"Alice! Kamu harus meninjau lokasi proyek yang akan dibangun. Kamu tidak keberatan kan?" tanya Elina, manajer perusahaan tempat Alice bekerja. "Kenapa dadakan banget ya?. Kan aku udah minta cuti dari kemarin Lin. Aku ada urusan, ibuku sedang sakit. Aku harus merawatnya" jawab Alice. "Maaf Alice, ini perintah atasan. Aku juga tidak bisa membantumu kali ini. Lagian kamu kan masih punya adik yang bisa bantu jaga ibumu" sanggah Elina. "Tapi..". "Gak ada tapi, tapi. Kamu harus berangkat sore ini ke lokasi" potong Elina. "Aku tetap gak bisa Elina" bantah Alice. "Haah! Kamu gak bisa ya?. Baiklah aku akan melaporkanmu ke bagian HRD mulai besok untuk dipecat" tegas Elina. "Jangan.. jangan.. baiklah, aku akan berangkat sore ini" bujuk Alice. "Nah, begitu dong dari tadi. Jadinya kan aku tidak perlu mengancammu untuk dipecat" jawab Elina. "Hmm.. iya" pasrah Alice.
Alice berangkat pada sore hari ke lokasi. Tepatnya ke desa mawar, untuk bernegosiasi atas penggusuran tanah disana.
Sebelumnya, Alice menelpon ibunya yang sedang terbaring sakit dirumah sakit. "Ibu.. maafin aku, aku ada urusan pekerjaan sekarang. Jadi tidak bisa menjagamu dulu" jelas Alice. "Uhuk.. uhuk.. gpp nak, kamu selesaikan urusanmu dulu ya. Ada Riska disini yang bisa jagain ibu" jawab ibu Alice. "Iya kak tenang aja, kan ada aku. Kakak fokus sama kerjaan kakak aja ya. Jangan khawatir, aku disini akan benar-benar merawat ibu kok" sambung Riska, adik Alice. "Iya, kamu jagain ibu ya. Nanti, kakak bawakan oleh-oleh untuk kalian berdua. Sudah, kakak tutup dulu ya telponnya, Riska" Lanjut Alice. "Iya kak" jawab Riska.
Dalam perjalanan, Alice diantar oleh teman sekantornya yang juga ditugaskan disana. "Jenie, apa masih lama untuk sampai disana?" Tanya Alice. "Enggak kok, sebentar lagi kita sampai. Kamu kalau capek, istirahat saja dulu ya" jawab Jenie. "Iya, aku capek banget. Kalau begitu aku tidur dulu ya sebentar" balas Alice. "Iya". Di tengah jalan. Jenie juga mengantuk akibat perjalanan yang panjang. Tiba-tiba, Brak. Jenie menabrak seseorang di tengah jalan. Alice yang tertidur lelap, terbangun karena kaget mendengar suara itu. "Jenie! Jenie!" Alice membangunkan Jenie yang pingsan, tidak sadarkan diri karena kepalanya berdarah terbentur setir mobil. Sementara di luar mobil, korban yang ditabrak Jenie juga tidak sadarkan diri. Dan ada seorang nenek tua yang memangku dan menangisi pria yang menjadi korban tabrak Jenie. Alice pun keluar untuk mengecek keadaan pria tersebut. Nenek tua itu lantas bangun berdiri. "Kamu! Kamu ya yang sudah menabrak cucu kesayanganku!" maki nenek tua. "Bukan.. bukan aku nek" sanggah Alice. "Lalu siapa lagi? Kamu satu-satunya yang berada dalam mobil itu" Lanjut nenek tua. "Aku.. ada kok temanku. Dia yang mengendarai mobilnya nek. Sebentar aku cek keadaan dia dulu yang masih pingsan" Alice menengok ke arah mobil yang berada dibelakangnya. "Ke.. kemana dia?. Kenapa Jenie gak ada di mobil?" Alice heran. "Dia sudah mati!" Tegas nenek tua. "Ma.. mati?. Gak mungkin. Kalau dia mati, kemana jasadnya?" Tanya Alice. "Hahahah! Apa kamu gak tau, ini daerah kekuasaanku. Tidak ada siapapun disini yang berani macam-macam denganku" nenek tua itu menyombongkan dirinya. "Daerahmu? Lalu, apa hubungannya dengan Jenie. Kemana kamu sembunyikan dia?" tanya Alice. "Dia mati dan hancur berkeping-keping karena telah menabrak cucu kesayanganku" jelas nenek tua. "Apa? Gak mungkin! Kamu pasti bohong? Mana ada kejadian seperti itu?. Temanku.. Jenie, dia pasti kamu sembunyikan! Dimana dia? Beritahu aku sekarang atau aku akan bertindak denganmu!" desak Alice. "Sudahlah, tidak ada gunanya aku berdebat denganmu. Audrey, bawa dia kembali ke rumah!" perintah nenek tua itu kepada seorang pemuda yang merupakan penjaga rumahnya. "Baik nek" jawab Audrey.
"Enggak, lepasin! Kamu mau bawa aku kemana? Lepasin aku!" Berontak Alice. Audrey memukul bahu Alice sehingga membuatnya pingsan. Mereka membawa Alice kerumah nenek tua untuk dijadikan tahanan.
Di rumah nenek tua.
"Hmm.. dimana ini?" Alice sadar dari pingsan dan segera bangun duduk. "Halo Alice, kamu ada dirumahku sekarang" sapa nenek tua. "Kamu! Darimana kamu tau namaku?". "Tentu saja dari kartu identitasmu ini. Hahahah!" jelas nenek tua. "Hmm.. begitu rupanya. Buat apa kamu bawa aku kesini? Aku tidak ada urusan denganmu". "Heh, tidak ada urusan ya? Lalu, bagaimana dengan cucuku yang terbaring sakit disana" menunjuk cucunya yang terbaring di kamar yang berlawanan arah dengan Alice. "Kamu harus merawatnya dan menjadi istrinya!" perintah nenek tua. "Hah! Kamu bercanda ya? Mana mungkin aku mau menikah dengan orang asing sepertinya?" tegas Alice. "Kamu harus mau! Gak ada alasan untuk kamu menolak perintahku!" bantah nenek tua. "Tapi..". "Kalo kamu masih berani menolak, aku tidak akan pernah membiarkanmu keluar dari sini hidup-hidup. Renungkan dulu omonganku, sementara kamu aku kurung disini" ancam nenek tua. "Enggak!" Alice mencoba membuka pintu dengan mendobraknya namun gagal terbuka. Beberapa hari berlalu, Alice tetap terkurung dalam ruangan sunyi tersebut. Hingga akhirnya, tibalah hari dimana pria yang menjadi korban tabrak Jenie sembuh dan pulih dari cedera yang dialaminya. "Nek, mengapa nenek mengurungnya disana? Lepaskan saja dia nek. Kasihan, dia pasti memiliki keluarga yang menunggunya" jelas Haru, yang merupakan cucu nenek tua. "Tidak, kamu jangan membantah nenek. Kamu harus menikahinya! Kamu ini sudah di usia untuk menikah. Sedangkan di desa ini tidak ada gadis yang ingin bersamamu" bantah nenek tua. "Aku.. aku pasti akan segera menikah. Tapi bukan berarti dengan cara paksaan seperti ini, nek". "Nenek gak mau tau, kamu harus menikah dengannya besok. Kamu mau nenek nunggu sampai kapan lagi? Sampai nenek mati pun kamu pasti gak bakal dapat pasangan. Karena kutukan rahasia yang kau miliki" tegas nenek tua. "Hmm.. terserahlah" pasrah Haru.
Hari pernikahan pun tiba, dengan terpaksa Alice menerima lamaran Haru karena ancaman dan desakan nenek Haru.
"Hiks... Hiks.. ibu, maafin aku Bu. Aku gak becus. Aku.. aku gak bisa ketemu ibu lagi" tangis Alice. "Sudah, Alice. Kamu jangan nangis terus. Haru baik kok orangnya. Nanti kalau kamu sudah menikah dengannya. Dia pasti akan selalu menyayangimu dengan sepenuh hatinya" bujuk penata rias. "Hmm.." pasrah Alice.
Pernikahan berjalan dengan lancar.
Saat malam pertama mereka. Haru memutuskan untuk pisah kamar dengan Alice karena tidak ingin memaksakan Alice untuk tidur bersamanya.
"Alice, kamu tidur saja dengan tenang. Pasti hari ini sangat menguras pikiran dan tenagamu. Jadi, aku tidak akan mengganggumu beristirahat. Selamat malam" jelas Haru, lalu pergi meninggalkan Alice seorang diri di kamar.
"Haru.. sepertinya dia memang orang baik. Buktinya dia tidak memaksaku untuk tidur bersamanya malam ini. Mudah-mudahan Haru tidak seperti yang aku pikirkan selama ini" tutur Alice. "Malam ini sangat dingin, aku ingin membuat teh dulu, mungkin baru bisa pergi tidur setelahnya" Alice berjalan menuju dapur. Saat sampai di ruang tengah, dia melihat Haru yang sedang diselimuti kegalauan dan kesedihan diwajahnya. "Haru! itu kan Haru! Kenapa dia disana ya?" Alice berniat menghampiri Haru namun langkahnya terhenti ketika mendengar Haru berbicara sendiri dengan dirinya di depan sebuah bunga mawar biru yang diberi toples kaca. "Liona, andai saja kamu masih hidup. Mungkin nenek tidak akan sekeras ini denganku. Dan.. kita bisa menikah dan hidup bahagia sekarang" ucap Haru. "Liona? Siapa dia?" Alice heran. "Sudahlah, ini tidak ada hubungannya denganku. Haru mencintai orang lain. Jadi, setidaknya kan aku bebas untuk sekarang" ucap Alice lalu pergi menuju dapur. Sementara Haru yang masih berada di ruang tengah melanjutkan merenungkan nasibnya. "Liona, aku janji. Aku bakal jaga hatiku hanya untukmu. Dan buat bunga mawar peninggalanmu ini. Aku akan menjaga dan merawatnya selama sisa hidupku" tambah Haru. Nenek Haru yang menyaksikan Haru sedih, juga ikut sedih akan penderitaan yang dialami cucunya dan menghampirinya. "Haru, kamu harus kuat! Nenek akan selalu ada buatmu. Kamu harus melanjutkan hidupmu bersama Alice. Lupakan kepergian Liona yang sudah tiada ya?" Ucap nenek Haru. "Hmm.. iya nek, aku akan melepaskam kepergiannya. Namun aku belum bisa melupakan cintaku kepadanya" jelas Haru. "Tidak apa, sekarang ada Alice. Kamu pasti bisa melupakannya secara perlahan" hibur Nenek Haru. Alice yang berjalan dari dapur untuk kembali ke kamarnya. "Alice! Mau kemana kamu? Sini, temani Haru dulu! Kasihan, dia sedang sedih hatinya" panggil nenek Haru. "Iya, iya nek" pasrah Alice lalu menghampiri mereka berdua. Haru dan Alice akhirnya tidur di kamar yang sama dengan jarak yang berjauhan, karena terpaksa atas desakan nenek Haru. "Kamu tidur di kasur saja! Biar aku yang tidur di sofa" jelas Haru. "Hmm.. baiklah" jawab Alice. Mereka berdua akhirnya tertidur pulas. Di tengah malam, Haru bangun tanpa sadar dan menuju dapur membuat kebisingan. Alice yang terbangun karena kaget mengikutinya sampai dapur karena penasaran dengan apa yang ingin dilakukannya.
Di dapur, Haru membuka kulkas dan meminum cairan berwarna merah yang dikemas dengan plastik.
Alice yang melihatnya seperti ini kaget dan ketakutan. "Ha.. Haru! Dia.. dia minum darah?" Alice merasa heran. "Sebenarnya ada apa dengan desa ini? Mengapa disini banyak terjadi kejadian aneh?" lanjutnya. "Lebih baik sekarang aku kembali ke kamar. Sebelum Haru melihatku ada disini, yang sedang memergokinya meminum darah". Pranggg. Alice tidak sengaja menjatuhkan barang yang membuat Haru sadar dirinya sedang dimata-matai seseorang. "Siapa disana?" tegas Haru. "Aduh.. pake jatuh segala lagi nih vas. Mudah-mudahan Haru gak sadar aku disini. Aku harus segera pergi" tegas Alice. Alice berhasil kembali ke kamar dan melanjutkan tidurnya dengan berpura-pura nyenyak. Haru menghampiri bunyi yang didengarnya tadi. "Tidak ada apa-apa disini. Sudahlah, lebih baik aku kembali sekarang sebelum nenek mengomeliku lagi" ucap Haru.
Hari-hari berlalu. Setiap malam, Alice selalu memergoki Haru yang keluar kamar di tengah malam untuk meminum darah yang disimpan di kulkas. Namun, yang membuatnya aneh adalah setiap paginya Alice mengecek kulkas tersebut. Tapi tidak ada darah yang dikemas sama sekali didalamnya.
Hingga suatu hari, hubungan Haru dan Alice semakin merenggang. Karena nenek Haru jatuh sakit dan Haru pun memiliki alasan untuk pisah kamar dengan Alice. Namun, Haru tetap mengawasi pergerakan dan rutinitas Alice dari kejauhan. Dan Haru sudah jarang mengunjungi ruangan pribadinya yang terdapat toples mawar biru di dalamnya. Sehingga kebiasaan Haru meminum darah pun perlahan menghilang.
Di taman, Alice menyendiri dan dia berniat untuk pulang ke kota karena kangen dengan keluarganya. Tiba-tiba, Audrey menghampiri Alice yang sedang duduk melamun di hamparan taman mawar milik keluarga Haru. "Alice! Kenapa kamu sedih? Apa kamu gak bahagia setelah setahun menikah dengan Haru?" tanya Audrey. "Tidak, aku merasa ini bukan seperti layaknya hubungan pernikahan Rey. Aku lebih merasa seperti tahanan yang disekap disini seumur hidupnya" jelas Alice. "Kamu jangan sedih, Haru memang seperti itu. Aku tau dia tidak peduli denganmu kan? Karena.. dia masih mencintai Liona, cinta pertamanya" jelas Audrey. "Liona? Sebenarnya dia siapa Rey?" tanya Alice. "Dia cinta pertama Haru. Dan yang lebih membuatku kesal sampai sekarang adalah, kenapa Haru mencintai gadis busuk sepertinya?" ucap Audrey. "Gadis.. gadis busuk? Apa maksud perkataanmu?" tanya Alice. "Kamu.. apa kamu pernah lihat toples mawar yang berada di kamar Haru. Maksudku kamar pribadi Haru. Bukan kamar yang kamu tempati sekarang" tanya Audrey. "Ya, aku pernah melihatnya. Mawar yang berwarna biru kan?" Ucap Alice. "Benar, sebenarnya mawar itu adalah kutukan yang Liona berikan kepada Haru" jelas Audrey. "Mawar kutukan?" Alice tidak paham apa yang dimaksudkan oleh Audrey. "Iya, mawar itu disimpan Haru sebagai kenangan terakhir dari Liona. Namun mawar itu haus darah. Dia akan memaksa dan mempengaruhi pemilik ataupun yang merawatnya untuk minum darah selama periode tertentu. Apalagi saat Haru kambuh. Dia benar-benar meminum banyak darah" jelas Audrey. "Benar-benar mengerikan" ucap Alice. "Iya, tapi Haru orang yang sangat baik dan setia. Buktinya dia masih menyimpan kenangan dari Liona walaupun hal ini menyakiti dirinya sendiri" lanjut Audrey. "Iya juga, lalu bagaimana aku bisa keluar dari sini dan meninggalkan Haru? Karena jelas-jelas dia hanya mencintai Liona selama hidupnya" ucap Alice. "Kamu jangan patah semangat ya. Dia suamimu sekarang. Kamu harus bisa merebut cintanya. Oke?" Audrey memberi semangat. "Hmm.. akan kucoba nanti" pasrah Alice. "Semangat, aku yakin kamu pasti bisa! Satu-satunya cara kamu bisa menemui keluargamu lagi adalah dengan merebut cinta Haru. Dia akan mengabulkan permintaan orang yang dicintainya. Sementara nenek sedang sakit dan hampir sekarat sekarang. Jadi yang bisa menjamin kebebasanmu lagi sekarang hanya Haru" jelas Audrey. "Iya, terima kasih atas saranmu" ucap Alice. "Sama-sama Alice" balas Audrey.
Haru yang melihat mereka berdua bercakap-cakap dengan canda ria curiga dengan hubungan yang Alice dan Audrey miliki.
Saat malam, Haru menegur Alice. "Alice! tadi siang kamu ngapain bercanda dan tertawa bersama dengan Audrey. Kelihatannya hubungan kalian berdua makin dekat ya dari hari ke hari?" tegur Haru. "Enggak seperti yang kamu bayangkan kok Ru. Aku gak ada hubungan apa-apa dengan Audrey. Dia hanya menghiburku saja tadi" jelas Alice. "Menghibur? Hahah! Lagi pula aku tidak peduli juga sih sebenarnya. Dia mau ada hubungan denganmu atau tidak. Itu bukan urusanku" ucap Haru. "Hmm.. Haru, udah ya jangan cemburu gitu dong. Aku tau kamu cemburu kan tentang kedekatanku dengan Audrey?" tanya Alice. "Enggak, enggak kok. Udah jangan dibahas lagi. Aku mau istirahat sekarang" lanjut Haru dan berbaring di kasur milik Alice. "Eh, bukannya kita pisah kamar ya? Kenapa kamu tidur disini sekarang?" Tanya Alice. "Ini rumah siapa?" Balas Haru. "Rumahmu sih" Jawab Alice. "Nah, berarti terserahku dong mau tidur dimana" jelas Haru. "Iya sih, tapi kan..". "Sudah Alice, ini udah malam. Kamu mau tidur jam berapa lagi? Cepat tidur!" perintah Haru. "Iya.. Iya.." jawab Alice. Mulai hari itu, Haru tidur bersama Alice. Dan hubungan mereka semakin membaik dan harmonis.
Keesokan paginya. Alice menyiapkan sarapan seperti biasanya dan dia yakin kali ini Haru pasti tidak memakan masakannya seperti biasa. Tapi, kebiasaan baru Haru berubah. Dia memakan sarapan yang dibuat oleh Alice dengan lahap. "Haru, tumben kamu mau makan masakan yang kubuat?" tanya Alice. "Kenapa? Apa ada yang salah? Aku hanya takut makanan ini akan terbuang secara mubazir. Kita harus hemat mulai sekarang" jelas Haru. "Ya, baiklah" ucap Alice. Audrey secara kebetulan lewat ruang makan dan Alice menawarinya makan bersama. "Audrey, sini! Kita makan bareng" ajak Alice. "Hmm.. iya baik.." Audrey berniat menghampiri meja makan. Tapi, seketika tidak jadi karena melihat tatapan sinis Haru. "Sepertinya tidak perlu, aku sudah makan tadi Alice" lanjut Audrey. "Eh.. kenapa gak jadi?" Tanya Alice. "gpp kok, aku hanya sudah kenyang" jawab Audrey lalu pergi menuju ruang belakang". "hmm.. oke" Alice tidak jadi menyiapkan sarapan untuk Audrey. "Alice, kenapa kamu perhatian banget sih sama Audrey?" Batin Haru cemburu.
Di halaman belakang, Audrey melakukan pekerjaannya sebagai pengawal. Haru yang telah selesai sarapan pergi ke ruang belakang menemui Audrey. "Rey! Ada hubungan apa kamu sama Alice? Kenapa kamu semakin dekat saja dengannya dari hari ke hari?" Sontak Haru. "Hahahah! Haru.. Haru, kamu cemburu ya?" ledek Audrey. "Si.. siapa bilang aku cemburu?" sanggah Haru. "Buktinya kamu penasaran tentang aku dan Alice" lanjut Audrey. "Hahah, kamu lucu Rey! Aku mana mungkin punya perasaan dengan Alice. Pernikahan kami kan hanya terpaksa" bantah Haru. Alice yang mendengar percakapan mereka berdua dari kejauhan. Lantas meninggalkan Haru dan Audrey. "Hiks.. hiks.. Haru! Kamu kenapa mempermainkanku seperti ini? Kalau kamu gak punya perasaan apa-apa denganku sekarang. Kenapa sikapmu menjadi berubah kepadaku? Mengapa kamu bersikap begitu hangat dan lebih peduli sekarang padaku? Hiks.. hiks.." tangis Alice. Audrey yang melihat Alice pergi dengan terburu-buru. Lalu memberitahu Haru tentang Alice yang mendengar percakapan mereka berdua. "Alice? Mana dia? Gak ada kok" Haru melihat sekeliling. "Dia sudah pergi kesana, Haru. Kamu ini sih, bicaranya ngelantur. Mungkin dia sakit hati dengan ucapanmu sekarang" tegas Audrey sambil menunjuk ke arah Alice pergi. "Gawat! Padahal ucapanku tadi tidak sungguh-sungguh" batin Haru. Haru pergi meninggalkan Audrey begitu saja tanpa basa-basi dan mengejar Alice. "Ish.. si Haru ini ya? Makanya jadi lelaki itu yang gentleman dong. Haru.. Haru, tau sendiri kan sekarang akibatnya" ucap Audrey dan kembali melanjutkan pekerjaannya.
"Alice! Alice kamu dimana?" panggil Haru. "Hmm.. aku disini Ru" mengusap air mata dan menyahuti panggilan Haru. Haru yang melihat mata Alice bengkak pun mengusap pipinya. "Mata kamu kenapa? Kok bengkak gini" tanya Haru. "Gpp kok, aku cuma kelilipan aja mungkin. Makanya bisa bengkak sedikit" sanggah Alice. "Oh, begitu. Ya sudah kamu lebih baik istirahat saja dulu dikamar. Kesehatanmu juga kan makin memburuk dari hari ke hari" perintah Haru. "Iya, kamu mau kemana Ru?" Tanya Alice. "Aku ada urusan pekerjaan yang harus diselesaikan. Jadi, maaf lice. Aku tidak bisa menemanimu dulu" jelas Haru. "Ya, gpp Ru".
Keesokan harinya, Haru sedang pergi mengurus pekerjaannya di luar. Alice yang berada di rumah berniat menghancurkan toples mawar biru yang disimpan Haru berkat hasutan Audrey. "Alice, cepat! Mumpung Haru tidak dirumah. Kamu harus hancurkan toples vas mawar biru itu. Agar kutukan Haru bisa hancur sepenuhnya" bujuk Audrey. "Hmm.. iya" jawab Alice kemudian membanting toples itu hingga pecah. Haru yang berada di luar secara mendadak sadar terjadi sesuatu yang tidak beres. Kemudian dia bergegas pulang.
Sesampainya dirumah.
"Alice! Apa-apaan kamu merusak barangku? Kamu sudah merasa seperti nyonya ya disini?" Tegas Haru. Cinta Haru untuk Liona beserta kutukan yang diterimanya pun hilang seketika. Namun, hal ini tak lantas membuat hubungan Alice dan Haru membaik dan harmonis. Sejak saat itu, hubungan mereka berdua menjadi semakin renggang dari hari sebelum-sebelumnya.
Hari berlalu, kesehatan nenek Haru kian memburuk. Hingga suatu hari, nenek Haru meninggal dunia. "Nenek! Hiks.. hiks.. Kenapa nenek pergi secepat ini? Aku udah gak punya siapa-siapa lagi nek" Tangis Haru. "Haru, kamu yang kuat ya. Masih ada aku kok disini yang selalu menemani kamu" hibur Alice. "Iya Ru, aku juga akan selalu ada buatmu" sambung Audrey. "Alice! Tapi, kamu? Setelah kepergian nenek, apa kamu juga akan meninggalkanku setelah aku memberimu kebebasan?" Tanya Haru. "Haru, kamu jangan bilang begitu, aku.. walaupun aku menginginkan kembali bertemu dengan ibuku. Tapi, aku istrimu sekarang. Aku gak akan ninggalin kamu Ru" jelas Alice. "Sungguh?" Tanya Haru dengan ragu. "Ya, aku beneran Ru" Jawab Alice. "Terima kasih Alice. Kamu selalu ada untukku" ucap Haru sembari memeluk Alice.
Hari-hari mereka menjadi bahagia setelah itu. Dan Haru berinisiatif membawa Alice pergi ke kota mengunjungi ibunya. "Alice, bagaimana jika kita pergi mengunjungi keluargamu ke kota?" ajak Haru. "Benarkah? Kamu seriusan Ru, mau bawa aku pulang ke kota?" Sontak Alice dengan bahagia mendengar kabar tersebut. "Iya" jawab Haru. "Makasih Haru, udah mau bawa aku pulang" ucap Alice. "Gak hanya itu, kita akan tinggal di kota mulai sekarang" jelas Haru. " Yeaay, akhirnya aku bisa bebas dari desa ini" sontak Alice. "Jadi, apa selama ini kamu gak bahagia tinggal bersamaku?" Haru merasa bersalah. "Bukan begitu Ru, aku hanya sangat rindu dengan keluargaku" jelas Alice.
Alice dan Haru tiba di kota dan disambut dengan bahagia oleh keluarga Alice. Karena sebelumnya, Alice mengabari adik dan ibunya yang sudah sembuh dari sakitnya.
"Kakak!" Sorak Riska lalu berlari memeluk Alice. "Riska, kakak kangen sekali denganmu dan ibu. Ibu!!" Alice berlari menghampiri ibunya. "Nak, kamu.. dia siapa nak?" Menunjuk Haru. "Dia suamiku Bu" jelas Alice. "Suami? Jadi selama kepergianmu bertahun-tahun, kamu sudah menikah?" tanya ibu Alice. "Iya Bu, maafin aku Bu. Aku tidak memberitahumu masalah ini. Ceritanya panjang Bu. Nanti aku ceritakan" jelas Alice. Haru dan Alice memberi penjelasan tentang hal yang sudah mereka lalui selama ini. Awalnya ibu Alice tidak menerima pernikahan mereka. Karena pernikahan tersebut secara paksaan. Namun, Alice menjelaskan bahwa dia dan Haru sudah saling mencintai dan menerima takdir mereka untuk bersama dan menikah. Ibu Alice merasa lega mendengar jawaban putrinya. Kini, Haru dan Alice hidup bahagia bersama hingga maut memisahkan mereka.