Ketika aku belum benar-benar sadar sejak kejadian yang luar biasa itu,
tiba-tiba aku melihat tubuh lelaki terbaring di lantai dekat selokan yang mengalir.
Dalam busana lengkap, rapi, gagah dengan jas putih yang selalu dikenakan,
benar dia seorang Dokter, aku dengar dia seorang yang dipuja dan selalu dipuji,
hingga menjelma seperti wujudnya kini: sebuah patung, yang bercorak merah darah.
Aku sedang menatapnya dengan wajah yang tidak sopan, dia seolah bertanya padaku:“Kemana dia pergi? Telah meninggalkanku kah, atau kini bersama pemiliknya yang baru”. Aku terkejut mendengar suara itu, rasa sakit yang tidak tertahan itu muncul, sakitnya sehingga aku tidak bisa menahannya. Di dadanya darah, rasa ini yang di inginkan. Tusukan sebuah pisau.
PISAU. Aku bertahan hidup, telah lama aku merindukan udara ini. Lagi dan lagi rasa bau yang sangat nikmat bisa aku rasakan kembali. Saat ia mendapatkanku jauh dalam keterpurukan itu, mengganggu siapa saja yang datang. Tetapi suara yang sama yang terus datang, aku rasa dia pemilik tempat ini yang mengetahui sisi terkecil terdalam sehingga dia mendapatkanku. Berguna, kecil, tajam, mematikan, itulah aku.
***
Katakanlah apa yang bisa aku lakukakan, untuk menggapaimu agar dapat aku mengetahui wujudmu tanpa mendengar tertawamu yang bengis. Sembunyi, dimana sebenarnya keberadaanmu itu. Kegelisahan yang aku rasakan dalam renungan, kesepian, kesunyian. Suara-suara bengis itu berteriak, jauh terdengar berbeda. Suara tertawa bengis yang tajam.
“Dok, pasien yang di ruang ujung kritis”
Tersentak aku kaget, tidak lagi terdengar tertawa. Bergegas menuju ruangan pasien yang kritis, seperti biasa memutuskan untuk membawa pasien ke ruang operasi. Selagi suster mempersiapkan segala sesuatunya, saat lampu operasi menyala. Jantungku berdegup kencang, menatap tajam pasien kritis. Meyakinkan diri bahwa aku seorang pahlawan manusia kritis, tidak pernah sedikitpun aku memusingkan orang lain yang sibuk menangisi orang kritis tanpa bertindak.
Pasien kali ini membuatku sangat berhati-hati menjalankan operasi, memasang cincin pada jantungnya. Setidaknya mengembalikan kerja jantung pasien, operasi bukan kali pertama yang dilakukan. Cukup percaya diri dan sangat bertanggung jawab atas apa yang aku kerjakan, semua orang dalam ruang operasi telah siap.
“Pisau”
Aku meminta Scapel untuk memulai membedah pasien, membeset perlahan kulit hingga dagingnya terbelah. Terlihat jelas di dalamnya jantung yang memuncratkan darah keluar dari lubang yang cukup besar, untungnya cepat dilarikan ke ruang operasi. Pemasangan ring jantung hampir selesai, gunting untuk menutup jahitannya.
***
Pemeriksaan rutin selalu membangunkan tidurku yang pulas, semua mimpiku hancur berantakan saat tersentak suster membangunkanku. Hari ini jadwal asisten Dokter aneh yang mengunjungiku, tampaknya suster ini sedang bahagia. Aku mendapatinya senyum senang memandangi buku laporan kesehatanku, sepertinya akan mudah mendapatkan informasi lebih jitu tentang si Dokter aneh.
“Hai suster, kau pagi ini sungguh cantik.”
“Hai kembali, nona Yiran. Informasi apa yang kau ingin gali dariku, asistennya Dokter Raka” hal yang tidak menyenangkan bila harus bertemu dengan asisten Dokter aneh itu.
“Coba kau lihat, aneh bukan setiap tingkah yang dibuatnya itu. Kali ini apa yang sedang dipikirnya, Dokter kebanggaan di Rumah Sakit ini” menyebalkan.
“Bilang saja sebenarnya kau juga mengkaguminya? Atau jangan-jangan kau menyukainya”
Tidak mungkin aku menyukai Dokter aneh itu, apalagi sejak dia datang keruanganku saat pemeriksaan rutin itu. Dia tiba-tiba menjadi orang yang sangat sedih menceritakan semua hal yang buruk tentang kehidupannya. Memang aku sebagai pasien mau mendengarkan keluh kesah seorang Dokter, seharusnya dia yang mendengarkan kesedihanku menahan perih sakit yang mengejutkan datang di Jantungku.
Aku tidak menyadarinya saat dia selesai bercerita padaku, bahkan tidak pernah aku menjadi pendengar yang baik. Namun aku mengerti yang dia rasakan, seolah aku tahu semua kehidupannya. Itu yang membuat aku memanggilnya dengan sebutan Dokter aneh, tapi dia menyukai sebutan itu benar-benar aneh kenapa bisa dia menjadi Dokter kebanggaan.
Sebenarnya Rumah Sakit ini, pantas menjadikannya seorang Dokter kebanggaan. Selama yang aku dengar dari banyak orang yang bekerja di sini, dia seorang yang cekatan, pintar, dan pekerja keras, terlihat dari apa yang dia kerjakan. Terbukti dengan ruangan yang ditempatinya tepat di dapan ruang operasi, tertulis di atas meja. Dokter Raka, spesialis bedah Jantung.
Badan tinggi berisi, membuatnya tampak gagah tegap. Dengan kulit putihnya layak model dengan kemeja polos warna biru muda yang senada dengan jas putih Dokter. Harum tubuh yang setia menemaninya, rambut hitam rapi. Jika dilihat paras wajahnya manis membuatnya menjadi pusat perhatian, dia bernama Raka.
“Betul dugaanku, kau benar menyukainya” kata suster mengagetkanku lagi.
Akan aku jawab itu benar, aku menyukai Dokter aneh itu. Agar aku dapat mengetahui kehidupan Dokter aneh itu. Kalau tidak aku jawab, asistennya akan menganggap aku pengganggu. Karena kerjanya selalu aku berhentikan untuk sebentar berbincang. Akhirnya asisten si Dokter aneh itu membuka ceritanya, aku tidak sabar ingin tahu yang sebenarnya dari kehidupan Dokter aneh.
Suster, Asisten Dokter aneh. Pada awalnya Dokter raka bukanlah spesialis Dokter bedah Jantung, apalagi dijadikan kepala ruangan operasi. Dia tidak menginginkan posisi itu, dr.Raka orang yang sangat cekatan, berani mengambil resiko besar saat dia melihat langsung pasien sakit Jantung. Oleh sebab itu, dr.Raka menjadi spesialis bedah Jantung.
Pekerjaan itu, termotivasi hatinya karena kejadian yang dialaminya sendiri waktu itu. Di Rumah Sakit dr.Raka hanyalah Dokter umum biasa, dipekerjakan di ruang staf admin dan siaga jika ada Dokter lain yang membutuhkannya mendampingi pemeriksaan. Saat di ruang gawat darurat, tidak berapa lama dr.Raka dalam ruangan.
Suara sirine datang dan bergegaslah dr.Raka untuk periksa pasien, seketika dia terdiam yang dilihatnya seorang perempuan tidak sadarkan diri. Ternyata itu orang tua dr.Raka, cepat dia memberitahukan yang lain untuk cepat dibawa ke ruang operasi. Saat itu semua orang panik melihat dr.Raka yang membuat suasana kacau, tidak lama menunggu Dokter spesialis datang untuk melakukan operasi tidak berada ditempat.
Dia hanya memandangi ibunya tidak berhenti, tidak berdaya. Memeluk ibunya menyesal detik-detik kepergian ibunya, sejak kejadian itu dr.Raka selalu berjaga-jaga dan memberanikan dirinya meminta pendidikan kembali untuk menjadi spesialis.
***
Setelah mengerti masa lalu dr.Raka dari asistennya, aku turut prihatin dengan keadaannya. Aku memberanikan diri untuk datang ke ruangannya, kali ini aku siap mendengar apa yang akan disampaikan Dokter aneh. Keberuntunganku berpihak kepadaku, dr.Raka ada dalam ruangan. Saat melihatnya, semakin hari semakin tidak bersemangat si Dokter aneh itu.
“Dok, boleh aku masuk”
“Masuklah, aku tahu akan datang menemuiku”
Masih dengan gayanya yang dingin, seharusnya kau tidak bersikap seolah-olah dengan orang lain. Sebab aku sudah lebih dulu mengetahui semua sikap anehmu, bukannya kau yang memperlihatkannya kepadaku. Apa yang dipikirkannya, sukar untuk direka-reka.
“Aku tahu kau mencari tahu tentang kehidupanku, benar begitu nona Yiran”
Aku terkejut dengan pernyataanya yang terakhir, darimana kau mengetahuinya. Asistennya, apa dia tidak bisa dipercayai. Mengapa dia memberitahui, tapi apa mungkin benar asistennya. Bukankah dia telah berjanji untuk tidak mengatakan apapun tentang yang aku pertanyakan kepadanya siapa saja sekalipun itu dr.Raka.
Kau itu dukun lebih cocoknya, daripada harus menjadi seorang Dokter. Selalu benar menebak apa yang akan aku ucapkan, dan mendiagnosa pasien untuk segera di operasi. Sikapmu yang seperti ini, membuat seluruh Rumah Sakit memberikan penghargaan Dokter Kebanggaan kepadamu.
“Asal kau tahu, aku tidak pernah bahagia dengan sebutan Dokter Kebanggaan”
“Kau ini, juga mengetahui isi pikiranku. Pertanyaan itu yang aku pikirkan” jawabku kesal dengan Dokter aneh itu.
“Yiran, bukankah kau pasienku. Itu sebabnya mengapa aku mengetahuinya, tanpa harus kau bertanya kepadaku. Pertanyaan seperti itu tidak harus aku jawab lagi, karena orang sudah mengetahuinya. Bukan rahasia”
“Apa kau tertekan, Dok”
“Iya atau tidak, aku sudah menjawabnya. Mengapa kau begitu tertarik dengan kehidupanku, aku tampankah?”
“Ah kau ini, Dok. Aku bertanya serius, karena aku peduli dengan Dokterku. Aku berhutang budi kepadamu, saat itu tiba padaku. Dengan percaya dirimu aku yakin, aku mampu hidup kembali dengan organ tubuh yang tidak sempurna lagi. Aku berjanji, jika mampu aku akan membantumu untuk membalasnya apapun itu. Dokter Raka”
“Keyakinanku benar, dengan mudahnya aku menyelesaikan operasi. Tetapi tidak sedikitpun aku bangga, puas, atau bahkan bahagia telah memberikan kesempatan untuk orang kritis hidup normal kembali. Sebab aku menjadi dokter sekarang tidak ada gunanya, yang terpenting aku berkerja mendapatkan hasil untuk kehidupanku sendiri.”
“Kau sungguh percaya diri, Dok”
Dokter Raka, kau seperti orang yang harus dikasihani. Bukan untuk dibanggakan, sebenarnya kau tertekan dengan kehidupanmu. Aku benar berharap, jika nanti aku di operasi denganmu dan berhasil seperti yang sering kau lakukan. Akan aku penuhi semua ucapkanku untuk mengabulkan ke inginanmu.
“Kau tahu Yiran, namamu ini selalu mengingatkanku akan suara-suara yang sering aku dengar tanpa aku tahu dimana suaru itu, apa wujudnya”
“Dok, jangan kau menakutiku seperti itu. Aku tidak akan termakan apa yang kau ucapkan” lanjutku ketakutan saat Dokter aneh itu berkata.
“Aku serius, suara ketawa yang bengis. Menyebutkan Yiran, Ranyi, Irany, atau Anyir, suaranya kecil jauh tidak terdengar jelas. Aku sedang menimatinya, kalimat itu yang jelas terdengar saat aku sedang mengoperasi”
Aku tidak merasa ketakutan lagi, saat Dokter aneh itu berkata mendengarnya saat mengoperasi. Mungkin itu alusinasinya saja, yang terlalu percaya diri dengan caranya mengoperasi pasiennya. Tetapi aku penasaran, benarkah aku yang inginkan, atau rasa, bau, aroma Anyir dari darah yang di inginkan. Suara apa yang sedang didengarnya ini.
***
Saat mengoperasiku tiba, jantungku yang rusak ini. Ternyata masih berfungsi walau sakit akhirnya, layak orang yang tidak mengalami sakit apapun, jantung ini berdegup kencang seolah takut menghadapi ruang operasi. Sehatkah jantung ini, tapi sakit sekali saat kencangnya berdegup.
Aku berusaha meyakinkan diriku dengan terus memandanginya, aku yakin aku bisa menghirup udara segar kembali. Jika dr.Raka yang menanganiku, jikapun tidak. Aku ingin dr.Raka tidak semakin terpuruk dengan kegagalan yang dia lakukan, aku akan ikhlas untuk itu. Aku juga akan tetap berusaha hidup, bertahan dalam operasi.
“Kau percaya padaku, Yarin. Jika kau yakin, semua akan baik-baik saja.”
Obatnya mulai bereaksi menelusuruni tubuhku, kaku tidak bergerak kurasa begitu. Perlahan aku pejamkan mataku untuk bersiap segera di operasi, besetan itu terasa dikulitku saat pisau itu tertancap. Benar aku mendengar suara-suara apa yang dikatakannya, suara panggilan, suara tertawa yang bengis, suara yang merasa bahagia.
Suara apa itu, benarkan pisau ini menikmati setiap aroma, bau, dan rasa ini. Darahku yang di inginkan ataukah bukan, sebab suara itu tidak sepenuhnya bahagia. Semakin keras suara itu, ingin aku membuka mataku. Aku ingin melihat apa yang sebenarnya terjadi, namun sia-sia aku merasa sangat jauh. Perlahan-lahan suara itu mehilang.
Dokter Raka. Yarin, aku mohon bertahanlah
ini tidak akan lama. Aku mohon bertahanlah, jangan kau pergi menutup matamu erat-erat. Jangan membuat aku merasa terpuruk, aku mohon bangunlah. Yarin kau dengar suara-suara itu, Yarin ayo bukalah matamu itu. Dan lihatlah wujud apa yang bersuara itu, Yarin.
***
Siapa kau sebenarnya, aku tidak ingin mendengar suaramu. Jangan membua hidupku hancur, dengan mendengar suaramu, tertawamu membuatku ingin menghabisimu. Aku tidak takut jika kau lebih besar dariku, kau lebih tinggi dariku, atau kau lebih pintar dariku. Apa kau menginginkan pekerjaanku saat ini, jika kau runcing tancapkan pada tanganku, atau kau pipih tajam goreskan ke kakiku potonglah kakiku, jikalau kau sebuah pisau tusuklah aku.
Kau benar, kau dapat mengetahuiku. Raihlah aku dalam sakumu, lihatlah wujudku. Aku yang selama ini memanggilmu, aku yang mengganggu pekerjaanmu. Bahkan akulah teman sejati yang menemanimu bekerja, tidak adanya aku. Kau tidak berguna, aku bahagia telah mencium aroma ini lagi. Aroma yang nikmat, bau yang aku rindukan, rasa yang inginkan.
Kau memberikanku aroma dan bau darah ini, rasa anyir kembali kau berikan padaku. Karena kau membutuhkan aku setiap pekerjaanmu, sebuah pisau yang kau butuhkan pertama kali untuk menolong orang kritis. Kau dibanggakan dengan banyak orang, tidakkah kau berterimakasih padaku. Sekarang kau akan memusnahkanku, begitukah kau mengucap salam pertemanan.
Sekarang kau digenggamanku, mau apa kau sekarang. Hendaklah bicara kau terus, sudah cukup aku mendengarmu selama ini. Kau yang sudah merubahku, menjadi orang tidak tahu diri hanyut dalam puja-puji orang-orang yang menangis tanpa bisa bertindak. Aku tidak akan menjadi budakmu lagi, akan aku musnahkan kau.
Aku cengkram tubuhmu pisau, diam kau sekarang. Jika runcing itu membuatmu sombong, aku tancapkan kau terus-terus dan lagi hingga kau tumpul dan tidak berdaya, atau pipih tajam kau merasa berguna, tidak akan lagi kau temukan tubuhmu yang lurus. Akan aku goreskan di tempat yang keras, hingga kau tersangkut dan terlipat-lipat. Jikalau kau sejatinya sebuah pisau, akan aku tusuk-tusuk kau hingga dalam yang terdalam sampai tumpul dan kau yang tidak berguna lagi.
Kau sungguh tidak berguna, hendak menyelamatkan orang kritis. Tetapi kau tidak akan pernah bisa menyelamatkan ibumu sendiri, tidak ada guna kau hidup. Tidak lagi bisa kau berbangga dengan hidupmu kini, setelah aku berhasil menancapkan tubuhku masuk menembus tubuhmu yang tidak memiliki artinya.
Suara yang seringkali aku dengar jelas, keras dan besar. Suara tertawa bengisnya, selalu terdengar ditelingaku. Kini tidak lagi aku mendengar suara tertawa itu besar, namun perlahan mengecil kecil terasa sangat jauh dan jauh tidak terdengar lagi. Sampai aku tidak lagi bisa menutup mataku sempurna.
***
Seketika tersentak bangun, tidak dapat lagi bergerak. Terbujur kaku, dibawah pengaruh obat anti rasa sakit. aku melihat tubuh lelaki terbaring di lantai dekat selokan yang mengalir. Dalam busana lengkap, rapi, gagah dengan jas putih yang selalu dikenakan, benar dia seorang Dokter, aku dengar dia seorang yang dipuja dan selalu dipuji, hingga menjelma seperti wujudnya kini: sebuah patung, yang bercorak merah darah.
Aku sedang menatapnya dengan wajah yang tidak sopan, dia seolah bertanya padaku:“Kemana dia pergi? Telah meninggalkanku kah, atau kini bersama pemiliknya yang baru”. Aku terkejut mendengar suara itu, rasa sakit yang tidak tertahan itu muncul, sungguh sangat sakit sehingga aku tidak bisa menahannya. Di dadanya darah, rasa ini yang di inginkan. Tusukan sebuah pisau. Inikah yang di inginkan YIRAN atau ANYIR.
Tak sadarkah kau, kaulah kini pemilikku.