Keinginannya adalah..ah itu sama sekali tak penting. Di rumah yang seharusnya ia bisa menemukan kebahagiaan, ketenangan, serta mendapatkan hal kecil ataupun besar yang diinginkannya, ia malah merasa seperti seorang hantu yang keberadaannya tak diketahui oleh orang lain. Itu benar-benar menyebalkan.
Awal kelahirannya bisa dibilang begitu membahagiakan bagi keluarganya tapi tak lama setelah itu, dia hanya dianggap sebagai angin lalu yang tak perlu dipedulikan keberadaannya sedikitpun. Malah, saudari sekaligus kembarannya itu lebih diperhatikan daripada dirinya. Semuanya..
"..hanya karena aku punya tanda lahir ini!!" batinnya sambil menatap kesal ke arah pantulan bayangan cermin yang menunjukkan sebuah tanda lahir di wajahnya.
Dari kamarnya yang terletak jauh di ujung koridor rumahnya, ia dapat mendengar suara tawa samar dari lantai 1. Walaupun samar-samar, tapi ia bisa langsung tahu kalau kembarannya, Naea sedang bersenang-senang dengan seluruh anggota keluarganya khususnya orang tua mereka.
"Padahal keinginanku hanya.."
~•~
"Kak Tryst," panggilnya sambil berusaha mendapatkan perhatian dari kakaknya tersebut.
"Ah sepertinya kakak tak melihatku ya?" Perlahan ia menurunkan tangannya dan disaat itu ia mendengar Naea memanggil Tryst dari arah belakangnya dan seperti biasa, kakaknya itu langsung menatap ke arah Naea dengan tatapan hangat dan memeluknya.
Tryst tersenyum pada Naea dan bertanya, "Adikku yang cantik ini mau kemana hm?" ucapnya sambil menepuk pelan kepala Naea.
"Aku hanya ingin menyapa kakak. Itu saja!" Keduanya sama sekali tak menatap ke arah Linn padahal ia berdiri sekitar 2 meter dari mereka. Perlakuan seperti ini memang selalu di dapatkannya setiap harinya tapi tetap saja rasanya cukup sakit diabaikan oleh keluarga sendiri.
"Sepertinya aku memang tidak diperlukan disini. Sebaiknya aku pergi saja.." gumamnya lalu berjalan pergi tepat di hadapan Naea dan Tryst tapi mereka tak menatapnya sekali saja.
1 bulan berlalu dengan Linn yang selalu menjauh dari keluarganya karena tak suka mendapat perlakuan demikian dari mereka. Ia biasanya akan melewatkan jam makan dan pergi membaca buku sendirian di perpustakaan. Lagipula, mereka juga tak akan mencarinya jadi ia pergi kemana saja ketika keluarganya memiliki suatu agenda, tidak akan dipedulikan. Hidupnya memang bebas tapi kesepian selalu menemaninya. Ia bahkan tak memiliki teman satupun karena semua orang tak mau berdekatan dengannya tapi lain cerita dengan Naea.
~•~
"Dipedulikan. Itu saja. Apakah itu terlalu sulit?" Linn mengusap air matanya dan langsung menampar wajahnya sendiri dengan sangat keras.
"Apa yang kau katakan barusan Linn?! Mereka itu tak mengharapkan keberadaanmu begitu juga dengan Naea! Dia bahkan hanya bercerita akan kebahagiaannya selama bersama mereka tanpa menanyakan keadaanmu!"
"Tidak tidak tidak, kau tak boleh begitu! Dia adalah saudarimu. Kau bahkan membagi nama dengannya (Linnaea). Tidak seharusnya kau bersikap seperti ini, Linn"
"AKU SUDAH LELAH!!" Linn langsung membuka sebuah laci pada meja riasnya dan mengambil sebuah cutter di dalamnya.
Linn mengarahkan cutter itu ke nadinya tapi tak berani untuk mengirisnya atau dengan kata lain, bunuh diri. "Lakukan..lakukan..lakukan" kata-kata itu terus terulang dalam kepalanya sampai membuat cutter yang dipegang oleh Linn terjatuh dari tangannya ke lantai.
"Tidak..aku tidak bisa." Air mata mengalir dengan derasnya dari kedua matanya dan yang bisa dilakukannya hanya menangis dan menangis..dan menangis dalam setiap keadaannya.
Memiliki banyak kepribadian di dalam dirinya menjadi hal paling melelahkan di hidupnya. Ia sudah lelah akan semuanya tapi tetap tak berani untuk mati dengan cara demikian. Kepalanya terus mengatakan supaya dia membunuh dirinya sendiri tapi di bagian lainnya, kepalanya terus bersikeras mengatakan agar dia tak bunuh diri. Membingungkan dan melelahkan? Semua itu sudah pasti bagi seorang perempuan yang baru menginjak usia 19 tahun.
Kini, ia hanya termenung sendirian di dalam kamarnya yang sangat gelap tanpa penerangan apapun. Air mata terus mengalir dari matanya tanpa henti sampai membuat matanya menjadi begitu perih. Ia ingin sekali melarikan diri dari semua hal yang telah terjadi dan memulai hidup baru..
"Memulai hidup baru?" Ide itu langsung membuat dirinya menjadi agak bersemangat dan langsung bangkit dari masa memilukannya dan untuk sesaat, ia melupakan hal yang baru saja terjadi.
Dengan semangatnya, ia membuka lagi laci meja riasnya yang lain dan mengambil beberapa perhiasan dari dalamnya. Ia menghitung jumlahnya kira-kira jika dikonversikan ke mata uangnya.
"Hidupku saat ini memang berantakan tapi mungkin mengubahnya sekarang bisa mengubah semua hal yang telah terjadi. Aku benar-benar berharap aku bisa bahagia kali ini," gumam Linn serta tersenyum tipis melihat perhiasan-perhiasan di tangannya.
Mungkin tindakannya ini terkesan impulsif, tapi disisi lain tak ada lagi yang bisa dilakukannya. Dan lagi, tak ada yang akan mencarinya kan biarpun menghilang selamanya?
Linn lalu menunggu hingga malam tiba supaya ia bisa keluar tanpa ketahuan oleh penjaga dan pelayan. Walaupun pada malam hari, penjaga tetap berkeliaran, tapi penjagaan di siang hari jauh lebih ketat di bandingkan malam hari. Dan juga, semua anggota keluarganya juga sudah pasti tertidur di jam itu karena pekerjaan masing-masing dari mereka yang begitu padat. Entah itu rapat atau apapun itu.
Linn menyusuri koridor rumahnya dan sampailah ia di pintu depan. Ia langsung mengambil sepasang sepatu dari lemari kaca di dekatnya dan membuka perlahan pintunya agar tidak menimbulkan suara decitan yang keras. Sebelum keluar sepenuhnya dari rumahnya menuju halaman depan, ia menatap sekali lagi rumahnya dan langsung tersenyum lebar seakan-akan ia sudah akan bebas dari sebuah neraka dunia tanpa akhir.
Ia kemudian berlari menuju halaman depan atau lebih tepatnya ke gerbang rumahnya setelah menghindari beberapa orang penjaga yang berpatroli kesana kemari tak ada habisnya.
Hingga pada akhirnya Linn berhasil melarikan diri dari rumah itu dan kemudian langsung pergi ke sebuah hotel dengan membawa tas berisi perhiasannya. Ia hanya berbekal beberapa perhiasannya yang mahal serta pengetahuannya tentang bisnis sekalipun ia tak ikut kelas resmi dengan Naea.
Bisa dibilang, Linn belajar secara otodidak tanpa bantuan seorang pun guru. Dia hanya belajar melalui buku dan terkadang pergi keluar dari rumah untuk melihat contohnya secara langsung kemudian mempelajarinya lebih lanjut. Bahkan pengetahuannya tentang beberapa bahasa sangat luas bahkan melebihi Naea yang belajar resmi di sekolah ternama sedang dia hanya di rumah saja tanpa pernah didaftarkan sekolah. Walau sudah begitu juga, tak ada yang memperhatikannya.
"Aku terkadang penasaran akan kenapa aku menyerap pelajaran dengan begitu cepat tanpa bantuan orang lain kecuali untuk pengetahuan dasar seperti membaca," batinnya sambil menghela napas dengan perasaan yang begitu senang.
"Tapi itu tak lagi penting karena aku sangat bersyukur memiliki kemampuan demikian dibandingkan dengan Naea." Sekalipun ia iri dengan kebahagiaan yang didapatkan Naea, tapi ia senang karena Naea tak memiliki pengetahuan yang dimilikinya.
~•~
1 minggu berlalu dan sesuai dengan dugaan Linn, tak ada satupun orang di keluarganya yang mencarinya. Ia tak kaget sedikitpun malah sangat senang dengan fakta ini. Jadi, tak ada orang yang mengganggunya untuk memulai hidup baru diusianya yang ke-19 ini.
"Akan sangat membahagiakan jika mereka mencariku, haha," ucap Linn sambil tertawa terbahak-bahak di dalam kamar dari rumah barunya yang kini ia sewa dengan modal menjual 1 perhiasannya ke toko perhiasan yang membuatnya mendapatkan banyak uang karena permata pada perhiasannya itu adalah permata asli yang dibuat oleh pengrajin terkenal.
"Yah, setidaknya aku bisa bebas dari hidup terpurukku itu. Kenapa ya saat itu aku ingin membunuh diriku sendiri?" Linn kemudian berjalan menuju ponselnya yang berada di kasur.
Ia lalu menekan nomor seseorang pada kontak di ponselnya. Ponsel di tangannya itu berdering saat ia menelpon orang yang kontaknya dihubungi oleh Linn.
"Nona Shuang, apakah anda mau bekerjasama dengan saya?" tanya Linn sambil tersenyum menyeringai dari balik ponselnya.
Lien Shuang, nama dari wanita yang dihubungi oleh Linn itu bersenandung dan bertanya balik pada Linn, "Aku tak tahu siapa kau, tapi kedengarannya kau memiliki sesuatu yang menarik. Datanglah ke kantorku langsung besok. Jika resepsionis tidak mengizinkanmu masuk, mintalah dia untuk menghubungiku langsung. Sampai jumpa besok, sayang~"
Ini akan menjadi pengalaman bisnisnya yang pertama serta terakhirnya karena semua harta yang dibawanya dipertaruhkan disini jika Lien Shuang tak tertarik dengan rencananya.
"Lacak nomor anak yang barusan menghubungiku itu. Pastikan dia hanya orang biasa," perintah Lien kepada asistennya.
~•~
"Apakah nona Shuang ada di dalam kantornya saat ini?" tanya Linn kepada resepsionis yang ada di meja resepsionisnya.
"Maaf tapi apakah anda sudah membuat janji dengan nona presdir Shuang?" tanyanya balik dengan senyuman profesional di wajahnya.
"Anda mungkin tak akan percaya jika saya menunjukkan nomornya, jadi tolong hubungi langsung kantor nona Shuang untuk saya," pinta Linn kemudian dianggukkan oleh si resepsionis lalu ia menunggu di kursi yang ada di dekat sana.
Tak beberapa lama kemudian, resepsionis itu membawa Linn menuju kantor presdir yang terletak di lantai 7 dari gedung perusahaan mereka.
"Nona presdir, saya sudah membawa orang yang anda minta kesini. Saya perit undur diri terlebih dahulu. Semoga hari anda berdua menyenangkan." Si resepsionis itu kemudian menutup pintu ruangan presdir dan meninggalkan keduanya berdua saja.
"Aku tak menyangka orang yang ingin bekerjasama denganku adalah seorang anak kecil yang begitu muda. Kutebak, usiamu saat ini adalah 19 tahun, benar?"
~•~
1 jam sebelum kedatangan Linn, asisten Lien mengabarkan kalau informasi yang dia dapat hanya sebatas nama, usia, alamat rumah, serta nomor induk kependudukan saja. Selain itu seperti latar belakangnya tak ditemukan sedikitpun seperti lenyap begitu saja.
"Aku jadi semakin penasaran pada gadis kecil ini," ucap Lien kemudian menaruh secarik kertas yang berisi informasi soal Linn di mejanya.
~•~
"Seperti yang anda telah sebutkan sebelumnya, benar. Usia saya saat ini 19 tahun dan pada bulan depan (Desember) akan menginjak usia 20 tahun," jelas Linn secara singkat seraya tersenyum ramah pada Lien yang membuat wanita itu menjadi agak curiga.
"Walaupun aku cukup tertarik dengan rencana yang ingin kau jabarkan, tapi aku tetap mencurigaimu loh?" Lien menatap tajam Linn dan hanya dibalas dengan tawa kecilnya.
"Apanya yang lucu, Linn?" tanyanya sambil tersenyum tapi juga kaget.
Linn berdehem dan tersenyum kembali kepada Lien tapi setelah itu malah tertawa terbahak-bahak sampai Lien hanya menggelengkan kepalanya tapi sedikit tersenyum.
"Aku tidak tahu apanya yang lucu disini, tapi kau orang pertama yang berani tertawa sampai begitu di depanku yang seorang pemegang saham tertinggi di perusahaanku ini."
"Saya minta maaf atas perlakuan tak sopan saya..bibi," Lien langsung tersentak dan berdiri dari tempat duduknya sembari memukul mejanya.
"Apa..maksudmu?"
1 jam kemudian..
"Pantas saja informasi tentangnya begitu sedikit," batin Lien sambil menatap sedih perempuan yang ternyata adalah keponakannya.
Walaupun sudah tak terikat lagi dengan keluarga besarnya yakni Keluarga Véres. Alasannya keluar dari silsilah keluarganya secara hukum kurang lebih sama seperti Linn sendiri, ia tak menemukan sedikitpun kebahagiaan di dalamnya. Bahkan ketika ia meminta dikeluarkan dari silsilah Keluarga Véres, semua orang yang ada tak menunjukkan sedikitpun penolakan dan hanya diam saja ketika Lien sepenuhnya keluar dari rumah.
Kini Keluarga Véres menyesal karena tak melihat bakat di dalam diri Lien dan pernah salah satu dari mereka memohon-mohon agar dia kembali lagi tapi tentu saja ditolak.
"Walaupun kau adalah keponakanku, aku tidak akan membiarkanmu lolos dengan mudah setelah kau bilang ingin melakukan kerjasama denganku. Aku tidak akan berbelas kasih jika kau tidak memiliki rencana bisnis yang fantastis, Linn. Dan ingatlah, kalau semua harta yang kau bawa keluar dari rumah akan menjadi milikku. Sisanya, aku tak peduli," tegas Lien kemudian tersenyum melihat Linn yang tertarik dengan tantangan yang diberikannya.
"Lalu apa yang kau tunggu? Cepat tunjukkan apapun yang ingin kau katakan sekarang juga. Waktuku tidak hanya untuk dirimu, sayangku."
Rencana bisnis Linn cukup sederhana, ia ingin membantu dalam pembuatan desain baru untuk perhiasan yang akan diperjualbelikan di setiap toko cabang dari Perusahaan Shuang.
"Desain? Memangnya kau punya desain seperti apa? Tidakkah kau tahu kalau perusahaan kami memiliki banyak designer terbaik?" ucap Lien mencoba untuk membuat semangat Linn turun sedikit demi sedikit dengan kata-katanya.
Linn kemudian mengambil sesuatu dari dalam tasnya dan membuat Lien makin penasaran sampai memiringkan kepalanya sedikit.
"Saya saat ini benar-benar berharap kalau desain-desain yang saya siapkan ini dapat memuaskan anda, bibi." Linn mengeluarkan 10 kertas yang berisi desain perhiasan yang telah dibuatnya selama beberapa hari. Itu bahkan belum semuanya, beberapa yang lain ditinggalkan di rumahnya.
"Apakah ini cukup? Atau haruskah saya menunjukkan desain-desain lain yang ada di rumah saya?" Ia begitu senang melihat raut wajah bibinya yang begitu pucat serta tak percaya akan apa yang dilihatnya.
Desain perhiasan yang dibuat oleh Linn mengusung tema masa lampau atau vintage. Seni artistik yang dituangkan dalam desainnya dapat dengan sempurna menyampaikan maksudnya. 1 diantaranya yang menarik mata Lien adalah desain yang memperlihatkan sebuah anting, kalung, dan gelang yang didesain layaknya menyerupai ombak laut.
Sekali melihatnya pun Lien tahu kalau desain itu didedikasikan untuk kebebasan serta kebahagiaan yang selama ini ia cari sepanjang hidupnya. Lien sampai meneteskan air matanya mengingat masa lalunya yang sama persis seperti Linn. Walaupun desain itu memiliki tema yang sama dengan salah satu perhiasan buatan perusahaannya, tapi desain itu berbeda dengan semuanya.
Detail percikan ombak cukup halus sampai bentuk perhiasannya terlihat nyaman dikenakan dan juga cukup simpel/sederhana. Sangat cocok untuk orang-orang yang ingin tampil elegan dengan sesuatu yang sederhana. Lien merasa kalau ia membuat perhiasan menurut desain Linn, perusahaannya akan untung besar.
Di sisi lain, Linn merasa cukup gugup karena agak takut jika seluruh harta yang dibawanya akan diambil alih Perusahaan Shuang sepenuhnya tanpa diberikan sepeser pun.
"Linn.." panggil Lien sambil terus menatap desain-desain milik Linn.
"I-iya!" jawabnya secara terbata-bata.
"Aku menerima desain mu, khususnya desain yang seperti ombak laut ini." Perkataan Lien itu seketika membuat Linn mematung dengan tidak percayanya.
"Aku akan menganggapnya sebagai 'iya', oke?" Lien tertawa kecil kemudian menarik Linn dalam pelukannya.
"Kau sudah melakukan yang terbaik, Linn. Aku bangga padamu." Hanya beberapa kata-kata tapi mampu membuat Linn terisak sampai ia tak bisa menahannya di hadapan bibinya yang sekarang menjadi salah satu dari banyaknya orang terkaya di dunia.
~•~
1 hari menjadi 1 bulan dan 1 bulan menjadi 5 tahun. Kini Perusahaan Shuang menjadi perusahaan terkaya nomor 1 di dunia berkat desain-desain yang dibuat oleh Linn baik yang dulu maupun sekarang. Setiap harinya, ia mengasah kemampuannya dan menciptakan desain-desain yang bahkan membuat designer mana saja cemburu padanya. Linn bahkan tidak berkuliah seperti kebanyakan orang dan hanya langsung memasuki SMA dengan bantuan bibinya jadi ia tak perlu memulai sekolahnya dari SMP.
Tapi tentu saja, ia bisa menyesuaikan dengan semuanya sampai tidak ada yang bisa meremehkannya lagi. Linn bahkan mampu mendapatkan juara 1 di sekolahnya selama 3 tahun berturut-turut tanpa pernah turun.
Dan juga identitasnya diubah oleh Lien dan ia resmi secara hukum menjadi 'putri' dari Lien Shuang sekalipun pada kenyataannya, mereka berdua memiliki hubungan bibi dan keponakan.
"Selamat atas kesuksesan anda yang kesekian kalinya, nona muda Shuang," ucap salah seorang rekan bisnis dari Perusahaan Shuang.
"Saya sungguh merasa malu karena saya yang masih muda ini dipuji sampai seperti ini. Tapi, terima kasih, tuan Demi."
Ketika ia akan pergi meninggalkan orang itu sendirian dan berbalik badan, ia dapat melihat dengan jelas sosok Naea yang berada tak jauh darinya. Gelasnya yang berisikan Champagne hampir saja terjatuh dari tangannya setelah melihat Naea. Ia berusaha untuk menyangkal fakta bahwa wanita di hadapannya itu hanya halusinasinya saja tapi Naea tiba-tiba menatapnya.
"Aku tidak ingin bertemu dengannya disini. Lebih baik aku pergi mencari ibu saja. Bagaimana anak itu tiba-tiba muncul disini juga?!" gumam Linn kemudian berjalan cepat menyusuri ballroom untuk mencari Lien yang kini menjadi ibunya.
~•~
"Aku tak ingat pernah mengundangmu kesini, Alder," Lien menatap tajam pada pria di hadapannya yang tidak lain adalah Alder Véres, kakaknya sekaligus paman dari Linn.
"Lalu kenapa? Kita ini keluarga, adik." Linn yang baru saja sampai disana langsung menaruh gelasnya di nampan yang dibawa oleh seorang pelayan kemudian berjalan dengan cepat ke arah Lien.
Linn berdiri di depan Lien membelakanginya dan memasang posisi melindungi ibunya itu dari sang paman.
"Saya yakin ibu sudah mengatakan kalau beliau tak mengundang anda. Saya bukannya mau mengusir, tapi jika anda tak memiliki undangannya maka terpaksa saya harus meminta anda untuk keluar sekarang juga, tuan." Linn menatap tajam pamannya itu dengan tetap memperlihatkan sosok superior di hadapan orang-orang agar dia juga bisa mendapatkan keuntungan dari perdebatan tak penting ini.
"Tidakkah kau merindukanku?" ucap Naea yang kemudian muncul sambil tersenyum riang.
"Apakah saya pernah bertemu dengan anda, nona muda Véres?" Perkataan Linn itu seketika membuat Naea tersentak dan berusaha menahan malunya.
"Saya sangat berharap agar anda bisa membawa paman anda ini pulang karena Keluarga Shuang tak menerima keberadaan Keluarga Véres dimanapun itu, nona," jelas Linn sambil memberikan tatapan mengintimidasi pada Naea.
Orang-orang mulai berbisik-bisik akan betapa tak tahu malunya Keluarga Véres datang ke pesta kelas atas yang diadakan Keluarga Shuang tanpa membawa undangan dan hanya datang karena masih terikat hubungan darah. Hal ini sudah pasti akan membuat harga diri Véres jatuh karena rumor di lingkungan kelas atas cepat sekali beredar seperti api yang membakar hal-hal di sekelilingnya.
"Jika saya kembali dan anda berdua masih berada disini, saya tidak akan segan-segan mengusir anda dengan cara kasar darisini, tuan dan nona muda," ucap Linn kemudian pergi bersama Lien darisana.
Karena mereka tak mau lagi dipermalukan lebih lama di ballroom itu, Naea dan Alder langsung pergi tania menunggu hal lainnya terjadi lagi. Mereka tak mengira kalau Linn akan berubah sedrastis ini. Padahal kalau tidak, mereka berencana untuk menghasut Linn untuk kembali ke Véres.
~•~
"Ibu tidak apa-apa kan? Apakah paman berbuat sesuatu selama saya tak ada?" tanya Linn dengan sangat khawatir sambil memegang kedua tangan Lien.
"Tidak ada yang bisa dilakukannya di ruangan yang begitu ramai seperti itu. Apalagi kami berdua menjadi sorotan utama tadi karena semua tamu menatap ke arah kami berdua."
Linn menunduk sebentar lalu menatap Lien dengan serius, "Sepertinya kita harus bersiap-siap akan apapun yang akan terjadi ke depannya, ibu. Melihat kedatangan mereka dihari ini, sudah jelas mereka sedang merencanakan sesuatu di bawah cakarnya," jelas Linn kemudian langsung dipeluk oleh Lien.
"Ya, kau benar. Tapi aku tetap berharap kau bisa hidup seperti sekarang dan tak kembali ke masa-masa terpurukmu dulu, sayang."
~The End~