MALAPETAKA CINTA
Pagi itu seperti biasa, tiap pagi tukang koran berkeliling di satu perumahan elit dan membawa kabar baru dari kota ini. Salah satu keluarga menjadi pelanggan setianya, mereka dari keluarga Pak Jonathan. Mereka mempunya dua orang putri bernama Anindita Steviani dan Dinar Syahputri.
Asisten rumah tangga yang bertugas mengambil koran itu dari dekat pintu pagar, lalu diletakkan dimeja tempat makan. Sebab Pak Jonathan sembari menunggu seluruh keluarganya berkumpul untuk sarapan, selalu membaca koran itu. Pak Jonathan pun duduk terlebih dahulu di kursi yang biasa di tempatinya, sembari menunggu seperti biasa beliau selalu ditemani sebatang rokok dan kopi hitam pahit di mejanya.
Pak Jonathan membaca koran itu dengan seksama, namun bagi beliau tidak ada yang menarik. Hanya kabar pembunuhan dan bunuh diri yang menjadi pusat perhatian media masa itu, Pak Jonathan kembali melipat koran itu dan meletakkannya di meja. Saat bersamaan anak pertama beliau Anindita Steviani biasa dipanggil Dita pun datang menghampiri.
"Pagi, Pa." Dita menyapa sembari mencium pipi papanya.
"Pagi, sayang. Mana Dinar kok belum turun?" tanya Pak Jonathan.
Dita pun duduk sembari mengedikkan bahunya sebagai jawaban pertanyaan papanya, lalu koran yang sebelumnya diletakkan oleh papanya itu pun diambilnya.
"Ada kabar apa, Pa? Kok nggak biasanya Papa nggak begiu tertarik?" tanya Dita sembari menatap ke arah Pak Jonathan.
Pak Jonathan terlihat menarik napasnya begitu dalam. Dari arah belakang datang dua orang wanita yang juga sangat dicintainya Dinar anak keduanya dan Bu Jesy istri Pak Jonathan.
"Pembunuhan dan bunuh diri semua yang memenuhi seisi koran itu," jawab Pak Jonathan, lalu menyruput kopi yang sedari tadi menemaninya.
Bu Jesy dan Dinar pun ikut duduk bergabung bersama mereka berdua, saat itu juga asisten rumah tangganya Bi Asih menata makanan di hadapan mereka semua. Si Dita membolak-balik koran itu, hingga matanya terbelalak saat membaca satu kasus yang tertera pada koran itu.
Kasus bunuh diri seorang gadis belia seusianya, gadis itu menyayat tangannya hingga darah mengucur dari sana. Tak hanya itu, di koran di jelaskan gadis itu mengakhiri hidupnya dengan gantung diri di dalam kamarnya dengan tangan yang penuh sayatan. Si Dita beranjak dari tempat duduknya sembari membawa koran itu, dia berlari menuju kamarnya tak jauh dari ruang makan.
"Dita, mau ke mana? Kamu nggak sarapan?" tanya Bu Jesy karena melihat tingkah anaknya terlihat panik.
Dita yang sebelumnya berlari pun berhenti seketika kala mendengar pertanyaan mamanya.
"Aku harus segera menemui Andre, Ma. Aku sarapan di kantor saja," ujar Dita sembari melanjutkan jalannya.
Sedangkan di ruang makan terlihat Dinar bingung dengan tingkah kakaknya itu.
"Kenapa Kak Dita? Kelihatan panik banget," ujar Dinar dengan mengernyitkan dahinya.
"Enggak tahu, sudahlah kita sarapan saja. keburu terlambat nanti," sahut Pak Jonathan.
Saat itu Dita bergegas membawa peralatan yang di perlukan untuk bekerja, sembari tak lupa membawa koran tadi yang sudah ia baca. Dia menenteng tas lalu berlari kembali menuju mobil, setelah masuk ke dalam mobil dia bergegas melajukan mobilnya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Matanya terpaku melihat ke arah jalanan, sedangkan tangannya sebelah kiri meraba isi dalam tasnya. Dia mencoba mencari ponselnya, setelah mendapatkan apa yang dicari segera ia mencari satu nomor yang akan di hubunginya.
Tuuuuut!
"Halo, sayang. Ada apa?" ucap seorang pria dari seberang telepon itu.
"Bisa ketemu sebentar nggak?" tanya Dita sembari melirik ke arah jam tangan yang dikenakan.
"Hmm, bisa. Kenapa? Kok terdengar penting banget?" tanya pria tersebut ikut terdengar panik.
"Nanti aku ceritakan, cukup waktunya untuk bicara. Kita ketemu di resto yang biasa, sudah dulu ya. Bye sayang," ujar Dita sembari menutup panggilannya.
Dita pun melajukan mobilnya ke arah restoran yang dituju, tempatnya tak begitu jauh dari rumahnya. Tak perlu memakan waktu yang lama akhirnya dia pun sampai. Dita turun dari mobil lalu berjalan masuk ke restoran itu, tak lupa dia duduk lalu memesan menu sarapan untuk dia.
Dia menunggu pria yang tadi dihubunginya itu sembari menyantap makanan yang sudah dihidangkan oleh pelayan. Dari arah pintu masuk restoran terlihat pria yang begitu ia cintai yaitu Andre yang sedari tadi dihubunginya. Dia melambaikan tangannya ke arah Andre.
Andre dengan langkah sedikit berlari menghampiri ke Dita.
"Kenapa, sayang?" ucap Andre sembari duduk di kursi tepat di depan Dita.
Dita tak menjawabnya, malah menyerahkan koran dan menunjuk ke satu kasus yang pagi tadi telah dia baca. Andre pun membacanya dan dia begitu terkejut dan terperanjat kalau kasus bunuh diri gadis belia yang gantung diri dan terdapat sayatan adalah Airin sahabat baiknya sedari SMA.
"Airin? Semalam dia baru menghubungiku dan meminta maaf karena teror yang ia lakukan ke keluargamu itu," ujar Andre memberitahu Dita.
Dita pun mengangguk.
"Dia juga mengirim pesan singkat ke nomorku, dia menyesal sudah melakukan itu semua. Dia bilang juga malu karena perbuatannya," ujar Dita.
_________________
Dua hari sebelum kejadian ini, Dita dan keluarganya mendapat teror saat Pak Jonathan berada di luar negeri. Awalnya teror itu terjadi ke Dinar dan Keyla sahabatnya saat mereka berdua berada di rumah keluarga Pak Jonathan. Sedangkan Dita dan Mamanya sedang keluar untuk memesan beberapa barang untuk persiapan Dita dan Andre menikah. Teror itu bermula saat Dinar dan Keyla mendapatkan telepon dari seorang perempuan yang marah-marah dan menghujat keluarga Pak Jonathan.
Wanita yang berada di seberang telepon kadang berteriak, tertawa dan menangis seperti orang yang kehilangan akal. Setelah itu mereka berdua memutuskan untuk menutup panggilan itu, secara bersamaan terdengar benturan benda dari arah luar pintu.
"Apa, Key?" tanya Dinar ke temannya.
Mereka berdua memutuskan untuk bergandengan tangan dan berjalan menuju ke arah pintu. Mereka mengintip dari jendela, ternyata ada kotak kayu berada di halaman rumah Pak Jonathan yang sebelumnya tidak ada.
"Kotak kayu?" ujar mereka secara bersamaan sembari saling bertatapan mata.
Dari arah belakang datang Bi Asih menanyakan suara benturan benda itu, sebab terdengar sampai dapur.
"Suara apa, Non?" tanya Bi Asih.
Dinar dan Keyla terperanjat kaget karena terlalu fokus dengan kotak itu sehingga tak menyadari kedatangan Bi Asih. Mereka pun memberitahukan kotak itu ke Bi Asih dan mereka pun memutuskan untuk menghampiri kotak itu, namun ada hal lagi yang membuat terkejut.
Di depan pagar rumahnya tepat dijalanannya ada taburan bunga yang biasa untuk orang meninggal. Dan di tengah-tengah taburan bunga ada foto Dita diletakkan sembari ditindih menggunakan batu, untuk berjaga-jaga agar tidak terbang. Dinar dan Keyla tak berani untuk mengambilnya, sehingga menyuruh Bi Asih. Di foto Dita seperti ada tetesan darah yang masih basah seolah-olah sengaja diberi darah segar untuk menakut-nakuti. tak hanya itu saja, di balik foto itu terdapat tulisan "Mati" menggunakan tinta berwarna merah.
Sontak mereka bertiga celingukkan ke arah jalan, mungkin bisa menemui seseorang yang meneror. Namun tak mendapati siapapun disana, mereka bertiga pun kembali masuk ke dalam rumah sembari membawa kotak kayu itu. Dinar memotret kedua benda tadi lalu di kirim ke kakaknya. Setelah melihat itu, Dita segera menghubungi adiknya.
"Halo, Din. Apa kalian lihat orangnya?" tanya Dita dari seberang telepon.
"Nggak Kak, aku nggak berani bukanya. Kakak cepat pulang, kami takut," suruh Dinar.
Dita pun mengiyakan permintaan adiknya, lalu dia segera pulang. Namun dia sebelum pulang memutuskan untuk menghubungi Andre untuk menemani, Andre pun mengajak Dita untuk pulang bersamaan. Dita pun menjemput Andre dulu di tempat kerjanya.
"Sayang, kita isi bensin dulu sekalian ya," ajak Dita saat sudah menjemput Andre.
"Iya, baiklah," jawab Andre.
Andre melajukan mobil menuju pom bensin terdekat, di sepanjang perjalan mereka saling berbicara, apalagi Dita bercerita tentang yang dialami Dinar di rumah. Andre pun tak habis pikir sehingga ada orang yang begitu jahat punya ide neror orang seperti itu. Tak berselang lama mereka pun sampai di pom bensin, Dita dan mamanya menunggu di dalam mobil. Sedangkan Andre terlihat tengah berbincang dengan seorang perempuan yang menghampirinya. Wanita terlihat tak begitu asing, dia adalah Airin. Andre memperkenalkan Airin ke Bu Jesy, terlihat dari sorot mata Airin terlihat sedih namun mulutnya tersenyum.
Setelah selesai pengisian Andre segera berpamitan ke Airin lalu segera melajukan mobilnya. Deraian air mata jatuh ke pipi Airin saat itu juga. Di beda tempat terlihat mereks bertiga Dinar, Keyla dan Bi Asih menunggu kedatangan Dita dengan rasa harap-harap cemas. Setelah itu dari arah luar terdengar klakson mobil, Bi Asih dengan cepat berlari untuk segera membukakan pintunya. Dinar dan Keyla yang mendengarnya sontak ikut Bi Asih ke depan, terlihat Bu Jesy dan Dita turun dari mobil dan melihat taburan bungan itu.
Dita menggelengkan kepalanya, dia tak habis pikir. yang selama ini dia menganggap tak punya musuh ternyata ada yang terlihat begitu benci terhadapnya. Setelah pintu terbuka Andre segera memarkir mobilnya, lalu menghampiri para wanita itu. Kemudia Andre mengajak mereka semua untuk membuka kotak kayu yang tadi sudah bicarakan.
"Kalian sudah buka kotaknya?" tanya Andre ke Dinar dan Keyla.
Mereka berdua pun hanya mampu menggelengkan kepalanya. Andre pun dengan gerak cepat segera membuka kotak kayu, mereka begitu terkejut kala melihat isinya adalah boneka chucky yang membawa pisau, foto Dita lagi dan beberapa tetes darah di sana. Mereka tak habis pikir terhadap teror yang di lakukan ini.
"Rumah ini ada CCTV?" tanya Andre.
Bu Jesy pun mengiyakan pertanyaan Andre, lalu mengantarnya menuju ruang untuk melihat rekaman CCTV itu. Di rekaman CCTV itu terlihat wanita menggunakan hoodie berwana hitam dan masker. Mula-mula perempuan itu menabur bunga dan meletakkan sesuatu yang mungkin foto Dita tadi, lalu wanita itu kembali ke mobilnya berwarna merah di seberang jalan rumahnya itu. Tak serselang lama wanita itu kembali sembari membawa kotak kayu yang tadi kami sudah buka, lalu melemparkannya ke halaman rumah Pak Jonathan.
"Aku tahu mobil ini, ikut aku," ajak Andre.
Mereka semua kecuali Bi Asih pun segera mengikuti Andre kemudian naik ke dalam mobil dan melajukan ke satu rumah yang menurutnya mempunyai mobil yang ada di rekaman. Sesampainya di sana kita begitu terkejut, bahwa yang mempunyai mobil itu tak lain dan tak bukan adalah Airin sahabat dari Andre.
"Mau apa kalian ke sini?" ujar Airin dengan wajah terlihat panik.
Andre mengambil sesuatu dari dalam mobilnya yaitu boneka chucky yang membawa pisau.
"Maksud kamu apa?" tanya Andre dengan nada tinggi.
Tiba-tiba Airin nangis dan berteriak-teriak.
"Aku selama ini kerja di luar negeri, kamu bilang akan memberiku kejutan saat aku pulang, apa yang aku dengar saat aku sudah berada di sini? Aku mendapatkan kabar kamu sudah tunangan dengan wanita ini," ujar Airin dengan menunjuk ke arah Dita.
"Emang itu kejutan buat kamu, aku kira kamu bakal bahagia. Kenapa kamu malah melakukan hal ini? Aku nggak nyangka ke kamu bisa sejahat ini," ujar Andre tetap dengan nada tinggi.
Si Airin menghampiri Andre memukul-mukul dada Andre namun Andre hanya diam tak menangkisnya.
"Apa kamu tak pernah lihat ketulusan cintaku terhadapmu, dari kita SMA kita sudah berteman dan saat itu juga aku mencintaimu, kamu perhatian, kamu selalu ada, kamu bilang sayang. Tapi nyatanya kamu malah memilih dengan wanita ini," ujar Airin.
"Tapi kan kamu sahabatnya. Kamu berteman baik dengan Andre, aku kira kalian biasa saja," jelas Dita.
"Aku sayang kamu, tapi tak lebih dari seorang sahabat. Bahkan aku menganggap kamu sebagai adikku," ujar Andre sembari memeluk Airin.
Airin meronta melepaskan pelukan Andre lalu dia berlari menuju ke rumahnya.
"Kalian jahat!" teriak Airin lalu berlalu ke dalam rumah.
Sejak saat itu, Andre susah menghubungi Airin. Bahkan saat dia mencoba berkunjung malah hanya menemui Asisten rumah tangganya.
Airin selama ini tinggal hanya bersama Asisten rumah tangganya, Airin berasal dari keluarga broken home. Yang mana ayahnya meninggalkan mereka dan memilih pergi dengan wanita lain, setelah itu berselang satu tahun mamanya pun menikah dengan orang lain namun tak mau jika Airin ikut bersama mamanya. Sehingga Airin selama ini tinggal bersama asisten rumah tangganya, walaupun uang selalu di penuhi kedua orang tuanya namun dia tak mendapatkan kebahagiaan selama ini.
Dia merasa bahagia saat ada Andre datang dalam hidupnya, dia merasa kasih sayang tak di dapat dari orang tuanya ia dapat dari Andre. Dia merasa hidupnya penuh warna, Airin kira Andre memiliki rasa yang sama. Beberapa tahun berlalu, Andre bekerja di perusahaan papanya sedangkan Airin memutuskan untuk bekerja di luar negeri. Empat tahun lamanya dan dua hari lalu dia pulang.
Dia sebelumnya memberikan kabar ke Andre perihal kepulangannya dan Andre bilang bahwa dia akan memberikan kejutan itu. Ternyata kejutan itu membuat dia sakit hati, membuat dia putus asa karena cinta yang selama ini berlabuh untuk Andre hancur di sebabkan kabar Andre dan Dita sudah tunangan dan akan melangsungkan pernikahan.
Airin mengurung diri di kamarnya, selama dua hari itu dia tak makan maupun minum. Dia hanya mampu menangis dan menyakiti diri sendiri dengan menyayatkan pisau ke tangannya. Malam itu sudah larut, dia seakan terbayang-bayang senyuman Andre dan Dita saat mengenakan pakaian pernikahannya. Airin hancur hingga hilang akal sehatnya, dia memutuskan untuk keluar kamar mencari tali tambang yang berada di gudang rumahnya.
Lalu dia kembali ke kamar, mengaitkan tali tambang ke kayu di dekat pintu kamar mandinya. Dia memutuskan untuk mengakhiri hidupnya dengan gantung diri.
Dan kabar bunuh diri Airin pun tersebar di seluruh surat kabar di kota ini, gadis beliau putus asa karena merasa cinta yang dia impikan selama ini tak menjadi kenyataan.
Tamat.