"A- ayah...i- ibu. Apa yang sebenarnya terjadi?"wajah yang selalu ceria itu berubah drastis. Tidak ada seyum yang mengembang diwajahnya, hanya air mata yang terlihat. Wajahnya yang terlihat sangat menderita itu, menyiratkan gadis itu tidak baik-baik saja. Gadis itu sungguh tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Dia hanya bisa melihat kedua orang tuanya yang terbaring tak sadarkan diri.
"Ayah dan ibumu kecelakaan saat mau menjemputmu, Nez" dengan wajah yang muram, tante Andriani menceritakan apa yang terjadi kepada orang tua gadis itu. Beliau adalah tetangga yang juga adalah sahabat ibu gadis itu."Nez, orang tuamu-" tante Andriani tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Air mata mengalir dari matanya. Terus mengalir tanpa henti, mengalir begitu derasnya. Walau ia sudah menghapusnya, air mata yang sudah ia tahan sedari tadi itu, tidak juga kunjung berhenti. Tante Andriani tidak sanggup melihat Inez putri sahabatnya itu. Sungguh malang anak sahabatnya ini. Ditinggalkan oleh orang tua yang sangat ia sayangi. Apalagi sekarang hanya Inez yang harus mengurus adiknya yang baru menginjak kelas 2 SD.
"Ada apa dengan ayah dan ibu? Mereka baik-baik saja kan? Kenapa tante nangis?"matanya menyiratkan kekhawatiran. Khawatir akan apa yang terjadi kepada kedua orang tua yang amat sangat disayanginya.
"Tante, tante Andriani!!"
"TANTE!!"
Gadis itu membuka matanya. Napasnya terengah-engah seperti habis lari marathon 10 km. Rupanya ia bermimpi buruk, mimpi buruk yang sangat ia ingin lupakan. Mimpi buruk yang selalu membuatnya mengingat dengan jelas saat tante Andrini mengatakan bahwa kedua orang tuanya sudah meninggal karena kecelakaan. Yang membuatnya terus mengingat bagaimana sedihnya ditinggalkan sesuatu yang berharga baginya.
Sudah dua tahun sejak gadis itu kehilangan kedua orang tuanya. Arianti inez febrica. Adalah nama gadis itu, gadis malang yang kelihangan kedua orang tuanya saat menginjak kelas 1 SMP. Gadis cantik yang juga pintar itu sekarang menjadi tulang punggung keluarga untuk menghidupi dirinya dan adiknya.
"Dek, buruan sini sarapan. Nanti telat berangkat sekolahnya lho"panggil Inez yang sedang menata makanan diatas meja makan, rambut hitam legamnya yang panjangnya sebahu dikuncir kuda yang membuatnya terlihat semakin cantik. Mata besarnya yang berwarna coklat seperti boneka barbie itu sedang fokus menatap piring-piring dimeja makan, yang terisi dengan sarapannya bersama adiknya hari ini. Seragam putih birunya yang terlihat rapi terlihat sangat cocok dengannya, walaupun hanya baju seragam osis SMP miliknya, namun itu sudah cukup untuk memperlihatkan betapa cantiknya Arianti Inez Febrica.
"Iya, sebentar kak. Aku lagi pakai seragam nih" jawab gadis mungil itu sambil mempercepat memakai seragam sekolahnya.
Kakak beradik itu sudah duduk di meja makan sambil menyantap makanan yang terhidang dimeja. Dengan menu seadanya mereka makan dengan gembira, sambil sesekali bercanda gurau. Walau terlihat gembira, sebenarnya mereka sangat merindukan kedua orang tua mereka. Setelah sarapan Inez dan Nisa adiknya berangkat sekolah dengan berjalan kaki, karena sekolah mereka hanya berjarak 500 meter dari rumah mereka. Jadi, hanya dibutuhkan beberapa menit untuk sampai di sekolah
“Inez,hari ini kamu kerja?”terdengar suara orang yang sangat familier di telinga Inez, gadis itu reflek menoleh kearah suara itu berasal. Ternyata itu adalah Cindy sahabatnya.
“Eh…Cindy, iya nanti aku kerja. Sehabis pulang sekolah, seperti biasa”jawab Inez dengan senyum terukir di wajahnya. Inez bekerja di restoran milik keluarga Cindy. Anak seumurannya biasanya tidak akan memikirkan pekerjaan dan masih senang bermain dengan teman-temannya. Namun karena sepeninggal orang tuanya Inez harus bekerja untuk memenuhi kebutuhannya dan adiknya. Karena mereka tidak punya keluarga selain kedua orang tuanya. Kakek dan nenek mereka sudah meninggal bahkan sebelum Inez lahir.
“Anak-anak, apakah ada yang tahu inti atom terdiri dari apa saja?”tanya guru mata pelajaran ipa yang disambut keheningan. Tidak ada satupun anak yang mengangkat tangan, kecuali Inez yang mengangkat tangannya dengan penuh percaya diri. “Apakah tidak ada yang tahu jawabannya? Kenapa hanya Inez saja yang mengangkat tangan? Yasudah kalau begitu Inez”dengan kesal karena hanya satu dari tiga puluh dua orang muridnya yang mengangkat tangan, bu guru pun menunjuk Inez untuk menjawab pertanyaannya.
“Inti atom terdiri dari proton dan neutron, bu”dengan penuh percaya diri Inez menjawab pertanyaan dari gurunya.
“Betul, inti atom terdiri dari proton dan neutron. Besok-besok kalau ada mata pelajaran ibu lagi, ibu ingin semua anak aktif menjawab. Jangan asik Inez saja yang menjawab”bu guru menghela napas, heran dengan kelas yang hanya didominasi dengan Inez saja. Memang benar Inez adalah anak yang pintar dan sering menang dalam berbagai lomba, hanya saja apakah murid lainnya tidak ada yang bisa menjawab? Atau mereka hanya takut salah menjawab?. Pikir bu guru saat itu.
Pukul 13.00 bel pulang sudah berbunyi. Satu persatu anak murid SMP Harapan Bangsa sudah keluar dari gerbang utama sekolah. Inez berjalan sambil bercanda gurau dengan Cindy sahabatnya. Sampai akhirnya mereka membicarakan tentang pelajaran Ipa, yang membuat bulu kuduk Cindy bergidik. Mereka membicarakan tentang betapa killer nya guru Ipa dan betapa menyebalkannya beliau saat mengajar tadi.
“Kamu tuh suka banget ngeghibahin guru ya. Emang bu guru Ipa segalak itu?”tanya Inez kepada sahabatnya itu.
“Kamu sih pinter makanya engga pernah kena marah”jawab Cindy dengan muka masam. “lagian tuh ya kamu kok bisa pinter banget sih Nez? Kamu makan apaan sih kok bisa pinter banget?”lanjut Cindy sambil memanyunkan bibirnya kedepan,
“Makan apaan emang? Aku tuh pinter mirip ibuku tahu, kan sudah kukasih tahu. Dasar Amelia cindy maheswari, kamu tuh pelupa banget yah hahaha. Hari ini ibu masak apa ya, jadi pengin cepat-cepat pu-“Inez tidak bisa melanjutkan kata-katanya. Padahal sudah dua tahun lamanya ia hidup tanpa kedua orang tuanya. Namun ia masih tetap saja lupa dan berbicara omong kosong seperti itu. Air mata menetes dari matanya. Semakin lama semakin deras mengalir. Membasahi kulit putihnya yang pucat. Inez mencoba menghapus air mata di pipinya, namun air matanya malah semakin deras mengalir dari matanya.
“Nez…Inez, udah jangan nangis lagi”ucap Cindy menenangkan sahabatnya yang semakin terisak.
Setelah lebih tenang Inez ditemani Cindy pergi ke tempat kerjanya, yang adalah restoran milik keluarga Cindy. Awalnya Inez bingung mencari pekerjaan dengan umurnya yang baru menginjak 12 tahun saat itu. Memang tante Andriani sering mengunjunginya dan adiknya Nisa. Namun Inez yang sedari awal adalah anak yang mandiri, merasa tidak enak jika harus terus bergantung kepada tante Andriani yang bahkan bukanlah keluarganya. Awalnya Inez hanya membicarakan masalahnya kepada sahabatnya itu, namun sahabatnya malah menawarinya untuk bekerja di restoran milik keluarganya. “Kamu mau engga kerja di restoran milik keluargaku, kalau kamu mau nanti aku bilang ke mama dan papa. Please, Inez mau ya? Aku pengin bantu kamu, tapi aku engga tahu harus bantuin apa. Jadi, menurutku ini kesempatanku untuk bisa ngebantuin kamu sahabat kesayanganku” ucap Cindy dua tahun yang lalu saat menawari Inez bekerja di restoran keluarganya. Saat itu hanya jawaban iya yang ada di benak Inez, ia tidak bisa menolak tawaran sahabatnya itu. Karena ia membutuhkan pekerjaan untuk menghidupi dirinya dan adiknya, dan mungkin hanya ini saja kesempatannya untuk bekerja. Kalau menolak pun tidak ada kepastian jika ia bisa mendapat pekerjaan di tempat lain.
Inez bekerja dengan giat. Ia dengan sigap melayani pelanggan yang datang. Kesana-kemari membawa nampan berisi pesanan. Tangannya dengan lihai membersihkan meja-meja yang kotor, mengambil piring-piring di meja yang isinya sudah kosong dengan sangat hati-hati.
Sepertinya Inez masih memikirkan kejadian tadi, ia sungguh merasa dirinya benar-benar bodoh. Mengatakan omong kosong yang tidak jelas seperti itu, apalagi sampai menangis terisak-isak di depan Cindy. Walaupun sudah mengatakan dirinya baik-baik saja, Cindy terus memperhatikannya dari tempat duduknya. Jika ditanyai Cindy beralasan ingin melanjutkan belajar Ipa yang di jelaskan gurunya tadi, jadi ia tidak langsung pulang kerumah setelah mengantar Inez. Cindy sangat menghawatirkan sahabatnya itu, ia tahu betul yang dialami sahabatnya pastilah sangat berat untuk dihadapi. Jika dirinya yang mengalaminya belum tentu ia bisa sekuat Inez. Apalagi Inez yang terus memaksa bekerja sampai malam membuatnya semakin khawatir. Bayangkan saja Inez bekerja dari sepulang sekolah sampai jam delapan malam setiap harinya. Belum lagi ia harus mengurus adiknya di rumah, dan ia juga harus mengurusi urusannya sendiri. Inez sekarang sudah menginjak kelas 3 SMP jadi ia harus rajin belajar untuk persiapan ujian, praktek-praktek ujian juga sudah dimulai. Sekarang seharusnya Inez mulai memfokuskan dirinya untuk belajar, bukannya terus memaksa bekerja sampai malam. Teguran demi teguran sudah di dapat Inez dari sahabatnya. Namun karena sifat keras kepala nya Inez sama sekali tidak menghiraukan perkataan sahabatnya.
Hari ini Inez menjalani paginya seperti biasa. Bersiap-siap kesekolah, menyiapkan sarapan untuk dirinya dan adiknya, dan membereskan rumah seperti yang dilakukanya setiap pagi. Kecuali Nisa adiknya yang tiba-tiba ingin membantu Inez menyiapkan sarapan, membuat Inez heran. Namun ia tidak mempersalahkannya dan berpikir mungkin adik kecilnya sudah mulai tumbuh dewasa. Tubuh gadis mungil itu dengan semangat membantu Inez menyiapkan sarapan. Rambut kepang nya bergoyang-goyang saat gadis mungil berusia 10 tahun itu bergerak kesana-kemari memperhatikan kakaknya yang sedang memasak. Ia memindahkan lauk pauk yang dimasak kakaknya ke piring dan meletakkannya di meja makan, dengan senyum lebar di wajahnya.
“Kakak”ucap Nisa sambil meraih pegangan kursi lalu duduk diatasnya.
“Ada apa Nis?”tanya Inez yang hanya dijawab senyuman oleh Nisa.
“Kakak, satu bulan lagi kan Nisa ulang tahun”senyum lebar terlihat di wajah Nisa, saking lebarnya sampai gigi kelincinya terlihat. “Jadi Nisa ingin makan kue dan es krim. Kakak mau kan belikan untuk Nisa, kuenya engga usah yang besar juga gapapa kok, Nisa udah seneng kalau kakak mau belikan”lanjutnya dengan penuh semangat.
“Kakak mau belikan, tapi-”ucapan Inez terpotong oleh teriakan hore dari Nisa.
“Jadi kakak mau belikan Nisa kue dan es krim? Terima kasih kakak, Nisa sayang kakak”terlampau senang gadis mungil itu sampai mengangkat-ngangkat tangannya keatas dengan semangat. Inez tidak tega melihat wajah kecewa adiknya nanti jika ia mengatakan tidak bisa membelikan apa yang diinginkannya karena ia tidak memiliki uang yang cukup untuk membelinya. Uang hasil bekerja di restoran keluarga Cindy ia gunakan untuk memenuhi kehidupan sehari-harinya, dan kadang ia gunakan untuk membayar keperluan sekolahnya atau adiknya. Inez tidak tahu harus mendapatkan uang dari mana lagi untuk membuat adiknya senang di hari ulang tahunnya.
“Cindy, kalau aku lembur kerja boleh engga?” tanya Inez kepada sahabatnya yang sedang menyesap teh hangat istimewa buatan ibu kantin, yang seketika disemburkannya karena kaget akan pertanyaan Inez. Sudah pusing kepala Cindy melihat rumus-rumus matematika di papan tulis yang bahkan tidak ia pahami. Sekarang di saat ia sedang mengistirahatkan otaknya sejenak, ia malah disambut pertanyaan Inez yang membuatnya tersedak hingga terbatuk-batuk.
“Uhuk…uhuk…uhuk aku engga salah denger tadi kan?”ucap Cindy lalu menyesap teh hangatnya kembali, kali ini ia tidak menyemburkannya.
“Iya, kamu engga salah denger kok. Kamu kalau minum pelan-pelan dong, tuh kan tersedak jadinya”jawab Inez sambil menepuk-nepuk punggung sahabatnya yang masih batuk-batuk karena tersedak.
“Aku bukan tersedak karena engga minum pelan-pelan, Nez. Aku kaget sama pertanyaanmu tadi. Kita itu udah kelas tiga Nez, UN udah didepan mata. Kita harus fokus belajar, praktek-praktek ujian juga sudah dimulai, kalau kamu kerja seperti biasa saja waktu belajar kamu sudah berkurang. Kalau kamu kerja lembur nanti kamu engga punya waktu untuk belajar, adik kamu juga nanti bagaimana”jelas Cindy. Tentu saja Inez tahu itu, tapi ia tidak ingin membuat adiknya, keluarga satu-satunya itu kecewa dihari ulang tahunnya.
“Aku tahu itu. Tapi adikku ingin dibelikan kue dan es krim di hari ulang tahunnya nanti. Aku tidak ingin membuat adikku kecewa, Cin. Kamu tahu kan Nisa itu keluargaku satu-satunya, jadi…jadi aku mohon kamu bisa kan tolongin aku, Cindy”putus asa, hanya itu yang Inez rasakan saat ini. Ia tidak tahu marus meminta kepada siapa lagi selain sahabatnya ini. Inez menggigit bibir bawahnya dengan perasaan yang campur aduk. Takut, khawatir, malu semuanya bercampur menjadi satu. Ia takut membayangkan ekspresi adiknya nanti jika tahu apa yang diinginkannya tidak bisa Inez beli, ia juga khawatir kalau permintaanya ditolak oleh Cindy, dan Inez juga merasa malu karena harus terus meminta bantuan Cindy. Padahal sudah syukur Cindy menawarinya bekerja di restoran milik keluarganya, tapi Inez malah terus meminta bantuan kepada Cindy. Sebenarnya Inez merasa tidak enak hati terus meminta bantuan kepada sahabatnya itu, tapi ia tidak tahu harus meminta bantuan ke siapa lagi selain kepada Cindy.
“Iya aku bakal bantuin kamu kok, nanti aku bilang ke papa dan mama kamu mau kerja lembur. Tenang aja aku akan bantuin kamu agar Nisa senang di hari ulang tahunnya”ucap Cindy sambil menggenggam tangan sahabatnya itu. Senyumannya membuat hati Inez tenang. “Tapi kamu jangan lupa belajar lho. Yasudah aku mau beli batagor dulu ya”lanjut Cindy, ia beranjak dari tempatnya duduk yang seketika dihentikan oleh Inez.
“Iya…iya tenang aja kok, aku akan sisihkan waktu untuk belajar. Eh…Cindy beli batagornya dipending dulu ya, bel masuk udah bunyi tuh. Istirahatnya udah selesai, ayo buruan ke kelas. Habis ini pelajaran bu guru Ipa lho”ucap Inez, senyuman terlukis di wajahnya. Kekhawatirannya sudah menghilang, sekarang ia telihat seperti biasanya. Meninggalkan perasaannya yang campur aduk beberapa menit lalu.
“HAH…udah bel masuk? Aku baru mau jajan lho ini, masa udah bel aja sih. Habis ini Ipa? Tadi matematika aja aku engga paham, sekarang malah Ipa”rasanya kepala Cindy seperti ingin meledak. Matematika dan Ipa bukanlah kombinasi yang baik untuk menjalani harinya. Apalagi tanpa sadar ia malah menghabiskan waktu istirahatnya hanya dengan segelas teh hangat. Rasa lapar yang sudah ditahannya sejak pelajaran matematika sekarang harus ditahannya kembali sampai istirahat kedua nanti.
“Hahaha…kamu ini ya, nanti aku ajarin deh kalau belum paham”Inez tertawa melihat tingkah sahabatnya yang sedang kebingungan itu. Lalu menarik Cindy untuk kembali ke kelas.
Inez memberitahu Nisa adiknya bahwa mulai hari ini ia akan bekerja lembur. Ia menjelaskan kepada Nisa agar tidak perlu menunggu dirinya pulang seperti biasanya, karena ia akan pulang larut malam. Nisa hanya mengangguk mendengar ucapan kakaknya, ia tidak tahu apa yang membuat kakaknya bekerja lembur. Ia tidak berani bertanya kepada kakaknya, entah kenapa mulutnya seperti terkunci bila ingin bertanya alasan kakaknya bekerja lembur.
Inez bekerja dari sepulang sekolah hingga pukul duabelas malam. Ia bekerja dengan giat demi membelikan adiknya kue dan es krim dihari ulang tahunnya nanti. Sepulang bekerja ia belajar hingga jam dua pagi. Karena itu ia sering tertidur saat pelajaran. Teguran demi teguran di dapatkannya dari gurunya. Nilai Inez pun menurun drastis karena ia tidak fokus dan sering tertidur di kelas.
Pagi ini Inez merasa ada yang aneh dengan tubuhnya. Ia merasa tubuhnya memanas, kulit putih pucatnya lebih pucat dari biasanya, bibirnya yang berwarna merah itu juga terlihat pucat. Inez berangkat sekolah dengan kondisinya yang tidak bisa dibilang sehat itu. Tubuhnya terasa berat. Kepalanya pusing, sampai rasanya ia bisa melihat sekelilingnya berputar-putar. Inez berjalan di koridor sekolahnya dengan lunglai, bahkan Inez tidak bisa mendengar Cindy yang berada di belakangnya terus memanggilnya. “Brukk!!” Inez terjatuh tidak sadarkan diri di depan pintu kelasnya. Cindy yang sedari tadi di belakang Inez dengan cepat langsung menghampirinya. Dengan dibantu beberapa teman sekelasnya, Cindy membawa Inez ke UKS.
“Ineezzz” Cindy langsung memeluk Inez yang baru saja tersadar dari pingsannya.
“Uhk…Cindy lepasin, sesak tahu”keluh Inez saat Cindy semakin erat memeluknya.
“Uwa…Inez, aku kira kamu tadi kenapa, tiba-tiba pingsan di depan kelas begitu, kamu hampir buat jantungku copot nih… Tadi juga badanmu panas banget tau. Waktu diukur pakai termometer suhumu sampai 38°C. Aku khawatir kamu kenapa-napa, tega banget kamu bikin aku khawatir terus”terlihat air mata di pelupuk matanya. Hampir saja Cindy menangis saat melihat Inez tiba-tiba tak sadarkan diri. Ia benar-benar khawatir dengan sahabatnya itu, apalagi melihat Inez yang sering tertidur di kelas dan nilai-nilainya yang menurun semakin membuat Cindy khawatir.
“Maaf deh kalau begitu, kayanya aku cuman kecapean aja kok, gausah khawatir. Udah yuk ke kelas aja”ucap Inez, lalu beranjak turun dari ranjang busa berlapis bahan oscar yang dilapisi dengan seprei berwarna putih itu. Wajahnya masih pucat dan tubuhnya terlihat sangat lemah.
“Eh…mau kemana kamu, Nez. Badan kamu masih panas gini mending istirahat aja deh. Kalau soal pelajaran nanti aku pinjamkan catatanku. Lagian kalau kamu ikut pelajaran pun, kamu engga akan bisa fokus belajar, Nez. Udah mendingan kamu istirahat aja di UKS, jangan terlalu memaksakan dirimu. Kalau kamu terus memaksakan dirimu aku akan bilang ke papa dan mama untuk engga ngizinin kamu kerja lembur lagi!”dengan tegas Cindy meminta sahabatnya untuk beristirahat di UKS dan tidak mengikuti pelajaran. Iya, hanya itu jawaban yang didapatnya dari Inez. Namun sudah membuat Cindy merasa puas mendengarnya. Gadis itu meninggalkan Inez di UKS. Rambut pendeknya yang berwarna coklat itu terlihat sangat indah saat terkena cahaya matahari yang masuk lewat jendela UKS, senyumnya yang sangat manis tertangkap dengan jelas oleh mata Inez sebelum gadis itu meninggalkannya dalam kesunyian ruang UKS.
Bel pulang sudah berbunyi. Cindy mendatangi Inez dengan buku-buku catatan pelajaran miliknya. Dengan senyum jahilnya gadis itu mencubit pipi Inez yang sedang tertidur dengan pulasnya.
“Ngapain sih kamu, Cin? Sakit tahu”Inez terbangun dengan wajah yang kesal.
“Maaf deh, aku gemes sama kamu soalnya. Udah ngerasa baikan?”ucap Cindy dengan tertawa kecil.
“Iya udah mendingan kok, udah bel pulang kan? Udah yuk pulang, aku masih harus kerja soalnya”jawab Inez. Gadis ini benar-benar tidak tahu apa artinya untuk tidak memaksakan dirinya. Menurutnya sekarang yang terpenting adalah keinginan adiknya dan pekerjaannya.
“Kerja? Kamu ini ya, Nez. Udah jangan memikirkan pekerjaanmu terus dong, pikirin dulu kesehatanmu Inez!. Kamu engga usah mikirin permintaan adikmu dulu deh, istirahat aja di rumah!”entah harus dengan cara apalagi agar Cindy bisa melelehkan pikiran gadis keras kepala ini. Berbagai cara sudah ia lakukan untuk meruntuhkan pendirian sahabatnya itu, tapi tidak ada cara yang berhasil untuk meruntuhkan benteng pendirian milik Inez sahabatnya itu.
“Ta-tapi…tapi aku engga mau buat adikku kecewa, aku juga ingin membelikannya hadiah ulang tahun, Cin”air mata Inez terlihat menuruni matanya. Entah sudah keberapa kalinya Inez menangis di hadapan Cindy. Emosi nya meluap begitu saja, tangisnya pecah, memecahkan keheningan ruang UKS.
“Uhk…udah jangan mikirin itu lagi, biar itu nanti aku yang mikirin deh. Kan aku udah bilang mau bantuin kamu, tapi kamu malah engga pernah minta bantuan aku. Aku selalu ada kalau kamu butuh bantuan Inez, kita tuh udah sahabatan dari kelas 3 SD, kalau kamu butuh bantuan kamu bilang dong sama aku, rasanya persahabatan kita selama 6 tahun ini sia-sia banget tau, aku jadi ngerasa engga dianggep sahabat sama kamu”raut wajah Cindy berubah yang semula ceria menjadi terlihat sedih, hatinya gusar ia merasa seperti orang asing yang tidak tahu apa-apa tentang Inez.
“Maaf…maafin aku, Cin. Aku cuman mikirin diriku sendiri aku minta maaf”Inez terkejut mendengar ucapan sahabatnya, ia tidak tahu harus berkata apalagi selain meminta maaf kepada sahabatnya itu. Ia tidak menyangka Cindy akan mangatakan hal seperti itu.
Sudah beberapa hari ini Inez tidak bersekolah ataupun bekerja. Setelah kejadian di UKS waktu itu, Cindy menyuruhnya untuk beristirahat di rumah saja. Nisa adiknya bingung saat melihat Cindy pulang bersama Inez kakaknya, dengan kondisi Inez yang wajahnya pucat dan terlihat lemah. Cindy menceritakan apa yang terjadi kepada Inez, ia juga menceritakan alasan Inez bekerja lembur. Nisa yang mendengar itu pun langsung menangis, ia tidak menyangka permintaannya kepada kakaknya malah membuat kakaknya itu sakit dan nilai-nilainya menurun.
“Eh…dek kok malah nangis”Inez mengusap air mata di pipi Nisa. Gadis kecil itu malah semakin terisak melihat kakaknya itu, ia benar-benar merasa bersalah kepada kakaknya.
“Uwa…kakak kenapa sih harus memaksakan diri kakak untuk permintaan egois Nisa hiks…hiks”Nisa menangis sambil memarahi kakaknya itu. Ia merasa kesal dengan kakaknya yang keras kepala itu.
Setelah itu Nisa merawat kakaknya yang sakit sebagai permintaan maafnya. Ia berkata kepada kakaknya bahwa ia tidak akan meminta sesuatu yang merepotkan kakaknya lagi. Ia juga berjanji tidak akan menjadi adik yang manja dan akan membantu kakaknya sebisanya.
“Kakak sudah mendingan?”ucap Nisa sambil menyentuh dahi kakaknya untuk memeriksa suhu tubuhnya.
“Iya kakak sudah mendingan kok, ini karena Nisa yang ngerawat kakak. Nisa beneran engga mau kakak belikan kue dan es krim?”dengan senyum yang terlukis di wajahnya Inez menjawab pertanyaan adik kecilnya itu. Inez masih tetap saja ingin membelikan adiknya kue dan es krim walaupun ulang tahun adiknya itu sudah terlewat satu hari yang lalu.
“Kakak jangan bercanda lho, nanti aku beritahu kak Cindy kalau kakak bercanda, biar kakak dimarahin sama kak Cindy. Dan Nisa udah engga mau kue dan es krim, Nisa cuman ingin kakak sembuh sekarang”ucap Nisa dengan muka masam mendengar ucapan kakaknya.
Disaat mereka sedang mengobrol, terdengar suara ketukan pintu. Dengan segera Inez menyuruh Nisa membukakan pintu. Terlihat tante Andriani bersama Cindy di depan rumah mereka.
“Eh…tante sama kak Cindy ada apa kesini pagi-pagi?”ucap Nisa yang hanya dijawab senyuman dari tante Andriani dan Cindy. Nisa yang kebingungan dengan reaksi tante Andriani dan Cindy pun hanya membalasnya kembali dengan senyuman.
“Selamat ulang tahun, Nisa!!”seru tante Andriani dan Cindy bersamaan yang membuat Nisa terkejut. Air mata menetes dari mata Nisa, ia juga tidak tahu kenapa dirinya malah menangis diberi kejutan seperti ini.
“Ulang tahun Nisa kan sudah terlewat, kenapa tante dan kak Cindy membelikan Nisa kue dan es krim sekarang?. Bahkan sampai membelikan hadiah untuk Nisa?”tanya gadis mungil itu sambil mengelap air mata yang masih terus mengalir dari matanya.
“Anggap saja ini hadiah dari kakakmu, Nis. Inez sudah berusaha untuk membelikan kue dan es krim untukmu, bahkan katanya dia ingin membelikanmu hadiah. Karena itu kakak sama tante Andriani kesini, kakak engga mau usaha Inez kakakmu itu sia-sia”jawab Cindy sambil tersenyum.
Inez terkejut melihat sahabatnya dan Tante Andriani sedang duduk di ruang tamu dengan kue dan es krim yang sangat diinginkan adiknya itu. Cindy menjelaskan apa yang terjadi kepadanya, dan seketika Inez pun menangis. Ia tidak tahu harus berkata apa. Inez tersenyum, ia sangat berterima kasih kepada tante Andriani dan Cindy yang selalu membantunya. Dan Inez sadar bahwa ia masih memiliki orang yang berharga dan selalu ada untuknya di saat ia butuh bantuan.
Akhirnya mereka merayakan ulang tahun Nisa yang sudah terlewat itu dengan gembira, tante Andriani dan Cindy memberikan hadiah boneka beruang yang sangat imut kepada Nisa. Boneka itu adalah boneka yang sebenarnya ingin Inez beli untuk adiknya. Cindy tersenyum, senyumnya itu seperti mengatakan “Sudah kubilang, serahkan saja padaku. Aku pasti bakalan bantuin kamu kok”.
“Makasih ya, Cin”ucap Inez kepada sahabatnya itu, ia terlihat begitu bahagia.
“Iya, engga masalah kok”ucap Cindy mengerti dengan apa yang sahabatnya itu katakan. “Inez, you are the best sister and best friend I've ever met. Nisa is lucky to have you, Nez”lanjut Cindy, senyum nya terlihat lebih bahagia dari biasanya. Inez hanya terseyum mendengar ucapannya.
Hari-hari setelah itu dilalui Inez seperti biasanya, ia mulai bersekolah dan bekerja kembali setelah benar-benar sembuh dari sakitnya. Namun bedanya saat ini Nisa sudah mulai mengerti dengan keadaan dan mulai sedikit dewasa, ia pun sering membantu kakaknya mengerjakan pekerjaan rumah. Hubungan Inez dan Cindy pun juga semakin dekat, Inez sudah mulai sepenuhnya terbuka dengan Cindy, sikap keras kepalanya juga sudah tidak seperti sebelumnya. Tante Andriani masih sering mengunjungi Inez dan adiknya seperti sebelumnya. Inez menjalani hari-harinya dengan semangat dan ia berhasil menjadi murid terbaik di sekolahnya. Walaupun kedua orang tuanya sudah tiada Inez sangat bahagia dengan hidupnya yang sekarang.