Tubuh seorang gadis dengan helai rambut sekelam malam menari-nari di atas sebuah panggung di balairung. Kaki jenjangnya yang mengenakan point shoes berwarna hitam tertekuk di bagian lutut, melakukan gerakan demi plie dan grand plie.
Walaupun hanya gerakan yang bisa dibilang dasar, tetapi sang balerina tetap melakukannya dengan sempurna dan hati-hati. Satu kesalahan saja maka hilanglah nyawanya.
Sebenarnya sang balerina sudah merasa sangat lelah karena terus menari berjam-jam, dari pagi hingga malam. Peluh keringat bahkan sudah membanjiri tubuhnya. Make up yang dikenakan pun sudah luntur. Akan tetapi, ia harus bersabar dan menahan rasa sakit pada kaki sedikit lama lagi. Setidaknya sebelum saatnya tiba.
Gerakan yang sama dilakukannya berulang-ulang. Tak henti-henti membut para penonton berdecak kagum. Namun, kekaguman itu hanya tersimpan dalam hati. Satu suara timbul, maka satu orang akan mati.
Kali ini sang Balerina melakukan gerakan arabesque. Satu kaki menopang tubuh dengan plie, sedangkan kaki lain terangkat, diperpanjang di belakang tubuh dengan lutut lurus. Gerakan ini membuat rok tutu berwarna hitam yang dikenakannya ikut terangkat sedikit, memperlihat bagian bawah leotard yang tertutup tutu.
Lagi, dan lagi. Menarilah Castila. Menarilah sampai kau mati atau burung itu akan memakanmu.
Bayang-bayang itu terus menghantui Castila, sang Balerina hitam. Seakan tak cukup dengan pengorbanannya, semua orang menginginkannya mati.
Kedua ujung bibir Castila yang dilapisi lipstik merah terangkat sedikit. Baiklah jika itu mau kalian.
Castila tidak menyangka jika dirinyalah yang akan dijadikan tumbal pada tahun ini. Sebuah kesialan bagi seorang balerina paling berbakat di Helysia adalah harus berakhir menjadi persembahan bagi para Haro, burung besar berwarna hitam penguasa Helysia yang terlihat seperti gagak.
Helysia, sebuah negeri kecil yang terkenal akan baletnya dan penghasil balerina serta danseur terhebat di seluruh dunia. Di sini, semua muda-mudi dipaksa belajar balet untuk dipersembahkan kepada Haro.
Tiap tahunnya akan dipilih satu balerina atau danseur untuk menari di balairung. Bukan untuk pertunjukkan, tetapi untuk ditumbalkan dan dipersembahkan kepada Haro. Dan menjadi yang tampil di balairung adalah mimpi buruk bagi semua balerina dan danseur. Tentu, tidak ada balerina hebat yang ingin berakhir mati dimakan oleh seekor burung.
Tradisi ini sudah berlangsung sejak lama. Para balerina dan danseur di seluruh Helysia sangat berharap ada seseorang yang bisa mengubah tradisi kejam ini. Sayangnya harapan kecil itu harus terus terpendam hingga beberapa abad kemudian.
Mereka harus menerima fakta bahwa, takdir seorang balerina dan danseur muda adalah mati. Entah itu mati karena kelelahan menari atau mati karena dilahap oleh burung pemakan manusia. Walaupun, sembilan puluh sembilan persen penari balet yang dipersembahkan selalu berakhir dimakan di awal atau tengah pertunjukkan karena kesalahan mereka.
Ya, satu kesalahan kecil bisa berakibat sangat fatal. Namun, apa bedanya jika ujung-ujungnya takdir penari balet adalah untuk mati? Sejak awal tujuan mereka menari balet dan menjadi balerina atau danseur hanya satu: yaitu untuk mati.
Akan tetapi, lain halnya dengan Castila. Dialah satu persen itu. Satu-satunya dalam lima abad, balerina yang dapat bertahan hingga matahari terbenam. Satu-satunya yang membuat para penonton berdecak kagum dan memiliki secuil harapan dalam hatinya. Dan satu-satunya yang membuat Haro kepanasan untuk segera melahap sang balerina hitam yang sedang melenggak-lenggok di atas panggung.
Tidak seorang pun yang tahu, bahwa gadis dengan rambut dan netra sekelam malam itu sudah berlatih keras sejak terakhir kali diumumkan bahwa dialah tumbal untuk tahun ini. Castila berlatih berbulan-bulan agar bisa menari balet seharian penuh dengan sempurna tanpa kecacatan sedikit pun.
Castila memiliki sebuah keyakinan yang tidak dimiliki penari balet lainnya. Dia tidak akan mati karena dimakan, ataupun karena kelelahan. Tidak keduanya.
Dia hanya perlu bertahan hidup hingga tengah malam. Setelah itu, semuanya selesai.
Akan tetapi, hal itu sangatlah sulit. Sebelumnya, tidak seorang pun penari balet yang bisa bertahan seharian. Paling-paling yang terlama hanya sampai setengah hari. Namun, Castila bebeda. Gadis berumur tujuh belas tahun itu dapat bertahan hingga tiga per empat hari.
Ada satu hal yang hanya diketahui oleh Castila seorang di antara penari balet lain. Berterima kasihlah pada guru balet Castila yang sangat menyayangkan balerina berbakat seperti Castilla yang hanya ada seribu tahun sekali harus dijadikan tumbal untuk Haro.
Lucie, wanita yang sudah menekuni dunia balet hingga selama kurang lebih tiga puluh lima tahun itu membocorkan sebuah rahasia yang amat sangat rahasia kepada murid kesayangannya.
"Walaupun sebelumnya tidak ada seorang pun yang bertahan, tetapi aku percaya kau bisa, Castila. Bertahanlah hingga tengah malam pada hari berikutnya. Niscaya kau tidak akan dimakan oleh Haro," nasihat Lucie dengan senyum hangatnya kepada sang balerina kesayangan.
Castila sudah bertekad tidak akan mati karena dimakan Haro, ataupun karena kelelahan menari.
Warna merah yang menjadi latar belakang dari panggung Castila semakin pekat. Itu tandanya hari semakin gelap dan dekat dengan tengah malam. Tiada bulan atau benda langit lainnya. Hanya latar berwarna merah darah yang menemani.
"Bertahanlah sedikit lagi, Castila."
"Mati saja sana, dasar anak tidak berguna! Kuharap kau dimakan oleh Haro!"
"Dengarkan Ibu, Castila. Jadilah persembahan yang baik untuk para Haro. Setidaknya jika kau mati, matimu tidak akan sia-sia."
Segitunyakah kalian ingin aku mati? batin Castila, tersenyum miring. Maafkan aku, Guru. Aku tidak bisa memenuhi harapanmu.
Netra Castila terpejam. Tubuhnya berputar beberapa kali dengan kaki kiri ditekuk membentuk sudut dan ujung jari kaki menyentuh bagian belakang lutut. Rambut hitam keritingnya yang tergerai hingga punggung berkibar saat melakukan gerakan pirouette itu.
Tinggal semenit lagi menuju tengah malam.
Para warga Helysia mulai gelisah jika seandainya Castila berhasil. Namun, hati kecil mereka berharap sang balerina dapat mengubah tradisi yang membelenggu ini.
Haro tak bisa membiarkan ini. Ia ingin makan. Balerina itu sangat lezat. Semakin baik dan berbakat kemampuannya, maka semakin lezat rasanya. Haro sudah menantikannya sejak pertama kali Castila tampil dan menari. Ia tidak boleh kehilangan kesempatan ini. Ia harus menggagalkan Castila!
Haro mengangkat dan melebarkan sayap hitamnya yang berukuran kurang lebih lima meter. Mata bulatnya yang berwarna merah menatap tajam Castila yang sedang melakukan gerakan balance de cote. Haro lantas mengepakkan sayapnya, membuat bulu-bulu hitamnya beterbangan.
Sepuluh detik menuju tengah malam.
Haro membuka mulutnya. Paruh berwarna hitam sudah berada di atas kepala Castila. Tak menyia-nyiakan kesempatan, Castila melakukan gerakan arabesque dengan kedua tangan yang memegang paruh bagian bawah Haro.
Kepalanya terdongak, diapit oleh paruh yang bisa menutup dan memakannya kapan saja.
"Tuan Haro, aku punya satu permintaan," tutur Castila.
Haro tak menjawab, ia tak lantas menutup paruhnya. Tanda memberi kesempatan mangsanya untuk berbicara.
"Jika aku berhasil, tolong jangan makan dan ganggu kami lagi. Kembalilah pada Dewa, kembalilah ke tempatmu berasal," lanjut Castilla berbisik.
Haro mengeluarkan suatu suara memekakkan telinga yang hanya dimengerti oleh sang balerina.
"Baiklah jika itu maumu. Tapi kau terlalu pongah, Manusia. Mana mungkin berhasil. Lihat, kepalamu sudah dalam wilayahku," balas sang gagak raksasa.
Kedua ujung bibir Castila membentuk sudut. Burung bodoh.
"Bukan aku, tapi kau yang terlalu pongah, Tuan Haro," ucap Castila dengan senyum penuh kemenangan. "Aku menang."
Bersamaan dengan itu, warna merah yang melatari pertunjukkan hancur berkeping-keping, tanda hari sudah lewat semenit dari tengah malam.
Ya, aku hanya perlu bertahan, setelah itu mati.
Haro sontak melepaskan Castila dan segera mengepakkan sayapnya. Burung gagak raksasa itu mengeluarkan suara-suara nyaring yang membuat semua orang menutup telinga.
Para warga bersorak gembira. Haro pergi, Castila berhasil. Sang balerina yang menang. Persembahan dan tumbal tiada dilakukan. Balairung bersih dari noda merah berbau karat yang menusuk indra penciuman.
Sang balerina berhasil. Pertama kalinya dalam sejarah, seorang tumbal berhasil menari seharian penuh tanpa kesalahan sedikit pun.
Di antara kesenangan warga, Castila mengeluarkan bilah perak yang tajam dari balik tutunya. Kedua tangannya menggenggam gagang cokelat dengan erat kemudian diarahkan di depan dada. Hanya satu dorongan, belati perak itu berhasil menembus dada serta jantungnya. Lalu tubuh sang balerina pun ambruk. Semua orang meneriakkan nama pahlawan yang menyelamatkan mereka. Sayangnya, pahlawan itu sudah tiada.