"Sampai kapan kamu akan menatapnya?" suara seorang wanita paruh baya menghentikan lamunan Azka.
Pemuda itu menelengkan kepala dan kembali menatap hamparan bunga mawar hitam di taman belakang rumahnya. Ini bukan pertama kalinya pemuda itu menghabiskan waktu duduk termenung di sana dengan tatapan kosong.
"Haish, sudah 5 tahun berlalu tapi kamu masih seperti manusia tak bernyawa," cibir wanita itu duduk di tempat kosong bersebelahan dengan sang pemuda.
"Nyawaku memang sudah hilang bersama kepergiannya, Mom."
Namanya Azka Ardian--pemuda tampan yang ditinggalkan oleh istri tercintanya tepat satu hari setelah pernikahan. Semenjak itulah kehidupannya berubah drastis menjadi seperti sekarang ini. Dia mengabaikan semua wanita yang datang dalam hidupnya, bahkan satu per satu wanita yang dijodohkan dengannya memilih mundur karena sifat dinginnya.
"Ayolah, wanita di dunia ini bukan hanya dia seorang, kamu harus membuka hatimu untuk wanita lain."
"Cukup, Mom! Jangan mengatakan apa pun lagi," sentak Azka, dia berdiri dan menghentak kaki meninggalkan wanita yang telah melahirkan dan merawatnya selama ini.
"Huu ... huu ...." Tangis Mela pecah, ia sangat sedih melihat putra sulungnya yang tak juga memiliki semangat hidup.
Dua tahun ini memang Azka sudah kembali ke kantor untuk mengurus usahanya yang sempat terbengkalai. Selama itu juga Arza yang menggantikan Azka.
"Mom," panggil Arza dengan lembut, pemuda itu mendekap Mela dengan penuh kasih sayang. "Pasti ulah si bodoh itu lagi!"
Arza tidak dapat menahan amarahnya melihat wanita tersayangnya selalu bersedih saat menghadapi kakak sulungnya. Dia harus membuat Azka kembali menjadi dirinya sebelum kejadian 5 tahun itu terjadi.
Setelah makan malam, Azka kembali ke kamarnya tanpa berbicara sepetah kata pun pada dua orang penghuni rumah lainnya. Kejadian tadi pagi membuat sikapnya semakin dingin, dia mengabaikan semua orang yang berbicara padanya kecuali urusan pekerjaan.
Makanan di piring juga hanya masuk dua suap, sisanya hanya diaduk-aduk dan dibiarkan begitu saja. Rasanya lapar di peeut sudah hilang jika teringat kejadian itu.
***
Keesokan harinya, Azka tidak ikut sarapan bersama keluarganya. Ia meminta pelayan untuk mengantarkan sarapan ke kamarnya. Malas bertemu dengan tiga orang itu, mereka pasti akan ikut campur dalam kebidupannya.
"Azka, Daddy mau bicara," ucap Danu--suami Mela. Dia sudah mendengar kejadian di taman kemarin dari Arza.
"Azka, siapa yang mengajarimu bersikap tidak sopan seperti itu, hah?" Suara Danu meninggi, urat rahangnya mengetat bersamaan dengan tatapan mematikan.
Sudah cukup dia membiarkan putra sulungnya selama ini, tetapi semakin dibiarkan akan semakin menyakiti banyak orang.
Azka menghentikan ayunan kakinya di bibir pintu, menunggu kalimat yang selanjutkan akan diucapkan Danu.
"Ka, please," lirih Mela.
Hatinya teriris saat mendengar suara Mela yang begitu menyayat hati. Bahkan Mela bicara dengan serak dan wajah sembab. Namun, Azka memilih memalingkan wajah saat melihat keadaan Mela.
"Azka lelah, masih ada pekerjaan."
"Azka Ardian, duduk!" sentak Danu.
Pemuda itu terpaksa menuruti keinginan Danu, hanya satu alasannya, dia merasa bersalah karena sudah menyakiti hati wanita yang menjadikannya ada di dunia ini.
"Besok kamu akan menikah dengan gadis pilihan kami."
Azka menelan saliva dengan susah payah, mendengar kata menikah membuat sekujur tubuhnya menegang. Jantungnya berdegup lebih cepat dari sebelumnya, layaknya pelari maraton ribuan mil.
"Apa masih ada lagi yang mau kalian bicarakan?"
Pasangan suami istri itu saling melempar pandangan, apakah diamnya Azka boleh diartikan dia setuju dengan keputusan mereka?
"Kamu setuju?" tanya Danu dengan wajah bingung, padahal dia hanya menggertak. Bahkan calon mempelai wanita juga belum ada.
"Asalkan kalian bahagia, aku akan melakukannya."
Azka melenggang ke luar, di sana ada seorang gadis dengan bucket bunga mawar merah di tangannya. Dia melangkah mundur, bunga itu kenapa bisa sampai di rumah ini? Bukankah dia sudah memgharamkan bunga mawar di rumah ini selain mawar hitam?
"Maaf, Tuan. Ada silakan tanda tangani surat terima ini," ucap gadis itu dengan lembut.
Suara ini, mengapa terasa begitu familiar di indera pendengarannya? Siapa sebenarnya gadis yang wajahnya tertutup bucket bunga mawar merah itu?
Dengan tangan bergetar, Azka memberanikan diri mendekati sang gadis. Aroma mawar menyeruak di lubang penciuman Azka. Ah, aroma yang sangat di sukai oleh .... Dia segera menepis semua pemikirannya, ini tidak benar! Dia sudah terkubur 5 tahun lalu, dia sendiri yang mengantarkannya ke peristirahatan terakhir. Dia juga menyaksikan sendiri jasad itu tertimbun tanah.
"Tuan," ujar gadis itu mengibaskan tangannya, netra indah itu mengintip tuan penerima bunga hingga tatapan keduanya saling bertemu. Namun sedetik kemudian Azka memalingkan wajahnya.
"Siapa yang memintamu mengantarkan bunga ini?" sentak Azka.
"Sa-ya ... Saya hanya petugas pengirim paket, Tuan. Dan di sini tidak tertulis siapa yang mengirikannya."
Wajah gadis itu menunduk ketakutan, bahkan tubuhkan mulai bergetar. Langkah kakinya tidak seimbang dan hampir saja terjatuh.
Entah angin apa yang membawa tangan Azka untuk meraih gadis itu. Bucket bunga terjatuh, kini tiada lagi penghalang untuk keduanya.
Dari lantai atas, pasangan Danu dan Mela tersenyum lega. Ini pertama kalinya Azka menyentuh wanita lain selain keluarganya. Ini pertama kalinya tatapan Azka kembali hidup setelah 5 tahun berlalu.
"Aw, sakit," desis gadis yang kini duduk di lantai. Yah, Azka melepaskan tangannya begitu saja setelah menyadari perbuatannya.
"Buang bunga ini, jangan sampai saya lihat kamu lagi! Apalagi dengan bunga jelek itu!"
Perasaan Mela kembali hampa, ternyata ia menaruh harapan pada gadis yang salah. Ia mengira Azka benar-benar sudah berubah, tapi ternyata hanyalah angan semata.
Gadis itu, dia adalah orang yang menyebabkan Azka berubah menjadi mayat hidup seperti sekarang ini.