Aku adalah gadis ceria pada masanya, namun dua bulan setelahnya hidupku menjadi suram. Seorang datang kepadaku mengaku sebagai orang tuaku.
Anak mana yang percaya pada orang luar, mengakui tanpa bukti sama saja mencari mati. Jangan salah paham pada sifatku yang sama sekali tidak selaras dengan kepribadianku.
Aku pernah dikatai gadis abnormal, ada juga yang mengumpatiku gadis iblis. Benar, kalian benar, aku memang lah seorang iblis yang berkedok manusia.
Sedari kecil hidupku hanya dipenuhi dengan siksaan, tanpa adanya keluarga, yatim piatu adalah kosa kata yang kutanamakan pada diriku.
Dunia memang kejam dan aku harus lebih kejam. Satu perkataan bisa menjadi sebuah pembunuhan.
Kedua orang itu yang mengaku orang tuaku, aku berusaha untuk bersikap sopan dan aku berakhir berontak berucap tegas membutuhkan tes DNA.
Aku memang tidak sekolah, tapi otakku cukup pintar. Akan tetapi mereka datang kembali membawa lembar kertas yang tertulis 99,9% positif.
Aku chilly, tidak akan percaya hanya dengan selembar kertas. Tapi aku fikir-fikir bermain dalam kebohongan ini cukup menyenangkan.
Aku ikut dengan mereka demi sebuah kesenangan semata. Aku ingin mengetahui apa tujuan keduanya. Aku juga berfikir "apakah ini jebakan?" Aku tak terlalu memikirkan itu.
Terlalu jauh aku curiga maka alur cerita tak semenarik seperti biasanya.
"Ma, apa aku tinggal disini?" Pertanyaan bodoh yang aku lontarkan membuat kedunya tersenyum, "apa mereka fikir aku polos" seringaianku muncul didalam benak.
Mereka menggiringku dengan senyum yang mengembang, wajah keduanya berseri seakan menyala seribu watt.
Aku ditempatkan di kamar yang cukup luas tapi ini tak seluas kamar dimansionku. Kedua orangtua itu sama sekali tak mengetahui tempat tinggalku, mereka hanya menemuiku di apartemen kecilku.
Jangan kalian fikir aku gadis yang miskin ataupun gelandangan namun memiliki keberuntungan berotak pintar. Otakku pintar sedari kecil, aku tidak sombong hanya mengakuinya. Otakku diciptakan untuk digunakan, maka jangan pernah kalian meremehkan.
Saat aku menuruni tangga aku melihat kedua orang tua itu tengah berbincang dengan seorang lelaki paruh baya. Perlahan aku mendekat tanpa menghasilkan suara.
"Apakah kalian benar-benar telah mendapatkan jatung untuk anakku?" Tanya lelaki itu dengan mata yang menajam.
Kedua orang tua itu terlihat ketakutan sungguh menghibur mataku. Wanita yang kupanghil mama menjawab dengan percaya diri "kami benar-benar mendapatkan jatung yang cocok untuk putri Tuan Ed" ujarnya dengan wajah yang berseri.
Lelaki disampingnya ikut mengangguk meyakinkan, "bagus, lebih cepat lebih baik, apa dia perempuan?" Kedua orang tua itu mengangguk "Hahaha, aku akan memakainya malam ini, kalian dandanilah yang cantik" dia tertawa dengan senyum puas.
Lelaki itu pergi diantar kedua orang tua itu, aku berbalik menuju kamar dengan senyuman mengejek. Aku melirik sekilas lalu naik keatas "permainan terlalu cepat, mari ulur dulu" batinku tersenyum cerah.
Malam itu aku pergi menuju mansionku, karena mereka tidak akan bisa menemukanku. Aku ingin mereka disiksa terlebih dahulu oleh lelaki itu sebelum aku menghabisi mereka.
Mansionku ramai namum semuanya hanya karena ratusan pelayan. Sudah kubilang bukan, aku tak mempunya kelurga untuk ku lindungi maupun ku cintai.
Aku tak langsung tidur saat berada dikamar, melainkan aku masuk kedalam ruangan khusus dalam kamarku. Belati manis menyambutku.
Aku duduk di meja kerjaku, tidak, lebih tepatnya meja eksperimenku. Banyak jari-jari cantik disana, jari-jari seorang jalang.
Aku membunuh orang yang pantas untuk dibunuh. Memang kematian itu diputuskan oleh Tuhan dalam hal ini Tuhan juga membutuhkan perantara. Maka akau bersedia menjadi perantara-Nya.
Ku duduk dikursi kebesaranku otomatis tatapanku tertuju pada komputer yang mengelilingiku. Komputer ini bukanlah barang yang biasa, akan tetapi banyak rekaman live yang dapat ku lihat.
Tatapanku beralih pada rekaman live yang ada dikediaman kedua orang tua itu, cukup mengasyikkan membuat urat mereka muncul karena kemarahan.
Aku tertawa menikmati itu semua "carilah aku, cari sampai kalian mati ditanganku" tawaku mereda saat kedatangan lelaki paruh baya tadi dengan wajah yang terlihat marah.
"Hohoho, ayo siksa mereka" ucapku dengan seringaian yang manis.
"Ternyata lelaki paruh baya itu psikopat hampir saja pasienku akan dimangsa," aku menghela nafas lega saat lelaki itu menurunkan pistolnya "jika kamu membunuhnya mungkin saja aku akan memenggalmu".
Bukannya apa, mereka itu bagianku mungkin sepertinya termasuk kamu.
Keesokan harinya bawahanku melapo bahwa mereka masuk ke apartemenku yang sengaja memang tak ku kunci. Bahkan disekitarnya ada salah satu lengawal bayanganku.
Malam ini aku berniat untuk bersenang-senang. Bahkan saat ini saja hatiku berdebar saat mengelap belati tajamku.
Bagai ada ribuat kupu-kupu yang menyerbu perutku, jika orang awam ini dinamakan cinta, hahaha... aku memang mencintai kegitan ini. Memutilasi manusia.
Pukul 00.00 WIB telat tengah malam aku masuk ke apartemen. Dan lebih bahagianya mereka masih tak tidur. Keduanya menatapku nyalang sedangkan aku menggunakan topeng polosku.
"Maafkan aku ma, a-aku kemari ada masalah" keduanya hanya tersenyum lembut yang kuduga hanya untuk memikatku, sunggu manusia biadab.
"Tidak apa, yang terpenting kamu kembali" ujar wanita yang kupanggil mama aku hanya mengangguk antusias "na'asnya kalian tak akan bisa mengharapkan hari besok" batinku keji.
"Anak pintar, jangan membuat kita khawatir" aku tersenyum lebar "aku hanya senang melihat kalian tersiksa" batinku lagi.
Diam-diam aku mengikat kedua tangan mereka menjadi satu. Keduanya terlihat kaget saat aku bangkit apalagi kegelapan kini menyelimuti.
Aku duduk disofa dengan anggun, "kalian cukup berani memasuki wilayahku" tatapanku menajam menahan amarah, sangat tidak sudi tempatku diinjak mereka.
"Apa yang kamu lakukan oada kami" ujar keduanya membuatku terkekeh miris "apalagi?, tentu saja aku sedang bermain" jawabku lugas.
"Bermain darah" lanjutku dengan mata nyalang.
Keduanya kulihat melotot yang membuatku makin bengis.
Arkhhhh
Kucongkel matanya tanpa rasa salah, aku hanya terkekeh sinis. Jantungku berdebar melihat darah sunghuh aku suka pemandangan ini.
Suara mereka mengalun indah ditelingaku bagai alunan melodi. Saling betsambut seperti perasaan para remaja. Saling melengkapi satu sama lain seperti ikatan suami istri.
Kata-kataku sungguh naif, aku yang tak mengerti apa itu perasaan. Akan tetapi aku mendapat rasa sennag saat melakukan kegiatan demikan. Mungkin memang ini adalah takdirku.
Malam ini aku berpesta dengan kedua mayat yang tergeletak di bawah kakiku. Aku tersenyum puas melihat bola mata indah di dalam aquarium-ku. Makanan untuk ikan piranha kesayanganku.
Hari mulai gelap, tanpa kata aku masuk untuk beristirahat dan menyapa hari esok. Hah, sungguh hari yang menyenagkan.
Pengawal bayangku cukup sigap, mereka adalah pengawal yang kulatih tanpa adanya rasa perikemanusiaan.
Mereka membersihkan pekerjaanku yang belum tuntas, anak pintar.