“Sungguh sial sekali nasibku.”
Di sebuah gang sepi, aku terbaring di aspal dengan tubuh penuh luka. Aku merasakan sensasi dingin yang begitu menyakitkan, mungkin karena sebuah pisau yang menusuk perutku.
Aku hanya bisa menatap langit gelap tertutup awan hitam.
“Begitu gelap seperti masa depanku.” ucapku lirih.
Kemudian aku kembali mengingat apa yang terjadi beberapa saat lalu, hingga bagaimana aku bisa terbaring di gang sepi dengan luka di sekujur tubuh.
Sebenarnya itu cukup memalukan untuk menceritakan kebodohan ku yang lebih buruk dari karakter utama sebuah sinetron ampas.
Tapi terserahlah, aku akan menceritakannya.
***
Aku hanya seorang pemuda biasa, sangat biasa yang tidak menarik perhatian siapapun.
Tapi walaupun begitu biasa, aku tetaplah seorang pemuda yang memiliki impian untuk memilki seseorang yang aku cintai.
Dan saat itulah wanita itu datang memberikan cintanya pada seorang yang begitu biasa sepertiku. Dimabuk cinta membuatku tidak berfikir secara rasional. Memberikan apapun yang dia inginkan dengan harapan agar dia tidak berpikir untuk meninggalkan ku.
Namun kenyataan bertolak belakang dengan harapanku. Wanita yang selama ini aku cintai dan aku manjakan dengan semua yang kumiliki, ternyata menusukku dari belakang.
Dia pergi dengan kekasih barunya dengan membawa semua hartaku, sementara hanya meninggalkan hutang yang tidak mungkin aku lunasi.
Namun seolah tidak puas melihat aku yang telah jatuh miskin. Wanita itu kembali, namun bukan untuk meminta maaf tapi justru ingin melihatku lebih hancur lagi.
“Kenapa?.” ucapku yang telah habis di pukuli 5 orang suruhan wanita itu.
Tidak ada jawaban darinya, yang ada hanyalah tatapan sinis dan cipratan ludah yang membasahi wajahku. Dan begitulah bagaimana aku berada di sini.
“Entah apa yang telah aku lakukan hingga mengalami nasib seperti ini.”
Aku hanya bisa menutup wajahku dengan lengan sementara air mata mulai mengalir deras. Entah karena rasa sakit pada luka yang aku derita atau karena dikhianati tapi sungguh aku tidak dapat menahan tangisan ini.
Ini akan segera berakhir jika aku mencabut pisau di perutku yang akan menyebabkan pendarahan.
‘Benar lebih baik aku mengakhiri semuanya di sini.’
Bersiap mengakhiri segalanya, aku menggenggam pisau di perutku. Mataku terpejam karena rasa sakit, nafasku memburu mencoba mengumpulkan keberanian. Hingga akhirnya…
Hanya suara nafasku dan detak jantung yang bisa terdengar. Aku melepaskan genggaman tangan, tidak jadi mencabut pisau di perutku.
“Aku memang seorang pecundang.”
Terdiam menatap langit, dingin aku rasakan semakin menusuk. Aku pikir akan segera mati walaupun tidak mencabut pisau di perutku, hingga perhatianku teralihkan saat sebuah kertas berwarna emas melayang terbawa angin, lalu terjatuh tepat di wajahku.
Kertas yang terlihat menarik hingga aku sempat berpikir jika kertas tersebut memang terbuat dari emas.
“Tiket roda keberuntungan dewa, Apaan ini semacam tiket lotere?. Dari penampilannya terlihat begitu detai seperti item yang dikhususkan untuk orang kaya.”
Aku terus memperhatikan tiket yang dipenuhi ukiran dan gambar hingga sebuah tulisan ‘sobek di dini’ pada satu bagian tiket.
Jika aku yang biasanya mungkin akan menyimpan benda seindah ini sebagai koleksi, namun karena aku sebentar lagi akan mati jadi tidak ada alasan untuk tidak menyobek kertas emas itu.
“Sial kenapa sangat keras!.”
Mungkin karena telah kehilangan banyak darah, hingga untuk menyobek sebuah kertas saja aku tidak memiliki cukup tenaga.
Walaupun aku merasa sakit yang begitu parah, tapi 5etap aku paksakan. Aku merasakan darah mengalir dari luka ku saat mencoba untuk mengumpulkan tenaga.
Kemudian setelah mengumpulkan tenaga yang masih tersisa, tiket itu akhirnya sobek. Tanganku terjatuh dengan lemas saat seluruh tenagaku menghilang.
Cahaya putih bersinar terang memenuhi penglihatan ku. Mungkin itu adalah malaikat yang akan mencabut nyawaku.
“Ah ini pasti akhir dari hidupku yang menyedihkan.”
Perlahan aku dapat merasakan tubuhku terangkat, lalu.
[Roda keberuntungan tingkat dewa telah di putar]
Terdengar suara yang begitu merdu, mungkinkah ini suara malaikat?. Aku mencoba memberanikan diri untuk membuka mata, namun yang aku dapati hanyalah ruangan putih dengan sebuah Rifa raksasa berdiameter 150 di depanku.
“Apa ini akhirat? Tidak seperti yang aku bayangkan.” aku tidak lagi merasakan sakit di tubuhku. Itu pasti karena aku sudah mati. Lulu setelah 5 menit diam di tempat putih, roda raksasa pun mulai berhenti
Ding!.
[Mendapatkan sistem kekayaan tak terbatas]
______________________________________________
[Sistem kekayaan tak terbatas]
Rank : Mitos
Keterangan : sebuah sistem yang akan terus memberikan kekayaan tanpa batas pada pemiliknya.
Efek :
(1) asisten keuangan : sistem yang akan memenuhi segala yang anda butuhkan.
(2) pajak dunia : Setip bulan anda berhak mendapatkan jumlah sama dengan seluruh pajak yang dibayarkan seluruh manusia di bumi.
(3) manusia terkaya : setiap bulan mendapatkan kekayaan sebesar 5x dari jumlah kekayaan manusia terkaya saat ini.
(4) investor jenius : memiliki 5% saham dari 1000 perusahaan teratas dunia.
______________________________________________
“Apa ini, aku sana sekali tidak mengerti?.”
Setelah mendengar suara yang seolah berbicara langsung di kepalaku. Tiba-tiba aku merasakan kantuk yang luar biasa, hingga perlahan mataku terpejam.…
Tiit tiit tiit
Aku terbangun dan mendapati saat ini tengah berada di kamar rawat rumah sakit. Rupanya saat aku kehilangan kesadaran, seseorang melihatku terkapar di gang itu dan segera memanggil ambulans.
Groul! Suara perutku yang kelaparan terdengar beserta rasa sakit yang melilit.
“Ah apaan sih, kenapa harus rumah sakit? Memangnya aku punya uang untuk membayar biayanya perawatan?. ”
Aku berpikir jika lebih baik mati saja di gang sempit itu, dari pada hidung menderita dan dikejar banyak hutang.
[Anda punya kekayaan yang cukup untuk membayar biaya perawatan]
“Eh apa?”
Tiba-tiba saja terdengar suara wanita yang begitu halus. Aku melihat ke sekeliling, namun kamar rawat umum yang dihuni 10 pasien itu, saat ini hanya aku yang terjaga dari tidur.
“Tadi yang bicara siap yak?, Suaranya merdu sekali, jangan-jangan itu setan.” aku merasa bulu kuduk berdiri.
[Aku adalah asisten keuangan anda]
“Weh kedengaran lagi. Kamu siapa? Penunggu rumah sakit kah?.” aku kembali bertanya sambil melihat ke sekeliling dengan ketakutan.
[Aku adalah asisten keuangan anda]
Suara itu kembali memberikan jawaban yang sama. Tiba-tiba saja aku melihat sosok mengerikan dipojok ruangan, Aku yang semakin ketakutan pun segera berlindung di bawah selimut.
“Asisten keuangan apa, Memangnya saya orang kaya?.”
[Benar Anda adalah manusia terkaya di dunia]
Sangat aneh, suara hantu itu terus menjawab apa yang aku tanyakan. Tapi lelucon yang dia katakan terlalu buruk, ‘manusia terkaya’ yang benar saja.
“Benarkah kalau saya manusia terkaya?.”
[Itu benar]
“Kalau begitu bisakah aku mendapatkan umm.…. Ketoprak? Aku sangat lapar.”
[Tentu saja, namun demi kesehatan saat ini aku menyarankan jika anda menahan untuk memakan makanan berat dan pedas]
“What… hahaha bilang saja aku tidak bisa, karena memang saat ini tidak ada sepeser pun uang yang aku miliki.”
Aku tertawa keras sambil menunjuk pojokan ruangan yang begitu gelap, Diana ada seseorang berbaju suster dengan bercak darah sedang duduk di lantai. Aku menertawainya karena tidak berhasil menipuku.
“Woi! jangan berisik, ini udah jam 1 malem.” salah satu pasien terbangun mendengar kegaduhan yang aku buat. Aku segera meminta maaf setelah melihat orang yang membentak ku terlihat seperti salah satu preman suruhan yang telah memukuli ku.
Aku yang kembali tenang mencoba untuk tidur, namun suara dengkuran dari 9 pasien dan bau kentut yang menyengat membuatku sulit untuk beristirahat.
“Cih… andai saja aku memiliki uang, pasti aku akan memilih dirawat di ruangan yang lebih baik.”
[Apa anda ingin menyewa ruang rawat yang lebih baik di rumah sakit ini?]
“Lah kau masih mengganggu ku? Baik coba pindahkan aku ke ruangan terbaik di rumah sakit ini.” aku tersenyum lebar, ingin tahu alasan apa lagi yang akan digunakan setan penghuni rumah sakit ini untuk menolak permintaanku.
[Permintaan di konfirmasi]
“Eh…”
Tapi jawaban yang suara wanita itu berikan berbeda dari yang aku pikirkan. Kemudian di luar terdengar suara langkah kaki beberapa orang yang terlihat terburuk.
Braak! Pintu ruang rawat umum didobrak dan beberapa perawat serta dokter masuk membawa ranjang dorong. Mereka begitu gadung seolah tidak memikirkan para pasien yang sedang beristirahat.
“Apaan sih? Apa ada pasien lain? Yang benar saja ruangan ini sudah full.” ucap seorang pasien yang kesal. Namun perkataan pasien itu tidak dihiraukan oleh para perawat. Mereka segera menuju ke arahku lalu mengelilingiku.
Kemudian dengan senyuman yang begitu menawan, seorang dokter wanita yang sangat cantik menatapku.
‘Apaan nih? Apa dia tau aku orang miskin yang tidak mungkin membayar biaya perawatan sehingga memutuskan untuk mengambil ginjal ku?.’
Pikiranku penuh dengan hal-hal menakutkan.
“Tuan Radit Candra?.” perkata dokter cantik itu membangunkan aku dari lamunan.
“Ah i...iya itu saya.” aku menjawab dengan ketakutan.
“Syukurlah kami akan segera memindahkan anda ke ruangan inap President suite.”
Tiba-tiba keadaan ruangan yang begitu gaduh oleh para pasien yang mengamuk, seketika menjadi hening.
“Presiden sulit? Emang kenapa bapak Presiden sampai kesulitan? Apa karena pusing memikirkan hutang negara?.” aku bertanya dengan bingung.
“Oh ya ampun tuan Radit memiliki humor yang tinggi, tapi hati-hati loh nanti ada tukang bakso lewat.”
“Lah emang kenapa kalo ada tukang bakso? Phobia kok sama tukang bakso.”
Semua perawat dan dokter wanita tertawa, walaupun aku rasa joke yang aku berikan tidaklah begitu lucu. Bahkan para pasien lain menatap mereka dengan begitu aneh.
Mungkinkah mereka sebenarnya bukan dokter tapi malah pasien sakit jiwa yang kebetulan mendapatkan pakaian perawat?.
Tiba-tiba aku kembali merasa takut saat berpikir 10 orang yang mengelilingiku sebenarnya adalah orang gila.
“Baiklah mari kita pindah.” perintah dokter wanita pada para perawat.
“Eh… pindah kemana?.” aku semakin ketakutan.
“Saya sudah bilang tadi tuan Radit akan dipindahkan ke ruangan president suite.”
“Peresiden suit buat apaan woy! Presiden mana yang ingin mengajak saya suit?.”
Aku berusaha memberontak saat para perawat mencoba untuk memindahkan tubuhku ke ranjang dorong. Namun tubuhku yang begitu lemah tidak dapat memberikan perlawanan berarti, terlebih saat dokter cantik itu terus mengatakan kata-kata manis dengan senyuman yang menawan.
“Yah terserahlah, lagi pula saya juga malas buat hidup.” aku dengan pasrah membiarkan mereka membawa tubuhku ke ruangan operasi, mungkin mereka akan mencabut jantungku di sana.
Tapi berbeda dengan yang aku pikirkan. Mereka justru membawaku ketempat yang terlihat begitu mewah dan berkelas.
Jika dokter wanita itu tidak mengatakan ini adalah ruang inap, aku 0asti akan mengira jika itu adalah kamar seorang raja.
Kemudian dokter wanita itu mengecek tubuhku, lalu saat melihat jika kondisiku baik-baik saja mereka semua pun pergi meninggalkan aku di ruangan seorang diri.
“Apa aku benar-benar bisa membayar ruangan semewah ini?.”
[Tentu saja, anda bahkan bisa membeli rumah sakit ini jika mau]
“Serius?.”
[Tentu saja]
Aku masih tidak mempercayai suara yang terus terdengar di kepalaku, dan mengaggap jika ini hanya sebuah prank dari pihak rumah sakit. Hingga akhirnya aku mencoba mengetes mereka lagi.
“Kalau begitu bisakah kau mengesankan aku sebah iPhone terbaru?.”
[Permintaan dikonfirmasi, memerlukan waktu 4 jam hingga paket sampai]
“Empat jam? Lama juga yah. Emang kang ojek nya beli dimana?.”
[California]
“Heeeh… jauh banget!.”
[Benar itu adalah seri 16 yang belum dirilis secara resmi, hanya ada 5 di dunia saat ini.]
Tidak ada yang bisa aku katakan. Sungguh imajinasi dari pemilik suara ini begitu luar biasa. Aku samasekali tidak mempercayainya, tapi yah terserahlah, kasur yang empuk ini membuatku begitu tenang hingga tanpa sadar aku tertidur pulas.
Pagi harinya aku terbangun, tubuhku terasa begitu nyaman. Aku hanya terdiam melihat televisi besar diruang itu, aku tidak lagi merasakan takut.
Lalu dokter wanita yang semalam membawaku kemari, memasuki ruangan. Bersamanya beberapa suster membawa makanan untukku.
“Selamat pagi tuan Radit, apa malam tadi anda tidur dengan nyenyak?.”
“Ya tempat ini begitu luar biasa, namun ada masalah tentang biaya yang harus aku keluarkan untuk membayar semua ini.”
Masih sedikit takut, tapi aku mencoba untuk memberanikan diri. Aku tidak tahu kenapa mereka membawaku ke ruangan yang begitu mewah ini, aku berpikir jika mereka telah salah mengidentifikasi aku dengan orang lain.
“Oh tentang masalah itu, asisten keuangan anda telah membayar ruangan ini selama 10 tahun.”
“He….?”
Apa yang dia bilang. Aku tidak sempat bertanya lebih jauh karena dokter cantik itu segera melakukan pemeriksaan rutin lalu memberiku makan langsung.
Benar-benar pelayanan luar biasa, aku seperti seorang raja yang di olah para pelayan.
“Oh benar tuan Radit, anda mendapatkan bingkisan dari asisten keuangan anda.” setelah menyuapiku hingga kenyang. Dokter wanita memberikan aku bingkisan yang terlihat begitu megah. Aku dapat melihat lambang apel tergigit serta alamat pengiriman beralasan dari California.
Seketika aku membeku.
“Mungkinkah ini seperti yang aku pikirkan?.” aku menatap dokter cantik itu, tapi wanita itu hanya kebingungan.
Karena penasaran aku pun membuka kado dan mendapatkan sebuah ponsel di dalamnya. Para suster tidak menunjukkan reaksi apapun melihat Budi dalam kado yang aku bukan, tapi berbeda dengan Dokter cantik yang terlihat begitu menggigil. Aku bahkan bisa melihat baju putihnya yang mulai basah kuyup karena keringat
Hingga akhirnya mereka pergi, aku sempat melihat dokter cantik itu terus menatap ponsel yang baru aku dapatkan seolah melihat berlian yang berharga.
“Apa mungkin aku memang menjadi orang terkaya di dunia?.” aku masih merasa ragu dan mengaggap jika ini sebuah prank pihak rumah sakit. Aku pun kembali mencoba untuk membuktikan jika aku masih manusia miskin, yaitu dengan mengecek saldo bank lewat aplikasi perbankan.
Namun aku langsung dibuat gila dengan saldo rekening yang tidak bisa aku hitung berapa banyak nolnya.
“Aku tidur malam tadi dan masih mengaggap jika aku adalah manusia termiskin. Tapi lihat apa yang aku temukan saat bangun, aku sudah menjadi manusia terkaya di dunia.”
***
[Note : rencana mau nulis cuman 100-200 kata, eh malah kebablasan 🙃]