namaku Nisa, umurku baru 25 tahun, tapi aku sudah menikah sejak 6 bulan lalu. Bukan menikah karena cinta tapi menikah karena perjodohan.
Aku seorang arsitek muda, dan aku juga percaya diri kalo aku cantik dan tubuhku bak model, banyak yang menyukaiku, tapi aku abaikan.
entah dari kapan, tapi jujur saja aku mungkin sudah mulai mencintai suamiku sekarang.
namanya Adrian dia tampan dan seorang CEO di salah satu perusahaan ternama di kota, dia gagah dan disegani banyak orang, apalagi suamiku juga orang yang berpengaruh di kota ini.
mungkin jika dilihat dari luar, aku dan suamiku adalah sepasang suami istri yang sempurna dan harmonis, tapi tidak dengan kenyataannya.
dia memang baik padaku, dan juga lembut. tapi tetap saja dia tidak mungkin mencintai ku, hanya aku yang mencintainya.
jadi aku putuskan sekarang untuk mengungkapkan perasaan ku. aku mengungkapkan nya bukan karena ingin di balas, tapi setidaknya agar dia tau kalo aku mencintainya dan kuharap dia juga mencintai ku.
aku sudah siap kalo dia menjauhiku karena aku menyatakan perasaan ku.
jam 22.15
"sudah mau tidur?". Adrian naik ke atas ranjang
"hmm... iya, tapi sepertinya aku belum mengantuk". Jawab Nisa sambil bergeser sedikit.
"eh?.. apa yang kau pegang?" tanya Adrian dan melihat kertas yang di pegang Nisa
"oh... ini kontrak berhubungan fisik yang aku buat sebelum menikah".
"ah ... aku baru ingat kalo kita ada kontrak seperti itu". jawab nya santai "memang nya mau kau apakan?"
"mau ku robek" santai Nisa menjawab
"kenapa di robek?"
"karena sudah tidak penting"
Adrian kaget mendengarnya, padahal dia ingat sekali bahwa Nisa yang ngotot ingin membuat kontraknya tapi sekarang dia ingin merobeknya begitu saja.
"aku tidak tau apa kau pura-pura tidak tahu, atau memang tidak tau. tapi yang pasti kau itu tidak bodoh". ucap tiba-tiba nisa
"aku memang tidak bodoh". Ketus Adrian.
"seharusnya kau tau alasan aku merobek kontrak ini, karena aku sudah mengatakannya saat di pelaminan, yah... walaupun berbisik". tidak mengubris perkataan Adrian
Adrian masih diam dan fokus mendengarkan dan melihat istrinya.
"aku mencintaimu" ucap tiba-tiba Nisa sambil menatap wajah Adrian
Adrian yang mendengarnya tentu saja kaget, tapi tidak bisa berkata-kata. dia akhirnya mengingat saat di pelaminan, dimana Nisa mengatakan bahwa dirinya adalah cinta pertama nya.
"aku tidak pernah berniat menjalani cinta sepihak". menunduk
"tapi jika aku memang harus menjalani hidup dengan cinta sepihak, mending kita bercerai saja"
Adrian yang mendengarnya lagi-lagi di buat kaget.
"a...". ucapnya terpotong
"bagaimana kalo kita menjalani nya sampai tiga bulan, kalo sampai tiga bulan ini kau masih tidak bisa mengatakan 'aku juga mencintaimu' maka kita akan bercerai". masih menunduk
"aku kira kau orang yang tidak berpikiran pendek, kau hanya ingin mendengar aku mengatakan hal itu selama tiga bulan ini". serius dia mengatakan nya
"aku akui, sekarang mungkin aku memang berpikiran pendek. kau ingat?...". menarik nafas "ada halnya satu kata bisa lebih berfaedah daripada seratus perbuatan". mendongak melihat Adrian
"memang selama ini kau memperlakukan aku dengan sangat baik dan lembut, tapi itu tidak di dasari dengan adanya cinta".
"ah ... sudah yah... aku tiba-tiba ngantuk... aku tidur duluan". memperbaiki posisi tidurnya dan menarik selimutnya.
Adrian yang melihat tingkah istrinya hanya tersenyum dan ikut tidur di samping istrinya. perlahan dia mencium sekilas bibir istrinya.
"hei.. apa yang kau lakukan?". menutup mulutnya
"apa?.. tidak salah kan kalo aku mencium istri sah ku". dengan senyuman manisnya
"huh.... sudah aku mau tidur". memejamkan matanya dengan wajah yang bersemu
'ah... manisnya' batin Adrian
'entah sejak kapan tapi... sepertinya hasrat ku yang selalu ingin bersama dengan nya, kini terjawab'
'aku juga sepertinya mencintai nya. hasratku sudah menjadi cinta'. batin Adrian tersenyum dan memandang istrinya.
'aku pastikan kita tidak akan bercerai'
'aku mencintaimu istri manis ku...'.
'tapi belum saatnya aku mengatakan nya heheh'.
cup... dia melayangkan satu kecupan manis di dahi istrinya dan ikut tidur sambil memeluk istri mungilnya itu, dengan senyuman yang tergambar di bibir keduanya. dan saling berpelukan dengan erat.
-END-