Jam dinding terus berdetak, berdetak tiada henti, baik siang ataupun malam, tanpa mengeluh, tanpa mengenal lelah.
Itulah aku, aku yang selalu menunggumu , menunggu dengan sangat lama, entah sampai kapan?!, sampai berapa lama?!.
Apakah sampai rambut ini memutih?, apakah sampai kulitku ini menjadi keriput?,bahkan mungkin sampai kaki ini tidak bisa lagi berjalan ?. lebih lebih sampai badan ini terbujur kaku di atas pembaringan?.
Tidak mengapa, aku akan tetap tersenyum, aku akan tetap setia menunggu mu sampai kamu datang. Ingatlah janjimu sayang, janji yang kau ucapkan padaku. Janji membawakanku setangkai bunga mawar putih, lalu kamu menggandengku menemui penghulu, sambil berkata" Nikahkan kami Pak ".
***
Mata ini akan terjaga, sampai kamu datang, maaf kan aku, badanku sudah tidak berdaya untuk bergerak, bahkan aku tidak mampu membuat kulitku awet muda. Tapi tenang saja sayang, hatiku tetap untuk mu.
Suara derap langkah kaki kini mendekat ke tempatku menunggumu, apakah itu kamu, atau apakah itu adalah orang yang sama yang memanggil ku " Nenek? "
Setelah ku tanya, namanya adalah Silvia, walaupun aku tidak bisa menyentuh nya, tapi mataku masih bisa melihat, dia seperti ku waktu aku masih belum seperti saat ini. waktu aku masih bergandengan tangan bersamamu saat kita pulang sekolah, lalu kamu mengajakku berhenti untuk makan jajanan favorit kita. Alangkah bahagianya masa itu. Bahkan sampai rasa itu dapat membuat bibirku tersenyum lama.
" Nek, makan dulu buburnya!" katanya menyuruhku.
perempuan mungil ini menyuapi ku, aku pun membuka mulutku. Aku butuh makan agar aku bisa terus menantimu datang. Sayang kapan kamu datang, apakah kamu akan datang?.
****
" Aaghh.. panas.. panas... kenapa tenggorokan ku seakan terbakar... aaghh.. sayang... sayang.. tenggorokan ku sakit sayang... "
Silvia sengaja membubuhkan racun ke dalam bubur itu. tetapi hingga 2 jam berlalu..
cklek...
Nenek itu belum mati.
" Dasar tua bangka,.. kenapa kamu tidak mati... sampai kapan kamu mau jadi mayat hidup hah"
Suara hati sang Nenek yang terbaring.
"Anak mungil itu memakiku sayang.. mengharap ku untuk segera mati.. tidak.. aku tidak boleh mati... aku tidak boleh mati sampai kamu datang menjemput ku... "
Air matanya pun menetes dari sudut matanya. Tiba tiba mulutnya terbuka lebar, tapi anggota tubuh yang lain, tidak bisa digerakkan.
"aaaghhh.. panas... aaghh.. air.. air... aku butuh air.. " Bathinnya merintih kepanasan, saat racun itu mulai bekerja dalam tubuhnya.
" Air.. air.. kamu butuh air.. kamu masih mau hidup... sampai kapan... hah.. sampai kapan... sampai aku punya cucu... berapa lama lagi kamu mau hidup.. sementara anak cucumu sudah mati sejak dulu... aku capek harus ngurusi kamu terus... "
Silvia memaki Nenek tersebut yang adalah nenek buyutnya sendiri. Gadis itu terheran, kenapa nenek itu tidak mati mati, hingga membathin " berapa banyak nyawanya, kenapa dia masih bisa terus hidup? "
Silvia jengah, karena nenek itu masih terus hidup, hingga dia gelap mata, dan mengambil pisau yang tadi digunakan untuk mengupas apel. Silvia lalu menusuk perut nenek itu dengan kejam.
" Rasakan ini! "
CRAAT...
Darah itu memuncrat ke dinding, tangan gadis mungil itu bergetar, bukan hanya itu, badannya pun bergetar. Anak mungil itu menjatuhkan pisau ke lantai, matanya melotot tidak percaya.
" A... a... aku berhasil membunuhnya.. membunuh orang tua mayat hidup itu....yang katanya adalah nenek dari nenekku. Orang tua yang usianya hampir 200 tahun."
" A... aku pembunuh nya.. hahahaha.... aku berhasil mengambil nyawanya... hahahhah... "
Silvia tertawa seperti orang gila, di dalam matanya ada iblis yang merasuki.
" Sekarang aku bebas , aku tidak lagi harus mengurusnya sepanjang waktu, menyuapi nya.. menggantikan popoknya.. membuang kotorannya, bahkan memandikan selayaknya bayi"
" Jijik... aku benar benar jijik... tapi sekarang... hahahahha... orang tua ini sudah mati... hahhhaha.. "
Silvia berjalan mendekat, dan melihat mayat Sofia. Matanya melotot, dengan air mata yang mengalir dari sudut mata wanita tua itu.
Deg..
Jantung Silvia berdetak kencang, dan merasakan iba. Tetapi itu hanya sesaat, sebelum sorot mata itu berubah kejam kembali, hingga giginya meringis jengkel, penuh dengan rasa dendam.
" Matanya... aku benci matanya.. matanya terus terjaga, bahkan dia tidak pernah tidur, bibirnya terus tersenyum... dan selalu mengucapkan.. " Mana bunganya sayang"... bedebah.. " Nafas Silvia tak beraturan, seolah kesulitan bernafas. Tapi itu tidak juga berlangsung lama, dan tergantikan dengan luapan emosi yang menjadi jadi.
" Hahaha... sekarang aku tidak akan melihat nya lagi, aku sudah muak.. hahahha... "Silvia kembali tertawa jahat, Dan Polisi segera datang menangkap dan memborgol kedua tangannya.
Silvia tidak menyesal, bahkan seolah dia baru saja melakukan kebaikan.
****
Anak mungil itu bernama Silvia, dan orang tua yang dia bunuh itu adalah neneknya bernama Sofia. Dahulu Sofia adalah seorang nona di zaman belanda, dia teramat sombong dan suka menghina orang lain. Suatu hari, ada seorang pemuda jatuh cinta padanya, dan Sofia menolak cinta pemuda itu dengan sangat kasar. Hingga Sang pemuda marah dan mengutuknya juga membuat Sofia gila.
Kutukannya pun berhasil, Sofia tergila gila pada pemuda itu, tetapi pemuda itu sengaja menghilang. Sehingga cinta Sofia hanya ada dalam dunia imajinasi. Sofia dan sang pemuda menjalin cinta dan hingga mereka berjanji akan menikah. Kemudian sang pemuda itu pergi dengan sebelumya berjanji, akan membawakan setangkai bunga mawar, lalu akan menikahinya di depan penghulu.
Waktu terus berjalan lama, dan Sofia benar benar menjadi gila. Hingga dalam pikirannya hanya menunggu , menunggu sampai sang pemuda itu datang untuk menikahinya.
Sejak saat itu, selamanya hidup Sofia dalam imajinasi, tetapi karena kutukan, Sofia hidup abadi hingga sekarang mencapai ajalnya, yaitu mati ditangan keturunan nya sendiri.
tamat
****
🤣🤣🤣🤣🤣
( semoga kalian paham cerita ini ya..)