Nama ku Kiara, panggil saja Ara. Seperti siswa siswi umum nya, aku..ehem..uhukk.. be.. belajar! Astaga, sesulit itukah kata-kata itu? Tunggu, kalian tidak percaya aku belajar!? Wah wah, aku juga belajar tau. Yah, kalo ada ulangan saja sih, selebihnya... um tanda tanya.
"Aaahhh...membosankan! Pinggang ku, umm"
Ucap ku sambil merenggangkan tangan.
Yah betul, besok akan ada ujian. Kalimat mematikan dan di takuti oleh semua siswa. Hahaha, yaah begitulah. Ku tengok kanan dan kiri, setumpuk buku ada di setiap masing-masing meja. Di dampingi oleh mayat hidup... em maksudku teman-teman ku yang juga sedang belajar bersama. Rambut acak-acakkan, mata panda, baju bodo amat yang penting pake seragam sudah cukup membuktikan mereka adalah teman seperjuangan ku.
"Hey Ra, kau tau soal ini ngak?"
Tiba-tiba saja ada seseorang yang memegang pundak ku. Seorang pria dengan rambut berantakan, memakai kacamata. Salah satu teman ku juga. Akupun mengecek lembar soal yang dia maksud. Berbagai rumus tertulis di sana, gawat.
"Ini matematika ya? Aah yang X itungan nya 9 kan?" *ngawur
"Percuma tanya kamu Ra, wong itungan yang X aja 4, kalo udah salah di awal ku menghawatirkan jawaban akhir(╥﹏╥)"
"Jangan tanya matematika dengan ku bambang, ku masih berusahaಥ‿ಥ"
Yah beginilah rutinitas pagi ku yang sungguh suram.
.
.
.
Yah selama beberapa jam kelas di mulai. Sampai sudah saat nya untuk pulang.
"Nah anak-anak jangan lupa ya, b e s o k s e n i n u j i a n!"
Ucap guru kami sambil tersenyum. Matanya yang menunjukan bahwa tiba hari yang ia nanti-nanti, dan senyum mengandung banyak arti. Kami semua hanya menelan ludah, dalam pikiran liar kami beliau mengatakan 'besok senin neraka bagi kalian'
"Pak, ujian nya di undur boleh?"
Kami semua menatap anak yang tadi bertanya. Suara nya sangat percaya diri. Ku kenal dirinya, dia adalah cowok populer di sekolah ini. Wajah yang tampan, tinggi badan ideal, dan lebih tercengangkan nya lagi, dia murid terpintar di sekolah! Kenapa dia mengorbankan dirinya sendiri dengan bertanya seperti itu? Apa keuntung baginya? Ah masa bodo, hikss thanks bro sudah mempertanyakan pertanyaan keramat. Jasa mu tak terlupakan, hiks.
Dan benar saja, hawa menjadi mencengkam. Kami melihat guru kami dengan senyuman mematikan dengan penggaris panjang yang ia bawa, menjawab...
"Kalian ingin ujian di undur? Hmm? Boleh kok boleeehhh, bapak WA orang tua kalian dulu ya. Bapak tulis 'Mohon maaf pak, bu, putra putri kalian minta TIDAK naik kelas.Ujian akan ditiadakan', begitu ya? "
Kami semua langsung protes dan berusaha mencegah hal buruk terjadi.
"Jangan pak!Kami sayang nyawa"
"Saya sudah belajar kok pak, tenang saja"
"Hahaha itu hanya candaan nya Reno"
"Lucu sekali kawan"
Kami semua berusaha mengelak. Dan akhirnya hawa mencekam bisa mereda. Huftt, syukurlah. Ku lihat Riko di jitak teman sebangku nya. Tapi tidak dapat di pungkiri aku masih belum siap untuk ini. Aku langsung mengangkat tangan ku untuk bertanya.
"Pak, saya mau ijin belajar di kelas, kan kelas kita dekat dengan perpus jadi saya bisa membaca materi yang ada sepuas hati"
Guru kami diam sesaat. Kemudian ia menganggukan kepala nya.
"Boleh saja, tapi usahakan jangan terlalu malam dan segera pulang!"
Ucap beliau dengan tegas. Aku hanya menganggukan kepala ku. Tak lama, sepertinya semua teman sekelas juga mengangkat tangan mereka.
"Masa Ara doang, saya juga Pak"
"Pak saya juga"
"Ikut"
"Belajar bersama ya, saya ikut juga deh Pak"
Ternyata semua juga sama seperti ku. Hikss teman perjuangan ku, kalian tidak tega meninggalkan diriku sendiri ya. Hikss, aku terharu.
"Wah wah, banyak sekali. Boleh, Bapak malah senang kalian semangat belajar. Kunci kelas ada di Pak Joko"
Kami semua mengangguk mengerti. Pak Joko adalah penjaga sekaligus sucurity di sekolah kami. Suara bel berbunyi, menandakan pelajaran telah usai. Setelahnya wali kelas kami pergi meninggalkan kelas. Secara spontan, Siska si ketua kelas langsung berdiri dari bangku nya.
"Beberapa cowok tolong ambil buku di perpus"
Ucap nya Siska si ketua kelas.
"Buku apa Sis?"
Ucap Edo, dia adalah wakil kelas kami.
"Buku kancil dan buaya!Pake nanya lagi"
Semua yang ada di kelas tertawa. Yah dan mereka melakukan tugas mereka. Kami pun titip buku yang kami inginkan kepada seseorang yang bertugas mengambil buku di perpus.
Dan yah, kami belajar bersama. Saling membantu jika ada pertanyaan yang belum kami kuasai. Sampai...kejadian tak terduga terjadi.
"Eh, udah jam 4 sore ni"
"Wuih sore amat, emak marah ngak ya" *khawatir
"Hayolo yang ngak izin sama emak nya" *tertawa
"Hahaha, keasikan belajar sih"
Mereka bercanda gurau bersama. Tak lama, ada suara keras berbunyi. Suara yang amat keras. Semua yang mendengar melihat ke satu orang. Satu siswa memegang perut nya dengan wajah malu.
"Ehehe, maaf itu suara perut ku"
"BWAHAHA, suara apaan dah, bengek"
Ucap Edo sambil tertawa. Siska yang mendengar tawaan Edo langsung menjitak kepala Edo.
JTAKK!
"Jangan begitu bego!💢"
"Kan bercanda(╥﹏╥)"
"Hehehe gak papa Sis, eh ke kantin yuk! Aku juga lapar"
Mereka setuju, namun ada beberapa anak yang tertidur. Ada Ara, Riko, dan beberapa anak lainnya.
"Mereka bagaimana?"
"Biarkan saja mereka tidur, kita beli beberapa jajanan juga nanti untuk mereka"
Setelahnya, mereka yang tidak tertidur langsung keluar dari kelas. Masalah di mulai. Edo tertinggal dengan rombongan lain. Dengan santai nya, Edo menutup pintu kelas dan menyusul yang lain. Sialnya tidak ada yang melihat sesuatu yang di lakukan bocah ceroboh itu.
Pak Joko datang setelah nya.
"Dasar bocah-bocah sembrono, kan sudah dibilang kalo sudah pulang bilang ke penjaga. Haah untung saya tau"
Ucap Pak Joko sambil mengunci pintu kelas. Pak Joko pun pergi sambil membawa kunci. Beliau tidak tau jika di dalam masih ada murid yang tersisa.
.
.
.
Sudah hampir 20 menit mereka terkunci. Mereka yang ada di kantin juga belum datang kembali. Tak lama, Ara yang tidak nyaman tidur di posisi duduk terbangun. Menguap dan mengusap mata nya. Melihat ke kanan dan ke kiri, memproses apa yang terjadi.
"Hoaam, hm ini... oh ya kan kita sedang belajar di kelas. Yang ada di sini kok tinggal dikit, mereka pulang ya?"
Ucap Ara sambil berdiri dari bangku nya. Tanpa ada angin, tanpa hujan, Ara terjatuh ke lantai.
GEDEBUK!
"Awww, sial, kaki siapa sih"
Ku melihat kaki yang meyandung ku. Terlihat Riko yang tidur di lantai dengan tas sebagai bantal. Ni bocah, bisa-bisa nya tidur di sini. Bocah populer dan pintar ternyata merakyat juga. Aku pun tanpa dosa menendang kaki nya.
"Woi, bangun!"
"Hiss apaan sih! Hoaam, ngantuk juga"
Ucap Riko sambil mengusap mata nya.
"Yang lain pada pulang ya? Kok cuma tinggal kita ber 6 aja di sini?"
Ucap ku sambil melihat sekitar. Hanya ada aku, Riko, dan ke empat teman lain nya. Riko pun segera bangun dan berdiri, ia melihat sekitar.
"Ngak mungkin lah, tas mereka saja masih di sini"
Benar juga, hm aneh. Aku pun berjalan mendekati pintu. Saat aku berniat membuka nya, lho kok?
"Rik, kok ngak bisa di buka ya?"
Tanya ku dengan panik.
"Halah gitu aja gak bisa"
Ucap Riko dengan santai.
"Beneran ngak bisa Rik! Bantu napa! Ngak bisa di buka ini💢"
Riko berjalan mendekati ku. Ia mencoba membuka pintu, namun sudah di coba beberapa kali tetap saja tidak bisa.
"Lho kok"
"Gimana ni, pintu nya rusak kah?"
Tanya ku dengan khawatir. Riko pun mengecek lubang pintu, walau kecil kami dapat melihat nya dari dekat apa yang ada di luar atau dalam gangang pintu. Wajah Riko mulai panik, aku pun bertanya apa yang terjadi.
"Napa Rik? Ngak ada apa-apa kan?"
"Kayak nya kita ke kunci deh" *khawatir
"Jangan bercanda! Minggir, biar ku lihat"
Kami bertukar posisi. Aku mendekat 'kan mata ku ke lubang. Dan benar saja, pintu ini terlihat sudah di kunci.
"Jangan bercanda! Masa kita ke kunci sih? Sumpah, ngak lucu"
Ucap ku dengan kesal. Tak lama, yang lain juga terbangun karena mendengar suara berisik kami.
"Ada apa?"
"Hoaam, kok sepi?"
Ucap mereka dengan penasaran.
"Guys, kayak nya... kita ke kunci dari dalam deh" ~Riko
"Oh ke kunci, kirain apaan"
"..."
"TUNGGU UAPAA!?"
Semua yang ada di kelas panik. Aku hanya bisa diam sambil melihat kebodohan mereka. Kan tinggal tunggu yang lain toh tas mereka masih ada di sini. Hm yah jadi hiburan tersendiri lah.
"Kita lompat di jendela yuk!"
Usul salah satu teman ku.
"Geblek, kelas kita ada di lantai 2" ~Ara
"Yakan ngak ada salah nya coba"
"Coba masuk rumah sakit? Ide yang cermelang, aku mah ogah thank you" ~Ara
Lebih bodoh nya lagi, salah satu teman ku mencoba mendobrak pintu.
"Bro, lu mau kita di marahi guru? Tunggu aja yang lain-_-" ~Riko
Dan benar saja, tak lama kemudian kami mendengar suara langkah kaki menuju ke mari. Dengan barbar, kami ber-enam berteriak ke mereka yang ada di luar.
"WOI BUKA!"
"SIAPA YANG BERANI NGUNCI KITA!?"
Suara ribut mengagetkan teman-teman kami yang ada di luar. Ketua kelas kami Siska dengan bingung nya bertanya...
"Siapa yang mungunci kalian, ah tidak. Kunci kelas cuma Pak Joko yang simpan. Jujur, siapa yang menutup pintu kelas?"
Ucap Siska dengan tegas. Edo si pelaku hanya diam. Kemudian dengan senang hati ia akan memanggil Pak Joko.
"Guys, aku..em mau ambil kunci di Pak Joko"
Ucap Edo dengan suara tergagap-gagap. Siska agak curiga terhadap wakil ketua kelas. Belum juga Edo berbalik, Siska mengatakan.
"Edo? Kamu...tidak menyembunyikan sesuatu dari kita kan?"
"T..tidak tu"
"Beneran?"
Ucap Siska dengan mata mengintimidasi. Edo hanya menelan ludah dan langsung lari terbirit-birit.
"Fiks lah, kayak nya ini ulah Edo"
Ucap ku yang sedari tadi mendengar obrolan mereka.
"Kita terkunci di luar dong?"
Siska mengangguk membenarkan.
Tak lama Edo datang sambil membawa Pak Joko di belakang nya. Dengan cepat Pak Joko membuka pintu dengan kunci yang ia bawa. Ara, Riko, serta ke empat murid lain nya keluar.
"Haah akhirnya, ku kira aku akan terkunci semalaman"
Ucap Ara sambil merenggangkan tangan nya.
"Anak-anak, besok jangan di ulang lagi ya. Untung bapak belum pulang"
Ucap Pak Joko menasihati kami. Semua nya hanya bisa menunduk dan meminta maaf ke Pak Joko. Setelah nya kami memutuskan untuk pulang. Membawa tas serta buku perpus untuk di kembalikan.
"Ee anu teman-teman, maaf ya tadi... aku tanpa sadar menutup pintu nya, ehehe"
Kami ber-enam yang tadi terkunci mengepalkan tangan kami. Dan...
JTAAKKK! BUKK!
"AWW"
Kami menjitak Edo secara bersamaan. Bahkan Riko saking kesal nya memukul Edo.
"Dasar"
"Geblek"
"Huftt, untung aku penyabar"
"Huee, maaf(╥﹏╥)"
Ucap Edo sambil memegang kepalanya yang sakit.
.
.
.
Sori kalo gaje, jangan lupa Like and Komen.