Gemercik air mengalun merdu di malam ini. Langit terlihat teduh dan bintang menjadi payung hiasan. Malam ini, aku melintas di sebuah taman kota mengendarai motor dengan santai. Lampu lampion mini tergantung di sudut rumah makan yang kulewati. Beberapa di antara mereka sedang asik sekali memakan buah anggur yang ranum, dibarengi jus segar pula.
Akan tetapi, tiba-tiba pandanganku menangkap seseorang yang tak asing bagiku di tengah-tengah segerombolan pemuda. Merangkul seorang gadis yang tak asing pula bagiku.
Mereka tengah tertawa ria bersama. Aku ingin mendekat, tapi entah kenapa hati ini menolak. Ada rasa panas tertahan di dadaku.
Aku memutuskan untuk pergi saja, tapi saat hendak menyalakan motor yang tadi sempat kumatikan. Sebuah suara memanggil namaku.
"Rain, tunggu!" Suara teriakannya terdengar ke arahku.
Aku tahu pemilik suara itu siapa, orang yang sedari tadi ingin kuhindari.
Aku menengok ke arahnya dan tak lupa memasang senyuman palsu di bibirku.
"Sini!" pintanya sambil melambaikan tangannya.
Aku segera memarkirkan motor kesayanganku dan tak lupa melepas helm yang terpasang di kepala. Lalu bergegas mendekatinya sambil sesekali merapikan rambutku yang berantakan.
Kulirik gadis itu, posisinya sudah berpindah. Bergabung dengan pemuda yang lain.
"Hai, Rain." Ia tersenyum menyapaku.
Aku memalingkan muka, menatapnya yang tengah tersenyum hangat padaku. Namun ada yang kucari dari manik hitam di bawah rembulan kali ini. Sebuah kebohongan!
"Kok, kalian nongkrong nggak ajak-ajak gue?" tanyaku.
Daffa dan Alda saling berpandangan dalam kebisuan, teman-temannya pun ikut terdiam.
"Kok, diam? Biasanya kalau kalian main, pasti selalu ajak gue. Kita bertiga 'kan sahabat," lanjutku, sedikit menekankan kata 'sahabat'.
Mereka masih terdiam, kemudian Alda angkat bicara. "Sori, Rain. Gue pikir lo lagi sibuk. Elo 'kan sekarang lagi bantuin usaha bokap lo. Jadi gue sengaja nggak hubungi elo karena kita takut mengganggu pekerjaan lo."
Mulutku membulat membentuk huruf 'O'. Pandanganku beralih dari tatapan sebelumnya. Mengamati mereka dari ujung mata. Aku ingin acuh hari ini, tak mempermasalahkan apa yang baru saja kulihat.
"Oh, iya. Lo mau ke mana malam-malam begini?" tanya Daffa memecah kesunyian kembali.
"Gue mau pulang dulu, ya. Nyokap gue pasti udah nungguin di rumah." Aku menyunggingkan seulas senyum, langsung melangkah ke tempat parkiran tanpa menunggu jawaban mereka. Meskipun hati ini rasanya teriris seperti luka yang digarami.
Setelah sampai di rumah. Aku membanting pintu kamar dengan keras, lalu menghempaskan diri di kasur empuk milikku. Kuraih boneka minion yang terletak di dekat bantal, lalu memeluknya dengan erat.
Tak terasa air mata mengalir membasahi pipiku. Sakit rasanya melihat orang yang kita sukai, menyukai sahabat kita sendiri.
Tuhan, mengapa jatuh cinta sesakit ini? Jika cinta adalah kebahagiaan. Mengapa banyak orang yang menderita karena cinta. Aku tidak bisa merelakan orang yang kusukai bersama orang lain. Tetapi ... aku juga tidak ingin kehilangan sahabatku. Aku harus apa?
~~~~Tiba-tiba suara mama memanggilku dari bawah.
"Rain, ada Daffa, tuh," teriaknya.
Daffa? Pikirku. Untuk apa Daffa menyusulku ke rumah? Aku segera mengusap sisa-sisa air mata yang masih basah di pipiku.
Saat menuruni tangga, kulihat Daffa sedang menungguku di sofa. Ia segera bangun dari duduknya begitu tahu aku datang.
"Daf, ada apa lo ke sini?" tanyaku. Sial, suaraku sedikit serak akibat nangis.
Daffa mengernyitkan keningnya. "Lo habis nangis?" tanyanya yang menyadari bahwa suaraku serak dengan mata sedikit bengkak dan merah.
Aku memalingkan muka. Mencoba untuk menyembunyikan kesedihanku.
"Gue nggak apa-apa, kok ... Ngomong-ngomong elo ada urusan apa ke sini?" aku kembali mengulang pertanyaanku yang belum ia balas.
"Ini ... " ia mengeluarkan sesuatu dari balik jaketnya. "Handphone lo ketinggalan tadi di meja."
Ya ampun, jadi dia datang ke sini cuma mau mengantarkan ponselku. Kupikir ia khawatir dengan keadaanku setelah melihatnya bersama dengan Alda.
"Oh, iya," jawabku singkat dan meraih ponselku dari tangannya.
"Lo benar baik-baik aja 'kan?" tanyanya.
Aku mengangguk. "Iya ... Lebih baik sekarang elo pulang aja. Karena ini udah malam banget."
Tanpa basa-basi lagi, Daffa pun pergi meninggalkanku yang diam tanpa kata melihat kepergiannya.
***
"Daf, ada yang mau gue omongin sama lo," kataku tiba-tiba.
Saat ini aku dan Daffa sedang duduk di sebuah taman yang terletak di sekitar kampus. Daffa sedang memainkan alang-alang yang ia gigit sedari tadi.
"Apa?" tanyanya tanpa memalingkan wajah padaku.
"Elo suka sama Alda, kan?" tanyaku pelan.
Tiba-tiba alang-alang yang berada di mulutnya jatuh, entah itu sengaja dijatuhkan atau tidak.
"Elo jangan ngomong yang aneh-aneh, deh," senyumnya.
Aku membenarkan posisi dudukku. Dan kini menghadap ke arah Daffa. "Daf, kita bertiga bersahabat sejak semester pertama. Gue juga bisa lihat perasaan kalian berdua yang saling suka."
Raut wajah Daffa mulai terlihat serius. Kini ia pun menghadap dan memandangku.
"Jadi lo udah tahu? Sebenarnya, selama ini gue dan Alda sengaja nggak pernah ngebahas tentang perasaan kita. Karena kita menghargai elo yang suka sama gue. Alda juga nggak mau gara-gara cinta segitiga ini hubungan persahabatan kita jadi hancur. Dan kita nggak mau buat lo sedih."
Aku menunduk, ada rasa sakit karena mendengar pengakuan itu. Tapi aku tak boleh egois.
"Gue lega," tuturku.
Daffa mengerutkan keningnya, bingung dengan ucapanku.
Aku menatap kembali ke depan. "Kepastian! Ini yang gue mau."
Kemudian aku kembali menatap Daffa. "Daf, kalau elo sama Alda saling suka. Kenapa kalian nggak jadian? Kenapa kalian malah lebih mementingkan perasaan gue? Gue malah lega elo jujur," ucapku sambil tersenyum. Daffa masih terdiam.
"Justru gue bersyukur persahabatan kita nggak hancur. Sekarang tunggu apalagi? Elo pergi dan temui Alda!" perintahku.
"Elo serius? Beneran nggak apa-apa?"
Aku mengangguk disertai senyuman. "Semalaman gue udah berpikir buat ikhlas. Dan gue akan dukung terus hubungan kalian berdua."
"Thank's ya, Rain. Karena elo udah mau mengerti perasaan gue." Setelah berkata begitu, Daffa pergi meninggalkanku. Ia mengendarai motornya sambil melambai senang ke arahku.
Aku hanya membalasnya dengan senyuman. Hanya itu yang bisa kuberikan. Walaupun sebenernya hati ini menangis.
Aku ingin menangis, tapi yang keluar justru suara tawaku. Kau tahu apa yang telah kulakukan? Ya, Tanpa sepengetahuan siapa pun, aku telah memotong rem motornya Daffa sebelum kami bertemu di taman. Kenapa? Karena jika aku tak bisa memilikinya, siapa pun juga tak boleh ada yg memilikinya. Termasuk Alda.
Yang kulakukan itu benar, kan? Cinta boleh menghalalkan segala cara karena cinta itu soal kepeduliaan. Jika dari awal tidak ada kepeduliaan padanya maka, biarlah dia pergi dengan membawa kesalahan yang tiada disadarinya. Cinta sulit ditafsirkan, cinta punya emosional tinggi. Dan aku lebih mengakhiri pedih ini dengan luka yang dalam sekaligus. Yaitu kehilangannya, meskipun kehilanganmu adalah sakit Daf ....
Karawang, 24 Desember 2019
Selamat ulang tahun Levie. Semoga Levie semakin sukses, dan membuka peluang bagi para penulis pemula. Yang tidak bisa menerbitkan karyanya menjadi bisa.