disebuah rumah minimalis yang terkesan modern, ditinggali sepasang adik dan kakak, kalo adik sebut aja Pelangi. Cewek kayak pelangi adalah cewek yang masuk dalam daftar cewek yang baru menginjak remaja, kata abangnya sih gitu...padahal kan pelangi udah SMA. Sedangkan, Kakaknya kita panggil Mahesa, Bang Hesa aja deh... cowok lembut yang kadang tsundere banget.
hai gue pelangi, pagi yang cerah ini gue sama abang lagi sarapan pagi dengan tenang, sepi rasanya soalnya ibu sama bapak udah ga ada hehe
bang Hesa tuh serba bisa banget, masak, nyanyi, main gitar, dewasa banget yah...ga kayak gue yang beban banget.
"nih makan telurnya" laki laki itu meletakkan telur ceplok yang baru dia goreng ke atas nasi goreng adik kecilnya
"wih, makasih bang" binar mata dari si kecil adik laki laki itu, pelangi kian bertambah terang.
"Hem, nanti Abang ada kerjaan... jangan kemana-mana, kerjain tugasnya" ujar Hesa sambil bersiap duduk untuk memulai sarapan.
"iyaa" gadis itu tersenyum lebar, matanya ikut menyipit seperti kucing kala dia tersenyum, lucu.
saat sang tertua sudah pergi, si bungsu akhirnya menuju kamarnya untuk menyelesaikan tugas yang diberikan, tak lupa dia turut melihat kalender.
"wah bentar lagi!!!" girang gadis itu, di melompat lompat seperti kelinci dikamarnya, tak sabar menanti ulang tahunnya.
sedangkan sang tertua tengah melukis untuk menjual nya, ini adalah salah satu pekerjaan yang dia lakukan demi memenuhi kehidupannya bersama sang kecil.
dia tiba tiba merasa pusing dan lemas...yah akhir akhir ini dia merasa kurang sehat, padahal sebelum sebelumnya dia tidak merasakan yang aneh dari tubuhnya. Karena takut membuat pekerjaannya terhambat dia akhirnya pergi ke dokter untuk membeli obat yang dibutuhkan untuk penyakitnya.
saat tiba di sana, dia menuju ke ruang yang sudah ditetapkan oleh suster, saat melihat wajah sang dokter dia mengenalinya sebagai seorang teman dari SMA, namanya Rian.
"eh Rian?" ujarnya kaget.
"eh? loh? Hesa?!!, serius?!" Rian dengan kaget memegang bahu Hesa teman SMA nya.
laki laki bersweater putih gading itu mengganggukkan kepalanya, kemudian setelah berbincang bincang sebentar mereka memulai pemeriksaan nya. Setelah beberapa saat,
"jadi gue ada kabar baik dan kabar buruk" ujar Rian sambil bermuka tegang.
"yang buruk dulu" ujar yakin dari Hesa.
"loh ada leukimia, dan ini udah parah banget..tapi kabar baiknya kalo loh kemo pasti sembuh kok" ujar Rian berusaha menyakinkan Hesa
"gue ...ga bisa" ujar lemah dari Hesa.
"kenapa?!! Ini, ini bisa sembuh kok Hesa gue yakin banget kok loh pasti bisa sem-" ucapan Rian terpotong dengan jawaban cepat dari Hesa.
"mahal Rian, gue ga sanggup" lirih Hesa pelan.
Rian terdiam, mahal memang...bahkan untuk seorang dokter seperti nya itu sangat sangat mahal, bahkan melakukan kemo pertama itu pasti tidak bisa dia lunasi.
keduanya terdiam disana, tanpa kata ataupun sebuah candaan seperti sebelumnya hanya tegang, suram, sedih, gelap, dan sepi.
semua berjalan terus, detik, menit, jam, hari, minggu dan bulan, hari ini Hesa mengajak sang bungsu untuk ke pantai, saat di atas motor pun mereka berbincang ria.
"bang"
"apaan?"
"nanti kalo pelangi udah kerja, pelangi mau nyari suami kayak Abang hehe"
"em? kenapa gitu?"
"soalnya Abang the best banget sih, semua bisa, nanti pas pelangi nikah..Abang bakal pelangi kasih kue nya duluan deh yang pertama"
"haha, dimana mana potongan pertama tuh buat suami"
"hah? emang ga boleh Abang dulu?"
"enggaklah"
"ya udah Abang ke dua deh, nanti pelangi beliin baju yang paling bagus buat Abang pake, biar Abang cakep, terus kita foto bareng juga"
"....udah diem jangan gerak gerak nanti jatuh" laki laki itu hanya menyepi sesaat, bisakah dia hadir saat itu tiba? semakin lama ini semakin lebih sakit dibanding sebelumnya...
saat sampai disana, mereka bermain dan diakhir mereka duduk bersandar bersama melihat senja yang cantik.
"seminggu lagi ulang tahun kamu kan?" tiba tiba sang tertua berkata dalam kesunyian terindah hari itu
"eh Abang inget?!" suara kaget dan gembira gadis itu terdengar lagi
"ehem, Abang udah siapin hadiah rahasia buat pelangi" ujar laki laki itu tetap menatap senja.
"serius?" gadis itu semangat bangun lalu menatap sang kakak, "apaan emang?" lanjutnya.
"kan rahasia, nanti kalo Abang kasih tau ga jadi rahasia dong" ujar sang kakak menatap nanar ke wajah sang adik yang akhirnya cemberut.
"iya deh" pasrah akhirnya dia kembali duduk lalu bersandar di bahu sang kakak lagi, menatapnya sejenak lalu mengatakan dalam hati dengan pelan.
"apapun yang terjadi, Abang tetep aja sebegitu baik..." semua itu terdengar mendengung dihatinya.
"bang.." jeda itu cukup panjang.
"aku sayang Abang" semua ini hanya terkaya dihati, tak bisa diujarkan dengan lantang.
"apa?" laki laki itu menjawabnya dengan menolehkan wajahnya, fokus kepada pemilik suara yang memanggilnya, lihat? apapun yang terjadi laki laki kesukaan pelangi ini tetap menjadi yang terindah.
"Abang tau ga? aku sebenernya suka sama seseorang, dia tau..tapi dia selalu nyakitin pelangi"
"gapapa semua orang kadang membuat kesalahan..suka sama seseorang yang salah itu kesalahan umum kok, itu baik..jadi gapapa... nanti kalau ketemu yang udah bener bener bisa apa adanya, pelangi pasti seneng"
"bang ...."
"em? apa lagi?"
"pelangi cantik ga?"
"eh? Tumben nanya gitu"
"Ih jawab aja bangg"
"iya iya, pelangi itu c-"
drrt...drttt ; handphone laki laki itu berdering
"bentar yah"
"iyaa"
setelah kakaknya kembali, pelangi diajak pulang dengan cepat karena bang Hesa ada kerjaan mendadak katanya.
bulan bulan berlalu, 1 hari sebelum ulang tahun pelangi, dia tidak ke sekolah...gurunya datang untuk bertanya kepada pelangi mengapa dia tidak sekolah, karena sangat tumben pelangi yang rajin tiba tiba menghilang tanpa kabar.
sang guru melihat pelangi duduk diam disebuah gazebo depan rumah, sang guru menghampiri nya, menatap lalu bertanya selembut mungkin.
"pelangi, kok ga sekolah? udah 3 hari pelangi ga sekolah" ujar guru itu, memang pelangi sudah 3 hari tidak masuk tanpa kabar...entah apa yang terjadi.
setelah pertanyaan itu keluar, pelangi diam seolah menulikan Indra pendengaran nya, dia menunduk mainkan batu dibawah kakinya.
"mana kakak kamu? ibu perlu bicara sama dia soal kau" ujar guru itu.
pelangi tetap diam selama beberapa detik, akhirnya dia mengangkat kepalanya, tersenyum lalu menunjuk rumahnya"
langit hati itu mendung, mungkin langit sedang sedih.
"Abang...mati" ujar pelangi, angin menerpa pohon pohon disekitar mereka, seperti ingin membawa pergi kata kata sakit itu, guru itu terdiam.. melihat rumah pelangi yang terdapat bendera kuning dia kembali lebih diam.
"Abang lagi dimandiin" gadis itu diam kembali, menggertakkan gigi nya seolah menahan tangis yang teramat.
Hari itu semuanya suram, mendung tetap ada..tidak ada lagi pelangi yang akan dinantikan Abang Hesa kali ini, saat itu pelangi diam didepan makam Bang Hesa, tertera nama abangnya, lahir dan kapan dia meninggal.
dia diam..dengan pakaian hitam dan payung untung memisahkan diri dari hujan, Rian datang ke makam Hesa...memberikan sebuah bingkisan, lalu pergi setelah mengucapkan turut berduka ya dia.
gadis cantik itu, pelangi. Diam seolah dunia ini terasa begitu kosong, gelap...dia takut, dia takut ini.
dia membuka bingkisan itu, ada buku tabungan yang tertera jelas nama abangnya, sebuah kertas dengan sedikit kata namun itu sudah membuat pelangi kembali menahan tangis nya.
"pelangi, kamu paling cantik bagi Abang, maaf yah Abang pergi duluan tanpa bisa make baju yang bakal kamu beliin di hari pernikahan kamu, ini buku tabungan buat kuliah kamu"
pelangi kembali melihat sebuah lukisan, lukisan dia memakai toga sambil tersenyum lebar bersama sang kakak, gadis yang tadinya memisahkan diri dengan hujan kini terduduk, memeluk erat tumpukan tanah yang basah itu sejalan itu dapat mencapai tubuh abangnya yang hangat, dia menangis kencang..melepaskan segala sesak sejak awal. Sakit...Abang, tolong.
Hari itu pelangi mengerti, semua akan pergi pada akhirnya, semua yang indah akan lebih cepat pergi, jika dia pelangi maka abangnya hujan, abangnya yang menghadapi pahitnya dunia demi supaya pelangi yang indah muncul..
"Abang, sakit yah? bang...jangan takut, pelangi udah datang...pelangi bakal ngelindungin Abang okay?! jangan tinggalin pelangi.."
Kamu tau?
definisi kecewa yang tersakit bagi saya itu kalau esoknya saya tau itu terakhir kali dia bernapas disamping saya begitu dekat seperti kemarin.
Bang Hesa, Pelangi...ga bisa berkata kata lagi.