Seorang laki-laki tampak sedang menikmati secangkir teh. Ia menyilangkan kedua kaki panjangnya sambil memperhatikan sekitar taman perkebunan stroberi miliknya. Di sana sudah ada para pekerja yang memulai aktivitas.
Sudut bibirnya terangkat sebelah, mata biru terangnya tidak bisa lepas dari seorang gadis yang sedang memetik buah asam manis itu. Di setiap paginya, Jack selalu mengawasi secara langsung para pekerja, bukan hanya itu saja, Pria berambut gondrong serta berkumis tebal itu sengaja melakukannya.
Jeanne. Gadis berambut sebahu, kulitnya putih bening, wajahnya yang khas orang Asia berhasil membuat Jack terpana. Tidak bisa berpaling walau sedetik saja, hati Jack bergelora ketika Jeanne tersenyum lebar menampilkan gigi rapinya. Indah sekali bagi Jack.
Jack tahu usianya sudah tidak muda lagi, tahun ini usia Jack genap 40 tahun. Ia masih bujangan, belum pernah berkencan sekalipun. Bukan karena trauma atau kenangan masa lalu yang pahit.
Bagi Jack, berkencan hanya membuang waktu saja bahkan terdengar boros. Lebih baik baginya untuk mencari uang, memiliki usahanya sendiri, dan tempat tinggal sendiri.
Tapi, bukan tidak mungkin bahwa dirinya belum pernah jatuh cinta, namun Jack memilih mengabaikan rasa itu, karena pada saat itu rasa yang hadir belum membuncah.
Kembali ke saat ini. Jack tanpa ragu mendekati Jeanne untuk memberinya bunga mawar yang masih segar,"untukmu yang indah di pagi hari yang begitu ceria. " Jack menyodorkan bunga itu di hadapan Jeanne.
Gadis itu tersipu, pipi tirusnya mulai memerah, dengan malu-malu Jeanne meraihnya kemudian menghirupnya dalam,"segar sekali, terimakasih, Tuan, " sahut Jeanne sambil menundukkan kepalanya.
Jack tersenyum lebar menampilkan salah satu gigi emasnya, "Kau suka?" tanya Jack yang diangguki Jeanne.
"Sebaiknya, saya kembali bekerja Tuan. " Jeanne kembali melanjutkan pekerjaannya.
Sementara Jack masih belum bisa berhenti tersenyum. Baru lima bulan Jeanne bekerja di sini, dan Jack sudah jatuh hati kepada Gadis asia itu.
Tanpa sengaja Jack meraba dagunya yang dipenuhi dengan bulu halus yang cukup lebat. Ia tertawa geli, mengingat jika dirinya terlalu fokus pada kecantikan Jeanne. Sampai lupa dengan penampilannya sendiri.
Segera saja ia tinggalkan perkebunan untuk pergi ke kota. Sepertinya Jack perlu memerhatikan penampilan, ia takut Jeanne akan menolaknya jika kelak ia ingin jujur pada Gadis itu tentang rasa cintanya. Dengan hati berbunga-bunga ia pergi melajukan mobil Jeep-nya.
"Apakah dia pergi? " tanya seorang perempuan berusia tiga puluh tahunan bertubuh gempal.
"Sepertinya Bos kita benar-benar sedang dimabuk cinta, " sahut wanita tua berkacamata bulat.
"Menjijikkan sekali melihat senyumnya yang begitu jelek, " kata perempuan bertubuh gempal lagi.
Wanita tua pun berdecih,"Dia menyukai Jeanne yang sempurna, memalukan sekali, kan? "
"Jika aku menjadi Jeanne, mungkin aku akan muntah darah, " kekeh wanita berambut pirang.
Para pekerja lain pun ikut bergunjing, bukan tanpa alasan, karena memang Jack pria buruk rupa yang mengerikan bagi mereka.
Mendengar itu Jeanne hanya terdiam. Ia tidak mengerti mengapa pembicaraan teman-temannya begitu keji. Mereka pun terus bergosip, membicarakan Jack dengan bebas. Terkadang mereka juga menghina fisik Jack yang tidak sempurna. Tangan kiri Jack mengalami patah sehingga harus dihilangkan, akibatnya sekarang ia menggunakan tangan imitasi.
Jeanne yang sedari tadi memetik buah stroberi pun cukup jengkel dengan teman-temannya. Padahal Jack pria yang baik, tidak memandang status mereka yang miskin.
"Kalian jangan berkata seperti itu, Tuan Jack orang baik, " sergah Jeanne setengah emosi.
"Apa, Kenapa kau membelanya sekarang? " Tanya perempuan bertubuh gempal.
Orang-orang pun ikut mengerumuni mereka berdua. Bahkan para pekerja lain pun mulai berdatangan. Jeanne gugup, bukan maksudnya untuk mencari perhatian, ia hanya lelah pada orang yang selalu menghina Bosnya.
"Bukan begitu, Bibi Rose. Tidak bosan kah kau terus membicarakan Tuan Jack, " lirih Jeanne sembari berjalan mundur hingga menabrak seorang laki-laki muda bernama Reynold.
"Kamu tak apa, Jea? " Tanya Reynold sambil memegangi lengan gadis yang ia kagumi.
Jeanne menggeleng kuat. Reynold pun menyuruh para pegawai perkebunan untuk kembali bekerja.
Reynold adalah asisten Jack, meski masih muda Reynold memiliki kemampuan bisnis cukup baik, sehingga Jack mempercayai dirinya.
"Ayo, ikut denganku sebentar. " Reynold menarik Jeanne keluar dari perkebunan, dan membawanya ke dalam sebuah ruangan sempit, "dengar, jangan pernah membela Tuan Jack di depan mereka, biarkan saja mereka dengan omong kosongnya, kau mengerti? "
Jeanne sedikit ketakutan karena napas mereka saling beradu. Tubuhnya dihimpit oleh pria muda itu, bibir Reynold hampir saja bersentuhan dengan Jeanne namun ia tersentak karena gadis itu menginjak kaki Reynold cukup keras, ia pun berhasil melepaskan diri dari kungkungan pria itu.
Reynold tersenyum miring, "Jeanne ... Kau akan segera jadi milikku. "
Di lain tempat, Jack kini masih dalam perjalanan menuju kota. Tempat tinggalnya memang terletak di pinggiran, jadi tidak ada Barber shop di sekitar ia tinggal. Yang ada hanya pepohonan, perkebunan miliknya serta danau.
Senyuman Jack masih terus mengembang, ia tidak sabar untuk segera merapikan penampilannya, dan secepatnya ingin kembali menemui Jeanne.
Tiba-tiba mobilnya terhenti mendadak. Ia kebingungan, bahan bakarnya masih penuh, penasaran ia pun keluar untuk melihat apa yang terjadi.
Jack melongo mendapati ban mobilnya bocor. Ia memang membawa ban mobil cadangan, namun tidak dengan alat-alat lainnya.
Mencoba menghubungi Reynold, tak ada jawaban. Jack kesal lalu membanting ponselnya.
Aww!
Terdengar suara erang kesakitan dari balik pohon. Jack mendekat sambil membawa sebilah sabit, ia khawatir jika itu adalah orang jahat atau orang gila.
Jack terkejut melihat sosok wanita sedang meringkuk di balik pohon besar. Wanita itu mendongakkan kepala ketika Jack menepuk pelan pundaknya.
"Hei, kau sedang apa? " tanya Jack yang kini berdiri di hadapan wanita itu.
Si wanita hanya terdiam mematung. Wajahnya pucat, pergelangan tangannya sedikit ada luka gores yang sudah mengering. Bisa Jack lihat wanita itu cukup cantik, pakaiannya yang terlihat mewah menandakan jika wanita itu dari kalangan menengah atas.
"Apa kau tersesat, Nona? " tanya Jack lagi. Kini Jack berjongkok untuk melihat lebih jelas wajah wanita itu.
Si wanita pun mengangguk lemah, ia ingin berucap namun diurungkannya. Jack pun bingung harus bagaimana, ia bejalan mondar-mandir sambil mengacak rambut panjangnya.
Kembali mendekati wanita itu lalu berkata,"Kau tidak perlu takut, aku akan membantumu " Jack mencoba bersikap setenang mungkin meski dirinya sedang dalam keadaan darurat.
Akhirnya wanita itu mengangguk setuju, ia pun menerima uluran tangan dari Jack, "namaku Livia," ucapnya begitu pelan.
Jack tersenyum ramah mendengar suara Livia yang begitu lembut di telinganya, "nama yang bagus. Kau bisa panggil aku Jack. "
Jack berjalan lebih dulu memberi jarak antara dirinya, dan Livia. Tidak ada yang membuka percakapan setelah itu.
Mereka menyusuri jalan setapak yang dipenuhi rumput-rumputan liar. Mereka pun akhirnya sampai di mobil milik Jack.
"Apakah ini mobil milikmu, Tuan? " tanya Livia.
Jack mengangguk, "ban mobilku bocor, " jawabnya.
"Oh, apakah Tuan tinggal di sekitar sini? " tanya Livia lagi.
"Iya, kau sendiri? Berasal dari mana kau, Nona? " Jack pun memberanikan diri bertanya walupun ada sedikit keraguan di hatinya.
Livia hanya tersenyum singkat. Gadis itu duduk di samping Jack mencoba untuk membuka kembali kejadian beberapa jam lalu.
"Aku dibuang oleh calon suamiku, dia hanya ingin hartaku saja, dan bodohnya aku baru menyadari jika aku begitu mencintai dirinya, " Ujar Livia.
Jack mengernyit, "kau baru menyadari cinta setelah tahu kebusukannya? Aneh sekali. "
Livia tersenyum kecut lalu meneguk botol minuman yang diberikan oleh Jack tadi, "makanya kubilang aku ini bodoh. "
Jack terkekeh, wanita disampingnya ini sangatlah cantik, wajahnya begitu mungil, kulit putih pucat, dan rambut panjang kecoklatan yang tergerai begitu indahnya.
Seketika Jack tersadar karena sedari tadi ia terus menelusuri wajah Livia yang mulus tanpa cacat.
"Kau sendiri, mengapa melempariku dengan ponsel? Itu sakit, loh. " Livia berlagak kesakitan memegangi kepalanya.
Jack tersenyum menampakkan gigi emasnya, sejenak Livia terpana, namun segera ia alihkan dengan menatap ke arah lain.
"Aku hendak ke kota, namun tiba-tiba ban mobilku bocor, dan—berakhirlah aku di sini, " ujar Jack begitu polosnya.
Jack kembali mencuri pandang pada Livia, ia merasa aneh karena tidak ada kesedihan yang berlebihan pada wanita cantik itu. Seakan-akan Livia terbiasa kehilangan sesuatu.
"Kau sudah bisa tersenyum setelah dibuang begitu saja? " tanya Jack.
Livia menggelengkan kepalanya, bohong sekali jika dirinya kini baik-baik saja. Ia sungguh terluka sangat parah.
"Dulu, aku begitu membenci dirinya karena dia orang miskin. Aku dijodohkan oleh kakakku, lebih tepatnya dia adalah sahabat dari kakakku. Aku selalu berkata kasar bahkan pernah menyewa pelacur untuk menggodanya, namun itu gagal. Dia selalu berusaha berdiri tegak meminta cinta dariku, " ucap Livia sembari menerawang kembali masa itu bersama lelaki yang kini telah membuangnya.
Jack pun mendengarkan Livia dengan begitu serius, tanpa ia sadari bibirnya selalu terangkat membentuk senyuman tulus. Ternyata ada yang lebih menderita dari dirinya.
***
Di perkebunan milik Jack, tampak Reynold sedang bersantai di kediaman milik Bosnya. Ia bahkan memakan waffle milik Jack yang tersimpan di lemari pendingin. Pria muda itu tersenyum licik mengingat kemarin sudah menaruh paku pada jalanan yang dilalui oleh Jack.
Reynold berharap supaya Jack tidak kembali saja, dan impian untuk merebut perkebunan ini bisa ia wujudkan.
Tiba-tiba, Jeanne datang menghampirinya sambil melempari sebuah map berisi dokumen penting milik Jack.
"Mengapa kau lakukan ini pada Tuan Jack?" Jeanne marah dengan tingkah Reynold yang tidak tahu terimakasih pada majikannya itu.
"Tentu saja ini akan aku ambil alih, karena Tuanmu yang jelek itu tidak akan pernah kembali ke sini. " Reynold bangkit lalu memungut dokumen penting itu, "kau cukup tutup mulut saja, tidak perlu ikut campur, " lirih Reynold menyeringai lalu pergi meninggalkan Jeanne yang sedang menahan air matanya.
Jeanne tidak tahu harus berbuat apa sekarang, ingin memberi tahu majikannya namun telepon miliknya disita oleh Reynold. Dengan langkah gontai, ia pun menyusuri rumah kayu milik Jack.
Terlihat bingkai foto yang berjejer, di sana ada sebuah foto Jack muda, serta kedua orangtuanya Jack yang sudah wafat. Jack sebenarnya cukup tampan, hanya saja ia terlalu acuh pada penampilan. Rahangnya tegas, hidung mancung, dan senyum yang menawan.
Jeanne tersenyum mengingat tingkah kaku Jack saat ingin mengobrol dengannya kala itu.
Ia kembali mengingat ketika dirinya melamar pekerjaan pada Jack. Tatapan Jack tidak bisa lepas darinya, Jeanne bisa merasakan itu. Debaran jantungnya tidak beraturan kala Jack mengajaknya berbincang mengenai pekerjaannya.
Lamunannya buyar ketika wanita tua memanggilnya.
"Semoga Tuan baik-baik saja, " ujarnya seraya meninggalkan rumah Jack.
"Kenapa kau di sana, mencari Tuanmu, ya? " tanya wanita tua itu pada Jeanne.
"Memangnya kenapa jika aku mencarinya, dia orang yang memberiku tempat tinggal yang nyaman, sekiranya aku harus membersihkan tempat tinggalnya juga, " jawab Jeanne cukup lantang. Ia lelah jika harus diam saja saat Tuannya dihina.
Wanita tua itu memilih pergi begitu saja. Jeanne menghembuskan napasnya lelah, hari ini emosinya sedang diuji, karena biasanya ia cukup diam saja tidak perlu menanggapi para pekerja lain.
Jeanne kembali memetik buah stroberi lagi dengan hati gelisah, ia pun mencoba menghubungi jack. Tapi, tidak ada jawaban, terus mencoba namun tetap tak ada jawaban. Gadis itu terduduk sehingga buah stroberi yang baru ia petik berjatuhan.
Reynold yang melihat Jeanne seperti itu menyeringai sinis, cintanya pada gadis itu sepertinya sudah memudar. Ia yakin jika Jeanne sudah jatuh hati pada Jack si pria jelek itu.
"Si brengsek itu, berani sekali membuat Jeanne menjadi jauh dariku sekarang. Akan aku hancurkan kau Jack Jovian. " Amarah Reynold sudah tidak terbendung lagi sekarang.
***
Hari semakin terik, Jack, dan Livia memilih berteduh di bawah pohon besar. Jack memejamkan matanya karena tiba-tiba saja matanya mengantuk.
Livia pun bangkit dari duduknya lalu mencari sesuatu di balik dress panjangnya. Sebuah ponsel ia dapatkan, ponsel milik Jack yang sedari tadi ia simpan.
Livia mulai membuka pesan masuk. Di sana begitu banyak pesan masuk dari kontak bernama Jeanne. Livia mulai membaca satu persatu pesan dari Jeanne.
Livia terbelalak membacanya. Ternyata nyawa Jack dalam bahaya. Sekelompok pembunuh bayaran sedang menuju kemari. Dengan sigap, Livia menekan panggilan darurat, kemudian dia hendak membangunkan Jack, namun ia tak tega. Ia pun urungkan, dan memilih duduk di samping Jack.
Beberapa jam kemudian, sekelompok pembunuh bayaran pun datang menghampiri mereka berdua. Livia yang ikut terlelap pun terkejut mendapati dirinya sudah terikat dengan Jack.
"Livia, kau sudah bangun?" tanya Jack panik.
"Bagaimana ini bisa terjadi, Jack? " Livia berbalik bertanya.
"Entahlah, aku pun terbangun dalam keadaan terikat denganmu, " ucap Jack menjelaskan.
Orang-orang itu mendekati mereka berdua, salah satu dari mereka menendang perut Jack hingga Jack kesakitan. Livia berteriak histeris, ia pun menyaksikan Jack yang ditampar keras oleh pembunuh itu.
Livia membuang wajahnya ke samping, ia tak tega, ia tak sanggup lagi. Baru beberapa jam mengenal sosok baik tapi ia harus kehilangan lagi. Ini begitu menyakitkan baginya, Livia dibuang bahkan hartanya direbut paksa, namun ini lebih menyakitkan baginya. Jack adalah orang baik bagi Livia.
"Cukup! Hentikan, " teriak Livia sekeras mungkin. Tapi percuma saja, mereka tetap menghajar Jack tanpa ampun sampai tak berdaya.
Livia berdo'a dalam hati agar bala bantuan segera sampai. Ia sudah tidak kuat melihat keadaan Jack yang mengenaskan.
Tiba-tiba Polisi berdatangan mengepung sekeliling gudang tempat mereka disekap. Livia menagis sejadi-jadinya saat ikatan talinya terlepas. Ia langsung memeluk tubuh Jack yang begitu lemah. Darah mengalir deras dari hidung, dan mulutnya.
Jack pun dibawa mobil ambulan. Livia membiarkan Jack dibawa, sedangkan dirinya memilih untuk meminta diantar ke perkebunan milik Jack.
Livia membersihkan darah yang menempel pada lengannya dengan tisu. Pandangannya nyalang, hatinya begitu murka. Mengapa Jack bernasib seperti ini
Bayangan saat Jack tersenyum lembut membuatnya menangis kembali. Meski ia belum mengetahui terlalu dalam tentang Jack. Tapi, sepertinya ia yakin jika Jack adalah orang baik.
Setelah setengah jam menempuh perjalanan yang memilukan, tibalah Livia di perkebunan milik Jack.
Di sana tampak Jeanne yang mondar-mandir sambil memegangi teleponnya. Terlihat juga para pekerja yang sedang bersantai.
Livia pun turun dari mobil polisi. Berjalan perlahan melihat sekitar perkebunan yang begitu luas. Ia tersenyum kecut, kini pemilik perkebunan itu sudah tiada. Jack kehilangan nyawanya karena terlalu banyak kehilangan darah.
Semua orang menatapnya bingung, Reynold yang menyadari kedatangan mobil Polisi sedikit terkejut. Apalagi ada seorang wanita dengan pakaian penuh darah.
Segera saja ia melarikan diri sebelum Polisi mnehetahui keberadaannya.
"Apakah diantara kalian ada yang bernama Jeanne? " tanya Livia.
Jeanne tersentak, ia pun maju mendekati Livia, "saya Jeanne, Nona."
Hati Livia mencelos, inikah sosok yang diceritakan Jack padanya wanti itu? Gadis pujaannya begitu sederhana namun manis. Ia kemudian memeluk Jeanne erat sambil menangis.
"Kau harus kuat, Tuanmu sudah tiada. "
Jeanne membulatkan matanya. Jantungnya berdetak tidak karuan. Mana mungkin Tuannya pergi begitu saja tanpa ia ketahui.
"Kau pasti bohong! " teriak Jeanne sambil mendorong tubuh Livia hingga terjatuh.
Livia menangis begitu pilu, begitu pula Jeanne. Orang-orang di sekitar hanya mematung mendengar Bos mereka telah meninggal.
Meskipun mereka tidak suka dengan Jack, bukan dengan kematian yang mereka harapkan. Mereka pun ikut terduduk sambil menangis. Bukan air mata pura-pura, tetapi memang mereka bersedih.
Reynold yang kini berlari kencang di hutan itu, merasa tertekan. Bagaimana bisa Polisi datang ke perkebunan itu.
Ia mulai kelelahan kemudian Reynold duduk di balik pohon untuk beristirahat.
"Sialan!" umpatnya.
Sepertinya ia pikir ini sudah aman. Tapi, tanpa ia sadari salah satu Polisi mengikuti dirinya, Reynold pun panik langsung saja ia berlari tak tentu arah.
Dor!
Peluru berhasil menembus paha dalamnya, membuat Reynold meringis kesakitan. Masih mencoba berlari namun ia terperosok jurang, dan lenyap.
***
"Terimakasih sudah memperbolehkan aku ikut denganmu, aku tidak tahu harus bilang apa, " kata Livia tersenyum lembut.
"Tidak masalah, kau juga sudah membantuku. " Jack memalingkan wajahnya saat Livia mencoba meraih wajahnya.
"Kau terlihat tampan meski tidak ke salon, begitu saja sudah bagus. " Seketika Jack tersedak ludahnya sendiri mendengar perkataan Livia.
Livia terbahak melihat tingkah polos Jack. Baru kali ini ia merasa nyaman pada lawan jenis. Biasanya ia selalu menghindar jika ada pria yang mendekatinya.
Sekelebat bayangan itu masih tertanam pada benak Livia. Jack pria malang yang kesepian telah merubah dirinya menjadi sosok lebih baik. Ia kini bisa menghargai apa arti pertemanan. Meski ia menaruh rasa pada Jack, namun cinta Jack begitu besar pada Jeanne.
Mengingat Jeanne, ia sedikit kecewa pada gadis Asia itu. Ternyata Jeanne adalah kekasih dari Reynold, pria yang menyewa orang-orang berbaju hitam itu untuk membunuh Jack. Tapi Jeanne memberi pesan singkat pada Jack jika hidup Jack dalam bahaya.
Jeanne memilih menyerahkan diri pada polisi karena ia pun ikut terlibat dalam persekongkolan Reynold. Ia berpura-pura tertarik pada Jack, dan tentu saja itu berhasil.
Jika saja Jeanne tidak mau menuruti keinginan dari Reynold, ia takut akan di bunuh juga oleh kekasihnya itu.
Kini, Jeanne tidak tahu apakah Reynold masih hidup atau sudah mati. Sejujurnya ia masih takut jikalau Reynold kembali lalu membunuhnya.
Tetapi Livia mencoba meyakinkan jika Reynold harus mati. Kini mereka berdua saling bertatapan dibatasi kaca.
"Sudah dua tahun, aku bisa memberimu kebebasan, Jea. " Livia membuka kacamata hitamnya.
Jeanne tersnyum, "tidak, aku harus menanggung ini dengan lapang dada. Aku bersalah, dan aku pantas dihukum."
Menghela napas, Livia sudah membujuknya beberapa kali namun berakhir dengan penolakan.
"Yang terpenting kau sehat selalu, Jea." Livia pun bangkit dari kursinya lalu pergi.
Jeanne tahu Livia adalah orang baik, ia juga tahu jika Livia menyukai Bosnya. Tapi Jeanne pun memliki rasa suka juga pada Bosnya. Ia jatuh cinta karena Jack begitu baik, dan perhatian padanya. Berbeda dengan Reynold yang kasar.
Tapi ia sadar, kini ia kehilangan Jack untuk selamanya. Tak ada lagi sosok yang akan memerhatikan dirinya kelak. Tak ada lagi Jack yang memberinya bunga mawar segar. Semua sudah hilang.
Jeanne kembali meraung di penjara. Teman-teman penjaranya sudah terbiasa akan hal itu. Mereka memahami Jeanne, gadis malang yang harus menanggung beban hidupnya sendiri.
Di tempat lain, Livia mendatangi perkebunan milik Jack yang kini berubah menjadi taman bunga mawar.
Jack begitu menyukai bunga mawar, begitu pula Livia.
"Kau pasti sudah tenang di surga sana, Jack. Aku harap aku juga bisa melepasmu dengan lapang dada." Livia memetik salah satu bunga mawar itu. Ia menghirupnya dalam, begitu wangi juga segar.
Sekelebat bayangan Jack terlintas di hamparan taman bunga itu. Jack tersenyum bahagia, wajahnya bersinar seperti cahaya rembulan. Jack begitu tampan, hingga membuat Livia terbuai mengejar bayangan Jack.
Ia tahu ini hanya ilusi, tetapi ia menikmati pelukan hangat dari Jack. Ia begitu merindukan sosok ini, meskipun hanya sebentar mengenalnya, Livia sungguh menyukai Jack.
Kini bayangan Jack mulai pergi menjauh. Livia mencoba mengejar namun ia terjatuh di hamparan itu.
"Jack! Aku merindukanmu, sangat. " lirih Livia menangis tersedu.
TAMAT