warna keemasan mulai terpancar dari arah timur. kehangatan yang di nantikan sepanjang malam, kini telah menunjukkan keberadaannya. kicau burung yang silih berganti, mengiringi terbitnya sang mentari, menyatu sempurna untuk menciptakan sebuah melodi yang mampu merasuk ke dalam hati.
embun pagi yang berkilau bagaikan sebuah permata, membiaskan cahaya menjadi tujuh warna. semua keindahan dunia nampaknya terkumpul menjadi satu pagi.
sambil berdiri di bawah cahaya pagi, aku menghirup nafas dalam-dalam sambil menikmati keindahan yang tersaji. andai saja aku bisa menikmati keindahan seperti ini dalam waktu yang lama.meskipun ini adalah hari Minggu, tapi aku tidak bisa menikmatinya seperti anak-anak yang lain.
"Senja, cepat bersih-bersih dan segera berangkat" suara seorang lelaki yang berteriak dari dalam ruangan.
"iya pak"
Senja, seperti itulah biasanya aku di panggil. aku hanyalah seorang anak miskin yang hidup di desa. aku hanya tinggal bersama bapak ku dengan penuh kesederhanaan, atau harus ku sebut 'kekurangan'.
rumah yang sederhana dengan banyak bekas di tambal sana-sini menggunakan kayu dan papan bekas. aku yakin jika ada angin ribut rumah ini akan ambruk.
huh.... aku dengan malas menggerakkan kakiku menuju sebuah kendi tanah liat yang biasanya di gunakan untuk menampung air. hawa dingin sisa semalam yang masih membelai kulitku, yang sukar dihilangkan oleh hangatnya mentari pagi membuat rasa malas ku menjadi semakin kuat. dengan enggan aku mengucurkan air di kendi itu dan membasuh kulit wajahku. rasa dingin air membuat otot-otot wajahku berkedut.
dingin sekali...
selesai membasuh wajah dan menyikat gigi, aku langsung berlari ke dalam rumah untuk menghindari terpaan angin pagi yang masih dingin itu.
"udah bersih-bersihnya?" tanya bapak ku sambil duduk di kursi kayu yang sudah lapuk di beberapa bagiannya.
bapak ku belum terlalu tua, mungkin sekitar empat puluhan. bapak memakai topi yang sudah mengalami kerusakan di beberapa bagian, menunjukkan betapa lamanya usia topi itu. selain topi, bapak juga mengenakan kaos yang dulunya putih, tapi mungkin karena sering di pakai untuk bekerja, jadi kaos itu di tempeli oleh banyak bekas getah yang sulit untuk dihilangkan.
"udah pak"
"kalau begitu ayo segera berangkat. nanti keburu siang" ajak bapak sambil berdiri dari kursinya.
segera setelah itu, aku berangkat bersama bapak dengan membawa sebotol air minum yang di kemas menggunakan botol bekas. aku hanya memakai pakaian biasa berwarna merah yang tidak kalah usangnya dengan yang di pakai bapak, warnanya sudah pudar dan ada beberapa bekas jahitan di sana-sini.
kami berjalan sekitar 1 kilometer dengan sendal jepit tipis yang melindungi telapak kaki dari batu tajam dan ranting yang mungkin bisa melukai kaki. jangankan sendal baru, mau makan sesuap nasi saja bapak harus bekerja dulu. hidup serba kekurangan itu memang tidak mudah. segala sesuatu perlu perjuangan terlebih dahulu.
sekitar 15-20 menit kemudian, aku dan bapak sampai di sebuah perkebunan. kami langsung menuju ke sebuah bangunan sederhana dan menemui seorang pria dengan sepatu bot dan berpakaian rapi.
"Jono, akhirnya akhirnya sampek juga" kata orang itu. meskipun orang itu tidak tersenyum, tapi orang itu juga tidak tampak marah. menurutku dia orang yang baik.
"maaf pak Han". saut bapak dengan nada meminta maaf.
orang bernama Han ini merupakan bos bapak, orang yang mengelola perkebunan karet tempat bapak bekerja sehari-hari. mungkin gajinya tidak banyak, tapi setidaknya cukup untuk menyambung hidup.
"cepat kerja, nanti keburu siang. alatnya ada di belakang" suruh pak Han.
tanpa lebih banyak basa-basi, aku dan bapak langsung pergi ke belakang untuk mengambil beberapa peralatan yang di perlukan untuk menyadap pohon karet.
"kamu bawa alat-alat itu pakek keranjang" suruh bapak sambil menunduk ke sebuah papan kayu yang ada banyak jenis peralatan di atasnya.
"iya pak"
aku segera mengambil dua buah keranjang, yang satu berisi peralatan, sementara yang lain masih kosong.
selesai mengambil peralatan untuk menyadap getah karet, aku dan bapak langsung ke pohon karet yang belum di sadap oleh orang lain. mengingat seberapa luasnya perkebunan ini, bukan cuma bapak yang bekerja di perkebunan karet, tapi ada sejumlah besar orang yang juga bekerja disini.
aku melihat bapak dengan luwes menggerakkan pisau sadap di tangannya untuk memberikan goresan di kulit pohon karet. meskipun aku tidak tahu banyak soal penyadapan, tapi aku tahu beberapa hal tentang itu. aku tahu kenapa saat menyadap harus berangkat pagi-pagi. itu karena pagi merupakan waktu yang paling baik untuk menyadap getah karet.
Hal tersebut karena turgor pohon karet sedang dalam tekanan yang tinggi. Turgor diartikan sebagai tekanan pada dinding sel yang disebabkan oleh isi sel. Oleh karena itu, semakin tinggi tekanan turgor pada dinding sel maka semakin banyak pula lateks yang dihasilkan. Tekanan turgor yang bagus ialah antara 10-14 atm dan itu terjadi saat pagi hari. biasanya pada pukul lima atau enam pagi.
"Senja, berikan keranjangnya!" pinta bapak tanpa menoleh ke arahku.
"ini pak" aku meletakkan keranjang itu di tangan bapak yang terulur ke arahku.
dengan terampil bapak memasang talang lateks yang terbuat dari seng anti karat sepanjang 8-10 cm. setelah yang terpasang, bapak juga memasang cincin mangkok guna meletakkan mangkok penampung getah karet.
hari ini aku ikut bukan cuma mau nonton bapak bekerja, tapi aku juga bertugas untuk mengumpulkan getah karet yang sudah di tampung sebelumnya.
aku menghampiri beberapa pohon karet yang masih ada mangkuk berisi getah di dalamnya. aku hanya mengambil isi di dalamnya kemudian meletakkan mangkok penampungan itu kembali ke tempatnya. aku menggunakan salah satu keranjang yang kosong tadi sebagai wadah sementara untuk getah yang sudah aku panen.
jam segini memang sudah jarang ada getah yang belum di ambil. mungkin yang bisa aku ambil adalah yang terlewat dari orang-orang sebelumnya. ini semua juga salahku karena bangun kesiangan.
siang ini matahari begitu terik. dengan keringat yang menetes di kening dan pipiku, aku berjalan sambil menggendong keranjang besar di punggungku. memang tidak berat, tapi di tengah panas dan rasa lapar yang mulai membelit perutku, aku merasa tidak memiliki tenaga lagi.
"sabar!. sebentar lagi kita sampek ke gubuk kok" kata bapak di sebelahku. bapak juga membawa keranjang besar di punggungnya, tapi punya bapak lebih berat karena berisi getah karet yang sudah aku panen sedari pagi.
seperti yang di katakan bapak, tak lama kemudian aku melihat gubuk yang tadi pagi kami datangi. disana sudah ada banyak orang yang berkumpul dan menimbang getah karet yang mereka panen.
aku duduk di sebuah kursi kayu di depan gubuk, sementara bapak ikut mengantri bersama orang-orang yang mau menimbang getahnya. selain di bayar untuk getah yang sudah di panen, bapak juga akan di bayar untuk jasanya menyadap pohon karet.
huh... ini melelahkan. aku memang lapar, tapi perlu untuk menunggu uang bayarannya dulu. lagi pula aku belum makan sejak pagi karena tidak ada apa pun di rumah salain air putih yang di rebus sendiri.
"kamu capek?" mendengar suara itu, aku mendongak dan melihat bapak berjalan ke arahku sambil menggenggam sejumlah uang.
"dapat berapa pak?"
"lumayan, dapat 70 ribu. bisa buat beli beras dan lauk nanti" kata bapak sambil duduk di sebelahku dan menyeka keningnya yang berkeringat dengan lengannya.
setelah kami cukup beristirahat, aku dan bapak pulang dan mampir di sebuah toko sembako di tengah perjalanan. bapak membeli telur dan beberapa liter beras. aku melihat sebuah jam yang tergantung di dinding toko. saat ini jarum jam sudah menunjukkan waktu pukul 14:21. sudah agak terlambat untuk makan memang, tapi apalah daya. aku hanya menikmati sensasi perut yang melilit sampai aku tiba di rumah.
"ayo pulang" kata bapak sambil membawa keresek hitam di tangannya.
"iya pak" sahutku sambil menahan perutku yang lapar.
sesampainya di rumah bapak langsung bersih-bersih dan ke dapur untuk memasak. aku hanya bisa menunggu di luar sambil duduk di sebuah batu dan mengamati burung-burung yang terbang dari pohon ke pohon lainnya. ini aku lakukan untuk mencari sebuah kesenangan dan melupakan rasa laparku untuk sementara.
tiba-tiba, aroma telur di goreng hanyut di udara dan menusuk hidungku dengan lembut, seakan memanggilku untuk segera melahap mereka. perut yang sedari tadi lapar langsung melakukan pemberontakan besar-besar. tanpa pikir panjang, aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan berlari masuk ke dalam rumah.
aku tidak duduk dan menunggu, tapi langsung berlari ke dapur dan melihat bapak sedang menggoreng telur.
"pak, apa makanannya sudah siap?" tanyaku dengan tidak sabar.
"tunggu nasinya mateng dulu" sahut bapak sambil terus melihat ke arah wajan.
memasak nasi memang lebih lama daripada menggoreng telur, jadi aku harus sedikit lebih sabar. aku hanya bisa kembali ke ruang depan dan duduk di kursi kayu usang itu sambil menunggu masakan bapak.
sambil agak bosan aku mengambil tas dan buku tulis yang terlihat usang dan dekil. bahkan buku tulis itu terlihat kusut dan agak menguning. warna kuning ini bukan karena terlalu lama, tapi karena buku ini pernah di panggang setelah kena hujan beberapa waktu lalu. waktu itu aku sangat sedih karena bukunya basah. mengingat kondisi keuangan keluarga ku, aku bahkan lebih sedih lagi. bapak perlu bekerja setiap hari hanya untuk membelikan ku beberapa buku dan alat tulis demi keperluan sekolah. bahkan aku tahu kalau bapak kadang-kadang tidak makan dan menyimpan uangnya demi membayar SPP ku di sekolah.
aku sebenarnya tidak tega melihat bapak seperti ini, tapi aku juga masih memiliki mimpi yang harus aku kejar. aku ingin menjadi seorang penulis yang sukses dan dapat membuat bapak bahagia. mungkin keinginanku ini terdengar tidak masuk akal. seorang anak desa miskin mau jadi orang sukses?., meskipun terdengar tidak masuk akal, tapi semua orang berhak punya mimpi, kan?!.
aku dengan egois ingin mengejar mimpiku dan membiarkan bapak bekerja keras banting tulang setiap harinya. apa aku termasuk anak durhaka?. yah, aku yakin seperti itu, tapi aku juga tidak bisa memilih antara cita-cita atau berhenti mengejar mimpiku demi membantu bapak bekerja.
aku yakin jika aku bisa menjadi orang sukses kelak aku juga bisa membantu bapak keluar dari kemiskinan ini dan hidup enak. sebaliknya, jika aku berhenti mengejar mimpiku dan memilih membantu bapak, aku tidak akan bisa mengeluarkan bapak dari garis kemiskinan, mungkin aku hanya akan memberikan bantuan kerja kecil buat bapak.
huh... aku menarik nafas panjang dan membuang semua pikiranku yang menganggu. aku fokus menulis menggunakan bolpoin yang tintanya hanya tersisa setengah dari isi semula. aku mulai menulis beberapa baris kata. aku ingin menjadi seorang penulis bukan karena aku ingin sukses, tapi aku juga menikmati saat menulis.
aku hanya sempat menulis beberapa baris kata dan makanan sudah datang. bapak membawakan makanan dari dapur di kedua tangannya.
"nasinya ambil sendiri" kata bapak sambil meletakkan dua piring telur dadar.
"iya pak" sahutku sambil cepat berdiri.
"jangan lupa cuci tangan dulu!"
selesai mencuci tangan dan mengambil nasi, aku duduk dan makan. yah, bukan hanya sekedar makan. aku juga mencoba melanjutkan menulis beberapa kata lagi, mencoba untuk menuangkan beberapa kata yang ada di kepalaku.
"nulis nya nanti dulu. sekarang selesaikan makanannya"
"iya pak"
"nulis apa sih?" bapak bertanya setelah diam beberapa saat.
"um... cuman nulis beberapa hal kok pak" jawabku sambil terus fokus menulis.
"cek..." bapak mendecakkan lidah dan meraih bukuku lalu menaruhnya di samping dia duduk.
"pak...?" kataku sedikit bingung.
"makan dulu!"
aku hanya bisa melanjutkan makanku sambil memikirkan apa yang akan aku tulis selanjutnya. selesai makan, aku mengambil kembali buku yang tadi si sita oleh bapak saat dia sedang ke dapur membereskan piring. meskipun aku mengambil kembali buku itu, aku tidak melanjutkan menulis, tapi aku menyimpan buku itu ke dalam tas lalu aku pergi ke dapur untuk mencuci piring yang tadi aku gunakan untuk makan.
"pak biar aku aja yang nyuci" kataku menawarkan diri.
"ya udah kali gitu. bapak mau keluar sebentar, nanti pulangnya malem. kamu jaga rumah, jangan keluyuran"
"iya pak"
aku memperhatikan punggung kurus bapak yang menghilang di balik pintu. punggung kurus itulah yang menanggung beban berat demi merawatku dan membiayai sekolahku. semenjak ibu meninggal lima tahun lalu, hanya bapak seorang dirilah yang mengurus semua keperluanku tanpa mengeluh sedikit pun.
aku segera tersadar dari lamunanku dan melanjutkan mencuci semua peralatan makan yang kotor. sepanjang mencuci, aku juga memikirkan banyak hal. sebentar lagi uang SPP ku bulan ini akan jatuh tempo dan melihat keadaan di rumah saat ini, aku tidak tega untuk mengatakannya kepada bapak. jika bapak tahu, bapak pasti akan memaksakan diri dan jatuh sakit. bapak memiliki keluhan sakit lambung sejak lama, karena itu bapak akan jatuh sakit jika bekerja terlalu keras.
jumlah SPP nya sekitar 250.000,00. uang segitu tergolong jumlah astronomis bagi ku dan keadaan keuangan kami saat ini.
selesai mencuci peralatan makan, aku meletakkan semua peralatan yang sudah bersih dan pergi ke ruang depan. aku duduk di kursi usang kebanggaan keluargaku dan meraih buku yang tadi aku masukkan ke dalam tas. aku masih belum bisa berdamai dengan pikiranku yang agak kacau, menulis dan memikirkan cerita adalah satu-satunya cara yang bisa aku lakukan.
'cahaya matahari yang terik menghujam ke kulit putih gadis itu. perasaan terakhirnya tentang pria yang telah dinikahinya selama bertahun-tahun, menguap bersama dengan teriknya matahari, menjadikan hatinya yang penuh kesedihan menjadi seperti gurun yang gersang dan tandus. perasaan kasih sayang dan cinta yang ia miliki untuk lelaki itu kini telah berubah menjadi dendam dan kebencian. gadis itu menanamkan keinginannya untuk balas dendam di hatinya sebagai tujuannya untuk terus hidup..'
setelah mengisi beberapa lembar kertas, aku mulai memperhatikan sinar cahaya kemerahan yang menerobos ke dalam rumah melalui celah yang di dinding. aku segera memperhatikan bahwa hari sudah sore dan matahari akan segera tenggelam. dengan sigap aku merapikan semua alat tulis ku kembali ke dalam tas dan pergi ke dapur untuk membuat dua buah telur dadar. aku menggoreng telur untuk mempersiapkan makan malam, sementara untuk nasi bisa menggunakan sisa nasi tadi siang yang dimasak oleh bapak.
setelah aku selesai menggoreng telur, aku segera mengambil peralatan mandi dan bergegas ke sumur yang berjarak sekitar lima ratus meter dari rumah. biasanya akan ada antrian di sumur itu karena sumur itu di gunakan oleh warga sekitar. untungnya hari ini aku tidak harus mengantri dan dengan cepat membersihkan diriku. setelah mandi aku dengan cepat berganti ke pakaian bersih yang tadi aku bawa.
aku mempercepat langkahku saat pulang untuk menghindari hawa dingin yang menusuk tulang. sampai di rumah, aku membuka tutup saji yang di dalamnya ada telur yang tadi aku masak.
aku melihat makanan di dalamnya masih utuh dan belum tersentuh, ini menandakan kalau bapak belum pulang. aku tidak tahu kemana bapak pergi, saat hari semakin larut pun bapak belum pulang.
aku hanya bisa makan duluan dan segera pergi beristirahat. aku agak lelah setelah seharian membantu bapak kerja di perkebunan karet tadi siang. antara kamarku dan kamar bapak hanya di batasi oleh gedek dari anyaman bambu. aku tidur beralaskan kasur tipis dengan isian kapuk yang sudah mengeras. hawa dingin dari luar yang menyelinap melalui celah yang ada di dinding kayu masih mampu menembus selimut ku yang usang.
meskipun aku selalu tidur dalam keadaan seperti ini, tapi aku tidak pernah bisa terbiasa dengan dinginnya malam. aku masih sedikit menggigil karena hawa dingin itu. entah kapan kesadaran ku mulai melayang dan aku mulai tertidur lelap.
aku di bangunkan oleh cahaya redup yang masuk dari lubang yang ada di atap. aku duduk dan sedikit linglung. mataku masih mencoba menyesuaikan dengan kondisi lingkungan sekitar.
tiba-tiba aku menyadari bahwa ini adalah hari Senin. aku segera membersihkan diri dan mengganti pakaian ku dengan seragam biru-putih, khas anak SMP. selesai berganti pakaian, aku memeriksa jadwal yang di butuhkan hari ini. saat aku bersiap untuk berangkat, aku melihat bapak yang sedang menopang tubuhnya di ambang pintu kamarnya.
wajah dan bibirnya terlihat pucat dan tubuhnya juga terlihat sangat ripuh, siap untuk terjatuh kapan saja. tanpa harus menjadi seorang dokter, aku sudah tahu kalau bapak sedang sakit.
"bapak!" panggilku dengan panik.
aku segera menghampiri bapak dan mendukungnya untuk kembali ke kamarnya. kamarnya tidak jauh berbeda dengan kamar milikku. di dalamnya hanya ada beberapa pakaian lusuh, lantai tanah, dan beberapa perabotan kayu yang sudah lapuk dan ada bekas gigitan rayap dimana-mana, tapi yang berbeda adalah bapak tidur hanya beralaskan tikar yang sudah semrawut di setiap ujungnya karena terlalu lama di pakai.
"bapak kenapa, kok bisa begini?" tanyaku sambil membantu bapak berbaring di tikar nya.
"bapak nggak apa-apa kok, mungkin cuma masuk angin, nanti juga sembuh sendiri" jawab bapak dengan lemah sambil berbaring.
aku melihat bapak mengambil sesuatu dari sakunya dan menyerahkannya kepadaku. saat aku membuka telapak tanganku, aku melihat sejumlah uang. aku menghitung bahwa jumlahnya adalah seratus ribu yang terdiri dari selembar uang lima puluh ribu dan sisanya pecahan dua puluh dan sepuluh ribu.
"bapak tahu kalau hari ini kamu ada harus membayar SPP, jadi kemarin bapak membantu pak Somat danendapat upah, kemudian di tambah dengan uang sisa kemarin. mungkin jumlahnya belum cukup untuk melunasi semua SPP mu, tapi setidaknya ini cukup untuk mencicil sebagiannya"
setelah mendengar apa yang di katakan bapak, tanpa sadar air mata mulai meneteskan di sepanjang garis pipiku. saat inilah aku menyadari betapa beratnya tanggung jawab yang di bawa bapak, saat inilah aku menyadari bertapa tidak bergunanya aku ini. semakin aku memikirkan betapa banyak yang di korbankan bapak demi diriku, semakin terasa tersayat hati ini.
"pak..hiks...hiks..."
"jangan menangis!, suatu saat kalau bapak sudah tua, bapak akan lebih merepotkan, jadi kamu harus bisa menjadi penulis sukses seperti yang kamu inginkan supaya kamu bisa merawat bapak di masa depan" kata bapak sambil mengusap air mata di pipiku dengan tangannya yang kasar
"i, iya..hiks hiks..." jawabku masih sedikit terisak.
"sudah!, nanti kamu terlambat ke sekolah, bapak mau istirahat dulu".
aku mengusap sisa air mata yang ada di wajahku dan tanpa daya berangkat ke sekolah dengan perasaan kacau di hatiku.
aku sekolah di sebuah SMP negeri di daerahku. sekolahku dapat ditempuh dengan berjalan kaki sekitar tiga puluh menit dari rumah. sekolahku tergolong sekolah yang cukup baik, fasilitas lumayan lengkap dan gedungnya termasuk baru. apalagi baru-baru ini sekolah mendapatkan alokasi dana dari pemerintah, jadi beberapa fasilitas baru di tambahkan. lingkungannya juga bersih dan nyaman.
sebelum aku menghela nafas lega, bel tanda masuk sudah berbunyi. aku segera mempercepat langkahku menuju ke kelas. di dalam ruang kelas suasananya masih ramai, karena belum ada gurunya.
sekitar lima menit kemudi, seorang guru wanita masuk ke dalam ruangan. kelas yang semula bising langsung menjadi tenang seketika. aku bahkan tidak bisa konsentrasi selama pelajaran, pikiranku terus melayang dan mengkhawatirkan keadaan bapak yang sedang sakit di rumah sendirian.
jam pelajaran pertama di gantikan dengan jam pelajaran kedua tanpa masuk sedikitpun ke dalam kepalaku. aku hanya melamun di dalam kelas dengan pikiran yang kacau hingga bel tanda beristirahat berbunyi dan menarik kembali kesadaran ku.
aku melihat anak-anak yang lain mulai keluar kelas dan menuju ke kantin sekolahan. jujur, sebenarnya aku sedikit iri melihat anak-anak itu bisa jajan dan makan sepuasnya di sekolah, tapi aku juga sadar dengan kondisi ku sendiri. aku hanya bisa menahan keinginanku dan hanya menghela nafas di dalam hati.
aku segera pergi ke ruang TU untuk membayar uang SPP. sesampainya di depan ruang TU, aku hanya mengucapkan salam dengan sopan sebelum masuk. aku menemui seorang wanita berseragam guru yang sedang menghadap komputer di mejanya. nama staf perempuan itu adalah Bu Inda.
aku segera menjelaskan niatku datang kepada Bu Inda. Bu Inda menyambut dengan ramah dan mencatat biaya pembayaran SPP. semua proses berlangsung dengan cepat dan lancar.
saat aku ingin meninggalkan ruang TU, aku tanpa sengaja melihat sebuah artikel di sebuah surat kabar yang tergeletak di meja Bu Inda.
"maaf Bu Inda. jika di izinkan, bolehkah saya melihat artikel yang ada di surat kabar itu" aku bertanya dengan agak takut-takut.
Bu Inda melihat artikel yang aku maksud, lalu menyerahkan surat kabar kepadaku. dengan senyum ramah di wajahnya.
"apa kamu tertarik dengan event ini?" tanya Bu Inda kepadaku.
"iya saya tertarik"
aku segera melihat artikel itu dan membacanya. artikel itu berisi tentang sebuah lomba menulis cerpen bertema keluarga yang di tunjukan untuk anak SMP sampai SMA sederajat. pemenang akan mendapatkan sejumlah besar uang dan karyanya akan di jadikan artikel mingguan dalam surat kabar itu. karena event itu di adakan oleh surat kabar ternama, mungkin akan ada banyak saingan yang kuat menungguku, tapi jika kamu ingin berhasil, maka kamu harus berani mengambil setiap kesempatan yang ada, meskipun peluang keberhasilannya sangat rendah.
aku lebih suka gagal daripada tidak melakukan sesuatu. bahkan jika aku tidak bisa meraih kemenangan, aku masih ingin mencoba. mungkin saja ini adalah sebuah kesempatan untukku.
"kalau kamu tertarik, aku bisa membantu mengirimkan karyamu" kata Bu Inda menawarkan diri.
"benarkah Bu Inda?" tanyaku dengan antusias.
"iya. terakhir pengirimannya adalah Minggu depan, jadi jika kamu berniat ikut, sebaiknya kamu mulai memikirkan ceritanya mulai sekarang" kata Bu Inda sambil memberikan saran.
"terima kasih Bu Inda. saya akan segera menulisnya"
dengan perasaan yang baik, aku segera kembali ke kelas dan mulai memikirkan sebuah cerita. aku mulai menulis berbagai judul yang masuk ke kepalaku, lalu membayangkan alur ceritanya. inilah yang membuatku tertarik untuk menjadi seorang penulis. seorang penulis akan mengajak pembaca untuk ikut menikmati dunia imajinasi si penulis. hal itulah yang membuat menjadi seorang penulis adalah hal yang menarik buatku.
aku memikirkan berbagai cerita hingga bel pulang sekolah berbunyi. aku bisa memikirkan banyak cerita, tapi aku kesulitan untuk menentukan cerita yang layak untuk mengikuti event itu. di sepanjang perjalanan pulang aku memperhatikan lingkungan sekitar untuk mencari sebuah inspirasi dalam membuat cerpen.
tanpa sadar aku sudah sampai di rumah. aku segera membuyarkan pikiranku dan segera masuk ke dalam rumah. saat aku membuka pintu, aku melihat bapak yang sedang menyiapkan makanan di atas meja dengan tubuhnya yang lemah. aku terkejut dan dengan segera menghampiri bapak untuk menghentikannya.
"bapak ngapain?" aku bertanya sambil memegangi lengan bapak, takut kalau bapak akan jatuh kapan saja.
"oh kamu sudah pulang. bapak masak makanan buat mu. bapak tahu kalau kamu pasti capek setelah pulang dari sekolah, jadi bapak sengaja nyiapin makanan ini buatmu" jawab bapak dengan senyum di wajahnya yang lemah.
"tapi bapak kan lagi sakit, nggak perlu maksa buat masak pak".
"bapak kan juga laper. kamu tega kalau bapak kelaperan di rumah?" sanggah bapak.
aku tahu kalau bapak bilang dia kelaparan di rumah, tapi sebenarnya itu cuma alasan bapak supaya aku tidak merasa bersalah.
tanpa daya aku membantu bapak duduk dan segera berganti pakaian. aku dan bapak sudah duduk di meja dan kursi kayu, siap untuk makan. meskipun hanya ada nasi putih dan telur, tapi ini sudah merupakan berkah yang berharga bagi kami. aku melihat bapak yang makan dengan lahap dan tiba-tiba memikirkan sesuatu.
selesai makan, aku langsung membereskan semuanya dan membantu bapak untuk beristirahat. telur dan beras masih cukup untuk dua hari ke depan, jadi bapak bisa beristirahat dengan baik. aku mengerjakan berbagai pekerjaan rumah, seperti bersih-bersih dan mencuci beberapa pakaian kotor di sumur yang biasanya.
selesai melakukan semua itu, aku langsung mengambil alat tulisku dari dalam tas dan mulai menulis. kali ini aku cukup percaya diri dengan hasil penulisanku, meskipun aku tidak yakin kalau ini dapat meraih juara, tapi aku yakin kalau ini setidaknya bisa mendapatkan nilai bagus.
keesokan paginya, aku melihat kalau bapak sudah membaik. wajah dan bibirnya yang pucat sudah kembali seperti semula, jadi aku bisa berangkat ke sekolah dengan tenang. di sekolah masih seperti biasa. saat bel tanda istirahat berbunyi, aku segera mengambil kertas tulisanku dan pergi menemui Bu Inda. Bu Inda menerima tulisanku lalu membacanya dengan seksama. setelah Bu Inda membaca tulisanku sampai selesai, Bu Inda mengangguk dan tersenyum ke arahku.
"ceritanya bagus. meskipun tidak di ketik, tapi tulisan tangannya rapi dan indah" kata Bu Inda penuh pujian.
"terima kasih Bu Inda"
"hasilnya akan keluar dua Minggu dari sekarang, jadi kamu harus sabar menunggu"
"iya Bu Inda"
setelah semua beres, aku segera meninggalkan ruang TU dengan suasana hati yang baik. karena bapak sudah sembuh dan suasana hati yang baik, aku dapat memahami pelajaran di kelas dengan lebih baik. aku sudah tidak sabar lagi untuk menunggu hasilnya.
hari-hari terasa sangat lambat saat kamu sedang menunggu. aku hanya menjalani hari-hari ku seperti biasa.
dua Minggu kemudian, Bu Inda memanggilku untuk datang ke ruang TU. apakah akhirnya akan datang?. aku sangat bersemangat dan dengan cepat pergi ke ruang TU setelah bel istirahat berbunyi. aku segera menemui Bu Inda dengan antisipasi di hatiku.
"hasilnya sudah keluar. kamu bisa melihatnya sendiri" kata Bu Inda sambil tersenyum dan menyerahkan sebuah amplop kepadaku.
jantungku berdebar-debar saat membuka amplop itu. apakah aku berhasil?. bagaimana jika aku gagal?. semua jenis pertanyaan mulai berdering di hatiku, membuatku semakin berdebar-debar.
aku membuka dan membaca isi surat itu baris demi baris, tidak ingin melewatkan satu kata pun yang mungkin penting.
'kami telah melihat karya yang telah anda kirimkan. dari hasil penilaian tim kami, kami mengucapkan selamat kepada anda, karena karya anda yang berjudul "Hati Malaikat Seorang Ayah" telah mendapatkan nilai tertinggi dari sekian banyak karya yang kami terima..."
"anda berhasil memenangkan juara ke dua dan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar 500.000,00 yang akan di kirimkan nomor rekening anda" lanjutku membaca.
meskipun bukan juara pertama, tapi aku cukup puas dengan hasilnya. ini menandakan bahwa aku harus lebih banyak lagi berlatih. tapi kalimat terakhir membuatku tidak bisa berkata-kata. nomor rekening?, aku bahkan tidak memiliki rekening sendiri. dari mana nomor rekening itu berasal?.
aku mengalihkan pandanganku ke Bu Inda yang duduk di depanku. seperti memahami apa yang ingin aku tanyakan, Bu Inda menyerahkan amplop yang lain kepadaku.
"aku tahu kamu tida memiliki nomor rekening, jadi aku menggunakan milikku" kata Bu Inda menjelaskan keraguanku.
"saya sangat berterima kasih kepada anda" kataku dengan tulus.
"salain itu, bagaimana kalau kamu membaca surat yang lain dulu?".saran Bu inda
aku segera membuka amplop kedua yang di serahkan Bu Inda kepadaku, selain uang, di dalamnya juga terdapat selembar surat.
saat aku membacanya, aku benar-benar terkejut dan tidak bisa di percaya. ada sebuah universitas yang bersedia memberikan beasiswa asalkan nilai ku di SMA memuaskan.
"jangan kaget. salah satu juri yang menilai karyamu itu adalah dosen di universitas ternama. dia melihat bakat yang kamu tunjukan dan tertarik untuk merekrutmu, tapi kamu harus menunjukkan kinerja yang baik di SMA" kata Bu Inda
"iya Bu Inda. saya akan berusaha lebih keras lagi". kataku menyakinkan.
ini adalah langkah awalku untuk mengejar mimpiku selama ini...
asalkan seseorang tidak menyerah pada mimpinya, apakah itu orang miskin ataupun orang cacat, mereka akan tetap menikmati hasil dari usaha mereka selama ini.