Namanya Anya, gadis malang bertubuh kurus yang kini terbaring lemah di depanku. Dia adik ku, usianya baru enam tahun.
"Kak Bian.. lapar.." Keluh Anya padaku pagi itu. Tangannya menggapai-gapai padaku.
Aku bingung tak ada makanan, jangankan untuk adik ku untuk ku sendiri pun tak ada.
"Nanti ya, tunggu kakak dapat uang dulu. Nanti sore kakak belikan makanan enak untuk Anya." Hibur ku. "Sekarang kakak pergi kerja dulu ya.. Anya baik-baik di rumah."
Anya hanya mengangguk, sesungguhnya aku tidak cukup tega meninggalkannya di rumah sendiri. Apalagi dengan kondisinya yang sedang sakit. Tapi apa daya, kami yang hanya anak yatim piatu.
"Semangat.." Ucap ku untuk menyemangati diri sendiri, aku harus semangat masih ada Anya yang menjadi tanggunganku.
Hidup miskin sebatang kara, tak punya pekerjaan tetap apalagi dengan gaji besar. Aku hanya bisa mengandalkan pekerjaan serabutan, seperti membantu mencuci piring, mengangkat barang dan terkadang hanya duduk di emperan toko meminta-minta.
Usiaku baru 11 tahun saat ini, tak ada pekerjaan yang pantas untuk anak se usiaku.
...
Tik..
Tik..
Tik..
Bresss..
"Ah sial.. kenapa harus hujan sekarang, aku belum dapat uang." Keluh ku. Rasanya ingin menangis saja.
Langit begitu gelap, padahal hari masih pagi. Mungkin karena sudah memasuki musim penghujan, dan ini membuat rasa khawatirku menjadi berlipat ganda.
"Anya.."
Aku khawatir, kondisi Anya sangat lemah. Ia pasti kedinginan, rumah kami hanya terbuat dari kain terpal.
'Semoga saja ia tak apa di rumah'
...
Sore hari akhirnya Bian pulang, jalanan menuju rumahnya digenangi air hujan, sangat becek. Bian berjalan sedikit kesulitan, beberapa kali sempat terjatuh membuat baju kumalnya tambah kotor.
"Aish.. sttt.." Bian tertahan, seluruh tubuhnya sakit juga kedinginan.
"Anya.. " Panggil Bian setelah sampai, menggeser kayu triplek didepan tenda terpal itu perlahan.
"Kakak.." Ucap Anya perlahan, tidurnya menyamping dengan tangan yang segera ingin menggapai sang kakak.
"Anya, ini makan dulu. Kakak bawa makanan untuk Anya.." Sahut Bian tersendat, air matanya bergulir melihat sang adik yang menggigil kedinginan.
"Anya dingin kak.." Keluh Anya pelan. Bibirnya sedikit membiru dan matanya juga terlihat cekung. Benar-benar mengenaskan.
"Ini.. Anya makan dulu ya.." Bian berucap dengan susah payah.
Anya menggelengkan kepalanya pelan, matanya menatap kosong entah kemana. Sedangkan nafasnya terlihat begitu berat. Bisa dilihatnya sang adik sangat kurus, perutnya juga kosong hingga nyaris membentuk cekungan. Ditambah tubuhnya yang kini juga basah, meskipun tidak sampai kuyup tapi Anya sedang sakit.
Bian menunduk, tak sanggup melihat kondisi adiknya yang begitu memprihatinkan. Air matanya terus bercucuran, isak tangisnya begitu menyayat.
"Kakak.." Panggil Anya pelan, tangan kurus dan kecilnya membelai kepala Bian.
Mendengar panggilan Anya, Bian langsung mendongak memandang serabut wajah polos itu sendu. Lagi air matanya berlomba keluar, sesering apapun ia menyekanya air mata itu terus keluar.
"Anya sangat ingin semangka.." Anya berujar pelan, suaranya nyaris tak terdengar.
"Iya nanti kakak belikan untuk Anya ya.." Sahut Bian tersendat-sendat, menggenggam tangan adiknya dengan lembut.
"Ke depannya kakak tidak perlu susah mengurus Anya lagi.." Lanjut Anya, kemudian ia mengulurkan tangannya. "Kakak, Anya ingin peluk.."
Seketika Bian kembali terisak-isak, sembari merangkul sang adik kedalam pelukannya. Mendekapnya begitu erat tapi juga lembut, seperti barang rapuh yang mudah pecah.
"Hiks.. Hiks.. Anya harus sembuh ya. Nanti kakak. Belikan apapun yang Anya mau.." Ucap Bian disela tangisnya.
Anya tersenyum manis namun Bian tak melihatnya.
"Anya.." Panggil Bain.
"ANYAA..." Teriak Bian, tubuhnya bergetar memeluk semakin kuat tubuh yang kini telah terkulai di pangkuannya.
Tak ada detak jantung, tak ada nafas dan tubuhnya perlahan menjadi lebih dingin.
"Tidak.. Anya.. " Bian terus memeluk jasad Anya, sedang kakinya mulai melangkah keluar menerobos hujan yang kini tinggal gerimis.
Bian terus berjalan sambil bergumam, mencoba membangunkan Anya yang ia gendong. Matanya menatap kosong kedepan.
Brak..
Bian tidak tau apa yang kini terjadi, ia hanya merasa jika tubuhnya sakit dan pandangannya tiba-tiba menggelap.
...
Bian perlahan membuka matanya, cahaya yang menyilaukan menyapa indra penglihatannya. Mengerjap beberapa kali, hingga akhirnya ia kebingungan.
"Aku .. ini dimana.." Monolog Bian, matanya memindai seluruh ruangan putih yang kini ditempatinya.
Klek..
"Kakak.." Suara riang anak kecil menyapa telinganya.
Mata Bian terbelalak kaget, disana itu adiknya bukan?
"A.. Anya.." Panggil Bian terbata-bata. Tubuhnya mematung, melihat sosok anak kecil yang kini tersenyum disela pintu yang terbuka barusan.
"Ayo sarapan, Ibu sudah memanggil dari tadi tapi kakak tidak keluar kamar juga.." Coleteh anak itu.
Bian tak menjawab, ia hanya mengikuti kemana anak kecil yang mirip adiknya ini membawanya.
"Ayo kita turun, Ayah dan Ibu sudah menunggu dari tadi. Kita sarapan bersama lalu kakak mengantarku sekolah oke.."
Bian tak menyadari jika kini wajahnya sudah basah, air matanya mengalir begitu saja. Sosok anak ini benar-benar mirip adik mungilnya, Anya. Hanya saja Anya bertubuh kurus karena tak terurus dan sering kurang gizi sedangkan anak ini begitu gemuk dan sehat.
"Anya.. ayo sini.." Seru seorang wanita paruh baya. Membuyarkan lamunan Bian dan menbuatnya mengangga terkejut.
'Ini ruang makan?' Inner Bian takjub, 'betapa luasnya ruangan dan mewahnya barang-barang ini.'
"Ayo Bian kamu kenapa bengong nak?" Tanya wanita itu. Tangannya mengusap kepala Bian penuh kasih sayang.
"Ibu?" Ucap sekaligus tanya Bian. Suaranya bergetar menahan tangis.
Bian menggapai wajah wanita itu, wajah ini memang wajah ibunya. Apakah ibunya hidup kembali, atau ia yang telah mati dan ber-reinkarnasi?
"Kamu ini kenapa? Hey Bian?" Seru suara berat pria paruh baya yang sedari tadi duduk dimeja makan.
"Ayo kita sarapan, lalu berangkat ke sekolah."
Beberapa menit kemudian Bian sudah siap dengan seragam sekolahnya juga sudah sarapan. Kini ia kembali dibuat takjub dengan halaman rumah yang begitu luas. Juga rumah yang ternyata sangat megah, dan mobil-mobil mahal yang berjejer rapi di garasi.
Bian menggeplak kepalanya sendiri, kemudian meringis sakit. Kini ia percaya jika ini nyata, ia telah ber-reinkarnasi menjadi anak orang kaya.
Jika dikehidupan sebelumnya ia terlahir dari orang tua yang miskin, lalu saat usia 8 tahun menjadi yatim piatu. Dikehidupan yang sekarang, ia terlahir dari orang tua yang kaya dan seluruh keluarganya lengkap.
Bian jatuh bersimpuh, lagi-lagi ia menangis. Bukan tangis kesedihan dan keputusasaan lagi tapi tangis syukur dan bahagia.
"Terima kasih Tuhan." Bisiknya.
...
End