Cerita hidup orang pasti selalu berbeda-beda, sama halnya dengan cerita hidup Rini Sewasty, seorang yatim piatu yang diasuh oleh sang orang tua angkat nya di desa.
Ia sudah diasuh semenjak umur 2 tahun oleh pasangan muda saat itu, Tasya dan Tommy.
Dan kini Rini sudah berumur 18 tahun dengan kehidupan yang bisa dibilang dibawah kehidupan yang mencukupi.
"Ibu, bu guru di sekolah bilang kalau uang SPP Rini harus segera di lunaskan bu," ucap Rini dengan suara pelan.
Tasya mengangguk, "Sabar ya nak, Ibu lagi berusaha untuk minta pinjaman ke tetangga kita," jawab Tasya.
Rini mengangguk mengerti. Ia sangat amat mengerti tentang perekonomian sang orang tua.
"Bu..." Lirih Rini pelan.
"Iya, nak?"
"Rini sebenarnya berinisiatif untuk kerja bu.."
Tasya terpelongo, "Segitu gagalnya kami menjadi orang tua kamu kah Rini, sampai-sampai kamu mau bekerja??" Tanya Tasya yang merasa tersinggung.
Rini menggelengkan kepala nya, "Engga bu, Rini cuma mau bantu Ibu dan bapak, bu.." Lirih Rini.
"Lagian Rini juga gapapa untuk kerja, bu... Toh sebentar lagi Rini lulus juga kan?" Tanya Rini meyakinkan Tasya.
"Engga, Rini. Selama masih ada Ibu dan bapak, kamu ga boleh bekerja." Kekeh Tasya.
"Fokus pada sekolah mu, dan dapatkan nilai yang bagus ya, nak." Lanjut nya.
Rini pun akhirnya mengalah dan mengangguk.
***
Malam hari nya, mereka makan malam bersama di ruang tamu dan dengan makanan seadanya, kerupuk dan sambal juga nasi kecap.
"Gimana mas? Mas udah dapat pinjaman belum?" Tanya Tasya pada suaminya.
"Udah dek, Mas udah dapat pinjaman dari juragan beras, Pak Yusuf." Jawab Tommy.
Tasya tersenyum, "Bagus deh Mas, jadi dengan pinjaman itu kita bisa lunaskan SPP nya Rini."
Rini menundukkan kepala nya, "Bu, Pak, terimakasih," lirih Rini dengan sedikit terisak.
"Lohh kok kamu nangis sih, nak?? Inikan udah tanggung jawab Ibu sama Bapak," ucap Tommy dengan bersungguh sungguh.
Dengan cepat Rini langsung memeluk sang ayah angkat dengan menangis.
"Sudah, sudah, nak." Ucap Tommy sambil menepuk-nepuk pundak Rini.
***
Singkat cerita, hari ini adalah hari Rini mengambil surat kelulusan nya.
"Udah siap-siap, nak?" Tanya Tasya.
"Udah donggg, udah rapi!" Jawab Rini bersemangat.
Tasya tersenyum, "Sempurna!" Puji nya.
Rini pun ikut tersenyum mendengar pujian dari Tasya.
Mereka pun keluar dari kamar Rini menuju ruang tamu.
"Wahh, anak bapak udah rapi aja," ujar Tommy sambil mengacungkan jempol nya pada Rini.
"Iya dong, anak siapa dulu?"
"Bapak sama Ibuu" Jawab Tasya dan Tommy serempak.
Kemudian mereka pun tertawa bersama.
"Ya udah deh, pak, bu, Rini berangkat dulu ya." Pamit Rini sambil menciumi tangan kedua orang tua nya.
"Hati-hati ya, nak," ujar Tommy.
"Iya, pak!"
***
30 menit setelah Rini berangkat ke sekolah, tiba-tiba ada seseorang yang mengetuk pintu rumah Orang tua T itu.
Tok tok tok
"Siapa ya, mas?" Tanya Tasya.
"Mas juga ga tau," jawab Tommy.
"Ga mungkin Rini, kan?"
"Kayaknya ga mungkin deh,"
"Coba dibuka, Mas,"
"Yuk,"
Kemudian mereka pun membuka pintu.
"Hei, Tommy!! Bayar hutang-hutang mu yang sebesar delapan belas juta!" Ternyata orang yang mengetuk pintu adalah Juragan Beras, Pak Yusuf.
"Ju-juragan..." Lirih Tommy.
"Ayo bayar hutang mu!" Teriak Yusuf.
"Ma-maaf, Juragan, saya belum bisa bayar, saya belum punya uang, Juragan..." Lirih Tommy.
"HAHH?!! APA-APAAN KAMU?!" Yusuf semakin marah mendengar perkataan yang Tommy lontarkan.
"SERET DIA!" Perintah Yusuf pada anak buah nya untuk menyeret Tommy.
"Ja-jangan, Juragan!! Ampuni kamu, Juragan!!" Teriak Tasya.
"Tidak ada kata pengampunan untuk kalian!! Sudah bagus kalian meminjam tapi tidak ku beri bunga, kalian malah meminta ampun?! Jangan harap!" Tegas Yusuf.
"CEPAT SERET DIA!"
"Baik, Juragan." Ucap anak buah Yusuf.
Kedua anak buah Yusuf pun menyeret Tommy secara paksa.
Tasya tentu tak bisa diam saja melihat suami nya diseret seperti itu, akhirnya Ia mengikuti Tommy dengan menangis.
"Jangan seret suami ku, lepaskan!!" Teriak Tasya sambil mengguncang-guncang lengan salah satu anak buah Yusuf.
Anak buah Yusuf pun risih, akhirnya Ia tanpa sengaja mendorong Tasya.
"Aakh!!!" Teriak Tasya yang kini sudah berada di ujung tanduk. Ia sedang memegangi sebuah pohon sebelum akhirnya jatuh ke dalam jurang.
"TASYA!!!" Teriak Tommy.
Yusuf yang melihat keanehan pun langsung menyuruh kedua anak buah nya untuk melepaskan Tommy, tetapi salah seorang anak buah malah mendorong Tommy dengan sengaja.
"AKHH!!" Teriak Tommy.
"BODOH KALIAN!" Maki Yusuf pada anak buah nya.
Tanpa rasa tanggung jawab, mereka pun langsung berlari meninggalkan Tommy dan Tasya yang sudah hampir jatuh ke jurang.
"Mas, kita gimana, mas?" Lirih Tasya.
"Tenang, dek, tenang." Ucap Tommy yang berusaha menenangkan Tasya.
Mereka masih berpikir cara untuk naik, tetapi tak ada ranting atau pohon di sekitar mereka.
"MAS!! MAS!!" Teriak Tasya histeris.
"Kenapa, dek?" Tanya Tommy.
"MAS!!! ULAR MAS!!!" Teriak Tasya ketika melihat seekor ulang didepan mereka.
Tamatlah riwayat mereka, belum saja berhasil naik ke atas, kini malah sudah bertemu dengan ular.
"Mas, adek takut mass!!!" Lirih Tasya.
***
Rini sudah pulang dari sekolah nya, Ia sudah mendapatkan surat lulus nya.
"Ibu, Bapak," panggil Rini dari ruang tamu.
Rini merasa heran, kemana Ibu dan Bapak nya? Kenapa rumah sepi? Dan... Kenapa rumah tidak dikunci?
Dengan cepat Ia menaruh tas nya dan bertanya-tanya pada tetangga.
"Bu, Ibu liat ibu bapak saya ga?" Tanya Rini pada Bu Dewi.
"Liat, Rin, tadi bapak mu diseret sama Juragan Beras, ibu ndak berani ikut campur, tapi kalau ibu liat sih tadi, kayaknya dibawa ke kediaman nya Juragan Beras deh," jawab Bu Dewi.
"Kediaman Juragan Beras dimana, bu?" Tanya Rini.
"Di jalan Xx, lewat jalan tikus aja Rin kalau mau pergi, biasanya lebih cepat sampai," jawab bu Dewi.
"Oke bu, makasih, Rini pamit dulu," ujar Rini terburu-buru.
Bu Dewi mengangguk.
Dengan cepat Rini melangkahkan kaki nya menuju kediaman Yusuf.
"JURAGAN YUSUF!!! CEPAT KELUAR KAMU!!" Teriak Rini tanpa tahu malu lagi, baginya yang terpenting sekarang adalah orang tua nya.
Bukannya Yusuf yang keluar, tapi anak buah nya.
"Siapa kamu? Berani nya teriak-teriak didepan rumah orang!" Tanya salah satu anak buah Yusuf.
"SAYA TIDAK ADA URUSAN DENGAN KALIAN!! PANGGIL JURAGAN KALIAN KELUAR!!"
"Dasar anak SMA tak tahu malu!"
"JURAGAN YUSUF, KELUAR KAMU SEKARANG CEPAT!!!" Teriak Rini lagi.
"HEHH!"
"YUSUF, KELUAR CEPAT!" Teriak Rini yang ketiga kali nya, dan teriakan nya pun menghasilkan hasil.
Yusuf keluar dari dalam kediaman nya.
"Siapa kamu?" Tanya Yusuf dengan suara lantang.
"SAYA ANAK TASYA DAN TOMMY, CEPAT KELUARKAN BAPAK IBU SAYA!!" Rini masih saja berteriak.
"Saya tidak tahu dimana Tommy, mungkin dia sudah mati!!"
"JAGA MULUT KAMU, YUSUF!! JANGAN BERDALIH!! KAMU PASTI SEMBUNYIKAN BAPAK DAN IBU SAYA!!"
"Dasar anak SMA ingusan, masih bau kencur sudah berani meneriaki orang tua!! Ibu dan bapak mu sudah mati jatuh dari jurang!!"
"Tadinya aku memang mau menyeret bapak mu yang bodoh itu, tapi ternyata dia sudah lebih dulu jatuh, jadi ya buat apa ku ambil lagi, mati ya mati saja hahahaha!" Tawa Yusuf.
Rini benar-benar tak terima ucapan Yusuf, Ia pun langsung bergegas melihat jurang-jurang.
***
Hari sudah menjelang sore, sampailah Ia pada jurang terakhir yang belum Ia lihat.
Ketika melihat jurang itu, Ia sangat shock melihat apa yang Ia dapati.
***
Pemakaman pun diadakan, hari ini adalah hari Ia mengantarkan kedua orang tua angkat nya ke peristirahatan terakhir.
Sungguh tak bisa dipercaya apa yang Ia dapati semalam. Tubuh kedua orang tua nya dingin, dan ditangan orang tua nya terdapat bekas gigitan ular.
Ia terus terusan menangis, menyesal.
"Ibuuuu, bapakkkk..." Lirih Rini.
Banyak warga yang merasa kasihan pada Rini.
"Sabar, Rin.." Ucap bu Dewi.
"Hiksss, se-seandainya Rini bisa lebih cepat datang dan ba-bantu Ibu sama bapak, seandainyaaaa saja..." Semenjak kejadian itu, Ia sangat menyesal kenapa Ia malah pergi ke kediaman Yusuf, dan bukannya melihat ke jurang-jurang terlebih dulu.
"Udah, Rin... Ini semua bukan salah kamu"
***
Rini sudah cukup lama berada di kuburan orang tua angkat nya, akhirnya Ia memutuskan untuk pulang, karena orang-orang yang tertinggal pun sudah sedikit.
Saat Ia ingin bangkit berdiri, tiba-tiba kepala nya pusing dan..
BRAKKK!
"Rini!!" Banyak warga yang terkejut, Rini pingsan!!
Akhirnya warga pun beramai-ramai menggendong Rini dan menepi sejenak sambil menunggu mobil yang lewat.
***
"Masukkan Rini ke dalam mobil saya!!" Ucap seorang wanita yang kira-kira berumur 40 tahunan.
Warga merasa heran, siapa wanita ini? Kenapa Ia bisa mengetahui nama Rini? Padahal tak ada seorang pun yang memanggil atau menyebut nama Rini.
"Maaf bu, ibu ini siapa ya?" Tanya Bu Dewi.
"Ah, sebelumnya bisa tolong masukkan Rini nya dulu? Kita bisa bercerita didalam mobil, kok." Jawab wanita itu.
Warga pun akhirnya setuju.
***
"Saya tante kandung Rini, nama saya Riria... Rini sebenarnya bukan anak kandung Tasya dan Tommy.." Lirih Riria.
Bu Dewi yang ikut saat itu terkejut.
"Rini anak mbak saya, Rania nama nya. Mama dan papa Rini meninggal karena kecelakaan sewaktu dinas di desa mbak Dewi..."
"Saya waktu itu tidak ingat akan keberadaan Rini... Sampai-sampai 8 tahun kemudian, saat Rini 10 tahun, saya baru mendapatkan info dari orang saya kalau keponakan saya masih hidup. Disitu saya datang ke desa mbak Dewi dan berniat mengambil Rini...
Tapi Tasya dan Tommy sama sekali tidak setuju... Akhirnya saya pun membuat kesepakatan dengan mereka, saya akan mengambil Rini ketika Ia lulus SMA, dan mereka juga boleh ikut bersama Rini, dan akhirnya mereka setuju.
Tapi semalam, ternyata mereka meninggal. Setelah dapat info itu, saya langsung cepat-cepat datang ke sini dan berniat untuk menjemput Rini..." Riria bercerita secara detail.
Bu Dewi pun akhirnya tahu, Ia pun mengangguk.
"Baik bu, saya paham... Ternyata Rini ini anak orang kaya ya..." Ucap Bu Dewi.
Riria hanya bisa mengangguk.
***
Singkat cerita, Rini bangun pada pagi harinya.
Ia bingung, dimana Ia sekarang? Atau, apa dia sedang bermimpi?
Ia pun turun dari atas kasur dan pergi ke luar kamar.
Tapi baru saja melangkahkan satu kaki nya...
"Halo" Sapa Riria.
"Ha-halo...?"
"Kamu sudah bangun ternyata, sini deh ikut tante!" Riria menarik tangan Rini.
Rini pasrah dan mengikuti Riria.
Kemudian mereka sampai di sebuah ruangan, ruangan itu seperti kamar bayi.
"Lihat deh!" Riria membuka satu foto besar yang tertutupi kain merah.
Rini tertegun. Didalam foto itu ada seorang wanita, pria dan seorang bayi.
"Bayi ini adalah kamu." Ucap Riria.
Rini terheran, "Aku?" Tanya nya.
Riria mengangguk, "Ini mama kamu, Rinia Sewasty nama nya, dan ini papa kamu, Devano Sewasty."
"Papa? Mama?"
"Iya, papa dan mama kandung."
Rini terkejut. "Hah?? Ga mungkin, tante pasti salah orang," ucap Rini.
"Engga, tante ga salah orang, anak mereka memang kamu, Rini Sewasty."
Rini menggeleng, Ia masih tidak percaya ucapan Riria.
"Tasya dan Tommy adalah orang tua angkat kamu. Rinia dan Devano adalah orang tua kandung kamu, Rin."
"Kalau mereka memang orang tua kandung aku, kemana mereka!?" Tanya Rini dengan lantang.
Riria menunduk, "Mereka... Sudah meninggal akibat kecelakaan," jawab Riria sambil menahan air mata nya.
Rini terkejut. Kebenaran apalagi ini? Baru saja semalam Ia dikejutkan dengan kematian orang tua angkat nya, sekarang pun... Ahh sialan!
Rini menangis.
***
Namanya adalah Rini Sewasty, seorang gadis cantik berumur 24 tahun. 6 tahun lalu adalah masa-masa suram bagi Rini, banyak kebenaran yang baru Ia ketahui saat itu.
Mungkin disaat itu Ia selalu menangis, tapi berkat masa itu juga Rini bisa menjadi sukses sekarang.
Dalam satu malam sang tante mengubah status Rini yang dulunya adalah anak orang miskin menjadi seorang anak orang kaya.
Apapun yang terjadi saat itu dan sekarang, selalu Rini syukuri.
💸💸