Seorang anak panti asuhan yang tidak memiliki apa-apa kecuali nama. Penampilan lusuh. Tidak di sukai banyak orang. Bahkan orang yang menampungku di panti asuhan pun tidak sanggup berdekatan denganku.
Semua orang bilang, aku adalah anak paling sial di dunia ini. Aku anak pembawa sial. Anak yang tidak pantas hidup di dunia ini.
Aku tidak peduli dengan mereka yang membenciku. Setidaknya, aku masih memiliki beberapa temanku. Hanya aku yang bisa melihat mereka. Setiap kali aku berbincang dengan mereka, teman-teman panti asuhan ku selalu mengataiku orang gila.
***
"Wah, kamu terlihat lebih rapih!" Puji seorang wanita paruh baya. Dia yang menampungku di panti asuhan ini.
Walau membenciku, dia tetap merawatku dengan memberikanku makan dan minum. Untuk baju, aku hanya menggunakan baju bekasan milik teman panti asuhan ku.
Aku berpamitan kepada pengasuhku sebelum berangkat ke sekolah.
Salah satu 'temanku' mengikutiku kesekolah untuk menjagaku. Aku tidak mengharapkannya ikut, tetapi dia bersikeras..
***
"GUYS!! ANAK CACAT SUDAH BERANGKAT!!!!"
Suara gaduh dari kelasku. Membuat telingaku sakit. Mereka melempari ku dengan barang yang mereka miliki. Aku sudah biasa dengan semua sapaan dari mereka ini.
***
#KRIINGG!!! KRING!!!
Bel sekolah berbunyi mendadak. Pak kepala sekolah memerintahkan para siswa yang ada untuk berkumpul di lapangan. Pelajaran para siswa menjadi terganggu.
Semua siswa dan guru sudah berkumpul. Pak Kepala sekolah mulai menjelaskan, alasan dia mengumpulkan semua orang yang ada di sekolah ini.
Dia mengumumkan. Bahwa ada 2 anak dari kelasku, di temukan tidak bernyawa di toilet guru. Terdapat tusukan pisau di beberapa bagian tubuh mereka. Di sangka, mereka berdua sudah di bunuh oleh seseorang.
Belum di pastikan, apakah itu orang luar, atau orang sekolah ini.
Pak kepala sekolah menyuruh kami untuk berhati-hati saat melakukan suatu kegiatan pribadi di sekolah ini. Sekolah akan di tutup lebih awal dari biasanya. Para guru mau tidak mau, harus membawa pekerjaan mereka ke rumah.
Semua siswa dan guru di bubarkan. Banyak siswa yang mulai panik akan keadaan ini. Ada juga yang bersemangat, ingin menjadi detektif dari kasus mengerikan ini.
***
Sekolah telah usai.
Banyak siswi yang berkerumun di satu tempat. Ini biasa terjadi di kelasku setiap jam pulang sekolah.
Ya, mereka mengerumuni seorang anak lelaki populer di sekolah ini. Anak paling sempurna. Yang di anggap, paling bahagia di dunia ini.
Aku iri dengannya. Andai aku di lahirkan kembali, aku ingin menjadi orang seperti dirinya.
***
Aku barusaja menyelesaikan tugas piket. Anak² kelompok piketku pulang lebih awal, dan tidak melaksanakan tugasnya. Meninggalkan ku sendirian di sini.
Aku mengemasi tasku. Dan meninggalkan sekolah.
Sudah 5 langkah ku ambil setelah keluar melalui gerbang sekolah. Aku teringat akan buku tugasku yang tertinggal.
Jika aku membiarkannya, aku akan di tertawakan. Dan semakin menjadi bahan ejekan oleh teman sekelasku.
***
Ini sudah jamnya sekolah untuk tutup. Satpam sudah menutup gerbang sekolah. Aku memutuskan untuk memanjat lewat pagar belakang sekolah.
Baru mengambil beberapa langkah kaki. Tanpa sengaja, aku melihat sesuatu yang bergerak dengan sangat cepat.
Aku penasaran, tetapi aku tidak mempedulikannya. Aku harus cepat-cepat mengambil buku ku dan pulang, takut terjadi apa apa denganku.
***
Aku sudah mengambil buku yang aku cari. Di koridor, aku melihat seorang anak lelaki yang berdiri menatapku terkejut.
Dia adalah anak lelaki yang populer itu. Aku bingung, mengapa dia masih menetap di sekolah ini, dan belum pulang?
Dia berlari menghampiri ku. Aku bingung harus berbuat apa, dan lebih memilih untuk membiarkannya mendekatiku.
Dia meminta tolong padaku.
Salah satu temannya terjebak di UKS sekolah. Aku semakin bingung, apa yang mereka lakukan di UKS pada jam pulang sekolah seperti ini.
Ekspresinya terlihat sangat memohon. Aku merasa iba, terpaksa aku menolongnya.
***
Di perjalanan menuju UKS. 'Temanku' yang menemaniku ke sekolah. Menghampiri ku dengan ekspresi tidak tenang.
Karna ada teman sekelasku di sampingku, aku tidak mengajak 'temanku' berbicara.
Dia mengatakan suatu kalimat dengan ekspresi tegang.
Setelah mendengar apa yang di ucapkan temanku itu. Tubuhku langsung kaku. Pucat. Nafasku terhenti sejenak.
Dia mengatakan.
Bahwa..
Teman sekelasku, yang kini berada di samping ku ini adalah..
Pelaku dari pembunuhan kedua siswa itu.
Aku tidak percaya.
'Temanku' melihat, kalau anak lelaki ini, barusaja keluar dari UKS. Di sana, terdapat seorang jasad siswa yang barusaja dia bunuh.
Mendengar itu, langkahku langsung terhenti. Kakiku reflek melangkah mundur, menjauh dari siswa lelaki itu.
Siswa lelaki itu menatapku tajam. Bertanya, ada apa denganku. Dia berjalan mendekati ku. Perlahan, dan semakin cepat.
Aku berlari menjauh darinya sekuat tenaga. Dia mengejar ku dengan kemampuan berlarinya yang sangat cepat.
Entah mengapa, setelah berada di depan pintu sekolah, dia berhenti mengejar ku. Dengan memberikanku tatapan yang sangat mematikan.
Aku ngeri, dan langsung berlari pulang tanpa mempedulikan sekitar.
***
Aku kembali ke sekolah. Aku masih terngiang ngiang akan kejadian kemarin, sepulang sekolah. Aku tidak bisa menatap wajah anak lelaki itu selama di sekolah.
Aku sudah tidak tahan lagi. Aku memilih untuk melapor kepada guru kelasku, di ruang guru.
Aku menjelaskannya dengan sangat rinci. Sesuai dengan apa yang aku ketahui, dan apa yang aku alami kemarin.
Guru itu menatapku sinis, tidak percaya. Itu membuatku hanya bisa diam mematung. Terkejut akan reaksinya. Dia mengiyakan apa yang aku jelaskan. Dia menyuruhku untuk kembali ke kelas.
***
Jam pelajaran ke 3. Guru yang ku beritahu soal kejadian kemarin, sudah memasuki kelas. Kelas berjalan seperti biasa.
Hingga tiba-tiba
Guru itu bertanya kepadaku secara terang-terangan. Bertanya, apakah semua yang aku jelaskan itu, benar apa adanya. Dia menanyakan itu dengan suaranya yang keras.
Teman sekelasku mulai menyoroti ku dengan tatapan tajam mereka.
Perasaanku mulai tidak tenang. Ini tidak benar. Seharusnya dia tidak membicarakan ini di depan semua anak anak secara terang-terangan.
Guru itu menjelaskannya semuanya, apa yang aku ceritakan soal kemarin, jam pulang sekolah. Banyak yang meneriaki ku tidak percaya. Memaki, mengomeli ku.
Salah satu siswi belakang ku tiba-tiba angkat suara. Mengatakan, kalau dia melihatku berkeluyuran di sekolah kemarin pada jam pulang sekolah. Dia tidak melihat tanda-tanda keberadaan anak lelaki itu.
Semua anak langsung curiga kepadaku. Curiga bahwa akulah pelaku dari kasus itu, dan bukan si anak lelaki itu. Begitu juga dengan guru, dia hanya menatapku sinis dengan menyeringai puas.
Aku tidak paham dengan semua ini. Mengapa aku? Aku hanya mengatakan kebenaran. Aku tidak salah? Atau aku salah? Apa seharusnya aku tidak menceritakan ini? Dan memendamnya sendiri? Membiarkan psikopat berdarah dingin itu membunuh teman sekelasku?
Apa di dunia ini, aku.. memang benar tidak layak untuk hidup..?
-TAMAT-