Haiiii, salam manis.. sebut saja namaku Lupi..
Seperti biasa aktifitas pagi setelah beres di rumah aku pun bersiap untuk berangkat ke tempat kerja sambil sekalian jalan dengan Arif (suamiku) karena tempat kerja Arif melewati toko tempat aku jaga, aku hanya seorang penjaga toko kue khas daerah medan.. Bika ambon Lusi, toko yang sudah berdiri lebih dari 5 tahun.
Aku masih terbilang baru bekerja di toko kue itu, yaah baru 2 bulan.. aku menjaga toko berdua dengan Seli. Untuk mengirit pengeluaran jika harus makan di luar, aku dan suami sepakat membawa bekal, kami masak bersama, beruntungnya lagi suamiku bisa masak.
Setelah semua selesai, jam di dinding juga sudah menunjukkan pukul 7, aku pun bergegas hendak berangkat kerja setelah bekal sudah ku masukkan ke dalam tas.
Tiiin.. tiin.. tiii.. Arif membunyikan klakson motor.
"Udah belum?" tanya Arif yang sudah duduk di atas motor dengan memakai helm di kepalanya serta tas punggung yang di kenakan di depan badannya.
"Iya tunggu, lagi pake jilbab dulu." jawab Lupi dengan tergesa-gesa memakai jilbab.
"Lama banget sih." keluh Arif, saat melihat Lupi mengunci pintu rumah.
"Iya wel.." jawab Lupi dengan cemberut.
Lupi pun duduk di boncengan belakang memeluk erat pinggang Arif.
"Ada yang ketinggalan gak?" tanya Arif sebelum menarik gas motor.
"Gak ada, udah jalan napa.. bawel banget luh." ucap Lupi.
"Gua ngingetin luh, takut ada yang lupa.. luh kan biasa lupa beb." ucap Arif yang berusaha sabar dengan tingkat pelupa Lupi.
"Gak ada sayangku, manisku.. ayo jalan. nanti aku telat nih." pinta Lupi.
Arif pun melajukan motornya keluar dari gang sempit menuju jalan raya.
"Yank, tar di gang depan berenti dulu ya." pinta Lupi.
"Mau ngapain?" tanya Arif.
"Aku mau beli permen.. gak enak sama Seli dan customer kalo napas aku bau jengkol.. hehehe." tutur Lupi.
"Iya.."
Akhirnya Arif menghentikan motornya di warung yang di maksud Lupi.
Lupi membeli permen dan hendak membayar.
"Loh hp aku mana ya?" * batin Lupi saat melihat kantong dalam tas yang biasa di gunakan untuk menyimpan hp dan juga uang tapi ternyata tidak ada hpnya, yang ada hanya uang.
Lupi pun mengambil lembaran kertas uang 2ribu untuk membayar permen.
"Yank.. hehehe.. jangan marah ya.." bujuk Lupi saat sudah berdiri di samping Arif.
"Ada yang gak beres nih.. kenapa emang?" tanya Arif dengan memicingkan kedua matanya.
"Hp aku ketinggalan di rumah." ucap Lupi dengan cepat.
"Astaghfirullah.." ucap Arif dengan menggelengkan kepalanya, "udah ayo naik." ujar Arif.
Akhirnya Arif dan Lupi pun balik lagi ke rumah untuk mengambil hp Lupi yang tertinggal di rumah.
"Pastiin gak ada yang lupa lagi tar." ucap Arif mengingatkan Lupi saat hampir sampai rumah.
"Iya." jawab Lupi lirih.
Lupi pun bergegas meraih kunci dari dalam tas dan membuka pintu rumah yang terkunci.. saat pintu sudah terbuka, Lupi pun mencabut kunci dari pintunya masuk kedalam rumah dan meletakkan kunci di atas televisi yang ada di kamar dan mulai mencari keberadaan hp miliknya..
"Itu dia." ucap Lupi saat menemukan hp ada di atas tempat tidurnya, "Kenapa gak bilang sih kalo kamu ketinggalan?" tanya Lupi pada hpnya sendiri.
Tiiin.. tiiin.. klakson motor di bunyikan lagi oleh Arif.
"Woy, tidur luh ya beb di dalam rumah?" teriak Arif dari luar rumah.
Lupi yang mendengar ocehan Arif pun tidak menjawabnya dan mengabaikannya, lalu menyimpan hp di dalam tas dan dengan santainya berjalan keluar lalu menutup kembali pintu.
"Maaf yank." ucap Lupi.
Di rasa tidak ada lagi yang tertinggal, Arif pun kembali melanjutkan motornya keluar dari gang sempit dan memasuki jalan raya.
"Untung aja, masuk kerja masih setengah jam lewat lagi." ujar Arif.
"Iya maaf, namanya juga orang lupa, mana inget." ucap Lupi.
Lupi pun turun di depan toko kue tempatnya bekerja.. tidak lupa mencium punggung tangan kanan Arif.
"Kamu hati-hati ya beb, jangan ngebut.. jangan lupa makan." ucap Lupi.
"Kalo mepet ya aku ngebut lah, kamu tuh yang suka lupa.. aku mah engga." ujar Arif.
"Iya iya maaf, di ungkit mulu sih." keluh Lupi.
"Udah sana buka toko, aku jalan ya!" pamit Arif.
Lupi pun melambaikan tangan kanannya pada Arif dan tak lama Lupi menghampiri toko.
"Looh, kuncinya mana ya?" tanya Lupi pada diri sendiri saat mencari kunci di dalam tasnya.
"Aiiiiih masa iya ketinggalan di rumah?" ucap Lupi lagi, "Aku telpon Seli aja deh." ucap Lupi.
Lupi duduk di pelataran yang ada di depan toko sambil menempelkan hp di telinga kanannya.
"Halo Seli.. kamu lagi dimana?" tanya Lupi saat sambungan teleponnya tersambung.
"Baru mau jalan.. kenapa? kamu udah di toko?" *tanya Seli.
"Iya aku udah di toko.. kamu jangan lama-lama ya." pinta Lupi.
"Iya, ini aku mau jalan ke stasiun dulu ya." ucap Seli.
"Bener gak lama kan?" tanya Lupi.
"Gak, mang kenapa? ada yang mau kamu titip Lupi?" tanya Seli.
"Pokonya kamu jangan lama-lama, aku kepanasan nih di luar.. udah kaya anak ilang." ujar Lupi.
"Lah kan kamu udah di toko, kok kepanasan? emang mati lampu? apa kipas anginnya mati?" tanya Seli bertubi-tubi.
"Aku di luar, belum masuk toko Sel.." ucap Lupi.
"Kenapa gak masuk toko Lupi?" tanya Seli.
"Hehehe, lupa bawa kunci." ucap Lupi.
"Ahahaha, kasian temen aku ini.. jadi anak ilang dulu ya di luar toko." ledek Seli.
"Yah kamu mah gitu."
"Lupi Lupi.. 3 hari yang lalu juga kamu lupa bawa kunci." ucap Seli.
"Au ah gelap." Lupi mematikan sambungan teleponnya.
Sambil menunggu Seli datang, Lupi pun memilih memainkan game yang ada di hpnya.
Setengah jam menunggu, Seli belum juga datang.. yang ada Lupi menerima panggilan telepon dari Arif.
"Kenapa yank?" tanya Lupi sambil menempelkan hp di telinga kanannya.
"Ini, aku baru sampe." ucap Arif.
"Iya bagus." jawab Lupi dengan lirih.
"Kamu kenapa lagi? gak semangat gitu jawab nya?"
"Aku masih di luar toko nunggu Seli.. aku lupa bawa kunci."
"Astaghfirullah Lupiiiiiiii.." suara teriakan Arif yang sukses membuat Lupi menjauhkan hp dari telinga kanannya..