Menurut kalian, apa itu cinta? Sesuatu yang harus di pertahankan? Rasa suka yang mendalam? Atau...lainnya?
.
.
.
Pagi hari yang cerah, matahari bersinar terang, dan angin berhembus dengan lembut. Seorang gadis dengan senandung merdu nampak asik sendiri melakukan kegiatan nya. Wajah cantik dengan rambut hitam bergelombang bersamaan dengan hembusnya angin membuat sang gadis terlihat begitu menawan.
Menyiram bunga kesayangan nya dengan perasaan senang dan tenteram. Rose namanya. Sesuai dengan nama nya, Rose sangat suka dengan tanaman. Ia begitu suka berkebun, menyiram, dan menunggu tanaman nya tumbuh. Entah mengapa saat ia menunggu hari itu tiba, perasaan nya begitu berdebar-debar.
"Apakah aku sudah merawat kalian dengan benar? Hahaha, tumbuhlah menjadi bunga indah kawan-kawan"
Ucap nya sambil tersenyum kecil. Rose selalu saja berbicara dengan tanaman nya. Menurut nya itu hal yang wajar, namun tidak untuk orang sekitar. Mereka mengganggap Rose gila dan sebagai nya. Namun Rose tidak peduli dengan hinaan mereka.
Rose dengan asyik menyiram bunga-bunga di depan rumah nya. Tanpa di sangka, ada yang memperhatikan Rose dari jauh. Pemuda dengan rambut ikal dengan bunga di tangan nya. Bersembunyi di balik pohon seperti seorang pengecut. Wajah nya begitu gugup dengan keringat yang bercucuran. Hati nya begitu berdebar-debar.
"Apakah seharusnya aku tidak melakukan hal ini? Ah tidak, Rudi sudah memperingatkan untuk segera mengungkapkan perasaan ku sebelum terlambat. Tapi bagaimana jika Rose tidak menerima ku? Dan dia benci terhadap ku. Astaga, seharusnya aku tidak melakukan ini! Tapi aku sudah terlanjur membeli bunga kesukaan Rose. Hiss aku seperti orang bodoh saja!"
Berbagai pertanyaan muncul di kepala pria itu. Mengomel tidak jelas dan terus saja mengomentari dirinya sendiri.
Tak lama, tiba-tiba saja ada suara di belakang pria tersebut. Dengan suara menyeramkan sambil memegang pundak si pria, orang misterius itu berkata.
"Hayo~ apa yang kau lakukan di rumah ku...? Kau ingin memukul pohon yang sudah jadi rumah ku ini? "
Badan pria itu bergetar. Dengan perlahan ia menengok ke belakang. Dan...
"DORR! Hahaha, Ryan kenapa kamu melamun disini?"
"Akkh... astaga, Rose!!///"
Seketika wajah pria bernama Ryan itu menjadi memerah. Ia menyembunyikan wajah nya dengan tangan. Dan mencoba menjauh dari Rose.
"S..sejak kapan kau di belakang ku?///"
Tanya Ryan, ia menghindar tatapan Rose. Sedangkan Rose dengan usil nya mendekat ke arah Ryan.
"Baru saja, heee kenapa kamu menghindari ku? Apa ada sesuatu di wajah ku?"
"T..tidak, aku hanya terkejut, itu saja"
Rose hanya tersenyum dengan tingkah Ryan. Dengan polos nya ia memengang tangan kanan Ryan yang menutup wajah merah pria itu.
"Kenapa wajah mu merah?Kamu baik-baik saja?"
"Cih, bukan apa-apa, dasar kunti jadi-jadian///"
Ucap Ryan sambil menjitak pelan kening Rose. Secara spontan Ryan dengan wajah malu langsung memberikan bunga yang ada di tangan nya kepada Rose.
" Ini..."
"Ah aku melupakan sesuatu, aku harus pergi, dah"
Ucap Ryan yang langsung melarikan diri. Pria itu meninggalkan Rose yang terkejut sekaligus bingung.
'Seharusnya aku menyatakan perasaan ku secara terus terang, bukan nya melarikan diri///'
Sedangkan Rose masih saja bengong. Ia melihat bunga pemberian Ryan. Setangkai bunga mawar warna merah. Walau hanya setangkai, Rose tersenyum dan mencium harum bunga tersebut.
Ke esokan hari nya...
Din dong, din dong
Suara bel berbunyi terus menerus. Di susul oleh ketukan pintu yang membuat Ryan frustasi. Dengan langkah malas ia segera keluar dari kosan nya.
"APA SIH RIBUT-RIBUT!?💢"
Namun pria itu diam sejenak. Di depan nya terlihat gadis cantik mengenakan bando merah di kepala nya.
"Rose?" *terkejut
"Wao, aku baru kali ini lihat Ryan yang marah"
"Maaf, aku tidak bermaksud. Jadi ada urusan apa kau kemari?"
Tanya Ryan dengan berbagai pertanyaan di kepala nya.
'Apakah Rose marah, apa dia datang karena kejadian kemarin'
Namun dengan santai nya Rose masuk ke dalam kosan milik Ryan. Melihat-lihat sekitar dan langsung duduk di tikar. Kamar terlihat berantakan, cucian kotor menumpuk, baju berserakan. Rose menggelengkan kepala nya.
"Ck ck ck "
"Akan aku bersihkan! Dan jangan masuk sembarangan///"
"Kenapa?"
Tanya Rose dengan polos nya.
"Ah sudahlah, percuma bicara dengan mu"
Ucap Ryan sambil menutup pintu. Berjalan menuju Rose dan duduk di samping nya.
"Jangan-jangan yang kau maksud... Ryan, ternyata pikiran mu kotor juga ya"
Ucap Rose sambil menutup dada nya dengan lengan.
"Aku yang harusnya bilang gitu geblek, toh tenang saja aku tidak akan melakukan sesuatu yang buruk pada muಠ_ಠ"
Rose hanya tertawa. Kemudian ia mengambil benda di kantong kresek nya. Terdapat pot, pupuk, dan beberapa benih di sana.
"Hei, jangan buka pupuk di sini. Kau mau buat kotor lantai ku?" ~Ryan
"Hiss diamlah, kantong pupuk nya dikemas dengan rapat kok. Toh kamar mu juga sama berantakan nya!💢 " ~Rose
"O..oke... kok dia yang lebih galak" *gumam
"Kau bilang apa!?" ~Rose
"Ngak, aku diam😶" ~Ryan
Ryan langsung diam sambil memperhatikan Rose yang sibuk sendiri dengan tanaman nya. Ia keluar dari ruangan. Memasukan pupuk dan tanah ke dalam pot. Selanjut nya memasukan benih sedalam 2cm ke dalam tanah. Terakhir gadis itu menyiramkan tanaman nya.
"Kau sedang apa?" ~Ryan
"Lagi mandi! Make tanya segala" ~Rose
Fiks, dia lagi pms. Tapi untuk apa dia repot-repot melakukan hal itu?
Pikir Ryan.
Tak lama, Rose berdiri dan mendekat ke Ryan. Ia tersenyum kecil.
"Ryan, kemarin kamu nembak aku ya?"
Ryan terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba ini. Dengan wajah memerah dan memalingkan wajah, Ryan mengangguk mengiyakan.
"Hahaha, sangat tidak keren, kenapa kabur segala sih" ~Rose
"Aku tidak kabur, aku...ada keperluan saja///" ~Ryan
"Apakah itu lebih penting dari ku?" ~Rose
"Bukan begitu, itu..aku..ah..ibu ku menelepon..dan..itu.." ~Ryan
"Skakmat, hahaha" ~Rose
Ucap Rose sambil tertawa. Ia menjijitkan kaki nya supaya bisa mengelus kepala Ryan. Wajah Ryan sangat panas seperti akan meledak.
"Jadi...apa jawaban mu?///"
"Eemm, gimana ya. Ryan itu orang nya galak, bicara suka ceplas ceplos, benci bersih-bersih, beban dalam game, lalu... "
JTAAKK!!
"Aww, dan agak kasar tentunya(╥﹏╥)"
Ucap Rose sambil memegang kepala nya yang habis di jitak Ryan.
"Langsung ke intinya, aku tau kok aku tidak sempurna. Aku juga tau ujung-ujung nya kau akan menolak k.." ~Ryan
"Aku terima kok"
Ucap Rose sambil tersenyum. Namun beda nya, kali ini wajah nya sama-sama memerah. Ryan yang tidak percaya dengan jawaban tersebut hanya diam membeku. Tak lama pria itu menutup wajah nya dengan tangan saking tidak percaya nya. Rose yang gemas dengan tingkah Ryan langsung mengelus-elus rambut ikal Ryan. Dengan malu, Ryan berbisik...
"Terima kasih///"
"Iya, sama-sama Ryan" *senyum
Toh hanya kamu yang mau menerima ku apa adanya. Selalu membela gadis 'gila' ini. Memarahi orang yang berbicara buruk dengan ku. Seharusnya... aku yang berterima kasih. Ku kira cinta ku selama ini hanya sebelah tangan, hahaha.
Bukan hanya Ryan, Rose diam-diam memperhatikan Ryan. Ia selalu melihat Ryan membentak orang yang berani memanggil nya 'gila' setelah ia pergi. Menurut nya, Ryan adalah pahlawan yang embantu nya secara rahasia.
Dan aku berusaha untuk menghabiskan waktu ku terakhir kali... dengan orang yang ku sayangi. Sebelum hari itu tiba.
Pikir Rose dengan mata sayu.
"WAH, JANGAN BILANG KAMU NANGIS? HAHAHA"
Teriak Rose sambil memukul pundak Ryan.
"JANGAN TERIAK BEGO, AKU TIDAK MENANGIS///" ~Ryan
"Lah, tuh kamu juga teriak" ~Rose
"Sudahlah, aku tidak akan menang melawan mu///" ~Ryan
Ryan dan Rose tertawa bersama.
"Ngomong- ngomong kenapa kau menanam 3 pot sekaligus? Dan bunga apa ini?" *penasaran
"Kamu tunggu saja, ngak seru kalo kasih tau" ~Rose
"Bikin penasaran" ~Ryan
"Ya itu tujuan nya, hahaha" ~Rose
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Mereka jalani seperti pasangan kekasih pada umum nya. Menikmati waktu bersama dan lain nya. Sudah hampir 3 bulan mereka berpacaran. Canda tawa selalu ada pada kedua nya. Sampai pada suatu hari...
"Rose, kenapa tanaman ini belum tumbuh bunga ya?"
Ucap Ryan sambil memperhatikan 3 tanaman Rose yang di tanam 3 bulan lalu.
"Mungkin beberapa hari lagi akan tumbuh kuncup bunga" ~Rose
"Oh, tapi jujur saat menunggu mereka tumbuh membuat hati ku berdebar- debar" ~Ryan
"Ya kan? Sudah ku bilang"
Ucap Rose sambil tertawa kecil. Tak lama dengan senyuman kecil, Ryan berkata...
"Tanaman itu seperti cinta ngak sih? Jika kita merawat nya dengan benar, memberi nya kasih sayang, dan sebagai nya. Suatu hari lagi bunga akan muncul. Bunga akan menunjukan seberapa tulus nya kamu dalam merawat nya. Jika tanaman layu berarti kita salah dalam merawat nya, jika dia tumbuh dengan indah berarti kita benar dalam merawat nya. Itu juga hadiah yang kita terima dari mereka. Begitu juga cinta, jika kita..." ~Ryan
"Mencintai setulus hati, cinta itu akan tumbuh dan terus berkembang. Jika sebalik nya, kita tidak akan mendapatkan apa-apa dari cinta yang sudah kita tanam. Sedih dan kecewa akan tiba di akhir. Betul kan?"
Sambung Rose. Ryan hanya mengangguk mengiyakan.
"Hahaha, agak geli gak sih pas bilang kayak gitu?" ~Ryan
"Kau kan yang mulai bego, hahaha...toh itu benar kok. Akhirnya ada seseorang yang mengerti diri ku"
Ucap Rose sambil menyenderkan bahu nya ke Ryan. Menutup mata dan menikmati waktu bersama. Lumayan lama Rose di bahu Ryan. Pria itu menganggap Rose sedang tidur. Sampai...sudah hampir 1 jam Rose tertidur. Ryan hendak membangunkan Rose untuk pindah ke kasur karena merasa posisi Rose tidak nyaman, tetapi...
"Bangun tukang tidur"
Ucap Ryan sambil menggoyangkan Rose. Namun tak ada jawaban.
"Rose? Rose!?"
Rose terjatuh ke pangkuan Ryan. Namun matanya masih saja tertutup dengan wajah pucat. Ryan dengan panik sekali lagi menggoyangkan tubuh Rose.
"Rose! Hey, jangan bercanda bodoh"
Karena tidak ada jawaban, Ryan segera mengantarkan Rose ke rumah sakit. Sampai di sana, Rose segera di tangani oleh dokter. Dengan tangan gemetar, Ryan menelepon ibu dari Rose. Suara dering memecah sunyi ruangan.
"Halo Tante, Rose.... "
Cukup lama Ryan berbicara dalam telepon. Ia berusaha berbicara dengan benar walau suara nya bergetar.
Sampai sudah cukup lama Ryan menunggu. Tak lama terlihat dari kejauhan seorang wanita berlari mengarah ke Ryan. Rambut gelombang yang membuat wajah nya mengingatkan dengan seseorang.
Ternyata itu adalah ibu dari Rose. Dengan terengah-engah, beliau berkata.
"B..bagaimana dengan... Rose?"
"Duduk terlebih dahulu Tante, dan soal Rose...saya masih menunggu dokter yang merawat nya"
Ibu Rose hanya diam, ia segera duduk ke kursi yang sudah di siapkan.
"Tante, sebenarnya ada apa dengan Rose?Tante tau sesuatu kan?"
Ucap Ryan dengan nada serius. Dengan berat hati, beliau dengan perlahan menjelaskan situasi kepada Ryan.
"Apakah kamu tau alasan mengapa Tante tidak mengizinkan kalian pergi terlalu lama? Atau pulang sebelum malam?"
Tanya Ibu Rose.
"Saya pikir itu sesuatu yang wajar terhadap orang tua dan anak"
Ibu Rose hanya tersenyum.
" Rose, memiliki riwayat penyakit yang mematikan. Anak itu tidak mau membicarakan nya dengan mu. Dan seharus nya kamu tidak ada di sini. Dia tidak ingin kamu sedih, namun sepertinya kali ini tubuh Rose tidak mampu menahan rasa sakit yang ia derita"
Jawab beliau dengan mata sayu. Seketika badan Ryan langsung membeku. Tak percaya apa yang ia dengar. Sejak kapan? Bagaimana ini terjadi? Kenapa tidak ada seorang pun memberi tahu ku? Dan kenapa aku begitu bodoh tidak menyadari nya!? Itulah yang ada di pikiran Ryan sekarang.
"Bisa di sembuhkan kan? Seberapa parah penyakit nya?"
"Sangat parah, bahkan Tante hanya berharap waktu yang Tante habiskan bersama Rose bisa lebih panjang. Tapi...takdir berkata lain"
Dengan air mata yang Ryan tahan, pria itu berdecak kesal.
"APA TANTE AKAN MENYERAH!? ROSE ITU ANAK TANTE KAN? KENAPA TANTE MENYERAH BEGITU SAJA!?"
Bentak Ryan saking kesal nya.
"Terus apa yang harus Tante lakukan? Menurut kamu Tante hanya diam saja? Kamu yang tidak tau apa-apa lebih baik diam dan pergi dari sini!"
"Kenapa saya di usir? Saya berhak menemani Rose!"
Ucap Ryan dengan percaya diri.
"Tante mohon pergilah, ini keinginan Rose. Dia tidak mau seseorang sedih karena nya...tidak lagi"
Ucap ibu Rose yang segera mendorong Ryan untuk pergi.
"Tapi Rose..."
"Nanti Tante telepon, menurutlah dengan saya, oke?"
Sama seperti Ryan, ibu dari Rose juga menahan air mata nya. Dengan kesal Ryan segera pergi dari sana.
.
.
.
Sepulang nya, Ryan langsung masuk ke kosan nya. Berjalan perlahan dan tidak semangat. Wajah sedih dan bahkan hampir menangis. Menjatuhkan diri nya di kasur empuk tanpa melepas jaket yang ia kenakan.
"Sebenarnya kau betulan cinta dengan ku atau tidak? Kenapa kau harus menyembunyikan fakta ini"
Gumam Ryan sambil menutup mata nya.
Pagi nya, Ryan bangun dan segera membersihkan diri. Setelah nya ia diam sejenak sambil melihat sekitar. Kamar berantakan, baju berserakan dimana-mana. Pria itu menghela nafas.
'Toh kamar mu juga sama berantakan nya!'
Tiba-tiba saja Ryan mendengar suara cempreng Rose. Atau lebih tepat nya dia mengingat momen yang dulu ia rasakan. Langsung saja Ryan mengambil sapu dan segera membersihkan kamar nya.
Selesainya...
"Hah, benar kata Rose. Dari awal seharusnya aku membersihakan kamar ku dari awal, hahaha... yah terserahlah"
Ryan melihat bunga yang ada di depan rumah nya. Namun saat di perhatikan lebih jeli, terlihat satu kuncup bunga mulai tumbuh. Walau begitu tak nampak warna apa yang akan muncul dari bunga tersebut. Ryan hanya tersenyum kecil.
.
.
.
Sudah 3 hari berlalu, tak ada telepon dari ibu Rose. Ia sudah menelepon berkali-kali namun tak ada jawaban. Walau kesal Ryan tidak tau apa yang harus dia lakukan. Jika memang ini keinginan Rose, ia tidak bisa berkata apa-apa. Dengan senyum pahit, Ryan bergumam...
"Bangunlah bodoh, kau bilang kita akan menunggu bunga-bunga ini mekar, kau bilang...kita menantikan nya bersama. Ku mohon, bertahan lah"
Terlihat 1 tanaman yang sudah tumbuh. Bungan mawar merah mekar dengan cantik nya. Di susul 2 kuncup bunga di pot yang berbeda.
Bunga kedua tumbuh di pot berbeda. Bunga mawar cantik mekar, namun bukan nya senang Ryan menjadi sedih. Karena bunga yang tumbuh bukan mawar merah atau sebagainya. Melainkan mawar kuning yang tumbuh.
Mawar kuning memiliki arti pertemanan. Namun jika di berikan kepada pasangan itu berarti perpisahan.
"Apakah dari awal kau sadar bahwa hubungan kita akan berakhir Rose?"
Ucap Ryan dengan mata sayu.
Besok nya Ryan masih melakukan kegiatan yang sama. Namun saat malam hari, terdengar dering dari handphone Ryan. Dengan cepat ia langsung menggangkat nya.
"Halo Tante!"
Telepon tersebut dari ibu dari Rose. Namun bukannya terdengar suara beliau, melainkan suara Rose. Suara nya begitu lirih. Ryan hanya diam menunggu Rose berbicara.
"Halo Ryan, apa kabar? Hahaha maaf ya aku tidak menceritakan tentang penyakit ku. Oh ya, mawar kuning sudah tumbuh ya?"
"Bagaimana kau bisa tau?" ~Ryan
"Pepohonan dan dedaunan yang bilang, hehehe" ~Rose
"Jangan bercanda di situasi seperti ini bodoh"
Ucap Ryan yang menahan air mata.
"Masih galak ya, hihihi... Ryan kamu pasti bertanya- tanya kenapa aku menanam mawar kuning ketika kita menjadi pasangan. Jangan marah dulu, bukan berarti aku benci kamu kok, aku benar-benar sayang Ryan beneran lho..eh dan "
"Pfftt, iya aku tau, langsung saja ke intinya" ~Ryan
"Hanya saja aku takut saat aku tiada nanti aku belum mengucapkan perpisahan dengan mu. Bunga kuning itu akan menjadi pesan untuk ku, tapi kayak nya ngak berguna ya. Kan pada akhirnya aku bisa mengucapkan perpisahan dengan benar, hahaha " ~Rose
"Jangan bilang begitu bego! Aku yakin seberapa parah nya penyakit mu pasti bisa disem.." ~Ryan
"Tidak bisa Ryan, aku dan mama sudah berobat kesana kemari. Dan yah...hahaha seperti yang kau lihat"
Setelah Rose mengatakan hal tersebut, Ryan langsung berdecak kesal.
"Tunggu aku, aku akan menemui mu! Jangan tutup telepon nya!!"
"A..apa, Ryan?"
Ryan segera mengambil jaket nya dan bersiap keluar. Membawa kunci sepeda motor berniat menuju rumah sakit. Pria itu juga membawa bunga kuning dan merah yang ia petik tadi. Suara kendaran membuat Rose terkejut dan khawatir.
"Yan!?" ~Rose
"Jangan tutup telepon nya!"
Ucap Ryan yang berusaha mencepatkan kendaraan nya.
"Kau bisa mati kecelakaan geblek!!💢" ~Rose
"Bodo amat, sekalian nyusul kamu ke akhirat!" ~Ryan
"Ni bocah bisa-bisa nya nge gombal!Hei!! Bahaya tau! WOII!" ~Rose
"Sebelum aku mati kecelakaan aku mati gara-gara denger suara cempreng mu tau!💢" ~Ryan
Walau marah dan kesal, namun Rose cukup senang Ryan begitu perhatian kepada nya. Pandangan Rose mulai kabur, suara Ryan yang memanggil nya mulai memudar. Mata nya tertutup perlahan. Dan handphone yang ia genggam jatuh bersamaan dengan suara perawat yang mulai panik.
Malam gelap menemani Ryan. Di susul oleh rintik hujan. Air sedikit demi sedikit membasahi tubuh Ryan.
"Bertahanlah Rose, kumohon"
Sesampainya, Ryan dengan tubuh basah kuyub langsung menghampiri kamar pasien Rose. Berlari dan berharap Rose masih menunggu nya. Namun takdir berkata lain. Sesampainya di kamar Rose, keluar perawat sambil membawa ranjang dengan kain putih tertutup di atas nya. Di susul dari belakang ibu Rose yang sedang menangis sejadi-jadi nya.
Ryan hanya termenung, melihat ranjang putih yang menjauh dan semakin menjauh. Kaki pria itu begitu lemas, ia terjatuh dan duduk dengan wajah yang masih tidak percaya. Ibu Rose yang menyadari kehadiran Ryan langsung memeluk Ryan dari samping. Seketika air mata tak mampu terbendung. Ryan menangis dalam pelukan ibu dari Rose.
.
.
.
Di hari pemakaman Rose. Nampak banyak orang yang datang untuk berziarah. Ryan yang menghadiri acara tersebut hanya bisa menunduk sedih. Waktu berlalu, orang-orang mulai meninggalkan tempat. Tersisa Ryan dan ibu dari Rose saja. Beliau membelai batu nisan anak nya, dan mengucapkan...
"Semoga kamu tenang ya sama papa di sana, mama akan selalu mampir ke tempat kalian"
Gumam beliau sambil mencium batu nisan tersebut. Setelah nya beliau hanya mengangguk ke Ryan dan pergi meninggalkan nya. Memberikan waktu ke anak muda itu.
Ryan dengan badan bergetar melangkah ke depan menghampiri makam. Ia tersenyum kecil, di susul dengan air mata yang membajiri pipi nya. Meletakan 3 tangkai bunga mawar di sana.
Terdapat 3 warna dari mawar tersebut. Warna merah, kuning, dan yang baru tumbuh ini... mawar dengan warna lavender. Ketiga bunga tersebut punya arti yang menyentuh hati.
Warna merah melambangkan cinta seorang kekasih, Rose menanamnya karena alasan hubungan kami. Ini juga mengingatkan nya dengan bunga pertama yang aku berikan padanya. Warna kuning, perpisahan. Namun di susul dengan tumbuh nya mawar berwarna lavender memiliki hubungan yang spesial dan sulit untuk di lupakan. Walau kami berpisah, namun cinta kami tidak akan hilang. Karena, cinta kita ini istimewa. Hahaha, benar kan Rose?
Itulah yang Ryan simpulkan dari ketiga arti bunga yang di berikan oleh kekasih nya itu.
"Semoga kau tenang di sana, dan terima kasih kau mau menghabiskan sisa umur mu kepada ku"
Ucap Ryan dengan senyum dan suara nya yang lirih.
.
.
.
[TAMAT]
Sori guys, kalo gaje. Jangan lupa like and komen✌🏻😁