Ah malam ini aku mabuk lagi, ditengah hiruk pikuk kota Tokyo nan besar ini siapa yang akan peduli dengan satu orang yang depresi dan tertekan seperti diriku, aku ingin membunuh seseorang untuk melampiaskan rasa tertekan ini.
Aku benci akan dunia ini, aku selalu berfikir mengapa aku terlahir dan dilahirkan ke dunia ini, mengapa aku hanya terlahir untuk menderita dan menjadi seorang antagonis, dimalam dingin, gelap, nan sepi aku memeluk sebuah pisau metal yang mengkilap, cahaya bulan bersinar membuat genangan merah bercahaya, kebahagiaan yang tidak ada tandingannya tawaku mengiringi indah malam.
Saat ku mulai sadar, aku mendapati seseorang telah mati, saat itu aku berfikir apa yang telah terjadi apa aku telah membunuh nya?, kepalaku mulai terasa sakit dan aku mulai berlari pergi, meninggalkan tubuh hancur di sebuah persimpangan jalan, keesokan harinya mayat itu menjadi berita hangat di tv, aku mulai ketakutan dan memikirkan hal itu sepanjang malam.
Setelah malam itu aku menjalani hari bagai tidak terjadi apa-apa, pagi yang sibuk, siang yang panas, dan ahkirya senja yang memanjakan ditemani sebuah minuman yang memabukkan, setelah lima belas botol aku mulai mabuk, " aku ingin membunuh seseorang ", dengan mabuk dan kesadaran menurun aku melewati sebuah jembatan gelap nan sepi, lalu aku bertemu mereka dua orang yang tengah berciuman mesra di atas jembatan kayu " ahkk,,, aku merasa muak melihat dua orang yang saling bercinta di tempat umum " pisau metal aku keluarkan dari dalam tas kulit bewarna krem, tanpa ragu aku menancapkan pisau pada tangan sang wanita, ia berteriak.
Aku bahagia dan tertawa di tengah teriakan nya, sang lelaki bersikap seolah-olah melindungi sang wanita dan aku bertambah muak, " ahkk laki-laki yang sok kuat mati saja sana, " aku menusukkan pisau pada bahu kanan nya dan mulai menjatuhkan nya , lalu ku tusuk bagian tubuhnya sebanyak 25 kali, angka itu melambangkan usia ku, mendengar teriakan sang pria, si wanita pun kabur dan mulai berlari terbirit-birit melihat pasangan nya mati di depan mata, darah mulai mengalir membasahi jembatan, aku mengoleskan darahnya pada pegangan jembatan ' jembatan merah ' adalah nama yang aku berikan.
Tanpa ragu aku mendekati dan mengejar sang wanita yang kini tengah berlari kencang sembari menjerit meminta pertolongan, " tertangkap!. Jangan coba-coba lari melaporkan ku,,, " aku menjambak rambutnya dan mulai menariknya ke sebuah tempat sepi di tepi sungai, hanya ada tiang lampu jalanan dan sebuah kursi kayu tua di sana, aku mulai memotong jarinya, menusuk wajahnya, mengoyak perutnya dan akhirnya dia mati dengan tragis, darah mulai mengalir turun menuju sungai.
Aku pun tersadar, mengapa aku selalu tersadar setelah membunuh seseorang, apa aku terkena sebuah penyakit mental?, apa aku telah menjadi gila!?, Aku mulai menangis meratapi Korban yang terpapar penuh darah, cahaya bulan yang bersinar kembali membuat genangan merah bersinar, aku terduduk diam disana di kursi kayu tua, setelah beberapa saat aku mulai pergi meninggalkan tempat kejadian, sampai di rumah aku mulai mandi dan membersihkan semua darah yang mengotori tubuhku, tadi ada pula tetangga yang bertanya apa yang terjadi padaku, dan aku hanya berkata ada seekor anjing yang melompat dari balkon dan darahnya menciprat ke arahku. Dengan wajah syok aku mulai menghadap kaca, dan aku mulai bertanya pada diriku sendiri kenapa aku membunuh mereka, setelah saat itu aku mulai ketakutan dan menyembunyikan diri dibalik bayangan kota.
Aku mulai berfikir apa aku harus menyerahkan diri atau terus lari, ditengah kebimbangan ini aku kembali minum hingga mabuk, dan aku berjalan, berjalan menuju tempat yang sepi dan gelap, kali ini, aku mengetuk sebuah pintu rumah, terdapat beberapa orang di dalam nya, dengan kesadaran yang menurun dan terus menurun aku mulai mengigau, " aku ingin korban aku ingin membunuh seseorang " jelas saja mereka ketakutan, pisau metal mulai ku keluarkan dari tas krem, " jadilah pelampiasan ku " aku menyerang sang laki-laki yang merupakan kepala keluarga, aku mengoyak kedua matanya dan hal itu mulai membuat nya jatuh, semua orang mulai berteriak dan berlarian, salah seorang dari mereka adalah seorang anak laki laki yang hanya diam meratapi matinya sang ayah.
Mendengar salah seorang dari mereka memegang gagang telefon rumah aku mulai panik dan berlari ke arahnya, tanpa ragu aku mengoyak lehernya, darah menyiprat bagai butiran air hujan, dan aku tertawa, aku mulai mencari korban lainnya, tanpa ragu aku membantai satu buah keluarga, setelah itu aku tersadar dan duduk terdiam meratapi apa yang aku lakukan, saat sadar ada seseorang yang datang aku mulai berlari, berlari pergi meninggalkan rumah itu, aku kembali pulang ke rumah ku yang sepi bagai warna abu abu, aku mulai berfikir apa perlu ku laporkan pada polisi.
Tapi hati ku mengatakan jangan laporkan, aku merasa sangat frustasi dan bimbang, saat ini aku telah menjadi seorang pembunuh yang kejam, apa yang sekarang harus aku lakukan, aku memikirkan kejadian itu sepanjang hari, hingga bos pun memarahi ku karna pekerjaan ku tidak benar.
Malamnya aku melintas di jalan sepi nan gelap, disana terdapat seorang laki-laki yang tengah dirampok, tanpa ragu aku berlari ke arahnya dan mulai mengeluarkan pisau metal dari tas krem ku, tanganku bagai bergerak mengikuti insting ku, tanpa ragu aku menusuk salah seorang preman dari belakang, dan yang lain mulai ketakutan, mereka berlari menjauh dariku, dan aku berkata pada sang laki-laki " semua telah aman jangan takut lagi " ia pun berdiri dan mengucapkan terimakasih kepadaku, dengan tangan bergetar aku pergi dari sana, dan aku kembali bertemu dengan sisa preman yang berlari tadi, bagaimana, bagaiman ini apa yang harus aku lakukan, aku bingung dan panik, lalu laki-laki tadi datang dan memberiku sebuah minuman memabukkan, tanpa ragu aku meminumnya, dan seketika kesadaran ku berkurang, kepalaku pusing, " aku ingin membunuh seseorang " aku berlari ke arah para preman itu dan membantai mereka dengan kejam, pria itu nampak tercengang, matanya terbelalak melihat ku yang dengan berani membunuh mereka tanpa ampun.
Aku pun tersadar, dan ia tersenyum kepadaku, " a-apa aku yang membunuh mereka? " Aku ketakutan seluruh tubuhku gemetar, " apa aku membunuh orang lagi?, Apa kau akan melaporkan ku?, " Ia menggelengkan kepala tanpa mengatakan apapun.
" Sebenarnya selama ini aku telah melihat mu membunuh mereka semua saat mabuk, dan bila aku melaporkan mu sama saja aku akan membunuh mu " apa maksudnya, apa berarti ia melihat diriku yang mabuk membunuh mereka semua, jelaskan apa yang sebenarnya terjadi kepadaku, aku serasa ingin mati, " jadi apa artinya ini adalah rahasia kita? " Tanyaku kepadanya, " ya ini rahasia kita,,, ".
" Bila aku boleh memberi saran lebih baik bunuh mereka secara lebih halus agar tidak ada satupun orang yang menyangka mereka mati di bunuh olehmu " apa maksudnya apa ia memberiku saran, mengapa?, " Mengapa kamu memberiku saran mengerikan ini? " Tanyaku dengan wajah penuh tanda tanya, " karena aku sama seperti mu, setiap tidur dengan depresi aku akan membunuh seseorang, jadi kita sama, mari berteman, dan sembunyikan hal ini untuk selamanya ".
Tamat