih Om, biar nggak kejauhan kalo nyolok atau charg hape"
"Yasudah kalo gitu, saya pamit dulu. Nanti kalau ada apa-apa kamu bisa hubungi saya" Om Luki mulai melangkah ke luar kamar
"Iya Om, paling lusa sih saya mesti urus berkas" Saya mengikuti Om Luki dari belakang
"Yasudah, nanti saya kemari lagi lusa untuk jemput kamu dan kita urus berkas sekalian liat kampus" katanya yang kemudian hendak pamit
"Iya, terimakasih banyak Om" saya kemudian mencium tangannya
"Sampai ketemu lagi ya Nat!" Dia berlalu ke luar kosan dan menuju mobilnya
"Iya Om, hati-hati di jalan" saya sedikit tersenyum dan menundukkan kepala
saya masuk ke kosan dan mulai berpikir apa yang harus saya lakukan sekarang, saya benar-benar sendirian disini, di kota yang bahkan saya baru menginjakkan kaki untuk pertama kalinya, nggak punya saudara dan belum kenal siapapun, ada teman saya yang kuliah satu jurusan dengan saya tapi karena ini masih libur, dia nggak mau balik bareng saya dan dia nggak mau menyia-nyiakan waktu ketemu pacarnya cuma untuk ngurusin adek tingkat kaya saya, sial memang anak ini. Dia sempat menawarkan bantuan untuk nyari kosan atau survey begitu tapi saya menolak karena jadwal kegiatan saya yang super padat selama jeda antara pengumuman dan keberangkatan. Saya masih sibuk latihan futsal dan ikut beberapa kompetisi tarkam, lalu ada lagi sertifikasi untuk skill analisis di salah satu instansi di Jakarta, ditambah lagi saya mesti ngeyakinin Ibu saya perihal anak ini harus merantau jauh dari rumah. Wajar kalau khawatir karena abang saya juga kuliah di daerah Jakarta, jadi masih pulang dan paling dia cuma nginep di kosan temennya sehari, sementara saya bisa nginep satu semester nggak pulang, ditambah track record saya selama SMA yang kalau udah latihan entah badminton atau futsal baru pulang jam 1 pagi, atau bahkan bisa jam 3 pagi. Nyokap selalu percaya saya nggak ngelakuin hal yang dilarangnya, jadi sejauh itu kenakalan saya cuma "matiin hape kalo jam 12 malem belum pulang".
Saya berpikir sambil duduk dan sepertinya saya harus membuka koper dan ngeluarin semua barang-barang bawaan. Saya bawa 2 koper besar yang satu diisi baju, celana dan daleman, yang satu lagi isinya selimut, sprei, dan termos, sendok, garpu, piring, dan apalah ini banyak banget kaya anak diusir dari rumah. Saya juga punya kompor listrik dan pemanas air, mungkin saya adalah maba paling prepare karena nggak ngerti daerah ini seperti apa. Sementara gadget, laptop, tablet, charger, earphone, berkas berkas buat daftar ulang ada di tas ransel, saya harus mengeluarkan semua itu untuk diatur tempat penyimpanannya.
Selesai menata kamar, saya keluar untuk mandi (kosan saya ini kamar mandi luar), Ibu udah bawain saya perlengkapan mandi, dari mulai shampo, sabun badan, sabun muka sampe pasta gigi, lengkap. Dia bilang gini sebelum saya berangkat
"pokoknya kebutuhan kamu seminggu udah Ibu masukin disini, ini duit buat awal. Nanti seminggu kemudian kalo duit habis, kamu bisa ambil di ATM. Belajar mandiri, dan jangan boros kamu tuh".
Pas saya mau ke kamar mandi, ada cowok tinggi dan badannya sedikit berisi menegur saya "anak baru ya ?" dia kemudian mendekati saya
"Iya bang, gue Nata" ucap saya dan mengajaknya salaman
"Gue Doni, jurusan Ekonomi" dia menjabat tangan saya
"Dari mana asalnya ?" Dengan aksen khas yang saya paham banget daerah asalnya
"Jakarta bang" ucap saya yang masih merasa sungkan
"Gue dari Depok, disini juga banyak nih anak Jakarta" dia menunjuk ke arah bangunan lain
"Waah kebetulan banget kalo gitu ya, pada suka futsalan nggak bang ?" Tanya saya ke bang Doni
"Sering sih cuma karena ini liburan jadi banyak yang balik, lo main futsal ?"
"Iya bang, bisa doang nggak jago. Kan lumayan buat olahraga bang"
"Oh ya, lo mau mandi ya ? Yaudah lanjut deh. Salam kenal ya, jangan sungkan sama anak-anak" ucap bang Doni yang sangat ramah
"Iya bang, nanti lanjut lagi bang. Permisi" saya kemudian mulai menuju ke kamar mandi
setelah semuanya selesai, saya mulai merasakan dan seperti tersadar bahwa saya sudah melangkah jauh dari rumah. tidak pernah terpikirkan oleh saya bagaimana besok akan dimulai, karena kondisi disini masih sepi dan yang ada hanya mahasiswa baru jadi terlihat seperti asing buat saya, Jakarta terlalu ramai sepertinya.
malam hari usai sholat maghrib, saya tetap di atas sajadah untuk sekedar mengaji, hitung-hitung saya sedikit mendo'akan tempat baru saya ini. kata Ibu, kalau tempat baru seperti ini harus sering dibacakan ayat ayat suci agar dalam ruangan ini tenang.
tok . . . tok . . . tok . . .
"Nat" ucap suara dari luar
di kosan ini yang baru tau saya hanya bang Doni, jadi kemungkinan besar itu suaranya. kemudian saya buka pintu dan ternyata tidak ada apa-apa. saya jelas mendengar suaranya, tapi tidak ada. saya melanjutkan untuk melantunkan ayat suci tanpa henti meskipun beberapa kali terdengar suara ketukan itu lagi.
"Nata, ikut gue yuk ke depan" terdengar suara bang Doni
ada yang berbeda dengan suara kali ini, entah mengapa saya merasa yakin kalau ini manusia. lalu saya buka pintu
"eh bang, kemana ?"
"ke depan, itu di Burjo. ikut ?"
saya dan bang Doni ke Burjo, sekaligus melihat di depan gang ada tempat makan apa saja kalau malam begini.
"tadi lo ngaji ya ?"
"iya bang, kebiasaan kalau di rumah abis maghrib"
"nggak ada yang ganggu emang ?"
saya merasa heran dengan pertanyaan tersebut
"tadi ada sih bang, lo manggil gue ya tadi ?"
"enggak, biasanya begitu emang kalau anak baru. berani ?"
sejujurnya saya belum mengerti arah obrolan bang Doni ini
"emang kenapa takut bang ?"
"enggak apa-apa Nat, nanti kalo lo nggak bisa tidur. ketok kamar gue aja di bangunan tengah, kamar nomer 5"
"oh, oke deh bang. emangnya kenapa sih ?"
"udah nurut aja, gue nggak mau spoiler hahaha"
saya mulai mengerti apa yang dimaksud, mungkin ada hubungannya dengan mistis tapi sebelum itu terjadi, sebaiknya saya harus memberi tahu bang Doni kalau saya sampai lepas kendali
"oh iya bang, itu kan kalau gue yang takut. kalau misalnya nanti malam ada ribut, tolong samperin ya bang, takutnya banyak barang yang rusak"
bang Doni tampak heran dengan perkataan saya barusan, padahal saya ngomong begitu biar nggak kaget kalau ada keributan
"waduh bakal repot nih, yaudah deh nanti gue lakuin"
bang Doni tampak diam setelah obrolan itu, mungkin dia pikir saya becanda dan menganggap bahwa saya yang akan celaka. tetapi bang Doni tetap tidak mau cerita apa yang akan terjadi
setelah mengobrol dengan bang Doni di kamarnya, dan juga beberapa senior kosan lainnya. tidak sedikitpun dari mereka menyinggung masalah yang akan terjadi dengan saya nanti malam, tetapi beberapa senior sudah memberikan beberapa isyarat satu sama lain tentang hal tersebut. saya masuk ke kamar, dan mulai merapihkan tempat tidur.
saya merasa ada mata yang melihat ke arah saya dari celah angin di atas jendela. lalu saya ke kamar mandi untuk cuci muka, sikat gigi dan ambil air wudhu. setelah selesai, saya gelar sajadah dan bersimpuh di atasnya. saya merapalkan beberapa surat pendek untuk membentengi badan saya, dan memejamkan mata sambil tetap berdzikir.
saya mendengar sayup-sayup perkataan "seharusnya nggak begini"
"waduh bahaya ini"
terdengar bahwa mereka bukan manusia, saya tersenyum dan mengusap wajah.
saya memposisikan diri untuk bersiap tidur, seharusnya tidak ada gangguan malam ini.
beberapa jam setelah saya terlelap, saya mulai merasakan ada sesuatu yang sedang menatap saya dan ini bukan cuma satu. perlahan saya membuka mata, dan ternyata sudah tidak dapat terhindarkan lagi. terlihat beberapa makhluk berada di dalam kamar saya, dari yang biasa sampai yang tingkatannya sangat tinggi. Saya merasa takut saat ini, sampai-sampai saya tidak bisa bergerak, aura yang terpancar dari makhluk itu sangat besar, seperti aura kesedihan, hasrat ingin membunuh dan berbagai macam emosi tumpah ruah yang saya rasakan. setelah itu pandangan mata saya gelap, saya tidak ingat apa apa lagi.
"Nat... Nat, bangun lo!" terdengar suara senior kosan
saya membuka mata dan melihat sekeliling saya sudah dikelilingi oleh senior kosan ini. saat saya mencoba bergerak, badan saya terasa sakit semua seperti habis berkelahi.
Penjaga kosan yang mengerti dan mengetahui apa yang terjadi akhirnya mulai menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.
"seharusnya tidak seperti ini jadinya, dalam hal ini bukan Nata yang disalahkan atau siapapun karena ini seperti 'tradisi' yang ada di kosan ini, tetapi saat ini dan seterusnya semua sudah baik-baik saja"
"emang sebenarnya bagaimana pak ? sampai-sampai setiap anak kos baru mengalami hal ini ?"
"dahulu sebelum kos ini dibangun terdapat satu pohon besar yang tidak dapat ditebang, awalnya semua mengira karena memang akar dari pohon ini sudah terlalu dalam dan menyebar, tetapi saat penebangan pohon dan setelah dilihat-lihat oleh yang mengerti tentang ini, maka dapat disimpulkan bahwa bukan pohonnya yang sulit ditebang, melainkan ada hal lain yang ditanam dalam pohon ini"
semua anak kos mendengarkan cerita penjaga kos, termasuk saya yang terbaring di kasurnya bang Doni.
"ada satu pohon di dekat kamarnya mas ini, pohon itu dibiarkan tumbuh karena benda yang tertanam dipindah kesana, dengan alasan konstruksi tidak akan terganggu dan juga si benda itu tetap dalam wilayah ini"
"lalu kenapa dia malah mengganggu anak kos baru ?"
"mungkin karena dia ingin memberitahukan keberadaan dia, dan ingin memberikan pertanda bahwa ini daerahnya"
"terus pak, kenapa tadi bapak bilang sudah tidak akan diganggu lagi ?"
"tanya saja ke mas ini, saya tidak berhak menceritakan hal itu"
saya bingung harus jawab apa, "maaf pak, saya sendiri juga tadi nggak sadar apa yang sudah saya perbuat, yang saya ingat hanya saya sudah berada disini"
"baiklah, jadi tadi begitu masnya didatangi, saya yang tidak bisa berbuat banyak ini mendekat ke arah gerbang kosan. sekitar 5 menit setelahnya, mungkin kalau boleh saya bicara itu leluhur dari masnya yang melawan semua yang datang. Lalu setelah itu seluruh wilayah kos ini dibersihkan oleh beliau, saya kurang paham kalau masnya mengerti tentang itu atau tidak tetapi begitulah kejadiannya"
semua mata anak kosan menuju ke arah saya
"terus pak, ini kondisi ini anak nggak apa-apa ?" salah seorang anak kos menunjuk saya untuk memastikan kondisi saya
"nggak apa-apa mas, dia cuma lelah sebenarnya karena memang perkelahian itu tidak dapat dihindarkan juga"
"gue nggak apa-apa kok bang" saya berusaha bangun untuk duduk tetapi memang rasanya badan saya seperti habis latihan futsal 3 jam penuh
"yaudah Nat, lo boleh tidur di kamar gue kok. nanti kamar lo gue kunci aja" bang Doni menenangkan saya karena dia melihat saya khawatir dengan kondisi saat ini
"yasudah mas, sepertinya semua baik baik saja dan sudah aman terkendali. saya permisi dulu" penjaga kos kemudian keluar dari kamar bang Doni
saya dan anak kos lainnya mulai bercerita tentang pengalaman malam pertama di kos ini yang selalu jadi tradisi. bercerita sampai pagi, sampai semuanya lelah bercerita.
keesokan paginya, saya dan bang Doni serta lainnya lagi asyik ngopi di ruang tv. kemudian, datang seorang anak laki-laki dan keluarganya
"Permisi mas, kamar nomer 5 dimana ya ?"
saya dan anak kos lain saling memandang satu sama lain
-Tamat-