Air keruh membasahi Jasmin seorang gadis jelek, pendiam dan penakut. Tapi ia memiliki kepintaran, kecerdasan dan ketrampilan yang bagus.
Tapi hari-harinya tidak selalu bahagia karena dikucilkan oleh teman-temannya. Hingga pagi yang cerah berawan seperti bernyanyi merdu dengan angin berhembus sejuk. Jesika berjalan melewati lorong kelas. Belum sempat sampai di kelas ia dihadang temannya yang selalu membulinya. Sebut saja teman itu adalah Kartin, Mita, Rika dan Loli. Mereka berempat adalah teman yang selalu membuat masalah dengan di sekolah.
" Hai Jesika," kata Loli.
" Ada apa," kata Jesika melihat Loli dan ketiga temannya.
" Kami punya hadiah untuk kamu," kata Mita.
"Hadiah! Ini kan bukan ulang tahun ku," kata Jesika.
Kartin dan Rika memegang Jesika dengan paksa membawa ia kebelakang gedung kelas. Sampai di belakang gadung kelas.
Tiba-tiba Mita menaruh atau menumpahkan sebungkus tepung yang jatuh mengenai kepala Jesika. Dilanjutkan dengan Loli menumpahkan air keruh dan kotor dari 2 botol air. Jesika yang tidak bisa berbuat apa-apa dengan perilaku temannya hanya terdiam dan pasrah.
" Itu hadiah dari kami. Jika kamu mengaduh. Tidak hanya tebung dan air saja yang ditumpahkan. Tapi hati kamu juga akan ditumpahkan," kata Loli.
Jesika hanya terdiam tanpa berkata saat mendengarnya. Setelah mereka pergi meninggalkan Jesika dengan perkataan yang menyayat hati.
" Jes, kamu harus mandi kalau mau ke sekolah ya lain kali" kata Mita.
" Betul itu. Kamu bau," kata Rika sambil menutup hidungnya.
"Ayo kita pergi," kata Loli.
"Itu betul. Disini bau," kata Kartin menjauh dari Jesika.
Hati Jesika yang sakit akan perilaku temannya. " Tidak bisa berkata apa-apa," bisikan dalam hati kecil Jesika.
Ia hanya pergi berjalan dengan pakaian basah menuju UKS. Sebelum ia pergi ke UKS ia pergi ke loker untuk mengambil pakaian yang sudah disiapkan Jesika. Di perjalanan menuju loker Jesika mendengar berbagai bisikan dan ocehan temannya.
Jesika hanya tertuduk melihat lantai sambil berjalan cepat tapi hati-hati. Sampai di loker ia bergegas menuju toilet untuk membersihkan diri. Sampai di toilet ia melepas pakaian yang ia kenakan.
Melihat pakaian yang kotor ia bersihkan dengan air kran yang mengalir sambil terseduh-seduh," kenapa nasibku selalu begini." Setelah memberikan diri Jesika pergi menuju UKS untuk mengobati luka yang didapat.
Seperti biasa Bu Ratna adalah penjaga UKS yang baik dan teman sekaligus guru yang bisa saya ajak curhat isi hati saya.
Jesika masuk ke ruangan yang sudah ada Bu Ratna. Bu Ratna yang melihat, terkejut tubuh Jesika basah kuyup," Apa yang terjadi?."
" Tidak ada bu," kata Jesika dengan senyuman.
" Kenapa tubuh kamu basah? Apa kamu dijaili lagi," kata Bu Ratna.
" Tidak,bu. Tadi Jesika jatuh dikamar mandi," kata Jesika dengan kata ke bohongan takut kalau bu Ratna khawatir.
Bu Ratna yang menghampiri Jesika yang masih didepan pintu UKS,"Lain kali. Harus hati-hati,ya."
" Baik bu," kata Jesika.
Bu Ratna membimbing Jesika berjalan menuju kursi baru memeriksa luka yang didapatkan Jesika. Setelah selesai Jesika dan Bu Ratna berbincang-bincang sampai bel masuk berbunyi.
Saat Jesika ingin menuju kelas, Bu Ratna berkata,"Kamu istirahat saja dulu untuk 1 pelajaran. Nanti ibu buatkan Sury ijin buat kamu," kata Bu Ratna.
Jesika dengan senyum," Tidak usah, bu. Saya akan mengikuti pelajaran. Kan cuma luka kecil saja," kata Jesika dengan perasaan tidak ingin merepotkan Bu Ratna.
Jesika keluar ruangan menuju ke ruang kelas. Dijalan menuju kelas Jesika mendengar perkataan yang tidak enak di dengar. Sampai di kelas ia mendapatkan buku yang dia bawa tergeletak di atas meja dengan banyak coretan. Dengan hati yang sakit tapi tidak tau harus minta tolong kepada siapa. Jesika merapikan buku dan membersihkan kursi dan meja setelah itu baru ia bisa duduk sebelum pelajaran dimulai.
Setiap angin berhembus lembut dengan lembar kertas tertulis berbagai kata ilmu untuk masa depan Jesika. Walaupun ada kata yang tidak enak didengar setiap mengikuti pelajaran. Dengan senang tanpa kendala apa-apa sampai bel berbunyi menandakan kelas telah selesai.
Waktunya semua orang kembali ke rumah masing-masing termasuk Jesika.
Perjalanan yang melelahkan dengan hati yang berat. Sampai di kos Jesika harus membersihkan perabotan yang ada. sebelum ia pergi part time karena ia harus menghidupi dirinya sendiri setelah kedua orang tuanya pergi meninggalkannya.
Lelah dicampur sakit Jesika harus menjalani hidup yang susah. "Jika Tuhan mengijinkan Jesika ingin hidup di keluarga yang harmonis dan damai," kata Jesika dalam hati.
Hingga dipersimpangan menuju ke jalan. Tiba-tiba ada seorang dari belakang yang menusuk Jesika dengan pisau. Yang membuat Jesika tidak bisa berkata apa-apa.
Mata Jesika yang mulai lelah, mulai menutup. Samar-samar ia mendengar suara teriakan minta tolong. Hingga Jesika tidak sadarkan diri.
Mata Jesika yang berat dan ingin melihat tapi sangat berat. Perlahan tapi pasti Jesika membuka mata. Ia melihat ada di tempat tidur. Tapi Jesika tidak tau ia ada dinana. Sampai dia mencoba untuk bergerak tapi tidak bisa karena beban tubuh.
Saat Jesika melihat tangan kecil, kaki kecil dan tubuh kecil dengan pemandangan diatas seperti mainan bayi. Barulah Jesika sadar kalau ia menjadi bayi. Hidup baru yang dirasakan Jesika membuat ia menangis.
Tiba-tiba ada dua orang yang asing dimata Jesika yang membuat ia tenang. Ternyata mereka berdua adalah ayah dan ibu Jesika yang baru. Dengan nama baru. Bersama keluarga yang bahagia.