Mawar.
Indah bagai wajahnya
Merah bagai bibirnya
Kuat bagai pendirian nya
Tajam bangai keberanian nya
Kalian pasti bertanya tanya siapa orang yang aku ibaratkan sebagai setangkai mawar merah bukan, orang yang aku ibaratkan adalah seorang wanita, tubuhnya kecil rambutnya hitam panjang tapi selalu terklabang, ia adalah almarhum adikku Halwa.
Setiap mengingat nya, aku selalu merasa bersalah atas apa yang terjadi kepadanya, bagaikan aku membalas air susu nya dengan air tuba, ia selalu ramah kepadaku, selalu berusaha untuk melindungi ku, padahal itu seharusnya adalah tugas seorang kakak bukan tugas seorang adik. Aku kadang berfikir mengapa bukan aku saja yang mati menggantikan nya?, Aku ingat sewaktu ia masih hidup dan terus mengoceh di sampingku, ia selalu berkata " kakak apa kau tau aku sangat menyukai mawar, dan aku ingin menjadi seperti mawar yang kuat dan dapat selalu melindungi kakak, jika aku mati suatu hari nanti apa kakak mau menanam kan sebuah pohon nawar merah di samping makam ku? " Saat itu aku memarahi nya karena berkata demikian, aku tidak bisa terima jika adikku mengatakan hal mengerikan seperti ini.
Tapi siapa sangka perkataan nya saat itu menjadi kenyataan adikku benar benar mati karena melindungi ku. Aku akan menceritakan kembali semua kejadian yang berlangsung sebelum takdir merenggut nyawanya.
-------------🌹
Semua berawal dari terbitnya sang fajar. Cahaya hangat mentari mulai menyebar dari arah Timur, melewati kaca tipis jendela tua dan terhalang oleh tebalnya tirai coklat, dari kejauhan aku mendengar suara langkah kaki yang tidak beraturan, semakin lama langkah itu semakin cepat, dan tirai terbuka " kakak sampai kapan kamu mau tidur, cepat bangun, ayo bangun ", " aaahh Halwa biarkan aku tidur sebentar lagi " kataku menutup wajah dengan selimut, " huhh dasar kakak " seperti nya aku membuat adikku kesal dan sebuah cubitan ia arahkan kepadku, " aaaa Halwa,,, apa yang kau lakukan " teriak ku, " membangun kan mu! " Dasar ia benar benar-benar ganas.
Aku akhirnya terbangun karena cubitan kecilnya, beberapa saat kemudian aku berjalan menuju meja makan dengan seragam rapi dan sebuah tas di tangan, pagi itu kami sarapan dengan sebuah telur dadar yang dibagi menjadi empat bagian, satu untukku dua untuk orangtuaku dan yang satu lagi untuk adikku Halwa, setelah usai sarapan aku dan Halwa seperti biasa berjalan bersama menuju sekolah, didepan rumah aku melihat Halwa sangat bahagia melihat bunga bunga mawar nya telah mekar, " kakak lihat bunganya mekar, indah kan ", sayangnya aku hanya diam bagai mengacuhkan nya " hmm terserah, ayo berangkat, apa kau ingin kita telat ", " baik ayo berangkat " walau aku acuhkan ia tetap menjawab dengan ramah.
Ditengah jalan kami bertemu dengan dua orang preman, mereka mengancam dan menyuruh kami menyarankan uang kami, tapi aku berkata bahwa aku tidak mau menyerahkan nya dan mereka pun marah, sebuah bogem mentah dilontarkan, aku hanya bisa pasrah dan menutup mata , tapi Halwa berlari dan langsung memukul preman itu sebelum mereka memukul ku, tentu saja para preman itu ketakutan dan berlari pergi menjauh, " jangan pernah kembali dan menganggu kami lagi " teriak nya disertai amarah, " kakak tidak apa-apa kan? ", " Halwa kau tidak perlu melakukan hal seperti itu lagi dan berhentilah bersikap seolah-olah dapat melindungi ku! " Tanpa sadar aku mengucapkan hal yang menyakiti hati Halwa.
Kami kembali berjalan menuju sekolah, jalanan menjadi sepi karena Halwa hanya diam Sepenjang jalan dan aku mengabaikan nya begitu saja, saat di sekolah aku semakin mengabaikan Halwa hingga kelas olahraga berlangsung, entah darimana munculnya, sebuah bola tiba-tiba melayang kerahku, secara refleks aku menutup mata sembari menutupi kepala dengan tangan, tapi tidak dengan Halwa ia berlari kearah ku dan menangkap bola yang mengarah kepadaku, semua orang tercengang dengan hal itu dan mulai mengerumuni Halwa, aku yang iri padanya akhirnya pergi dari sana dengan menarik tangannya, " Halwa sudah ku bilang jangan melindungi ku lagi ! " Apa yang aku lakukan kecemburuan ini bagai mengendalikan ku, aku membentak Halwa, " ma-maaf Kaka aku-aku hanya ingin menjadi adik yang baik untumu dan aku berusaha terus melindungi mu,,, ", " melindungi ku bagai apa duri mawar yang tajam " aku menyela perkataan nya dengan sebuah bentakan, dan Halwa pun terdiam.
Beberapa jam berlalu, aku dan Halwa pulang bersama, menyusuri jalan yang sama tanpa saling bicara ataupun menatap muka, sejujurnya aku merasa sedikit bersalah karena membentak nya tadi, aku ingin meminta maaf kepada nya, tapi aku bingung bagaimana harus melakukan nya, hingga aku melihat seorang penjual bunga di tepi jalan, aku melihat ada setangkai bunga mawar merah yang indah di sana tanpa ragu aku berlari ke sana, melintasi sebuah jalan raya yang ramai akan kendaraan berlalu lalang, semua nampak baik-baik saja ketika aku melintas separuh jalan.
Sampai sebuah mobil sedan yang ugal ugalan melintas dengan cepat, mobil sedan itu menuju langsung ke arah ku, saat itu juga aku berfikir apa aku akan mati tertabrak, tapi dari seberang jalan Halwa berteriak " kakak awas! " Dan mulai berlari ke arah ku, Halwa mendorong ku sehingga aku jatuh di bahu jalan, seketika itu pula aku melihat adikku sendiri tertabrak sebuah mobil mengantikan diriku, sontak aku berlari kearah Halwa, aku merangkul nya dan menidurkan nya di atas pangkuanku, " kakak apa kau tidak apa-apa kan? " Bodoh kenapa ia masih bisa menanyakan keadaan ku " Bodoh mengapa kau melakukan ini ", " aku ingin melindungi kakak " bahkan di waktu waktu terakhir nya ia masih bisa tersenyum kepadaku, " kakak aku benar benar menjadi mawar merah ya?, Seluruh bajuku bewarna merah " aku tidak bisa berkata apa-apa lagi dan hanya bisa menangis melihat adikku yang cantik dan Manis kini dipenuhi oleh darah merah yang berceceran.
Beberapa saat kemudian ambulans datang, suara sirine yang memekakan telinga tiba dengan suara ayah dan ibu yang saling berpadu bersaut sautan, para petugas medis mulai membawa Halwa, dan ibu ikut bersama mereka, ayah bertanya kepadaku apa yang terjadi kepada Halwa, aku hanya diam seribu bahasa, " Halwa tertabrak mobil karena diriku, ia mengantikan ku tertabrak hiks hiks " air mata mulai mengalir deras membasahi pipi ku, " tidak apa jangan menangis seorang laki-laki tidak boleh menangis, adikmu akan baik baik saja percayalah " kata ayah berusaha menenangkan ku.
Ayah membawa ku kerumasakit tempat Halwa di bawa, didepan ruang operasi ibu terus menangis, sampai ayah datang dan menenangkan ibu, " maaf kan aku, aku tidak bisa menjaga Halwa dengan baik, maafkan aku, maafkan aku " aku menangis dan meminta maaf kepada orangtuaku, " tidak apa sayang, bukan kamu yang menyebabkan hal ini " ibu merangkul ku dan menenangkan ku.
Waktu berlalu, kini telah lima jam setelah operasi berlalu, Halwa belum juga bangun, beberapa saat kemudian ibu memanggil ku dan berkata bahwa Halwa ingin menemui ku, " Halwa? ", " Ka-kak,,, " suaranya terdengar lirih, " Jagan banyak bicara istirahat lah ", " tidak aku ingin bicara dengan kakak,,, cukup dengarkan saja ya " aku mengalah dan mendengarkan nya, " kakak, jika aku pergi tolong rawat bunga mawar ku ya, dan tanamkan bunga mawar merah di makam ku nantinya, aku ingin mawar merah itu menemani ku disana, dan kakak aku harap kakak dapat melindungi diri kakak sendiri, aku sayang kakak " alat berbunyi jantung terhenti, rupanya yang ia ingin bicarakan adalah kata kata terakhir untukku.
Dengan panik aku memanggil dokter, setelah lima menit kemudian adikku dinyatakan telah meninggal aku berkata ini tidak mungkin, tapi ini adalah kenyataan nya, ibu pingsan, dan ayah hanya menangis mencari menenangkan ku.
-------------🌹
Saat itu aku tidak dapat menerima kenyataan bahwa ia telah tiada, tapi kini aku telah mengiklankan adikku, seperti perkataan terakhir nya aku menanam kan sebuah bunga mawar merah di dekat makam nya, setiap hari aku akan datang ke makam nya dan menyiram mawar merah itu sembari bicara kepadanya tentang apa yang aku alami tanpa adanya dirinya.
Demikian lah secarik kisah yang aku ceritakan tentang nya mawar merah ku yang berharga.
Tamat.