Pagi itu langit tampak mendung, mungkin akan turun hujan. Tepat pukul 07:15 aku sudah tiba di kampus. Aku memang selalu berangkat pagi, karena jarak rumahku dengan kampus cukup jauh.
Tiba-tiba, buku yang ku pegang terkena beberapa tetesan air, ku tatap langit yang masih mendung, dan ternyata tetesan air tadi adalah rintikkan air hujan. Ku percepat langkahku menuju ruang kelas. Hanya ada beberapa mahasiswa dan mahasiswi yang berlalu lalang di koridor yang ku lewati.
Aku duduk di meja barisan pertama. Sambil menunggu teman-temanku datang, ku buka buku-ku dan ku pelajari kembali materi yang sudah disampaikan dosen kemarin. Karena keasyikan membaca materi, aku tidak menyadari bahwa sudah ada beberapa temanku yang datang.
"Assalamu’alaikum, Salma." Ucap salam salah satu temanku padaku, lebih tepatnya dia adalah sahabatku. Namanya Zoya, aku mengenalnya waktu OSPEK di kampus. Kami sama-sama mengambil jurusan farmasi.
"Wa’alaikumsalam." Ku jawab salamnya.
"Baru dateng, Zoy?" Lanjutku sembari bertanya padanya.
"Iya, baru aja." Jawabnya.
"Kehujanan enggak tadi waktu berangkat?" Tanyaku lagi.
"Iya, apalagi pas di persimpangan deket cafe florida hujannya udah mulai deras. Untungnya aku berangkat naik mobil tadi, hehe." Jawab Zoya sambil tertawa.
"Dianter?" Tanyaku lagi.
"Enggak, aku berangkat sendiri tadi." Balas Zoya.
Aku hanya mengangguk setelah mendengar jawabannya.
Kemudian Zoya duduk di meja sampingku. Kami mulai sibuk dengan pikiran sendiri. Beberapa temanku ada yang sedang mengobrol di belakang. Entah apa yang dibicarakan mereka. Aku sama sekali tak ingin tahu.
Setelah itu, ada dua mahasiswa masuk ke ruang kelas, dia adalah Jafar si ketua dan Hanif si penanggung jawab di kelas kami.
"Assalamu'alaikum, semua." Ucap salam mereka berdua.
"Wa'alaikumsalam." Jawab kami bersamaan.
"Hari ini Bu Dosen izin nggak hadir karena anaknya lagi sakit." Kata Hanif memberitahu teman-teman sekelas kami.
"Terus kita dapet tugas apa hari ini?" Tanya salah satu temanku.
"Nggak ada tugas, tadi Bu Mita cuma nitip pesen. Buat yang tugasnya belum selesai, diharapkan hari ini segera menyelesaikan tugas dan dikirim ke email beliau." Kata Hanif menjelaskan pesan dari Bu Mita, dosen kami yang hari ini izin tidak mengajar.
"Kalo yang tugasnya udah selesai, disuruh ngapain nih?" Tanya Zoya.
"Nah, buat yang udah nyelesain semua tugas-tugasnya boleh ke perpus, kalo mau ke cafe kampus juga boleh." Jawab Hanif.
"Kalo pulang boleh nggak?" Tanya temanku yang duduk di meja paling belakang, namanya Rara, si ratu gosip, hehe.
"Kalo pulang nggak boleh, harus nunggu jam matkul Bu Mita selesai baru boleh pulang." Kali ini yang menjawab Jafar yang sedari tadi diam saja.
"Ck, ya deh." Decak sebal Rara yang tak setuju dengan jawaban Jafar.
"Udah nggak ada yang ditanyain kan?" Tanya Jafar pada kami.
"Nggak." Jawab teman-temanku kompak.
"Ya udah, inget buat yang tugasnya belum selesai, cepet diselesain!" Sahut Jafar.
"Iya." Jawab teman-temanku.
"Makasih informasinya ya Jafar, Hanif." Lalu kuucapkan terimakasih pada Jafar dan Hanif yang selalu memberi informasi pada kami, ya memang itu sudah tugas mereka sih.
"Iya, sama-sama Salma." Kata Jafar.
"Itu kan emang tugas kami, kalo gitu aku sama Jafar keluar dulu, bay." Lanjut Hanif yang kemudian berlalu keluar bersama dengan Jafar.
"Temenin aku ke perpus balikin buku yuk, Sal." Ajak Zoya yang sudah membawa tas dan buku-bukunya siap untuk ke perpus.
"Eh, iya sebentar." Balasku sambil membereskan buku dan mengambil tas.
Lalu, kami berjalan melewati koridor yang sudah ramai. Disepanjang perjalanan kami saling berbincang-bincang.
Sampai tibalah kami di ruangan bernuansa putih bergradasi biru langit. Ruangan yang sunyi tapi damai. Saat Zoya mengembalikan buku, aku berjalan mendekati rak ketiga untuk sekedar melihat buku, siapa tau ada yang menarik untuk dibaca sekaligus menambah wawasan.
Akhirnya kutemukan salah satu buku berisi informasi obat-obatan, karena aku anak farmasi, jadi aku memutuskan untuk meminjam buku itu saja, lumayan untuk menambah ilmu.
Setelah mengurus peminjaman buku, aku menghampiri Zoya yang sedang duduk di kursi yang sudah disediakan di ruang perpus.
"Udah selesai, Zoya?" Tanyaku padanya.
"Udah, kamu habis pinjam buku?" Jawabnya sambil bertanya dengan menunjuk buku yang ku bawa.
"Iya." Jawabku singkat.
"Ke cafe yuk, ada yang mau aku ceritain nih, hehe." Ajaknya sambil menunjukkan deretan gigi putihnya, mirip seperti tersenyum pepsodent.
"Oke." Balasku.
Kami keluar dari perpus menuju ke cafe yang ada di kampus. Setelah tiba disana, kami memilih tempat duduk di meja paling belakang, karena suasana disana cukup sepi.
"Kamu pesen apa? Biar aku yang pesenin sekalian." Tanya Zoya padaku.
"French fries sama es kelapa aja." Kataku mengatakan pesanan.
"Oke tunggu bentar ya!" Katanya kemudian berlalu memesan makanan kami.
Tanpa menunggu lama dia sudah membawa nampan berisi French fries, Spageti, dan dua es kelapa.
Kami langsung memakan menu itu.
"Mau cerita apa, Zoya?" Tanyaku pada Zoya.
"Emmm, jadi gini. Kamu tau kan kemarin aku jalan sama mahasiswa kedokteran itu?" Tanyanya padaku.
"Oh yang kemarin, Iya aku tau tapi nggak sempet lihat wajahnya. Emang dia siapa?" Jawabku.
"Namanya Zanendra dari jurusan kedokteran, dia masuk kampus ini jalur SNMPTN prestasi tahfidz. Dia juga dapet beasiswa dari kampus." Kata Zoya sedikit menjelaskan mahasiswa kedokteran yang dia maksud itu.
Ku tatap Zoya dengan serius, dan dapat terlihat dari sorot matanya kalau ada sesuatu yang disembunyikannya.
"Kamu suka sama dia?" Tanyaku pada Zoya.
"Eh…, em…, gimana ya…." Jawabnya kelabakan sekaligus terkejut dengan opini ku.
"Jadi?" Tanyaku lagi.
"Mungkin sih." Jawabnya pelan.
"Sejak kapan kamu kenal dia? Dan sejak kapan kamu suka sama dia?" Tanyaku penasaran.
"Jadi gini, dulu Zanendra teman SMP ku. Dia dibesarkan di panti asuhan. Aku juga pernah diajaknya menemui ibu panti, orangnya ramah dan sangat baik sekali. Aku dan Zanendra berteman baik, layaknya seperti sahabat. Kami selalu mengerjakan tugas bersama. Dia juga yang mengajari ku beberapa ilmu agama yang tak ku ketahui. Tapi, waktu masuk SMA dia pindah ke asrama. Selama tiga tahun juga kami tak berkomunikasi." Jawab Zoya mulai menjelaskan.
"Lalu, seminggu setelah OSPEK, aku melihat sosok laki-laki yang begitu sederhana. Wajahnya begitu manis, dan mirip dengan seseorang yang kurindukan selama ini, kayaknya dia adalah Zanendra. Sosok mahasiswa sholeh yang selalu sabar mengajari ku ilmu agama, maupun cara membaca Al-Qur'an yang benar beberapa tahun lalu. Setelah masuk kelas, aku terus saja melamun, memikirkan apakah sosok mahasiswa tadi benar Zanendra atau bukan. Sampai akhirnya aku memberanikan diri bertanya pada salah satu mahasiswa kedokteran, kebetulan dia satu kelas dengan sosok mahasiswa sholeh tadi. Aku bertanya apakah ada mahasiswa bernama Zanendra dengan ciri-ciri yang ku sebutkan. Mahasiswi itu menjawab, iya ada temannya yang bernama Zanendra. Aku juga meminta tolong sama mahasiswi itu untuk mengatakan pada Zanendra bahwa aku ingin bertemu dengannya di masjid kampus. Aku rela absen matkul supaya bisa bertemu dengannya." Lanjutnya.
"Sampai akhirnya, ku lihat sosok mahasiswa sholeh, ya dia adalah Zanendra, dia berjalan ke arah ku. Disana hanya ada aku dan beberapa dosen saja. Dia sudah berdiri beberapa langkah di depanku.
'Kamu Zanendra?' Tanyaku padanya.
'Iya dengan siapa ya?' Jawabnya.
'Aku Zoya, kamu masih inget?' Kataku padanya.
Setelah mengingat-ingat, dia pun mengatakan.
'MasyaAllah jadi kamu Zoya, wah kita satu kampus ternyata.' Katanya.
Akhirnya kami berjalan-jalan ke taman kampus sambil berbincang-bincang." Zoya juga mengatakan bagaimana usahanya menemui Zanendra, mahasiswa yang katanya sangat sholeh.
"Sekarang dia sudah jadi lulusan pondok, masyallah Zanendra tambah sholeh loh, sudah hafal 30 juz Al-Qur'an lagi. Apalagi sudah sejak kecil, Zanendra di didik ibu panti dengan penuh ajaran agama Islam, dan menjadi lelaki sholeh idaman para wanita." Lanjutnya, dan aku masih menyimak ceritanya.
"Kalau dikatakan suka, entahlah aku juga bingung. Kalaupun memang aku menyukainya, aku nggak pantas jadi pendampingnya." Kata Zoya dengan sendu. Dapat kulihat butiran air mata membasahi pipinya.
"Kenapa kamu bisa bicara seperti itu?" Tanyaku pada Zoya.
"Dia lelaki sholeh, yang paham akan ilmu agama, apalagi dia lulusan ponpes. Dibandingkan dengan aku yang nggak ada apa-apanya, masih belum sepenuhnya paham ilmu agama. Jadi nggak pantas, Salma." Jawabnya sambil tersedu-sedu.
"Berawal dari aku mengaguminya, lalu menyukainya, dan berakhir ingin memilikinya. Namun itu semua mustahil." Gumamnya pelan, namun aku dapat mendengar dengan begitu jelas. Terdengar seperti petuah apa yang baru saja diucapkan oleh Zoya itu.
"Apa yang mustahil? Ingat ya Zoya, kalo emang kalian berjodoh pasti akan disatukan oleh Allah. Kalaupun enggak berjodoh, pasti Allah memiliki rencana yang jauh lebih baik dari apa yang kita harapkan." Kataku sambil menasihatinya.
"Iya, terimakasih banyak Salma kamu udah mau dengerin cerita aku. Makasih juga nasihatnya." Katanya sambil memelukku.
"Iya, sama-sama. Kita kan sahabat, apa sih yang nggak buat kamu." Kataku berusaha menghibur Zoya.
Lalu dia duduk kembali. Tak lama terdengar suara…
BRUKKK
"Astagfirullah, itu ada apa, ayo kita keluar lihat dulu." Kata ku mengajak Zoya mencari sumber suara.
Letak cafe kampus memang dekat dengan gerbang, jadi masih bisa terdengar suara-suara orang berlalu lalang.
"Ini ada apa ya?" Tanya Zoya pada salah satu mahasiswa yang sedang mengerumuni seseorang.
"Itu ada yang tertabrak mobil dosen. Kepalanya terbentur dan mengalami pendarahan cukup parah katanya." Kata mahasiswa itu.
Sontak, setelah mendengar jawabannya, aku dan Zoya ikut melihat, siapa yang tertabrak.
Dan ternyata…
"Zanendra…." Gumam Zoya pelan sembari menahan tangisnya.
Aku yang belum pernah melihat sosok yang dimaksud Zoya pun bertanya.
"Jadi ini yang namanya Zanendra, Zoy?" Tanyaku pelan.
Terlihat Zoya mengangguk perlahan.
"Innalillahi wainnailaihi raji'un. Ternyata Allah lebih menyayangi saudara kita. Semoga adik ini husnul khotimah, Aamiin." Ucap pak satpam mengecek nadi sosok mahasiswa sholeh, bernama Zanendra itu.
"Mak… maksud… maksudnya pak?" Tanya Zoya yang kurang paham.
"Benturan dikepalanya cukup keras. Dia mengalami pendarahan yang parah. Benar kata pak satpam, Allah lebih menyayangi teman kita, Do'akan saja, semoga Zanendra sudah tenang disana." Jelas salah satu mahasiswa jurusan kedokteran setelah mengecek kondisi Zanendra.
"Innalillahi wainnailaihi raji'un." Ucap seluruh mahasiswa dan mahasiswi yang ada disana, termasuk aku dan Zoya.
Zanendra langsung dibawa kerumah sakit, Zoya, aku, Pak dosen, dan mahasiswa tadi ikut ke dalam mobil ambulans.
Zoya langsung menagis dipelukanku. Aku berusaha menenangkannya.
"Sabar Zoya, ini sudah takdir. Kamu harus ikhlas biar Zanendra tenang disana." Kataku pada Zoya.
"Saya minta maaf, tadi sudah saya klakson berkali-kali. Sepertinya nak Zanendra sedang melamun tadi. Dan akhirnya…." Lanjut Pak Dosen meminta maaf tapi tak sanggup menyelesaikan ucapannya.
"Tidak apa-apa pak, ini semua kehendak Allah. Mungkin emang takdir Zanendra harus seperti ini, Pak." Kata mahasiswa tadi menenangkan Pak Dosen yang merasa amat bersalah.
Ku lihat Zoya diam saja, ternyata dia pingsan.
.
.
.
Tamat✨
.
Takdir memang tak ada yang tahu. Bisa jadi, besok kita juga di panggil Allah. Maka, segera perbaiki ibadah kalian. Lakukan hal bermanfaat dan jauhi larangan Allah.🤗
.
Sekian cerpen kali ini, maaf masih banyak kesalahan dan typo.😊
.
Jangan lupa like, comment, dan share!😉
.
@Ad_