Waktu itu,
Aku hanya berjalan di samping jalan yang sepi. Menikmati angin selagi di rumah begitu panas. Penuh dengan orang-orang munafik.
"Ha... akankah langit..." wajah ku menghadap keatas. "...akan berpihak padaku?" Hanya berkata seperti itu.
Hanya keluhan seperti itu. Apa yang akan langit takdirkan padaku saat ini? Hanya gelap yang menjawab.
"Kau sudah sadar?" Suara lembut menghilangkan rasa gelisah ku. Aku hanya merintih kesakitan di gelapnya mata yang tidak menemukan sinar satupun.
"Mmm!" Aku merasakan lakban itu dengan keras menyumpal mulutku. Mataku nanar melihat satu mayat yang menyisakan tubuhnya beberapa senti dari wajah ku.
Gemetar tak karuan. Begitulah aku.
"Ah! Aku menakutimu?" Dia menarik helaian rambut ku dengan sangat hati-hati dan menghisap aromanya.
Aku tidak bisa membuka mata lagi. Takut. Lemas. Pasrah. Tamat sudah.
"Ssst... tenanglah. Aku hanya ingin kau takut saja. Setelah ini aku janji, aku tidak ingin membuatmu merasakan hal yang sama."
Dia menyeret jaket dengan pemiliknya--yang masih memakai jaket tersebut--menjauh dari sisiku.
Talinya cukup kencang. Tangan dan kaki ku perih ingin memberontak. Saat semua tenaga ku dikerahkan, semua itu menjadi sia-sia.
---
Aku meringkuk. Meski lebam, aku masih bisa menahan nya. Tapi, kengerian yang aku lihat lebih mengerikan. Aku membuka mata karena terkejut akan sentuhan di kaki ku.
Pria itu berteriak dan merangkak menyentuh kaki ku. Pria tua yang menjadi target pelampiasannya. Dialah ayahku, yang kini tengah mengap-mengap dan tidur untuk keabadian.
"Katanya, kau ingin menjual dirimu demi dia?" Aku tersentak. Aku tidak akan sanggup menghadap padanya.
"Jawab pertanyaanku." Katanya. "Jawab!" Aku mengangguk dan ia tersenyum lagi. Senyumnya sangatlah hangat. Meski tujuannya lebih dari itu.
"Tidak boleh ada yang menyentuhmu...," dia berjongkok dan kami saling menghadap. "Selain aku." Dia pergi.
Lagi.
Akankah ini berakhir? Aku tidak boleh mengharapkan sesuatu yang mustahil seperti itu.
---
Satu kaki, dua tangan, banjir darah dan mayat baru. Dia melewati semua itu dengan santai sembari membawa sebuah piring.
"Makanlah!" Piring di sodornya padaku. "Aku khusus membuatkannya untuk mu." Uap-uap masih mengepul di dalam sana.
Dia membuka ikatan yang sesak dan membuka lakban. Tanpa pikir panjang, aku melahap telur tersebut. Dan tidak disangka, tubuhku menjadi sangat panas dan tidak nyaman disana.
"Wah! Apa se-efektif itu??" Dia menarik wajahku. "Wajahmu memang panas."
Apa yang ia masukkan?
"Lain kali akan aku coba sesuatu!" Dia memeluk ku erat. Seperti tidak ingin kehilangan lagi boneka nya. Sedetik itu juga aku menyukai dekapan itu.
Bagaimana bisa?
"Kau tidak ingin bicara?" Saat ia bertanya seperti itu, aku hanya gemetar takut. Mungkin dia sudah tahu ketakutan ku. Tubuhku semakin memanas. "Bicara!"
Aku tersentak lagi. Jika kamu menginginkannya, maka aku hanya harus bicara 'kan?
"A-apa y-yang k-ka-kamu mas-suk-kan di maka-nan i-tu...?" Dia tersenyum lebar.
"Afrosidiak!" Soraknya. "Bagaimana kalau setiap hari? Jika kau kalah, datanglah padaku. Pintu itu tidak akan tertutup lagi."
Aku sudah tidak tahan lagi!
Tidak! Tahanlah sebentar lagi! Dia menunggu seperti anjing lucu yang menunggu tulang sisa. Maaf, tapi aku harus menahannya.
"Ck! Kau ini!" Sensasi dingin datang padaku. Sedikit dan aku merasa tidak puas. Aku menyerah dan tidak melawan tapi,
"He-hentikan..." lirihku. Dia berhenti dan melihatku berurai air mata.
"Seharusnya kau bilang dari awal." Wajahnya datar dan dingin. Sama dengan suaranya. "Kau tidak perlu takut, apalagi sedih." Katanya dan mengusap air mataku.
Jelas-jelas aku tidak bisa. Dia pergi dan membiarkan pintu terbuka.
Teriakan wanita tua menggema ke ruangan tanpa ada halangan. Nyaring sekali. Sebenarnya, bisa saja kalau itu suara ibuku. Atau kakak ku.
Maaf, tapi aku tak berdaya. Mungkin juga salah dengar.
Malam itu aku tertidur di lantai dengan mayat lainnya.
---
Panas.
Aku tidak sanggup. Apa yang harus aku lakukan? Semakin lama semakin tidak nyaman. Haus akan hasrat.
Tiba-tiba, aku merasakan tubuhku seperti tergelincir di es yang sangat dingin. Kali ini dingin juga menyeramkan. Aku tidak bisa membuka mataku. Aku tidak tahu. Juga tidak bisa menggerakkan tubuhku.
Perut ku menjadi hangat, lalu punggung, setelahnya dadaku. Rasa lega datang padaku.
"Haha! Kau sama sekali tidak sadar." Aku terbangun. Tersadar bahwa aku ada di bawah air. Keran air hangat masih menyala.
Dan aku... Syukurlah masih memakai baju dalam ku.
Ah, dia... bermaksud memandikanku?
"Bersihkan dirimu. Kau terlalu cantik untuk kotor. Dan kau bisa pergi kemana pun setelahnya." Katanya dan mendekatkan wajahnya sampai dia melakukannya.
Tak ku sangka, ciuman pertama ku akan diambil olehnya. Lalu pergi meninggalkan ku dalam kebingungan, ketakutan dan aroma mayat yang ada di samping ku.
Lima masih utuh, sisanya aku tidak tahu.
Setiap kali aku membuat dia kesal atau marah, terdengar sayup-sayup teriakan orang lain. Aku hanya menutup telingaku.
Bahkan dia pernah sekali memperlihatkan eksekusi korban lainnya padaku. Dia berkata bahwa dia sudah terlalu lembut pada korbannya.
---
Di meja makan, kain ini sangatlah bersih. Sampai inilah satu-satunya tempat terbaik yang pernah aku lihat. Sementara lantai, tembok dan barang lainnya bercat merah. Agar menyamarkan cipratan darah dari para korban lainnya.
Saat kau mulai memasukkan afrosidiak pada makanan ku, aku mulai ragu dengan dirimu.
"Kau tahu?" Aku menggeleng. "Bicaralah. Suaramu selalu indah kala malam itu selalu datang."
Aku membuka mulut. Siap untuk mengatakan sesuatu padanya. Tapi, ku urungkan lagi dan menutup rapat mulutku.
"Kenapa?" Aku tidak berani menatapnya. "Jawab!" Lagi-lagi dia berteriak.
"A-a-aku-u... m-min-ta... ma-maaf--" lalu dia langsung menutup mulutku dengan makanan hangat.
Tidak kuasa aku mengatakannya. Aku sudah dibuat ketakutan tujuh hari olehmu. Selama itu juga kau begitu lembut padaku. Tapi, perasaan ini tidak selaras dengan salah satu kalimat itu.
Betapa terkejutnya aku ketika dia mulai melakukan hal itu lagi. Kepalaku di dorong untuk maju.
Senyuman yang kau lukiskan pada bibir itu membuatku terpaku dan hanya bisa diam ketika itu datang padaku. Mendarat. Dan cukup lembut.
Aku ingin lebih. Kenapa?
Aku mencoba bergerak mendekatkan diriku padanya. Aku sudah tidak bisa tahan lagi. Sungguh. Aku tergoda ketika melihat dia tersenyum.
Satu persatu aku merasakan kembali kulit ku yang mengeluarkan tetesan merah. Tanganku dan kaki ku. Bahkan mungkin beberapa yang lainnya.
Bertahanlah sebentar lagi. Aku sudah tidak bisa menggerakkan seluruh badanku. Hanya rasa hangat darinya.
"Kenapa kau tidak memberontak?" Kini rambutku, kuserahkan padanya. Mungkin bisa saja dia akan tenang akan hal itu.
Tapi, aku ingin lebih.
"Kenapa kau selalu saja menganggap ku seorang monster?" Dengan cepat aku menggeleng lagi.
"Lagi-lagi! Hah...!!" Ia melempar lagi gelas untuk kesekian kalinya. Memungut satu per satu pecahan gelas itu. Seperti itulah kebiasaanku disini.
"Tidak! Jangan menyentuhnya!" Tanganku ditarik olehnya. Seperti sedang meneliti, dia meraba tiap sudut tanganku dan menciumnya setelahnya.
"Tak apa. Kau baik-baik saja sekarang." Keluarlah alat yang biasanya ia gunakan. Alat untuk operasi, alat pembersih dan alat-alat medis lainnya. Aku duduk diam. Hanya untuk menunggu ajal.
Setidaknya, lakukan apa yang kau inginkan dengan tubuhku. Sebelum aku tiada. "Ke-kenapa ka-kamu--"
"Ssst... ini akan sakit~ tapi, tidak akan lama kok!" Katanya dengan menutup mulut ku.
Ada beberapa bros kecil yang kini ada bersamaku. Agar tidak mudah lepas, jarum-jarum itu dengan lentik nya masuk dan menembus kulit. Perih memang.
Aku menggigit bibirku agar berkurangnya rasa sakit. Lalu gelap datang lagi padaku.
---
"Hm~ hm~ hm~" Senandung riang saat aku membuka mataku. "Selamat datang kembali!" Kulihat cermin besar dan terpatri wanita cantik disana.
Dia bahkan...
Mengganti wajahku...
"Kau sangat cantik." Bisiknya. "Tapi, perlu dipoles lagi nanti!" Aku menatap kosong.
Siapa diriku sekarang. Atau sebenarnya, siapa aku?
"Aku sebenarnya diam-diam mengoleskan krim pada wajahmu." Dia merangkul pinggang ku. "Jangan marah ya?" Aku tersenyum.
Harus dipaksakan. Karena aku masih takut. "Nah, tidurlah!" Dia memukul tengkuk ku dan semua kembali gelap.
---
Kain...
Aku merasakan berlapis-lapis kain disekitarku. Sangat lembut.
"Aa-aw..." Tapi, sakitnya masih bisa aku rasakan. Sakit akan jarum yang tak henti-hentinya menerobos sesuka hati.
"Kau ingin makan sesuatu? Akan aku buatkan!" Mataku perlahan terbuka dan mendapati kasur empuk dengan aroma harum.
"Kau pasti suka disini! Tidak di bawah tanah tadi." Dia menggenggam tanganku.
Sakit!
"Apa kau kesepian disana? Disana hanya ada dirimu. Tidak ada apapun disana kecuali tembok dan pintu. Benarkan?" Aku... mengangguk. Padahal organ tubuh begitu berserakan disetiap celah lantai.
"Sekarang tidak akan ada lagi batas! Pergilah kemanapun kau mau!" Aku lagi-lagi mengangguk. Dia tersenyum lebar dan lebih lebar lagi. Berseri-seri lebih tepatnya.
"Aku akan ke dapur. Aku akan memasak kan lagi sesuatu yang kau suka!" Berdiri dan menatap lekat padaku.
"Apa kau tidak lupa akan afrosidiak itu? Kau menang... tapi, lain kali aku tidak akan kalah!" Berbagai macam ekspresi ia tunjukkan padaku.
Dia pergi. Kulihat sekeliling kamar ini setelah derit pintu tertutup dan mendarat pada sebuah jendela.
Tidak di kunci. Dan tidak di gembok. Perlahan dan perlahan. Merangkak dan memanjat jendela tersebut. Hanya untuk kabur. Lari.
Aku harus lari!
Kaki ku pincang namun, aku pasti bisa melewati pagar. Setelah aku melihat di balik pagar, tidak ada tanda-tanda kehidupan disana.
"Ini... hutan..." Aku duduk lemas di depan pagar.
"Irena sayang!" Derap langkah cepat datang padaku.
"Jangan tinggalkan aku! Tolong jangan!" Dia mendekap diriku lebih erat lagi. Dan aku lupa obat itu masih ada.
Masih berfungsi.
Cukup sudah.
Aku mendekat lebih dalam dan lebih intens lagi. Tak peduli dengan sakit dari para jarum, tidak lagi dengan obat itu. Malam itu menjadi malam yang panjang.
Mendorong satu sama lain. Dan menarik satu sama lain. Kami saling mendukung.
Dan aku sudah tidak melihat lagi mayat sejak hari itu.
Apakah aku kuncinya?
Kunci untuk membuatnya sadar dan kembali waras. Dan hal itu...
Sudah terlambat...