......
Aku adalah mahasiswi tingkat akhir. Beberapa bulan ini aku sedang sibuk menyusun skripsi. Sungguh aku sudah ingin lulus, bukan karena apa, aku sudah telat satu semester dari seharusnya dan itu Menambah pengeluaranku. Belum bisa cari kerja yang mapan, malah hambur-hamburkan uang. Kok jadi sesi curhat ya? Haha
Jujur saja, aku suka uang. Bukan berarti mata duitan. Kita harus realistis. Segalanya butuh uang di zaman ini. Zaman Milenial kata anak sekarang. Contohnya sekarang, aku sangat butuh uang untuk melanjutkan penelitianku. Lagi pusing-pusingnya menggarap penelitian dan juga revisi-revisi ke dosen pembimbing. Banyak coretan sana-sini. Aku butuh semangat, aku butuh mood booster, aku butuh makanan, aku butuh uang, aku butuh hiburan, aku butuh udara segar, aku butuh refreshing, aku butuh liburan.
Aku sudahi revisiku malam ini, jujur aku penat sekali. Setiap hari menghabiskan waktu untuk skripsi agar cepat usai.
Drrrt drrrttt drrrttt
Ponselku bergetar. Sepertinya telepon.
Kulihat sekilas, seseorang dengan nama 'calonku' muncul di benda pipih persegi itu.
Tumben telpon jam segini, kulirik tembok besar tempat dua jarum menempel itu menunjukkan pukul 19.34. Masih sore, biasanya dia akan hanya mengirimkan chat saat aku menjelang tidur saja. Itupun kemauanku, aku tidak ingin terganggu saat sedang revisi.
Eh, getaran benda pipih itu berhenti sebelum aku geser tombol hijaunya. Bukan berniat menunda mengangkatnya tadi, hanya saja ini jarang terjadi sehingga aku sedikit mendiamkannya.
Klunting
Akhirnya benda pipih itu berbunyi lagi. Sebuah chat masuk. Aku segera membukanya. Benar saja, masih dengan nama yang sama.
Calonku- "Sayang, aku di depan gang kosanmu, keluar bentar ya, please...!"
Aku- "Ngapain Bang?"
Entahlah kenapa kata itu yang menjadi balasanku, berasa aku tidak mau, cuek, dan seperti jual mahal. Padahal ya mungkin memang benar praduga-praduga tadi.
Tapi aku cepat keluar kosan, menuju depan gang tempat 'calonku' berada.
Aku sudah melihatnya dari kejauhan, tampak membelakangiku. Tapi aku sudah hapal betul postur tubuh itu. Dia yang menungguku.
Setelah sampai di depan gang, aku menepuk bahunya dari belakang.
"Bang"
Dengan sedikit terkejut, dia menoleh.
"Sayang"
"....." Aku hanya diam dan tersenyum semanis mungkin padanya.
"Ngapain ke sini Bang?" Setelah beberapa detik kita berdiam, saling pandang, seolah mata kita yang sudah mewakilkan bibir berbicara. Tanyaku sarkas kepadanya.
"Kangen dek."
"Kenapa panggilnya dek?"
"Pingin aja."
"Abang baru pulang kerjanya?" Ku lihat dia masih berkemeja dengan lambang kecil perusahaan di lengan bahunya.
"Iya."
Dia menjawab asal, sekilas, pelan, hampir tak ku dengar.
"Dek, bisa minta waktunya sebentar? Sayang sudah makan? Cari makan malam yuk..."
Pertanyaan beruntun yang tidak perlu jawaban sepertinya, karena dalam detik berikutnya, si abang sudah menggandeng tanganku menuju ke mobilnya yang agak jauh ia tepikan di tepi jalan tadi.
Tampilanku yang asal-asalan pun tak terpikirkan. Sampai di mobil, si abang membukakak pintu dan mempersilahkan masuk, dengan hati-hati ia memakaikan sabuk pengaman untukku. Jarak yang sangat dekat ini membuat jantungku tidak sehat. Yang benar saja, aku jarang sekali jalan berdua dengan si abang. Karena memang dia sibuk bekerja, dan aku sibuk skripsi. Kita kenal mungkin baru enam bulan, dan tiga bulan lalu si abang meminta aku jadi calonnya. Oleh karenanya, nama di ponselku yang dulunya nama si abang sekarang sudah berganti menjadi 'calonku'. Katanya sih tidak mau pacaran, tapi kalau seperti ini, namanya juga pacaran pikirku.
Dalam perjalanan, aku hanya diam. Si abang memulai percakapan.
"Sayang, mau makan apa?"
Tangan kirinya melepas kemudi, kemudian menggenggam tanganku. Sedikit kaget, si abang tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku masih diam.
"Sayang..." Panggilnya lagi.
"Iya Bang?" Aku memang sedikit melamun dan kurang konsentrasi. Pikiranku sudah traveling kemana-mana.
"Mau makan apa?" Tanyanya lagi
"Terserah Bang."
"Seafood?"
"Emmm, kayaknya jangan seafood deh."
"Nasi goreng?"
"Porsinya kebanyakan nanti Bang."
"Bakso?"
"Aku kurang suka bakso."
Dan rentetan jenis makanan si abang tawarkan, tapi aku seperti tidak ingin makan semua itu.
"Apa sayang? Hmmm? Katanya tadi terserah? Sekarang Abang bingung, semua kamu tolak." Agak sedikit kecewa kayaknya dari nada bicaranya aku tahu. Aku memang menjengkelkan.
"Apa ya Bang? Sepertinya aku tadi sudah makan, hahaha." Pikirku bercanda dan sedikit tertawa agar si abang tidak terlalu kecewa.
Dia mengusap ujung kepalaku gemas. Pipiku sudah bersemu merah menahan hangatnya perlakuan si abang kepadaku.
Tanpa bertanya lagi, si abang memarkir mobilnya di restoran siap saji gambar orang tua. Haha. Walaupun hatiku masih ingin berkilah, tapi rasanya kasihan si abang nantinya. Ya sudah turuti saja.
Kita mencari tempat di lantai dua di balkon sebelah ujung. Kemudian si abang pamit untuk pesan makanan dulu, tanpa bertanya kepadaku, aku ditinggal di tempat itu.
Aku pandangi jalanan kota yang tampak dari atas tempatku memangdang. Baru aku teringat, aku hanya memakai kaos oblong dan rok panjang, tentu dengan jaket dan jilbab instan. Penampilan macam apa ini? Jalan sama calon kok kaya gini?
"Dek, Abang pesan ini gapapa ya? Dari pada tanya nanti adik mikirnya lama, aneh-aneh juga jawabannya."
Dia sudah sangat hapal dengan tingkahku rupanya. Kalau soal makanan entah mengapa aku jadi pilih-pilih. Padahal kalau adanya itu ya di makan saja.
"Iya Bang, gapapa." Kujawab sambil tersenyum masam agak sedikit malu.
"Ayo dimakan dek." Aku jadi sedikit aneh mendengar panggilan 'dek' malam ini, sebab biasanya tidak seperti ini, si abang lebih sering memanggil 'sayang' yang sangat dewasa, memperlakukan diriku sebagai adik kecil yang manja.
"Aku cuci tangan bentar ya Bang."
"Bareng dong dek."
"Stop, jangan Bang, aku duluan. Abang jaga makanan aku. Nanti kalau hilang, aku gak jadi makan dong."
"Yaa Alloh dek, gak akan hilang. Gk mungkin juga diambil orang." Sambil berdiri ingin mengikutiku.
"Abaaaaang, duduk. Aku duluan." Aku menahannya, dan aku segera berlari ke tempat cuci tangan. Bukannya tidak mau bareng, aku hanya kurang nyaman. Setelah aku kembali, bergantian dia memcuci tangan. Aku sudah makan bagianku.
"Ih sayang gak nungguin Abang makannya."
"Maaf" Cengiranku manja sebagai tameng.
Kita makan bersama, dengan sedikit bicara.
"Dek, Abang diminta mama buat segera nikah."
"..." Aku diam memangdang si abang, menunggu kelanjutan narasinya.
"Abang sudah kerja, abang sudah punya kamu. Orang tua ingin menyegerakan. Mereka ingin segera menimang cucu"
"...." Aku masih diam.
"Sayang, mau kan jadi istrinya abang?"
Tangan kirinya sudah memegang pergelangan tangan kananku.
"Tanganku kotor Bang, aku cuci tangan dulu yak!" Pamitku langsung ngeloyor pergi. Ternyata si abang sudah di belakangku untuk antri cuci tangan.
Kami kembali ke tempat duduk semula bersama. Aku tidak sengaja menunggunya, sambil sedikit berpikir atau melamun.
Setelah kita duduk, tanganku sudah berada di genggaman si abang.
"Sayang, mau kan?."
Aku tersenyum masam.
"Bang, aku belum lulus, gimana? Mama apa sudah tahu?"
Aku menyebut calon mertuaku dengan sebutan mama, karena si abang yang minta dulu saat aku di kenalkan kepada orang tuanya. Seminggu setelah jadian, langsung laporan. Aku jadi merasa spesial, karena hubungan ini serius, aku senang, hanya saja aku belum menuntaskan studiku.
"Mama sudah tahu. Mama ingin minggu ini ke rumahmu."
"Hah? Secepat itu?"
"Tidak bisakah aku minta waktu sampai usai skripsiku Bang?"
"Kayaknya itu terlalu lama Dek."
"Whattt?"
Bagaimana ini yaa Alloh? Aku bingung.
"Abang yang akan bilang ke orang tuamu. Abang akan meminta ijinnya untuk menikahimu segera."
"Abang kebelet? Alibi ya disuruh mama? Hehe" Niatku ngomong demikian hanya bercanda, karena obrolan ini sangat serius.
"Dari awal sudah abang bilang, Abang mau kamu jadi calonku bukan?"
Tanggapan abang terlalu serius, aku sudah kalah telak, tidak bisa menolak.
"Abang, abang akan tetap seperti ini kan? Memberiku kebebasan untuk melakukan apapun itu saat aku terikat nanti? Aku masih harus menyelesaikan skripsi Bang. Tinggal skripsi doang." Rengekku padanya.
Si abang mengusap ujung kepalaku pelan.
"Aku bantu nanti." Senyumnya seperti sedang menggoda.
Obrolan-obrolan agak berat sedikit ringan setelahnya. Mengeluarkan semua unek-unekku, keinginanku, khayalanku, impianku kepada si abang. Sampai cukup larut, waktu sudah menunjukkan pukul 22.03
"Bang, sudah malam... Duhhh ayo antar aku pulang, nanti dikunci kosan aku bang."
Kami segera bangkit dan si abang menggenggam tanganku seakan tidak mau lepas. Posesif sekali pikirku. Atau si abang memang kebelet kawin? Astaghfirullah.
Di dalam mobil pun demikian, tanganku selalu digenggamnya. Aku pasrah saja.
Sampai di depan kos, abang memberhentikan mobilnya, masih belum membuka kunci pintu. Sepertinya tidak ingin aku keluar dulu.
"Ada apa Bang?" Tanyaku padanya yang tanganku masih di genggamnya.
"Sebenarnya ada anak temen mama yang mau dijodohkan denganku, kalau kamu tidak bersedia segera menikah, aku dipaksa menerima perjodohan itu. Aku ragu mengatakan ini padamu. Aku takut kamu meragukanku. Aku mencintaimu Hasna Zunaira."
Suaranya agak tercekat, sedikit bergetar.
"Aku tidak ingin orang lain yang di sampingku. Aku hanya ingin kamu yang akan membersamaiku. Aku bahagia bersamamu."
"...." Aku hanya diam. Aku seperti patung disini.
"Hasna sayang, please..menikahlah denganku."
Hanya anggukan sebagai jawabanku. Si abang mendekat ke arahku, si abang perlahan mencium keningku. Aku terdiam. Aku tidak tahu harus berbuat apa. Ini pertama kalinya. Aku sudah memegang handle pintu ingin segera keluar karena malu. Si abang pun membuka kuncinya. Aku berlari masuk ke kosan. Langsung merebahkan diri di kasur. Apakah aku bermimpi?
Klunting
Ponselku berbunyi, pertanda pesan masuk.
Calonku- "Hasna sayang, aku mencintaimu."
Aku- "Terima kasih untuk segalanya Bang"
Calonku- "Apakah kamu mencintaiku? Aku tidak pernah mendengar sekalipun kamu mengucapkan kalimat itu untukku"
Aku- "Maafkan aku Bang"
Calonku- "Apa artinya maafmu?"
Aku- "Aku mencintai kamu, calon suamiku."
Obrolan chat macam apa itu. Aku tidak pernah seperti itu.
Besoknya si abang telepon orang tuaku, katanya sudah minta ijin akhir pekan akan datang melamar. Kalau diijinkan, menikah sekalian, tapi itu tidak mungkin pikirku. Kami belum menyiapkan semuanya.
Hari Sabtu, si abang dan keluarga sudah berada di rumahku, mengutarakan niatnya. Memintaku pada orang tua. Orang tuaku sudah kenal si Abang. Sudah tiga kali dia ke rumah, dan orang tua menyetujuinya. Entah pelet apa yang digunakan si abang, sampai orang tuaku luluh. Sebelumnya ibu bapakku melarangku pacaran bahkan menikah sebelum lulus kuliah. Ini kenapa kok diterima dengan lapang dada? Apakah ini yang dinamakan jalannya? Jodoh gak akan kemana?
Sabtu berikutnya sudah ditetapkan sebagai tanggal pernikahanku, seminggu aku menunda skripsiku dan mengurus pernikahanku yang terkesan mendadak itu. Ini nikah resmi secara hukum dan negara, namun kami memutuskan tidak melakukan resepsi sekarang. Mungkin kalau diijinkan, besok setelah lulus.
Hari Sabtu kenapa datang cepat sekali? Aku bahkan mengira ini masih mimpi. Aku sudah dipoles makeup ala pengantin wanita dengan sangat lihai oleh MUA pilihan calon mertua. Ya, pernikahan diadakan di kediaman beliau. Apa ini nyata? Ya, ini nyata. Aku memutuskan menikah sebelum tuntas studiku.
Hari ini, aku sah menjadi sang istri. Istri seorang Evan Aditiya. Bagaimana rasanya?
Entahlah. Bagaimana nasibku setelah ini.
Ramah tamah dan jamuan keluarga sudah tersedia. Mereka bergantian mengucapkan selamat kepada kami. Setelah acara usai, si abang langsung membawaku ke subuah rumah minimalis di dekat area kampus. Katanya, ia sudah membicarakan ini kepada ibu bapakku, dan diijinkan membawa putrinya. Secara aku sudah menjadi tanggung jawabnya saat ini.
Waktu sudah menunjukkan pukul 21.17
Sudah sangat larut menurutku. Karena mungkin aku juga sudah capek ingin segera mandi dan tidur.
Sebagai pengantin baru, di rumah sendiri. Niatku untuk tidur lebih awal tidak terealisasi. Ternyata si abang menjadi sangat berbeda saat kami hanya berdua. Semalaman kami habiskan untuk ronda. Menyelesaikan satu misi yang kata si abang nikmat tiada tara. Tapi kataku ini sakit luar biasa.
End