" Cecil, jangan main jauh jauh ya?" ucap ibuku menyuruhku untuk tidak bermain jauh jauh, mungkin ada alasannya, dan alasannya mudah sekali ditebak. Tentu saja karna beliau cemas aku kenapa napa, atau khawatir tntng kesehatan dan keamanan anaknya yaitu aku.
" Iya ibu." ucapku lalu berlari menuju belakang rumah.
Disana, aku berlari menuju rumah belakang, yang dimana disana ada pohon beringin yang besar, disana terdapat ayunan yang bila di naiki akan menjulang tinggi, dan kalian pasti tau, anak anak sangatlah menyukai permainan apalagi bila banyak teman.
" Alo." suara khas anak kecil yang menyapa sesuatu yang gelap namun bagiku jelas sekali.
Bayangan hitam itu menyapaku dengan melambaikan tangan dan ajakan untuk pergi ke suatu tempat.
Tiba tiba dia menghilang setelah tau Bahwa seseorang datang menemuiku ditempat tersebut.
" Cecil, jangan main disana nak, bahaya, kamu tadi main sama siapa?" Datanglah ayahku, saat dia datang menemuiku beliau langsung menggendong ku dan langsung mengajakku pergi dari sana.
" Cecil main sama teman yah, mereka banyak~ sekali, cecil tadi diajak, lalu karna ayah menemuiku mereka langsung pergi entah kmn." ucap ku menjelaskan kebenaran namun..
" Ayah tidak melihatnya nak.." Ayahku menoleh ke tempat dimana tadi aku bermain.
" Ada yah, itu disitu." ucapku menunjuk mereka.
" Ayah tidak melihatnya cecil, dia siapa? dan ada dimana?" Ayahku kebingungan menatapku lalu melihat tempatku bermain tadi.
" Ada ayah, itu disitu, mereka mengikuti kita, mereka tmn tmn ku tapi berbeda dengan yang tadi mengajakku, kali ini mereka banyak dan.. mengikuti kita." ucapku menunjuk mereka, aku tau karna memang aku bisa melihatnya, entah knp ayahku tak melihat.
Ayahku terdiam sejenak.. Lalu tangan kanan ayahku maju sedangkan yang kiri menggendong ku kesamping. Kulihat ayahku memejamkan mata dengan bibir yang bergerak, entah beliau sedang bicara apa aku tidak mengetahuinya lalu saat ayahku sudah selesai akupun melihat kebelakang. Dan yeah! mereka tak ada.
" Ayah~, apa yang ayah lakukan? knp mereka hilang?😟." ucapku melihat blkng lalu bergantian melihat ayah.
" Tidak kok, udh ah yuk pulang, ibu masak makanan enak lho~😄."
" Bnrkah? 😃." ucapku.
" Iya, haha." , " Yey~ ibu masak enakk~😆." ucapku senang dan melupakan kejadian barusan.
***
Shin beralih ketika aku beranjak 10 tahun, aku duduk disekolah dasar kls 4. Kalian tau, disekolah aku selalu dikatain gila, entahlah knp mereka menganggap aku gila padahal.. aku tidak gila.
Aku duduk sndirian dikelas karna.. sesuai yang kau tau, tidak ada yang mau berkawan denganku, lalu tiba tiba sesuatu datang menemuiku.
Dia melambai padaku, setelah dia melambai aku pun menjawab, " Halo, namaku Cecil, nama kamu siapa?" ucapku seakan² aku bersama dengan seseorang. Dan bila kau melihat, dia tidak ada, bagiku dia ada dan nyata.
Dia menjawab sesuatu yang tentu saja aku tau,
" Ohh begitu, hai Mira, knp kamu sndirian? kalo aku sndirian karna tidak ada yang mau berteman denganku 😞." kukatakan kejujuran pada dirinya.
" Iya, aku sedih mereka semua tidak ada yang mau berteman denganku, kalau mau, boleh kan aku berteman dengan kamu?😀" tanya ku antusias karna mendapatkan tmn seperti mira.
" Waahh 😄 terima kasih mira, haha."
Aku kegirangan saat itu, karna.. aku mempunyai teman. Bel masuk pun tiba, semua tmn kls ku duduk di bangku masing² dan diiringi dengan guru yang tiba dikelas.
" Lihat, guru sudah datang, duduklah mira." ucapku pada tmnku mira.
Tmn kls ku heran, terdapat tanda tanya besar diwajah mereka termasuk guruku. Lalu guruku berkata, " Cecil, kamu bicara dengan siapa nak?, di kelas tidak ada yang bernama mira? kamu bicara dgn siapa?" tanya guruku setelah mendekat dan menyamakan tingginya denganku.
" Huuuu~ Cecil gila, cecil gila." ejek tmn²ku di kelas.
" Tidak tmn² Cecil ga gila, Cecil punya tmn, dia skrng ada disamping cecil, namanya mira, kalian harus tau kalau aku punya tmn supaya kalian tidak menganggapku gila." jelasku pada mereka.
" Apanya! disampingmu tidak ada seseorang tuh, aku tidak melihatnya, tmn² kalian melihatnya?" tanya salah satu tmnku ke yang lain.
" Tidak~" ucap mereka serempak.
" Brrti kamu bohong cil, huuu~"
" Sudah anak², biar ibu yang bicara. Cecil, yang dikatakan tmn teman kamu itu bnr sayang, disampingmu tidak ada siapapun, tidak ada mira ataupun yang lain, hanya terdapat bangku kosong saja, ibu juga tidak melihat siapa siapa disini begitu pula tmn² kamu." Ucap bu guru padaku dengan nada lembut.
" Ada bu, knp ibu tidak lihat? dia ada disampingku, dia duduk disini, dia ada bu, iya kan Mira? dia tmnku bu namanya mira, ibu bisa lihatkan?" aku masih ttp saja keras kepala dan berkata Bahwa aku mempunyai tmn sebangku di sampingku.
Bu guru mengkerutkan dahinya, aku melihat dirinya terdiam sbntr lalu menjawab, " Siapa nak? ibu tidak melihat siapa siapa yang ada disampingmu, hanya terdapat bangku kosong saja, bahkan ibu tidak tau kalau ada yang bernama mira." ucap bu guru heran.
" Ahhh, knp semuanya tidak bisa melihat tmnku? aku kesal sekali~, ayahku tidak melihat, ibuku juga, tmn tmn bahkan, dan skrng? ibu guru? hiks semuanya, knp kalian tidak melihat nya? dia ada tmn tmn, bu, dia ada, aku melihatnya namanya mira bu huhu." aku mulai menangis ketika tau mereka semua tidak bisa melihat tmnku.
Disampingku, mira menenangkan aku supaya aku tidak menangis. " Aku tidak bisa diam mira, aku sedih tidak bisa mengenalkanmu pada semuanya yang mengenalku, jika mereka bisa melihatmu aku pasti akan mengenalkanmu pada mereka, bu guru juga huhuhu."
Ibu guru diam tidak bisa berkutik, dan hanya bisa melihat apa yang aku lakukan, tatapannya seakan² melihat kejadian yang diluar batas, bu guru melihat ku berbicara namun beliau tidak tau bahwa aku bicara dengan siapa.
***
" Hiks." aku menangis sesunggukan sejak dari tadi. Saat ini aku di jemput oleh ayahku, ayahku pun bertanya, " Cecil, knp kamu menangis? apa seseorang telah berbuat jahat padamu? katakan semuanya pada ayah, biar ayah yang bereskan." ucap ayahku yang membuat aku percaya begitu saja pada ayah.
" Bnrkah? apa... apa ucapan ayah bisa membuatku percaya pada ayah?" tanyaku polos.
" Iya nak, bilang saja pada ayah, dan kau bisa percaya pada ayah." ucapan itu keluar begitu saja setelah ayah terdiam beberapa waktu yang lalu.
" Ayah, apa ayah saat ini melihat ada siapa disampingku?" tanyaku ingin memastikan ucapan ayah itu bnr adanya atau..
" ...? Knp memangnya?" tanya ayah padaku, dari situ aku ragu apa yang dikatakan ayah barusan ialah bohong.
" Hiks.. hiks, ayah tau apa penyebab aku menangis?", " apa nak? ayah ingin tau."
" Mira, lihatlah, ayah bahkan juga tak bisa melihatmu, aku sedih sekali, hiks."
" Cecil sayang, apa yang kau lakukan? knp kau bicara sndiri? siapa yang kau ajak bicara? katakan nak."
" Tuh kan, ayah ga bisa lihat! huhuhu, mira lakukan sesuatu, buat ayah bisa lihat dirimu huhu." ucapku kesal pada ayah karna.. beliau tidak bisa melihat apa yang aku lihat.
" Hiks, disampingku skrng ada tmn baruku namanya mira, pasti ayah tidak bisa melihat kan? ibu juga begitu, ibu guru dan tmn²ku bahkan sama dengan ayah. Mereka tidak bisa melihat tmn ku yah, makanya aku menangis huhu. Bahkan.. Bahkan tmn tmnku tidak mau.. hiks berteman dengan ku huhu, dan mereka juga mengejek aku, mereka bilang bahwa aku gila yah.. huhuhu, padahal aku tidak gila huhu." ucapku sambil menangis lalu memeluk ayah yang berdiri kebingungan melihatku, terdiam membeku tidak mengatakan apa apa.
Sedangkan aku, aku hanya menangis dikaki ayahku dengan sesenggukan khas anak kecil. Ayahku pun menggendongku membawa ku pergi dari sekolah karna waktu pulang sudah tiba bahkan sedari tadi.
" Cecil, ayo kita jalan jalan sbntr, cecil mau jalan jalan sama ayah?" ucap ayahku, mungkin menenangkan ku dengan cara seperti itu. " Tanpa ibu lhoo~" bisik ayah padaku lalu cekikan.
" ... ayo yah 😄." namanya anak kecil ya.. pasti gampang lupa dengan apa yang barusan terjadi.
***
Kami sampai di kediaman, aku senang, aku turun dari gendongan ayahku lalu aku berjalan ria dengan menyayikan nada khas anak kecil, seperti lalalala~ ya.. gitulah.
Dengan tangan yang membawa sesuatu untuk ibuku. Aku menemui ibuku didapur dengan mengagetkannya.
" Dor!" dan aku berhasil mengangetkan ibuku.
" Astaga!" ibuku terkejud mendegar kata dor itu.
" Baaa~, ibuu~ hehehe." aku cengengesan mendongak ke arah ibuku.
" Cecil! mengagetkan saja kamu ini, ibu sampe terkejud lho.. hufftt 😪. Cecil pulang sama siapa?" tanya ibuku setelah menghela nafas.
" Sama ayah 😄😁." , " Lihat bu, cecil bawa apa.." ucapku dengan menunjukkan sesuatu yang ada ditanganku.
" Apa itu?" tanya ibu.
" Tara~ Ayah goyengg 😁." , " Wahh, enak sekali sepertinya, kita makan sama sama yuk." ajak ibu padaku dan juga ayah.
" Ayoooo~ haha."
***
Umurku kini beranjak 16 tahun, aku duduk di bangku sekolah menengah keatas. Aku mempunyai teman disana, berbeda ketika aku masih sekolah dasar. Namun di sana dan disini tidak ada bedanya, disekolah dasar aku di olok² gila, dan di sini aku di olok² sesuatu yang membuat mental ku down, tapi sedikit.
" Cil, kamu punya uang gak?" , " Aku mau dong pinjem uangmu." ucap tmn kls cecil, setau cecil tmnnya ini sering menghina cecil hal hal yang buruk mengenai dirinya.
Tiba tiba tubuhku bergetar ketika melihat bahwa ada sesuatu yang mendekati tmn kls ku ini, sesuatu yang amat sangat besar, dia berupa bayangan dengan mata yang merah dan tentu saja aku tak berani menatapnya, aku menunduk lalu aku..
" Sarah, ayo ikut aku." ucapku menarik tangan Sarah tmn kls ku yang sbnrnya aku tau bahwa dia tidak suka padaku.
Aku menoleh sedikit ke arah belakang, dan yeah! cara ini berhasil, aku membuat sesosok itu tak mengikuti kami lagi dengan cara menghindarinya.
Aku berhenti di koridor depan kelas, entah kelas apa itu. Tangan sarah memaksa lepas dari tanganku, lalu akupun melepasnya.
" Cil! kamu knp sih? pake segala narik tanganku lagi! kalo kamu ga mau minjemin uang mu sama aku yaudah bilang! ga ush pake tarik tarik tangan aku segala! aku ga suka tau gak! huh!" Sarah pun pergi setelah mengoceh ga jls, aku tidak mempedulikan hal itu, namun saat ini yang mengkhawatirkan ialah sosok itu malah..
Mengejar diriku!!
Aku berlari, berlari sekuat tenaga, sekuat yang aku bisa, aku terus berlari, melewati semua lorong yang ada, namun sosok itu masih ttp saja mengikutiku, mengejarku dan mengejar secepat kilat.
Entah knp aku merasa koridor yang aku lewati sangat panjang hingga aku ingin berhenti namun aku takut dengan sosok itu. Aku merasakan bahwa aura sosok itu ingin membunuhku, aku takut, " Ayah, Ibu tolong cecil." ucapku dengan mata terpejam tapi masih ttp berlari sekencang mungkin.
Lalu sampailah diujung, di ujung sana ada lift dan aku harus masuk lift itu untuk segera pergi dari kejaran sosok yang ada dibelakangku ini, semakin aku ingin mendekat ke arah lift itu, kenapa lift itu malah semakin jauh saja, aku takut bila aku tertangkap, dan apa yang bisa aku lakukan untuk menghindar dari sosok ini? aku sungguh takut
Lalu aku berhenti tepat di depan lift itu dan cepat² menekan tombol lift itu berkali² sambil melihat arah belakang ku, mengecek apakah sosok itu tidak mengejar. Namun... aku salah, dia masih ttp mengejar dengan mata yang lebar dan bibir yang menyeringai lebar dengan wajah yang dipenuhi dengan darah, bahkan darah itu mengalir dari tubuhnya.
Lalu...
.
.
.
.
.
Ting!
Aku segera bergegas masuk lift lalu berkali² memencet tombol segera tutup lift, aku panik, panik menyerangku saat ini, aku melihat sosok itu tambah cepat dann...
(pintu tertutup)
" Huffttt.. 😪." Aku membuang nafas lega karna sosok itu sudah tak mengikutiku lagi.
" Akhirnya.." Aku ngos ngosan, aku masih blm bisa tenang karna aku berfikir.. bagaimana aku kembali ke kelas nya? astaga, bagaimana jika sosok itu mengikutiku saat aku akan kembali ke kelas?, batinku.
Aku tenang disana menunggu lift berhenti di tujuan yang aku tuju namun...
Seketika bulu kuduk ku meremang, aku melirik sedikit ke arah blkng dan..
aku melihat seseorang berdiri tegak dibelakangku, aku.. aku.. aku..
Aku menoleh ke arah belakang, melihat seseorang yang berdiri itu lalu..
Wajah nya seketika menyeringai, melotot ke arahku, lalu seketika dia..!!
.
.
.
.
.
" Cecil, kamu udh bangun?"
Seketika aku langsung terbangun dengan keringat yang bercucuran. Diwajah ku kini terasa basah karna keringat, seketika aku menjadi panas,
" Nadin? Nad, aku ada dimana? tadi jls jls aku sedang bersama sarah, setelah itu.. setelah itu.. setelah itu aku dikejar sesuatu, knp skrng aku bangun bangun sudah ada disini? apa yg sbnrnya terjadi?" ocehku pada tmnku. Namanya Nadin, dia bestie ku dia cantik dan tidak pilih² dalam berteman. Aku suka padanya.
" Tenang Cecil, kamu skrng ada di Rumah ku, kamu tadi pingsan makanya aku bawa ke rumahku." jelas Nadin.
" Hah? pingsan? aku pingsan dimana Nad?" ucapku terkejud.
" Kamu tadi pingsan di.."
Nadin pun menjelaskan apa yang terjadi. Dan aku langsung paham dengan apa yang terjadi pada diriku sndiri.
" Makasih ya Nad, t-tapi.. A-aku langsung pulang aja ya? bisa anter aku ga? jm brp skrng Nad?" tanya ku pada bestie ku.
" Iya bisa Ce, kalo jam, skrng jam.. udh sore jm 5 an Ce." ucap Nadia sambil siap siap untuk mengantar Cecil.
" Ayo pulang, tapi kamu gapapa kan? apa masih pusing? perlu aku bawa ke rs gak?" , " nggak kok Nad, gapapa ga perlu, ortu ku pasti cari aku."
***
Cecil buru buru pulang karna dirinya melihat banyak makhluk dirumah itu dan.. yeah! Cecil takut dan ia pun pulang diantar Nadin.
Entah knp saat dia berada dirumah, hawanya tuh.. bnr bnr nyaman banget, dia juga tidak melihat makhluk apapun dirumah itu tidak takut sama sekali dan kini ia juga memiliki adik cowo namanya rendra, dia baru berumur 2 tahun.
***
" Yah, aku blh cerita sesuatu gak? blh kan? blh ya? hehe." ucapku pada ayah, dan mumpung kami sedang berkumpul, ada ibuku ayahku adikku dan aku, kami sedanh berkumpul di ruang keluarga.
" Boleh, cerita apa ce? kamu mau cerita tntng cowo ya? hayooo, anak ayah sekarang udh pacaran nihh." Ejek ayah padaku, ya.. aku malu lah, tapi bukan itu yang ingin aku ceritakan pada ayah saat ini.
" Bukan ihh yahh~, aku bukan cerita tntng cowo, tapi hal lain, lebih penting dari cowo." ucapku.
" Terus?" ucap ibuku.
" Gini, yah, bu, entah knp sejak kecil aku selalu bisa liat hal hal yang berbau ghoib, aku bisa melihat makhluk yah, dan berkali² aku mimpi yang akan menjadi nyata. Contoh nih, kapan gitu aku pernah mimpi kalau seseorang bakalan meninggal, ayah tau kan tetangga kita di perumahan sebelah itu, dia meninggal kan? namun itu bukan kebetulan atau apa, tapi.. menurutku kenyataan yang menyeramkan bagiku, lalu aku harus apa yah? aku ga ingin kayak gini terus yah bu, aku ingin kayak anak anak normal biasanya, aku takut.. aku selalu takut ketika aku melihat hal itu yah." aku pun cerita ke orang tua ku mengenai diriku, aku tak ingin menyimpan sesuatu yang seharusnya aku bilang pada mereka berdua.
Ibu dan ayah ku diam, mereka melihat satu sama lain, lalu ayahku bertanya, " Terus gmn penglihatanmu tntng rumah ini?" Ayahku membuka suara agar tidak hening.
" Aku suka melihat rumah ini yah, rumah ini tenang bukan seperti rumah² yang lain, aku tidak melihat apa apa saat pulang di rumah ini, dan kalian tau? knp aku pulang sore? karna aku pingsan lalu aku dibawa ke rumah Nadin, rumahnya juga dekat dari sekolah, makanya aku dibawa kesana."
Aku menceritakan semuanya tntng penglihatanku pada mereka berdua dan akhirnya aku dibawa ke masjid dekat sana, kebetulan ayahku juga kenal dengan ustadz itu.
Aku dibersihkan disana, aku dimandikan dengan bunga bunga yang ada, dan yang pasti bukan bunga mawar 7 rupa, setauku. Lalu setelah dimandikan aku di doakan sama ustadz itu, entah doa apa yang dia berikan padaku, lalu tangan ustadz itu memegang kepalaku dengan mata terpejam lalu tangan itu turun kebawah dan..
Yeahhh!! Aku...
pingsan!
Aku terbangun, ketika aku bangun aku masih di masjid itu, lalu aku di beri minum.
" Bagaimana nak Cecil? apa nak cecil sudah baikan?" Tanya ustadz itu padaku.
" S-sudah." Aku menunduk tak berani menatap mata ustadz itu.
Aku melihat ke arah depan, di sekeliling maajid itu ada berbagai pohon yang sedikit rindang, dan.. aku tidak melihat apa apa disana, biasanya aku melihat makhluk² yang mengerikan namun entah knp saat ini aku tak melihat apa apa.
Aku senang, akhirnya apa yang aku inginkan tercapai, aku pun.. hidup normal seperti anak biasanya, namun hal hal yang masih ada saat ini adalah mimpi dan dengar!
Setiap aku mimpi, mimpi itu akan menjadi nyata di duniaku, dan mengenai pendengaran, pendengaran ku kini menjadi tajam, bahkan aku bisa mendengar suara² makhluk itu membisikkan sesuatu padaku namun aku sudah tidak memperdulikannya lagi.
TAMAT!