.......
Rumah tangga adalah ibadah sepanjang usia, semoga mendapatkan berkahnya.
"Saya terima nikah dan kawinnya Shanum Sakila binti Zidan Yahya dengan mas kawin tersebut dibayar tunai"
"Bagaimana saksi?"
"Sah"
"Sah"
"Sah"
Tangan gemetar, melantunkan doa yang yang dibimbing oleh penghulu setelah kumandang kata sakral SAH diucapkan oleh saksi.
Ritual cium kening, cium tangan suami, membuat degupan jantung Shasa berdetak lebih cepat dari yang dibayangkan. Hingga tidak dapat berkata apa-apa karena saking terharu dan bahagianya. Ia menyerahkan seluruh jiwa dan raganya dalam ikatan suci pernikahan ini. Pernikahan yang sangat ia impikan sejak dahulu saling bercengkrama, dan bertegur sapa.
Mulai detik ini, Shasa telah menjadi istri Razka. Ini bukan pernikahan dari perjodohan antar orang tua, bukan pula menikah karena terpaksa seperti cerita pada umumnya. Pernikahan Shasa dan Razka dilandasi dengan cinta, mereka sudah menjalin kasih 2 tahun, dan memutuskan untuk menikah setelah Razka menyelesaikan tugas dari sang ayah. Mereka satu almamater hanya saja beda jurusan, kegiatan mahasiswa kala itu yang mempertemukan mereka dan berlanjut dalam organisasi mahasiswa yang mereka ikuti secara tidak sengaja.
Bertemu setiap hari membuat mereka berinteraksi. Dari yang awalnya hanya sekedar mengikuti kegiatan organisasi, hingga disatukan dalam satu divisi, mau tidak mau bekerja dalam tim yang sama, mereka mulai menemukan kenyamanannya. Entah nyaman dalam organisasinya atau nyaman dalam partnernya. Kedua hal yang membuat mereka betah berlama-lama berbicara berdua, mulai masalah organisasi hingga merambah ke masalah pribadi. Tidak jauh, hanya sekedar berbicara seperti teman pada awalnya. Karena kekompakannya, akhirnya teman-teman yang lain mulai merasakan aura cinta menyeruak di tengah-tengah mereka. Tidak jarang Shasa dan Razka diolok atau dibuly atau diledeki mungkin karena terlalu sering berdua. Namun keduanya belum ada tanda-tanda atau belum menyadarinya.
Suatu ketika, ada seorang teman Razka perempuan yang ikut organisasi tersebut, dan membuat Shasa berubah. Shasa mulai menjauhi Razka. Shasa merasa perempuan itu menaruh hati pada Razka. Setelah berlalu, berganti tahun, masih tidak ada status yang jelas diantara mereka. Entah Razka menjaga perasaanya, atau Razka terlalu pandai menyembunyikan hubungannya. Tidak ada yang tahu. Yang Shasa tahu, ia mulai merasa kesepian. Hingga Razka datang lagi, dengan mengirim pesan, dengan perhatian-perhatian kecil yang dulu juga pernah ia berikan pada Shasa. Kali ini Shasa tidak mengabaikannya. Shasa merasa ia telah menyukai Razka. Meskipun Razka belum tentu pikirnya. Sebab Razka baik pada setiap orang. Apalagi masalah perempuan. Bisa dibilang Razka ahlinya.
Tiada disangka, setelah mereka dinyatakan lulus dalam waktu yang hampir bersamaan, Razka mengungkapkan rasa tertariknya kepada Shasa. Betapa senangnya Shasa saat itu. Razka bahkan berjanji akan segera mengkhitbahnya setelah ia selesai menyelesaikan misi dari sang ayah, untuk mengelola cabang perusahaan di pulau seberang.
Dan hari ini telah terjadi. Janji Razka kepada Shasa. Razka sudah dapat menstabilkan perusahaan sang ayah, dan dipercayakan kepada sepupunya. Sedangkan Razka akan kembali ke ke perusahaan pusat. Tempat mereka tinggal. Dua tahun lamanya. Selama itu mereka menjalin hubungan melalui chat.
Shanum Sakila, sering dipanggil Shasa adalah perempuan beruntung yang menikah karena cinta. Seorang gadis sederhana, kulit sawo matang, tidak begitu cantik, tidak tinggi, agak mungil dengan pipi chabi yang terlihat menggemaskan, tidak istimewa, tidak pandai juga, hanya saja sedikit berusaha, ia bisa hidup hingga sekarang. Lahir dari keluarga yang biasa-biasa saja.
Atharazka Ibrahim adalah anak dari pengusaha kaya, tubuhnya kurus, tidak terlalu tinggi tapi masih lebih tinggi dari standar tingginya perempuan, tidak tampan, tapi manis, dan candu bila dipandang. Perhatian kepada pasangan, baik kepada semua orang, bahkan kadang terlampau baik hingga banyak orang menyalahartikan kebaikannya.
******
Acara pernikahan diadakan mewah. Semua keluarga menghadiri acara tersebut. Tamu undangan yang sangat banyak itu mulai berkurang dan pulang. Shasa dan Razka memberikan senyum terbaiknya hari itu. Tapi tak dipungkiri raut lelah juga tersamar diantaranya.
"Mas Razka capek ya?" Tanya Shasa berbasa basi saat keduanya sudah memasuki kamar mereka untuk beristirahat.
"Tidak biasanya aku dipanggil mas olehmu?" Jawab Razka seperti meledeki sang istri.
"Memang aku harus panggil apa?" Tanya Shasa random, dia bingung dan canggung lebih tepatnya.
"Terserah, senyamanmu sayang." Terang Razka dengan senyum termanisnya. Panggilan sayangnya agak menggoda, sebab tidak pernah sebelumnya. Yang hanya dibalas senyum kecut oleh Shasa.
Tidak ada sentuh-sentuhan. Tidak ada kontak fisik. Mereka duduk saling berjauhan. Entah susah berjalan, kaku, atau gimana. Hanya kata-kata yang melaju di udara dan memenuhi ruangan itu sudah sungguh menghangatkan.
"Aku mau mandi." Ucap Shasa melenggang pergi ke kamar mandi tanpa memperhatikan Razka yang dari tadi juga merasa gugup dan menatap sang istri. Razka juga bingung harus seperti apa. Pernyataan istrinya hanya dibalas dengan anggukan saja. Namun Shasa juga tidak melihatnya.
Beberapa saat kemudian, Shasa sudah keluar dari kamar mandi dengan piyama lengkapnya. Dia bersiap untuk tidur. Tidak tahu apa yang harus dilakukan, dengan kaku, berbicara dengan suaminya. Meskipun sebelumnya menjalin hubungan yang lumayan dekat, ini merupakan hal baru bagi mereka. Semuanya di luar ekspektasi.
Tidak lama, tiba-tiba Razka juga sudah menyelesaikan kegiatan mandinya. Dan memberanikan diri mendekati Shasa. Secara tidak sengaja Shasa terjengkat kaget.
"Kenapa Sha?" Ucap Razka tak kalah kaget dengan reaksi istrinya yang belum ia sentuh sudah menjauh.
"Aku gak papa Mas, hehe" jawab canggung Shasa disusul ucapannya, "Maaf" Shasa merasa bersalah, telah melakukan penolakan walau hanya lewat bahasa tubuhnya saja. Dia hanya belum terbiasa.
Razka merengkuh Shasa dalam pelukannya.
" Aku sayang kamu Sha" ucap Razka mendamba. Ucapannya dalam, membuat Shasa meremang dan perlahan membalas pelukannya. Pelukan yang hangat, sangat hangat dia rasakan, sebelumnya apakah ia belum pernah dipeluk Razka? Pernah sekali, hanya saja berbeda rasa halalnya. Kalau dulu dipeluk sekilas sudah langsung dilepaskan, takut ketahuan orang lah, takut setan lah, tapi dipeluk juga. Sekarang benar-benar beda. Ada nyaman yang enggan untuk dilepaskan.
"Tidur yuk mas, aku ngantuk." Ucap Shasa.
"Aku bisa peluk kamu lama Sha, sekarang aku bisa peluk kamu Sha" Ucapan Razka seakan menggambarkan kebahagiaan.
"Sekarang tidurnya juga jadi satu kasur ya mas? Hehe" Tawa Shasa canggung.
"Iya Sha, aku bisa peluk kamu sambil tidur, ini bukan mimpi kan Sha? Aku bisa lihat kamu bangun tidur nanti." Ucap Razka lagi.
"Aku takut Mas, Mas tidak akan 'itu' kan?" Tanya Shasa langsung ke intinya, yang membuat ia canggung sedari tadi. Ingin memastikan dia akan baik-baik saja malam itu.
"Itu?" Tanya Razka balik, dan disusul lagi, " harusnya bisa sekarang juga ya Sha?" Godanya pada sang istri.
"Gak capek apa?" Shasa mulai cemberut, seperti saat-saat mereka pacaran, suasana canggung sudah mencair.
Razka dengan semangat menjawab, " Tentu, tentu saja tidak, hehe"
"Maaasssss" Shasa langsung menenggelamkan diri dalam selimut dan berpura-pura tidur.
Razka mengikutinya masuk dalam selimut dan memeluk Shasa dalam diamnya.
"Mas, aku engap, gak mau dipeluk-peluk, risih." Keluh Shasa.
Razka terkesiap dengan jawaban istrinya, "Padahal aku ingin Sha, aku sudah menahannya sejak dulu, setiap lihat kamu aku takut khilaf, sekarang sudah halal, kamunya kok seperti nolak aku?" Itu hanya diucapkannya dalam hati, Razka tidak akan setega itu bicara dengan istrinya. Dia laki-laki yang selalu membuat perempuannya nyaman di dekatnya. Dengan jarak yang tidak jauh, akhirnya mereka terlelap.
******
Pukul 01.03 dini hari, Shasa terbangun. Ia mendapati sang suami yang juga terbangun mungkin, atau belum tidur? Pikir Shasa.
"Mas..."
"Iya sayang."
"Belum tidur?"
"Barusan kebangun, jodoh ya kita, kebangun aja bisa barengan, hehe"
Razka mengusap ujung kepala istrinya.
"Masih jam satu sayang, tidur lagi aja."
"Mas gak tidur?"
"Maunya 'itu' sama kamu dulu." Kerlingan mata Razka kepada Shasa agak ambigu untuk diartikan.
"Mas..... Mas Razka lapar? Mau makan? Shasa siapkan buat Mas ya.."
Shasa ingin bangkit dari ranjang namun ditahan oleh Razka.
"Tidak sayang."
"Terus mau apa?"
"Mau makan, tapi makan kamu, hehehe."
"Bercandamu itu serius kan mas?"
"Kok tau sih? Hehe. Aku susah buat tidur lagi Sha... Tadi pas bangun, kamu peluk aku, 'itu' nempel di dadaku. Si adik di bawah bangun." Razka menjelaskan dengan cengengesan pada istrinya, sambil menunjuk bagian bawah leher milik istrinya. Hal itu membuat Shasa agak menjauh dan menangkupkan tangan ke arah dada, seakan-akan melindungi dirinya.
"Sha, kita sudah nikah. Kamu lupa?"
Razka seperti tersinggung akan perbuatan Shasa, dan sedikit agak menggemaskan.
"Oh iyaaa, maaf."
Perlahan, Razka menangkup kedua pipi Shasa, dan mencium keningnya, kemudian turun ke pipi kanan dan pipi kirinya. Setelah itu....
"Boleh ya Shaaa..." Kalimat memohon yang sangat itu lolos dari mulut Razka.
Shasa hanya diam dan menundukkan kepala, seperti mengangguk, dan diartikan Razka sebagai bentuk lampu hijau untuk melanjutkan kegiatan selanjutnya. Razka mendongakkan kepala sang istri, perlahan ia mendekatkan wajahnya, dan cup. Kecupan di bibir telah berhasil dia lakukan. Sayangnya benar-benar hanya kecupan, yang sepersekian detik sudah terlepas.
"Sha... Aku mau yang 'itu'." Kata 'itu' yang keluar penuh makna. Makna yang sedikit banyak bisa menjadikan orang salah mengerti. Raska mengatakan 'itu' sambil menunduk menurunkan pandangannya di bawah bibir sang istri.
Shasa hanya diam tidak berkata apapun. Razka membuka kancing pertama piyama Shasa yang langsung ditahan Shasa.
"Sekarang mas?"
"Iyaaa, boleh ya Shaaa... Please... Aku dari tadi nahan."
"Pelan-pelan yaa Mas."
"Iya, aku janji Shaa." Seakan mendapatkan lotre, Razka sangat bersemangat melakukan aksi-aksinya selanjutnya.
Semoga berhasil yaa...
End.