Di Kruasen, terdapat legenda yang sejak dahulu menjadi perbincangan hangat. Ark, namanya. Seekor burung api yang memiliki dua warna: biru dan merah. Konon katanya Ark adalah burung kesayangan dari dewa penjaga Kruasen, Horan. Tak heran Ark memiliki kekuatan yang sangat sakti.
Tak ada yang benar-benar mengetahui keberadaan burung ini karena konon Ark hanya memperlihatkan diri pada seseorang yang akan mati. Uniknya adalah, Ark hanya menemui orang-orang terpilih, yaitu orang yang benar-benar baik dan orang yang benar-benar jahat. Jika yang ditemuinya adalah orang yang sangat baik hati dan perilakunya, Ark akan terlihat sebagai burung yang berwarna biru. Sedang kebalikannya, warna merahlah yang terlihat.
Setidaknya, itu yang Elian dengar dari mulut warga Kruasen sejak ia kecil sampai sekarang. Elian hanyalah pemuda nekat dan penuh semangat yang tidak mempercayai legenda-legenda di kampung halamannya, terutama legenda Ark, sang burung api yang sangat terkenal itu.
Nyatanya, apa yang ada di hadapannya sekarang membuat Elian harus menarik kata-katanya barusan. Elian sekarang mempercayai legenda itu, karena burung yang dibicarakan oleh orang-orang sedang menatap tajam dirinya.
"Jadi ... kau benar-benar Ark?" tanya Elian hati-hati pada seekor burung api dengan dua warna yang sedang terbang di hadapannya.
Bodoh, Elian, bodoh! Memangnya burung bisa mengerti bahasa manusia? rutuk Elian.
Berkebalikan dengan apa yang dipikirkannya, ternyata burung itu benar-benar bisa berbicara—menjawab dengan bahasa manusia.
"Tentu saja," jawab Ark dengan nada parau.
Elian menutup telinganya. Suaranya lebih buruk dari dugaan.
"Uh ... bagaimana bisa burung berbicara bahasa manusia? Dan lagi, bukankah Ark hanya menunjukkan satu warna, tetapi kenapa kau setengah-setengah begini?"
Elian sudah mengucek mata berkali-kali, juga mencubit lengannya sekian kali untuk memastikan apakah ia sedang bermimpi atau tidak. Namun, burung itu masih ada di sini. Elian tak salah lihat. Baru saja ia terbangun dari tidur, tiba-tiba ada seekor burung yang memiliki dua warna—biru di kanan dan merah di kiri—yang muncul di kamarnya.
Jika yang di hadapannya benar-benar burung legenda yang sering dibicarakan orang, tetapi kenapa yang ini berbeda? Elian tidak ingin dibohongi oleh seekor burung.
Burung yang mengaku-ngaku sebagai Ark itu tampaknya kesal. "Aku ini burung milik dewa, tentu saja aku bisa mengerti bahasa kalian, hai Manusia! Lalu, kenapa aku bisa muncul dalam dua warna, kenapa tidak kau tanyakan saja pada dirimu sendiri? Warnaku tergantung pada amalan manusia yang kudatangi."
Elian tertegun. Mencoba mencerna tiap kata-kata dari Ark. Jika warna biru melambangkan kebaikan, sedangkan merah melambangkan keburukan, lantas bagaimana dengan setengah biru dan setengah merah?
"Memangnya apa yang sudah kuperbuat sampai amalku setengah-setengah begit—" Elian memutus ucapannya dan meneguk saliva, seakan teringat sesuatu yang penting.
Ujung paruh Ark sedikit melengkung ke atas. "Bagaimana? Sudah ingat?"
Elian tak menjawab, sebagai gantinya ia hanya mengangguk kecil.
"Seharusnya kau beruntung karena didatangi langsung olehku, Manusia. Kau adalah kasus pertama yang kudatangi dalam dua warna sejak pertama kali aku menjadi pelayan dewa ribuan tahun silam," kata Ark bangga.
"Hah?" Elian melongo lantas mengacak-acak rambutnya frustrasi. "Apanya yang beruntung? Bukankah itu artinya aku akan mati?"
Bertemu dengan Ark sama sekali tak membuat Elian senang. Walaupun selama ini ia selalu tak mengacuhkan legenda, tetapi Elian tahu betul, Ark akan mendatangi orang-orang terpilih yang akan mati—dan itu berarti Elian akan mati.
"Oh, benar. Tapi setidaknya, aku bisa mengabulkan permohonan terakhirmu sebelum mati," tutur Ark yang terbang melingkar-lingkar tidak bisa diam. "Nah, sekarang, kau mau apa? Kekayaan? Kekuasaan? Atau wanita cantik? Aku bisa memberikannya padamu sekarang juga."
Elian menggeleng sembari mendelik tajam. "Tidak, tidak. Apa gunanya itu semua jika aku akan mati dan hanya bisa menikmatinya sementara?" tolak Elian, "lagi pula aku tak tertarik dengan semua itu."
Mata Ark menyipit. "Hoo ... benarkah? Semua orang yang kutemui sebelum dirimu tidak pernah menolak tawaranku."
"Aku tidak bilang menolak tawaranmu. Memangnya Ark sang burung dewa yang agung hanya bisa mengabulkan ketiga itu saja apa?" ujar Elian sembari bersedekap.
Ark terdiam sejenak lantas terkikik-kikik. Paruhnya terbuka lebar. Elian mengerutkan dahi. Apa seekor burung baru saja tertawa?
Saat Ark sudah berhenti mengeluarkan suara yang aneh, barulah dia kembali bersuara lagi. "Sudah kuduga kau berbeda, Manusia. Ternyata kau jauh lebih cerdas dari dugaan."
"Apa kau baru saja mengejekku?" tanya Elian kesal. "Ya, ya. Aku tahu aku ini bodoh, tapi bukannya tidak bisa menangkap perkataan seekor burung yang bisa berbahasa manusia!"
Burung dengan dua warna itu terkikik lagi dengan suara parau. Sangat keras sampai Elian berpikir burung itu sedang tertawa terbahak-bahak menghinanya. Ark menyeka bulir air yang keluar dari matanya dengan ujung sayap kanannya yang lebar.
"Maaf, maaf. Manusia yang kutemui tampaknya jauh lebih bodoh daripada dirimu," ucap Ark masih tertawa. "Jadi, apa permohonanmu?"
Elian mendengkus. Tampaknya burung yang satu itu sangat senang menertawakan manusia. Begitu mendengar Ark yang menawarkan permohonan lagi, Elian langsung terdiam dan berpikir.
"Hm ... aku punya suatu permohonan. Tapi ini mungkin agak menyulitkanmu," cetus Elian setelah beberapa menit berpikir matang-matang.
Ark terbang melingkar-lingkar lagi. "Katakan, katakan. Permohonan apa yang bisa menyulitkan burung kesayangan dewa sepertiku."
Ark tampaknya tak keberatan. Justru Elian merasa burung itu sangat tertantang dan penasaran.
Sebelum menjawab, Elian menoleh ke kanan lalu menyibak gorden yang menutupi jendela berbentuk persegi. Elian memicingkan mata begitu sinar mentari masuk menembus retinanya. Di balik jendela, laki-laki berusia sembilan belas tahun itu dapat melihat hamparan sawah yang luas serta gunung yang berdiri kokoh. Pemandangan khas pedesaan di Kruasen yang damai—mungkin.
"Ini sebenarnya keinginanku beserta para warga. Kuharap kau bisa mengabulkannya." Iris hazel Elian memandang lurus ke arah luar. "Aku ingin mereka—kelompokku—berhenti mencuri dari para bangsawan. Sebagai gantinya, suburkanlah selalu panen di Kruasen agar ekonomi para warga bisa tercukupi," ungkap Elian dengan yakin.
"Hm ...." Ark menggumam. "Aku tidak yakin itu permohonan, tetapi baiklah. Itu perkara mudah dan sama sekali tak menyulitkanku," ujarnya dengan sombong.
Elian langsung menoleh kepada Ark. "Benarkah?" tanyanya senang.
"Tentu. Sudah kubilang aku akan mengabulkan apa pun permohonanmu, Manusia," jawab Ark angkuh. "Sekarang, buka jendelanya."
Raut Elian berubah menjadi senang. "Terima kasih!" seru Elian lalu membungkukkan badan sekilas. "Eh? Untuk apa?"
"Buka saja."
Walaupun penasaran, Elian pun menurut. Namun, begitu laki-laki itu membuka jendela kamarnya, Ark terbang ke luar dengan cepat, membuat Elian mau tak mau melebarkan matanya. Dari kejauhan, Elian bisa melihat Ark yang terbang di atas hamparan sawah. Namun, bukan itu yang menjadi fokusnya. Ark yang sedang mengepakkan sayapnya jauh terlihat seperti terbang menari-nari. Sangat indah. Elian sempat terpukau, tetapi kemudian tersadar.
Bagaimana jika orang lain melihat Ark yang sedang terbang di pagi hari begini?
Namun, sepertinya Ark tidak memedulikan itu. Ajaibnya, setelah terbang menari-nari di atas hamparan sawah, padi yang tadinya nyaris gagal panen seketika menjadi subur. Elian menganga dibuatnya. Dia seperti melihat pertunjukan sihir!
Setelah beberapa menit terbang mengelilingi Kruasen, Ark akhirnya kembali ke kamar Elian.
"Permohonanmu sudah terkabul. Mulai saat ini kelompokmu tidak bisa mencuri harta para bangsawan dan panen di Kruasen tidak akan pernah gagal lagi. Sesuai permohonanmu, kebutuhan ekonomi mereka akan tercukupi dengan hasil panen yang melimpah."
Saking senangnya Elian sampai mengucapkan terima kasih berkali-kali pada Ark. "Aku beruntung kau mendatangiku. Dengan ini, mati pun rasanya aku akan tenang dan tidak memiliki penyesalan," ujar Elian terharu.
Ark menarik kedua ujung paruhnya ke atas. "Karena itu, bersyukurlah pada Dewa."
Elian mengangguk kemudian terdiam begitu mengingat sesuatu. Dia menatap Ark yang masih terbang di dekat jendela dengan ragu. "Oh, ya. Aku akan mati karena apa?" tanya Elian. Sebenarnya dia sangat tidak enak menanyakan tentang kematiannya kepada burung ini.
"Tugasku di sini sudah selesai. Jika kau ingin tahu, lihat saja ke depan rumahmu," jawab Ark lalu menghilang begitu saja.
Elian baru ingin berkata kasar jika saja dia tidak ingat Ark muncul secara mendadak di kamarnya. Jadi, tidak heran jika burung itu juga menghilang tiba-tiba. Yang mengherankan adalah kalimat terakhir burung itu.
Elian segera mengecek ke halaman rumahnya. Dan alangkah terkejutnya Elian melihat rumahnya sudah dikerumuni oleh beberapa orang pengawal dan bangsawan yang membawa berbagai senjata tajam.
Seorang pria bersetelan ungu yang tampaknya perwakilan dari mereka melangkah maju dan mengeluarkan sebuah surat lantas membacanya. "Elian Hou Rouben, atas perintah Raja, Anda ditangkap dan akan menjalani eksekusi karena telah menjadi pemimpin pemberontakan dan sudah mencuri banyak harta para bangsawan."
Elian membelalakan mata. Belum sempat dia menjawab, beberapa orang sudah menahan tangannya.
"Bawa dia."
Pria bersetelan ungu membalikkan badan lalu melangkah terlebih dahulu. Diikuti Elian yang pasrah tubuhnya diseret oleh beberapa orang bersama dengan para pengikutnya yang juga bernasib sama dengannya.