“Tanpa restu kalian, aku pun bisa bahagia," cecar Fina tertuju kepada kedua orang tuanya.
“Bahagia memang bisa kauraih, tapi jangan harap rumah tangga kalian mendapat
keberkahan,” Ayah membalas perkataan Fina dengan nada yang lebih tinggi dari
sebelumnya. Masih dengan kabut keresahan.
***
Nama gadis itu adalah Alfi Nayla, yang akrab dengan nama singkat Fina. Adalah anak tunggal dari pasangan Supriyanto dan Nur Asih. Keluarga kecil itu tinggal di sebuah rumah yang sangat sederhana dan terletak di pedalaman.
Setiap hari, sang Ayah dan Ibu selalu pergi ke ladang untuk memantau dan mengurus benih tanaman yang telah disebar di ladang pada musimnya. Mereka adalah pekerja yang gigih. Sedangkan Fina, putrinya adalah anak yang rajin, pandai, juga cantik. Tahun ini adalah tahun ketiganya menggeluti dunia perkuliahan. Karena kepandaian dan keuletannya, Fina berhasil meraih beasiswa fully funded yang tentunya sangat menguntungkan bagi perekonomian keluarga yang pas-pasan.
Mentari mulai beranjak dari peraduannya. Sinar terangnya berupaya membagi kehangatan bagi kehidupan di bumi. Burung-burung terbang di cakrawala dengan gembira menyambut hari. Sebagai rutinitas kala liburan tahunan, Fina mengisi hari-harinya dengan berbagai kegiatan positif. Setiap hari ia selalu membantu orang tuanya di sela kesibukannya sendiri.
“Ayah, Ibu! Ini sarapan buat njenengan,” ucap Fina dengan nada bicara yang sangat sopan, khas pedesaan Jawa. Fina menyusul orang tuanya di ladang dengan membawakan sarapan dari masakannya sendiri. “Iya, nduk! Terima kasih... Ayo sarapan bareng!” sambut sang Ibu
dengan nada yang menyejukkan hati. “
Keluarga Fina seakan terlihat bersinar akan kedamaiannya. Masing-masing dari mereka sangat bersyukur dikaruniai keluarga yang rukun dan menenangkan jiwa. Bahkan mereka selalu mendambakan kebersamaan antaranggota setiap saat. Berkumpul dan
bercengkerama di ruang keluarga menjadi hiburan tersendiri bagi mereka untuk melepas penat.
Tak jarang para tetangga menaruh iri dan ngerasani keluarga tersebut. Bukan karena benci, melainkan karena mereka juga berharap mempunyai keluarga sebahagia ‘Keluarga Fina’.
Hari demi hari kian berlalu. Fina harus kembali kembali ke kota untuk melanjutkan
kuliahnya, semester lima. Seakan sudah terbiasa dengan situasi ini. Sang Ayah dan Ibu mengantar kepergian anaknya sampai di depan rumah, tanpa adanya air mata. Keduanya merapalkan doa keselamatan untuk satu-satunya anak yang disayanginya.
***
Fina telah sampai di kostnya, saksi bisu perjuangannya dalam meraih gelar sarjana di dunia
perkotaan. Sejenak ia melepaskan penatnya dengan telentang di kasur lantainya. Dia tidak sendiri menempati ruangan ini. Sebenarnya masih ada dua teman kostnya yang lain, tetapi mereka belum datang. Mungkin nanti malam.
Setelah tenaganya cukup pulih dari perjalanan jauh, Fina membereskan seisi kostnya. Setelah selesai, ia pun bersiap untuk sholat dhuhur. Ya, Fina memang bukan seorang gadis yang sangat religius. Ia juga tidak berjilbab. Namun, setidaknya ia masih melaksanakan sholat lima waktu tanpa absen, kecuali saat udzur.
“Annyeong haseyo,” Clary mencoba menyapa Fina yang diyakininya sudah datang lebih
awal.
“Assalamu’alaikum,” sahut teman yang lain, Salma.
“Wa’alaikumussalam warahmatullah,” Fina hampir saja berteriak kegirangan menyambut dua teman kostnya yang sudah datang. Mereka bertiga pun saling berpelukan, melepas rindu. Selanjutnya mereka berbincang tentang banyak hal yang berada di pikiran masing-masing.
***
Tidak ada yang tahu pasti tentang jalan hidup seseorang, kecuali Allah. Begitu juga dengan Fina. Saat ini ia sedang menjalin hubungan ‘spesial’ dengan teman kuliahnya yang berasal dari negeri barat, Belanda. Namanya adalah Janson. Keduanya berhasil menyembunyikan hubungannya sampai hari kelulusan. Walaupun sebenarnya kedua orang tua Fina menaruh
rasa curiga karena Fina yang awalnya sering menelpon ayahnya, tiba-tiba menjadi jarang. Selain itu, Fina juga sering telat pulang saat liburan kuliah dengan alibi ‘mengerjakan tugas’
yang belum selesai. Padahal saat itu, Fina dan Janson pergi hang out bersama.
Seminggu setelah wisuda, Fina nekat memperkenalkan Janson kepada kedua orang tuanya. Sang Ayah dan Ibu menyambut kedatangan Janson dengan hangat. Mereka juga sudah menduga kalau Janson bukanlah orang asli Indonesia. terlihat dari perawakan tubuh yang
cukup tinggi, berkulit putih kemerahan, dan bermata biru.
Namun, kehangatan itu tidak berlangsung lama setelah Fina meminta izin untuk menikah dengan Janson. “Ayah, Ibu! Fina mau minta izin untuk menikah dengan Janson,” Fina berbicara mantap dan yakin kalau ia akan diberi izin dari kedua orang tuanya. Sang Ibu langsung menarik tangan Fina untuk masuk ke bagian dalam rumah itu. Sedangkan sang Ayah masih menemani Janson sambil sesekali melontarkan beberapa pertanyaan. Interogasi
lebih tepatnya.
“Fin, apakah kamu sudah yakin dengan Janson? Apakah dia Islam? Dia juga dari negara barat yang budayanya sangat berbeda dari negara kita,” tanya Ibu dengan nada cemas, “Sebenarnya kamu sudah dilamar sama anaknya Ustadz Jalal. Ayah dan Ibu sudah menerima lamarannya,” wajah Fina yang semula penuh harap berubah memunculkan emosi yang
tertahan.
“Ayah sama Ibu apa-apaan, sih! Suka seenaknya sendiri mengatur hidupku. Please, kali ini aku ingin bebas menentukan pilihanku sendiri. Tentang agama? Sudah tidak zamannya ada cinta terhalang karena perbedaan agama,” suara Fina terdengar cukup keras sampai ruang
tamu. Ayah dan Janson mendengarnya. Ayah pun menyusul ke belakang ingin melihat keadaan istri dan anaknya.
“Astaghfirullahal ‘adhim, Fina! Sejak kapan kamu seperti ini? Mana kesopanan yang kami ajarkan dulu?” kali ini emosi sang Ayah ikut meletup menghadapi anak semata wayangnya yang sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Sedangkan Ibu sudah tidak mampu melihat perubahan anaknya. Ia menangis di pojokan ruangan sambil beristighfar dan menyebut nama Fina berulang kali.
“Persetan dengan kesopanan kalau kalian tidak menghargai keputusanku. Keputusanku sudah bulat. Aku akan menikah dengan Janson. Jika tidak bisa dengan cara baik-baik, aku akan kawin lari,” kali ini Fina sudah benar-benar nekat dalam berucap memperjuangkan cintanya.
“Kalian tidak akan mendapatkan restu kami,” amarah sang Ayah kini bersanding dengan rasa pasrah dan menyesal karena mungkin salah mendidik putrinya.
“Tanpa restu kalian, aku pun bisa bahagia," cecar Fina tertuju kepada kedua orang tuanya.
“Bahagia memang bisa kauraih, tapi jangan harap rumah tangga kalian mendapat
keberkahan,” Ayah membalas perkataan Fina dengan nada yang lebih tinggi dari
sebelumnya. Masih dengan kabut keresahan.
“Terserah Ayah mau bilang apa. Aku akan pergi bersama Janson,”
Fina langsung masuk ke kamar untuk membereskan barang-barangnya masuk ke dalam koper. Setelah itu, ia keluar sambil menggandeng tangan Janson yang berdiri dalam kondisi serba salah, bingung. Mereka berdua pergi meninggalkan kedua orang tua Fina dalam rumahnya.
Mereka pergi ke tempat kostnya dahulu semasa kuliah masing-masing. Jarak antarkost keduanya sekitar dua kilometer. Mereka sepakat tinggal selama dua minggu
(saran Janson) di kost untuk menenangkan pikiran sebelum berangkat ke Belanda, rumah Janson. Fina tinggal sendiri, sedangkan Janson memilih bersama teman kostnya yang masih tinggal.
***
Ini adalah hari ketujuh Fina tinggal di kostnya dahulu. Ia menyiapkan berbagai masakan spesial untuk Janson yang telah ditata rapi dalam rantang mini. Tidak lupa, Fina juga berusaha tampil 'perfect' menggunakan dress navy selutut dengan blazer berwarna abu. Sedangkan rambut hitamnya dibiarkan terurai menjuntai sebahu dengan jepit hitam di pelipis kanan. Fina sangat cantik hari ini.
Tanpa sepengetahuan Janson, Fina mengunjungi kostannya. Awalnya ia ingin mengetuk pintu terlebih dahulu, tetapi ia urung karena ingin memberikan surprise kepada Janson. Sebelum membuka pintu, ia sedikit menata rambut dan bajunya yang dirasa perlu.
Satu, dua, tiga... Ia membuka pintu perlahan dan bersiap memberi ucapan ‘surprise’
‘Sur...,’ ucapan Fina tertahan kala dihadapkan dengan tontonan menjijikkan didepannya. Janson, orang yang sangat disayanginya dan alasan utama meninggalkan orang tuanya sedang
‘hot kissing’ dengan teman kostannya.
Untuk sepersekian detik, Fina dan pasangan keji itu diam mematung berusaha mengembalikan kesadaran. Fina tidak mengindahkan makanannya yang sudah berceceran di lantai, yang refleks terjatuh tadi.
Fina berlari keluar tak tentu arah sambil menangis. Bayangan pertentangan dengan Ayah dan Ibu tiba-tiba memenuhi otaknya. Ia berhenti di pegangan jembatan penyeberangan kota yang tidak jauh dari posisi awalnya.
“Kenapa? Kenapa aku sangat bodoh. Bodoh sekali sampai melawan orang tuaku sendiri. Hanya demi dia yang bahkan mungkin sebenarnya tidak mencintaiku. Kamu bodoh, Fin!” Fina terus meratapi penyesalannya di tepi jembatan.
“Fina!!!! Fina, I am sorry,” Janson ikut berlari mengejar Fina untuk memberi penjelasan.
“Sorry, Fin! Aku benar-benar nggak bermaksud berbuat sejauh ini denganmu?”
“What do you mean? Setelah apa yang sudah aku korbankan, ternyata ini balasanmu? Atau jangan-jangan kamu hanya memanfaatkanku untuk menutupi tindakan kejimu, hah! Dan alasanmu menunda keberangkatan kita ke Belanda karena bentuk ketidakseriusanmu? Dasar, kamu!” Fina terus mencecar Janson dengan kata-katanya, tangannya pun ikut andil
dalam mendukung cecarannya, entah menuding maupun memukul pundak Janson.
“Sorry, Fin... I am so sorry!” Janson kembali meminta maaf setelah berhasil mengunci
pergerakan kedua tangan Fina.
“Nggak usah pegang aku dengan tangan najismu! Anggap kita tidak pernah kenal! Bye!”
***
Keadaan Fina saat ini benar-benar kacau. Sesaat setelah ia memutuskan Janson dan sampai di kost, ia mendapat telpon dari ayahnya. Sebelumnya ia selalu mengabaikan setiap pesan dan telpon dari ayahnya. Namun, kali ini keadaannya berbeda.
“Assalamu’alaikum, Ayah!” nada bicara Fina sedikit bergetar kala mengingat perbuatannya.
“Alhamdulillah, wa’alaikumussalam, Fin! Cepat pulang! Ibumu sedang sakit keras “
***
“Fina, Fina... Ayo pulang, nduk! Fin... Kamu dimana?” suara Ibu Nur Asih kian melemah
memanggil Fina yang telah meninggalkan rumah. Penglihatannya pun mulai kabur.
“Ini Fina, Bu! Fina di sini. Ibu cepat sembuh, ya!” Fina yang menangis sesenggukan meraih kedua tangan ibunya dan mengelusnya seakan berusaha menyalurkan dukungan batin kepada ibunya.
“Kamu siapa? Kamu bukan Fina,” kali ini tangan Fina langsung ditolak oleh ibunya.
“Ini beneran Fina, Bu!”
“Bukan! Jangan mengaku-ngaku sebagai Fina anakku! Fina yang kukenal telapak tangannya kasar karena selalu membantuku dan ayahnya. Tanganmu halus. Kamu bukan Fina! Finaku yang dulu sudah tiada,”
“Ibu, Fina minta maaf,”
“Aku... tidak percaya... kamu!” kali ini suara Ibu mulai terbata-bata, “Haa..h... Allah, Allah...”
mata Ibu perlahan terpejam. Genggamannya melemah. Ibu telah tiada, dan Fina belum memperoleh maafnya.
“Ibuuuu......!!!!” semuanya sudah terlambat. Tubuh Fina lemas seketika dan akhirnya
ambruk dengan posisi mendekap ibunya. Matanya terpejam tetapi buliran bening itu masih menetes dari ujung kedua matanya.
***
“Ayah, Fina minta maaf. Fina sadar kalau sudah banyak dosa sama Ayah dan Ibu,” kali ini keadaan Fina sudah sedikit tenang daripada hari-hari sebelumnya. Ia berusaha menahan tangis saat meminta maaf kepada ayahnya.
“Berat memang menghadapi keadaan sulit ini. Anak semata wayang kami, kebanggaan kami, dan harapan kami telah menciptakan sayatan luka yang cukup lebar dalam hati. Namun, kamu tetaplah anak kami. Ayah dan Ibu sudah memaafkanmu sebelumnya."
"Awalnya kami marah dengan tindakanmu, tapi esoknya kami telah sadar dan memaafkanmu. Bahkan ibumu setiap hari selalu menyiapkan makanan kesukaanmu dengan harapan kamu datang. Memandang ke luar jalan melalui jendela ruang tamu, berharap kamu tiba-tiba muncul dari
kejauhan untuk pulang. Setiap hari selalu seperti itu. Ia selalu menyebut nama Allah dan bermonolog perihal kedatanganmu. Selalu seperti itu, dari bangun tidur sampai larut malam. Ayah selalu berusaha membujuknya untuk segera tidur karena kesehatannya mulai menurun. Bersamaan dengan itu, ayah selalu menelpon dan mengirimkan sms padamu. Berharap kamu bisa secepatnya pulang ke rumah untuk mengobati rindu ibumu. Sampai pada hari kelima, kesehatan ibu menurun drastis. Di masa seperti itu, ia tidak mau dibawa ke rumah sakit karena takut kamu pulang saat tidak ada orang di rumah...” jelas sang Ayah.
“Cukup, Yah...! Fina nggak sanggup lagi mendengar cerita Ayah. Semakin Ayah bercerita, Fina semakin merasa bersalah kepada Ibu,” kali ini tangis Fina benar-benar mengisi ruang tengah, ruang keluarga, ruang yang menjadi favorit keluarga tersebut untuk melepas penat setelah beraktivitas seharian. Kini, tinggal Fina dan Ayahnya tanpa kehadiran sosok Ibu.
“Kalau begitu, kamu baca saja surat dari ibumu ini!” sang Ayah memberikan sepucuk surat dengan kertas lusuh kepada anaknya.
“Terima kasih, Yah!”
***
Assalamu’alaikum, Fina anakku!
Maafkan ibu yang gagal merawatmu untuk menjadi muslimah sesuai tuntunan agama kita.
Maafkan ibu karena tidak bisa menahan kepergianmu tempo hari.
Maafkan ibu karena tidak tahu perasaanmu selama ini.
Maafkan ibu yang tidak bisa menemanimu lebih lama lagi.
Maaf, maaf, maaf.
Saat surat ini sampai kepadamu, nduk... Ibu sangat bahagia. Itu artinya kamu sudah
kembali mengingat ibu dan menyadari apa yang salah pada dirimu.
Ibu sudah memaafkanmu, jangan khawatir. Ibu tidak ingin anak kesayangan ibu mendapat dosa besar hanya karena ketidak-ridla an ibu kepadamu. Ibu ingin mempunyai anak yang sholihah.
Fina... maukah kamu membuat harapan ibu menjadi kenyataan? Semoga kamu bisa.
Ibu ingin kamu menutup aurat, karena itu kewajiban seorang muslimah dalam agama kita.
Ibu ingin kamu selalu mendoakan ibu dan ayah agar kami mendapat ridla-Nya.
Ibu ingin kamu menjadi guru mengaji disamping pekerjaanmu nanti.
Ibu yakin kalau pernikahanmu dengan Janson tidak akan terlaksana. Karena ibu tidak rela jika kamu mempertaruhkan akidahmu hanya demi cinta seorang laki-laki nonmuslim.
Kamu juga pasti ingat pesan ibu untuk selalu menjaga sholat lima waktu. Itulah gunanya, Allah tidak akan membiarkanmu berlaku keji dan mungkar terhadap-Nya.
Jadi, harapan ibu yang terakhir adalah kamu menikah dengan Hasan, putra ustadz Jalal. Dia itu laki-laki baik, sholeh, pintar mengaji bahkan menjadi gurunya. Dia sudah memilihmu untuk menjadi calon istrinya walaupun saat itu kamu belum berjilbab. Dia yakin kalau kamu
bisa berubah. Dia siap menjadi imammu.
Lamaran kemarin yang sudah Ayah dan Ibu terima tidak langsung kami batalkan karena Ibu yakin dengan qadarullah.
Semoga harapan ibu terwujud, Aamiin...
Wassalamu’alaikum, gadis kecilku...
***
Seorang wanita dengan gamis hitam dan jilbab berwarna mocca sedang bercerita kepada murid-muridnya.
“Jadi begitu, ya anak-anak! Kalau kalian fokus mendengarkan kisah Ustadzah tadi, kalian pasti menemukan tiga dosa besar yang harus kita hindari. Pertama, durhaka kepada orang tua adalah segala bentuk perbuatan, maupun berkataan yang melawan (tidak taat) orang tua dan menyakiti mereka, baik secara fisik maupun hatinya. Dampak negatifnya sangat
besar, yaitu dibenci Allah, disegerakan mendapat azab dunia, dan bisa saja tidak diampuni dosanya.”
“Untuk dosa kedua adalah gay, liwath, atau homoseksual. Nah... fitrah kita sebagai manusia adalah menyukai lawan jenis, bukan sebaliknya. Simpelnya, gay adalah sebutan bagi pasangan laki-laki yang saling menyukai. Kalau perempuan ada juga, namanya lesbian. Mereka itu dilaknat oleh Allah, dianggap sebagai kaum perusak lagi dhalim, dan juga mereka bisa terserang berbagai penyakit, baik dalam segi jasmani maupun rohani.”
“Dan yang terakhir adalah kemungkinan untuk meninggalkan sholat bagi Fina karena bersanding dengan Janson yang non muslim, atau bisa saja Fina berbuat dosa besar yang lain, yaitu tetap menikah dalam keadaan Islam. Pernikahannya tidak sah, sehingga saat mereka berhubungan, mereka dianggap berzina. Atau kemungkinan terakhir, jika Fina mengorbankan akidahnya, maka dia telah murtad. Dan murtad juga termasuk dosa besar.
Serba salah bukan? Oleh karena itu, sebaiknya kita berusaha semaksimal mungkin untuk menjauhi segala perbuatan yang berpotensi mengarahkan kita kepada dosa besar.”
“Paham, ya?”
“Paham, Ustadzah!” murid-murid menjawab serentak sebagai pemastian kalau mereka
paham terhadap penjelasan gurunya.
“Oiya, maaf... Cerita ustadzah terlalu panjang, ya? Jadwal pulang kalian terlambat 20 menit,”
“Kami sebenarnya nggak papa, Us! Mungkin yang merasa keberatan itu yang sedang berdiri di pintu, Ustadzah!” celetuk salah satu murid dengan nada sinis menahan tawa. Biasa, lah... Memang kelas ini dikhususkan bagi remaja berusia menengah pertama, atau usia 13-14 tahun.
Ustadzah Fatimah langsung menoleh ke arah pintu keluar tanpa mempedulikan tawa murid-muridnya yang memenuhi ruangan. Dan benar. Di sana ada Ustadz Ali, suaminya yang pasti sudah menunggunya sejak tadi. Tetapi sang suami hanya menampilkan senyuman manis tanpa ada rasa bosan memandang istrinya yang sedang asyik bercerita. Dengan sabar ia menunggu sambil memeluk mushaf Al Qur’an dengan tangan kanannya.
“Baik, anak-anak. Ngajinya dilanjut besok lagi, ya. Shodaqallahul ‘adhim. Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh,”
“Wa’alaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh,”
Murid-murid pun berhamburan keluar ruangan. Yang putri bersalaman dengan Ustadzah Fatimah dan yang putra bersalaman dengan Ustadz Ali. Dalam waktu singkat, kelas itu sudah kosong dari penghuninya.
“Kamu selalu bersemangat kalau menceritakan kisah itu, dek! Walau pada bagian tertentu kamu pasti nggak bisa menahan pilu karena masa lalu,”
“Nggeh, Mas! Saya tidak ingin jika ada anak yang bernasib sama seperti saya dulu. Buta akan segala hal hanya karena cinta,”
“Hmm... yang penting sekarang tidak buta lagi, kan? Mas, kan bawa lampu terus, hehe,”
“Mboten, karena saya kan ‘ehem’ sama mas. Jadinya selalu tersorot sinar lampunya,”
“Okey, level bucin Adek meningkat lagi,”
“😊😊😊”