Kamu nyata tapi mengapa aku tak bisa menggapai dirimu? apakah aku salah dalam mencintaimu? tidak, cinta tidak salah tapi dirimulah yang salah karena kamu yang menaruh perasaan itu. Semakin kamu berharap maka kamu akan disakiti oleh harapanmu sendiri.
Kamu tau kita berbeda tapi mengapa kamu tetap mengejarnya? itu sama saja membuat dirimu terluka. Percuma kamu mencintainya tapi tuhan kita tidak merestuinya.
¯\_ʘ‿ʘ_/¯
Seorang gadis tengah berada di sebuah ruangan, ia sedang bergulat dengan pikirannya, akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke sebuah tempat menggunakan sepeda motornya. Dia memarkirkan sepeda motornya dan berjalan masuk ke tempat tersebut. Duduk berlutut di depan batu nisan yang bertuliskan nama Raga Devandra, iya gadis tersebut pergi ke sebuah makam. Gadis tersebut bernama Jeje.
Cukup lama Jeje memandangi batu nisan itu, akhirnya pertahanannya runtuh dan ia menangis dalam diam.
"Raga, kenapa kamu meninggalkan aku sendiri disini? aku benar-benar syok saat tau kamu pergi meninggalkanku. Kamu pergi tanpa pamit dan membawa kabar yang menyakitkan ini. Rasanya seperti sebuah mimpi. Aku tau kita tidak bisa bersama tapi seenggaknya kamu tetap disini bersamaku. Aku tidak akan mengambilmu dari tuhanmu tapi mengapa kamu sekarang pergi ke sisinya? Sekarang benteng kita semakin tinggi, aku tidak bisa menggapaimu sampai kapanpun." ucap Jeje di sela tangisannya.
Tiba-tiba sebuah hujan turun membasahi dirinya di sebuah makam tersebut. Sepertinya langit juga mendukung dirinya, langit menurunkan hujan agar dia tidak menangis sendirian. Dengan di temani suara rintik hujan di sore yang sunyi Jeje menangis sejadi-jadinya. Ia kembali terpukul dengan keadaannya.
"Aku benar-benar sendiri sekarang, mama dan papa sudah mempunyai keluarga masing-masing. Aku ingin pergi bersamamu tapi aku tidak bisa. Aku sangat bersyukur bisa bertemu denganmu, Aku merindukanmu raga, merindukan canda tawamu, merindukan senyumanmu, dan merindukan suaramu. Sekarang siapa yang akan memarahiku lagi? siapa yang akan menjahiliku lagi? kenapa raga!?! kenapa kamu pergi!? sekarang hanya tersisa kenangan kita saja." Ucap jeje sedikit menaikkan nada suaranya.
"Aku berterima kasih kepadamu sudah pernah hadir ditengah-tengah kehidupanku yang hampa. Aku pergi dulu ya semoga kamu tenang disana, kapan-kapan aku akan berkunjung lagi" ucap jeje menyelesaikan tangisannya.
Setelah dirasa cukup Jeje akhirnya berdiri, langit sudah semakin gelap bahwa malam telah tiba. Jeje berjalan sambil menikmati rintik hujan yang semakin deras.
Ia berhenti sejenak lalu menatap langit yang kala itu sedang hujan "selamat jalan bintangku" ujarnya dalam hati.
kemudian Jeje pergi menaiki sepeda motornya dan bergegas untuk pulang.
Hujan menjadi saksi bahwa dirinya sedang tidak baik-baik saja. Hujan memang menenangkan tetapi hujan juga bisa menyesatkan. Gara-gara hujan ia harus kehilangan sosok orang yang berarti baginya, sosok yang selalu menemaninya. Jeje menyukai hujan tapi Jeje juga membencinya di saat bersamaan.
¯\_ʘ‿ʘ_/¯
Jangan memaksakan apa yang seharusnya tidak bisa dipaksakan. Kamu cukup jalani sesuai alur yang sudah berjalan biar takdir yang menentukan di mana kamu berlabuh.
Mencintai seseorang memang tidak salah yang salah adalah terobsesi dengan berlebihan.