"Kamu tau kasus yang pernah terjadi empat puluh tahun yang lalu? Kakek ku pernah menceritakannya padaku..."
"Kasus apa?"
"Sebuah kecelakaan lalu lintas, tak ada yang aneh sebenarnya. Tapi kata kakek ku, mobil yang kecelakaan itu membawa banyak bunga, dan saat kecelakaan terciprat darah dari korban dan membuatnya dinamakan, kasus bunga mawar merah berdarah."
...
Namanya Zico dan kini usianya telah menginjak kepala enam, sangat tua untuk pria yang masih lajang sepertinya.
Bukan tanpa alasan, mengapa dia masih tetap sendiri hingga di usia tuanya kini.
Sudah menjadi rahasia umum, jika kakek Zico ini memiliki kisah cinta yang menyedihkan juga mengharukan.
"Minggu depan ulang tahun mu yang ke 19 kamu mau hadiah apa dariku?" Tanya Zico muda saat itu.
"Hmm.. apa ya?" Gadis cantik yang berjalan disampingnya terlihat berfikir, "Aku ingin apapun yang akan kamu berikan padaku.." Ucapnya kemudian.
"Sungguh?" Tanya Zico.
Gadis itu mengangguk semangat, kemudian tersenyum hingga memperlihatkan gummy smilenya yang manis.
"Oke."
Itu adalah percakapan terakhir mereka sebelum akhirnya, kembali bertemu di hari ulang tahun si gadis.
"Selamat ulang tahun Rosse.." Ucap Zico malam itu, pada gadis kesayangannya yang ternyata bernama Rossealina.
Zico meminta Rosse untuk menemuinya di luar gerbang rumahnya.
"Wahh.. ini cantik sekali.." Seru Rose kala itu, matanya berbinar gembira melihat sebuket bunga mawar merah di tangan Zico.
"Aku berharap kamu tidak kecewa dengan hadiah ku.." Tutur Zico perlahan.
Rosse menggelengkan kepalanya cepat, sedang matanya mulai berkaca-kaca. Ini benar-benar hadiah yang dia impikan, hanya saja ia tak berani bilang pada Zico.
"Sembilan puluh sembilan bunga mawar.." Gumam Rosse, tapi masih bisa didengar oleh Zico.
Zico yang mendengar gumaman tersebut, tersenyum tipis.
"Tidak, kamu salah.." Ucap Zico.
Rosse yang mengernyitkan dahinya heran.
Zico kemudian menarik tangan Rosse perlahan, membawanya lebih dekat ke mobil kemudian bagian atas mobil terbuka perlahan.
"Astaga.." Pekik Rosse.
"Ini bukan sembilan puluh sembilan bunga, tapi sembilan ratus sembilan puluh sembilan bunga mawar untuk mu." Ucap Zico.
Ya jadi ketika bagian atas mobil terbuka, disana Zico sudah menyiapkan bunga mawar sebanyak sembilan ratus, kemudian ditambah dengan bunga yang sekarang ada di tangan Rosse total semua bunga tersebut adalah sembilan ratus sembilan puluh sembilan.
"Kamu tau Rosse, sembilan puluh sembilan bunga berarti cinta abadi dan sembilan ratus sembilan puluh sembilan berarti aku mencintai mu hingga akhir hayat." Ucap Zico dengan tangannya mengusap lembut kepala Rosse.
"Ini.. astaga.. "
"Tapi.." Belum sempat Rosse menyelesaikan ucapannya, Zico kembali berbicara.
"Ini akan menjadi pertemuan terakhir kita.." Tutur Zico.
Bagaikan dibawa terbang ke langit lalu dihempaskan ke dasar karang berduri, Rosse langsung terhuyung dengan pandangan kosong.
'Apa maksud mu?' Mungkin begitulah kira-kira arti tatapan mata Rosse yang mengarah pada Zico saat ini.
"Aku harus menikahi wanita pilihan orang tuaku, maaf kan aku Rosse.." Ungkap Zico akhirnya, memberitahu alasan pahit dibalik kejutan yang cantik itu.
"Hahaha.."Rosse tertawa sumbang, tubuhnya jatuh berlutut dengan kedua tangan yang menutupi wajahnya.
Hiks..
Hiks..
"Haha, ini sungguh tidak lucu Co.." Gumam Rosse dengan suara parau.
"Aku tidak sedang bercanda.." Ucap Zico.
Rosse memandang Zico dengan tatapan sengit.
"LALU APA MAKSUD BUNGA INI HAH? APA?" Teriak Rosse di iringi derai air mata. "INI PERCUMA.. jika pada akhirnya kamu tidak akan pernah bersama ku.." Bisiknya parau diakhir kalimat.
Zico hanya tertunduk, ia tahu bagaimana hancurnya perasaan Rosse, ia mengerti sesakit apa hatinya saat ini. Karena ia yang membuatnya seperti itu.
"Maafkan aku.." Bisik Zico.
Grep..
Rosse mendekap kaki Zico dengan erat sambil terisak, sedang Zico memejamkan matanya tak bersuara. Zico tidak ingin menangis saat ini, tapi melihat bagaimana Rosse yang menangis pilu memeluk kakinya saat ini, membuat matanya terasa panas.
"Rosse.." Panggil Zico, melepas pelukan gadis itu dikakinya. Lalu ikut berjongkok dihadapan Rosse.
"Dengarkan aku.." Pinta Zico, kedua tangannya memegang pundak Rosse dengan erat.
"Aku sangat mencintaimu, hingga rasanya 24 jam dalam sehari tidak cukup bagiku.." Ucap Zico, nada suaranya bergetar begitu mengucapkannya.
"Ingatlah meskipun aku tidak bisa bersamamu tapi aku selalu mencintaimu.." Zico membawa tubuh Rosse masuk ke pelukannya, menangis dipundak gadis itu dengan tersedu-sedu.
Malam ulang tahun yang seharusnya penuh tawa gembira, kini hanya menyisakan duka dan perih didada.
Menangis bersama dalam pelukan.
"Jika aku diberi pilihan antara hidup tapi tidak dapat bersamamu, atau mati. Aku akan memilih mati, dan menggunakan nafas terakhirku untuk mengucapkan jika, aku sangat mencintaimu.." Tutur Rosse dengan suara yang tersendat-sendat.
Zico semakin mengeratkan pelukannya.
"Jika seperti itu.. Ayo kita mati bersama.." Bisik Zico ditelinga Rosse.
Rosse melepas pelukan mereka, matanya menatap Zico yang kini memandangnya dengan tatapan putus asa.
"Ayo.." Ajak Zico.
Rosse mengangguk perlahan, dan mereka pun melaju dengan mobil Zico entah kemana.
...
"Terjadi sebuah kecelakaan tunggal di jalan X, satu korban meningal ditempat dan satu korban lagi mengalami luka berat. Saat ini..."
Ya Zico dan Rosse nekat menabrakkan mobil ke pembatas jalan. Dengan pemikiran awal untuk mati bersama namun, rencana tinggal rencana.
"Tidak.. bukan seperti ini...." Gumam Zico, setelah sadar dari koma nya selama tiga bulan.
Rosse meninggal di tempat kecelakaan sedang Zico terluka parah, hingga membuatnya lumpuh.
Polisi menamakan kasus kecelakaan itu sebagai kasus bunga mawar merah berdarah.
...
Itulah akhir tragis dari kisah cinta kakek Zico, membuatnya begitu membenci bunga merah dan indah itu.
"Bunga mawar merah berdarah.. Hahaha.." Kakek Zico bergumam lalu tertawa. Semenjak kecelakaan itu ia resmi menjadi salah satu penghuni RSJ di kota Y. Dengan latar belakang kasus yang pernah terkenal di zamannya.
"Kasus bunga mawar merah berdarah."
...
End