**
Lingsir wengi
(Saat menjelang tengah malam)
Sepi durung biso nendro
(Sepi belum bisa tidur)
Kagodo mring wewayang
(Tergoda dengan bayangmu)
Angreridhu ati
(Di dalam hati)
23:45
Hingga waktu beranjak tengah malam, Widi masih saja terjaga. Bahkan setiap malam dia nyaris sulit tidur. Begitulah selama tiga tahun ini. Setiap malam dia selalu merindukan sosok suaminya yang sudah berada di alam keabadian. Seolah-olah bayangan suaminya masih setia menemaninya, memandanginya yang setiap malam selalu berderai air mata.
Ya, suaminya yang selama hidup bersama dirinya selalu membanjiri hatinya dengan kasih sayang, perhatian, kesetiaan, hingga materi. Suaminya yang baik, yang lemah lembut, yang sabar dengan sifat Widi yang keras dan cenderung mendominasi. Suaminya yang nyaris tidak pernah marah, yang kini hanya bisa dia pandangi fotonya tanpa bisa dia sentuh raganya.
"Mas, teganya dirimu meninggalkan aku."
Begitulah Widi, sepeninggal suaminya dia nyaris tidak punya semangat hidup. Bahkan dia selalu berharap kematian segera datang menjemputnya. Tapi di balik itu semua, dia masih bisa berpikir rasional. Ada dua anaknya yang masih membutuhkan dirinya. Anak laki-lakinya yang berusia 21 tahun, yang belum sepenuhnya mandiri karena sedari kecil selalu di manjakan oleh bapaknya. Juga anak perempuannya yang baru kelas 2 SMP yang tentunya masih membutuhkan biaya sekolah. Kenyataan inilah yang tidak bisa Widi hindari. Profesi suaminya yang hanya seorang buruh pengrajin emas, tidaklah banyak meninggalkan harta. Hanya rumah yang dia tinggalkan sebagai tempat berteduh untuk istri dan kedua anaknya.
"Bu, sudah pagi. Bangun bu, aku mau berangkat sekolah."
Ketukan pintu dari Putri, anak perempuannya mengagetkan Widi. Dia merasa seolah-olah baru beberapa saat memejamkan mata. Ketika menoleh dan melihat jam dinding barulah dia sadar ternyata pagi sudah menjelang.
"Iya nduk, Ibu sudah bangun. Tunggu sebentar."
Widi teringat hampir menjelang pagi dia baru bisa tidur, sampai- sampai dia melewatkan sholat subuh. Inilah awal hari, hari-hari yang bagi Widi sungguhlah membosankan. Tak ada penyemangat hidupnya, tak ada teman berkeluh kesah, terutama tak ada lagi tulang punggungnya, penopang hidupnya sekaligus dua anaknya. Bahkan si sulung yang sudah hampir 3 tahun lulus SMU belum juga mendapat pekerjaan, walaupun sudah menyebar lamaran pekerjaan ke banyak tempat.
"Bu, ibu nggak lupa kan kalau hari ini aku harus bayar LKS?"
Putri membuyarkan lamunannya sekaligus mengingatkan Widi tentang kewajibannya.
"Iya, ibu ingat." Jawab Widi seraya mengangsurkan uang Tujuh puluh ribu ke hadapan Putri. Uang tersebut adalah hasil pinjaman dari kakak perempuan Widi.
Terpaksa, itulah yang saat ini Widi rasakan. Pekerjaannya yang hanya sebagai juru masak di sebuah usaha katering tidaklah banyak membantu perekonomian keluarga. Seperti yang banyak orang ketahui, usaha katering hanya laku pada moment- moment tertentu.
Setelah kepergian Putri ke sekolah dengan di antar Aji kakak laki- lakinya, kini Widi merasa kesepian lagi. Pikirannya berkelana ke mana-mana terutama pada mendiang suaminya. Suami tercintanya yang kini tak bisa lagi di ajak berkeluh kesah.
Di saat-saat seperti ini, Widi ingin mengenang kebersamaan ketika suaminya masih hidup.
Suami romantisnya yang selalu menjadi pelipur lara, penyemangat segala gundah di hati. Yang kini sudah pergi dan tak mungkin akan kembali.
Widi teringat suatu sore ketika dia dan suaminya duduk santai di belakang rumahnya yang asri, belakang rumahnya adalah kebun bambu. Saat itu suaminya berkata,
"bu, besok kalau anak-anak sudah berumah tangga. Biarlah mereka hidup mandiri. Tinggallah kita berdua di rumah ini. Jadi kita bisa bermesraan terus setiap hari tanpa di ganggu anak-anak." Terdengar kekehan kecil mas Adi.
"Aku nurut aja apa kata bapak." Begitu jawab widi diiringi senyuman di bibirnya. Suaminya ini memang sangat romantis cenderung mesum. Yang terkadang membuat malu Widi kala mengingatnya. Tapi justru itulah yang sekarang dia rindukan.
"Nanti aku inginnya aku dulu yang meninggal." kata mas Adi.
"Eh, ya ibu dulu kok." Jawab Widi.
"Enggak bu, bapak dulu. Karena bapak nggak mungkin bisa kalau di tinggal ibu." Jawabnya.
"Apa sih bapak ini, udah ah nggak usah ngomongin soal kematian. Ibu nggak suka." pungkas Widi yang menutup pembicaraan sore itu.
Dan kata-kata mas Adi kala itu masih terngiang-ngiang di telinga Widi sampai detik ini. Dan selalu menjadi pertanyaannya, apakah kala itu sebuah pertanda jika suaminya akan meninggalkannya?
Dan kenangan itu disertai dengan kemunculan berita di televisi tentang meninggalnya sepasang suami istri selebritis tanah air dalam sebuah kecelakaan maut di daerah Jawa Timur. Seketika luruh lagi airmata Widi demi melihat berita itu, seolah-olah dia merasa iri dengan pasangan tersebut yang menjemput maut secara bersamaan, cinta sehidup semati.
Sungguh kerinduannya pada suaminya sudah teramat dalam, di tambah kepiluan akan kondisi ekonominya. Widi merasa tidak sanggup menahan beban hidup, kepada siapa dia berkeluh kesah. Anak laki-lakinya masih teramat belia untuk di ajak membicarakan persoalan keluarganya, apalagi anak perempuannya. Sungguh Widi merasa sedih menanggung sendirian.
"Mas, yen wes ngene iki aku kudu sambat karo sopo?" (Mas, kalau sudah begini aku harus mengeluh kepada siapa?)
Luruh lagi airmatanya, membasahi pipi tirusnya. Beban hidupnya, anak-anaknya yang menjadi semangat sekaligus keputus asaannya. Membuat dia menjerit di dalam hati.
"Sak tenane aku nglokro"
(Sebenarnya saya putus asa).
**
Nanging duh tibane
(kalau sudah saatnya)
Aku dewe kang nemahi
(Aku sendiri akan mengalami)
Nandang bronto
(Jatuh cinta)
Kadung loro
(Terlanjur sakit)
Sambat, sambat sopo?
(Mengeluh, mengeluh sama siapa?)
~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~
note:
NGLOKRO dalam bahasa Jawa berarti putus asa
** lirik lagu Lingsir Wengi, ciptaan Sunan Kalijaga
Lagu Lingsir Wengi selama ini di kenal lagu horor🤭🤭
padahal liriknya gak ada horornya sama sekali ya guys. Sebenarnya ini lagu tentang mengingat pada Tuhan (sambat, sambat sopo = mengeluh, mengeluh pada siapa) artinya ketika seseorang mengalami kesedihan, bahkan putus asa. Di situlah peranan Tuhan sebagai tempat kembali barulah di sadari. Sejatinya sebagai manusia kita harus tetap mengingat, dan selalu menjalankan perintah Tuhan dan selalu berserah pada Tuhan. Karena setiap cobaan yang Tuhan berikan itu semata-mata agar manusia mengingatNya dan berdoa memohon pertolongan dan memohon segala sesuatu hanya kepadaNya.
Semoga tulisan ini bermanfaat buat pembacanya. Ingat ya nggak boleh NGLOKRO🤭
thank's for reading❤️❤️❤️
with love
mom's HilVi