Cerita novel dan cerpen yang pernah aku tulis . Itu hanya cerita fiksi. Tidak ada dalam kehidupan pribadiku atau orang lain.
***
"Ayo dong nutup..." Ku tekan terus tombol tutup.
Nih kenapa lift tiba tiba berhenti di lantai 17. Aku tidak menekan angka 17. Tapi 18 , apartemen bossku. Anehnya itu pintu lift gak mau nutup juga. Malah lampu dikoridor itu mendadak mati hidup mati hidup.
Akhirnya nutup juga ,lega rasanya . Sebelum pintu itu benar benar rapat. Tiba tiba aku merasakan hembusan angin lembut menerpa tengkukku. Lalu menyusul suara bisikan wanita.
"Mbak... tolong aku..."
Kaget aku. Ga ada orang selain aku di lift itu. Atau jangan jangan suara itu berasal dari ponselku yang sedang menyala youtube.
"Ah iya kali."
Kuabaikan kejadian hari itu. Aku bergegas kembali ke lantai 18 tempat aku bekerja. Namun kejadian itu terulang lagi keesokan harinya.
Taulah apartemen di Hongkong yang rata rata hanya berukuran 750 m². 2 jam juga sudah selesai membersihkan. Sisanya aku habiskan untuk main ponsel atau keluyuran. Jadi aku turun ke pasar atau mall bawah apartemen itu hampir setiap hari.
Siang itu aku ingin ke pasar beli cemilan di toko indo. Lift kembali berhenti di lantai 17. Mungkin ada orang yang mau turun juga pikirku. Pintu terbuka , dan ternyata tidak ada orang. Lampu masih mati nyala mati nyala. Setelah menunggu beberapa detik tetap tidak ada orang yang masuk. Aku buru buru tekan tombol tutup.
"Ayi ( bibi ). Lantai 17 lampunya rusak tuh." Laporku pada penjaga apartemen.
"Haiya, padahal semalam sudah diganti lo." Jawabnya sambil menghubungi teknisi. Aku cuma mengangkat kedua bahuku.
Pulangnya dari pasar. Aku dibarengi mbak mbak yang dari Indo saat naik lift. Kulitnya sawo matang , rambut dan bajunya basah. Dan dia tidak memakai jaket. Hanya kaos biru lusuh gambar emon. Aneh , diluar tidak hujan kenapa dia basah kuyup.
Karena tidak segera memencet lantai berapa. Akhirnya kutanya. " Lantai berapa mbak ?"
Dia tidak segera menjawab. Terpaku menatap deretan tombol. Ye , sombong banget ditanya gak mau jawab. Sama sama orang indo mbak. Tapi yah sudahlah.
Lift bergerak naik. Lagi lagi , berhenti di lantai 17. Mbak itu menoleh padaku. Terlihat raut wajahnya yang pucat dan kelelahan. Beberapa bulir air mengalir di dahi dan pipinya.
"Mbak , tolongin aku. Aku kedinginan." ucapnya seperti tak ada daya. Aku gugup. Serem menurutku dengan mimik wajahnya yang flat.
"Mbak mending buruan masuk dan ganti baju gih." Kasihan kalau aku lihat keadaannya.
Dia menggeleng. "Mereka gak kasih aku selimut dan baju hangat."
Wah ada ya majikan seperti itu. Ini musim dingin lo. Yang suhunya sekitar 5 - 15°. Dia maju selangkah hingga tepat berdiri didepanku. "Aku kedinginan mbak." ucapnya terus sambil menarik jaketku.
"Ini apa apaan. Mbak kamu sudah sampai dilantai apartemenmu. Tinggal masuk rumah dan ganti baju."
Tapi dia mengabaikanku. Terus menarik narik jaketku dan bilang kalau dia kedinginan. Aku mulai panik karena dia mulai memaksa. Mimik wajahnya berubah dan tatapannya dingin ke arahku.
"Aaaaa!!!"
***
"Cece , cece , kamu ngapain di lantai 17 ?" Ayi menepuk pundakku. Aku tersadar dan melihat sekelilingku dengan heran. Kenapa ya kok aku ada di korolidor lantai 17.
"Tadi kamu pinsan di koridor. Dan penghuni lantai 17 B yang melaporkan kalau ada orang pingsan. Ternyata cece."
Hah ? pingsan ? tadi bukannya aku sedang di lift dan bareng mbak mbak yang basah kuyup. Aku ingat ingat kejadian tadi. Mengingat mimik wajah mbak yang tadi berdiri tepat di depan mukaku. Mendadak aku jadi merinding sendiri. Buru buru aku naik ke lantai 18 lewat tangga darurat. Aku kunci rapat apartemen tempat aku bekerja.
Bingung. Dua hari ini kenapa ya. Sudah tiga kali kejadian ganjil di lantai 17. Dan yang terparah baru saja aku alami ini.
Aku jadi phobia sama lantai 17. tapi aku tidak bisa menghindari lewat lantai 17. Karena ada tepat dibawah lantai 18. Tiap turun jadi was was. Apa lagi naik lift.
Akhirnya keesokan harinya aku berencana turun lewat tangga sampai lantai 15 . Yang disitu juga ada bok sampah. Saat tiba di lantai 17. Aku kebetulan bertemu dengan orang yang sedang membuang sampah. Wah kebetulan nih ada orang jadi gak kripi kripi banget.
Dia bukan ART. Tapi lebih mirip warga lokal. Cantik sih sekilas aku lihat. Tapi tatapannya sadis menatapku curiga. Ya iyalah curiga. Ada lift tapi malah turun lewat tangga.
Tapi buntalan plastik yang orang itu tinggalkan. Sekilas aku mengenali kain yang menjuntai karena terlalu penuh. Kaos biru lusuh gambar emon. Kuhentikan langkahku.
Aku menajamkan pendengaran. Dan aku menangkap orang tadi sudah keluar dari pintu tangga. Dengan kenekatan aku kembali naik ke lantai 17.
Dan benar saja. Itu beneran kaos biru lusuh yang dipakai sama mbak kemarin. Seluruh kantong plastik itu ternyata barang barang yang mungkin milik mbak kemarin. Semuanya kumal dan kotor.
Tiba tiba lampu di tangga itu mati. Aku menjerit dan kabur turun ke lantai dasar.
"Cece, ngapain??!" Ayi keheranan melihat nafasku ngos ngosan.
Setelah tenang. Aku ceritakan kejadian aneh dua hari ini. Sampai pada saat kemarin aku pulang dari pasar.
"Loh, bukannya kemarin cece naik sendirian. Ayi inget betul kok?"
"Enggak Ayi... ada mbak mbak Indo yang naik bareng aku. Seluruh bajunya basah kuyup kayak habis kehujanan." Aku kekeh jelas jelas kemarin ada mbak itu kok.
Melihat keseriusanku. Ayi mulai mencoba mempercayaiku. "Seingatku dulu memang ada mbak dari Indo yang bekerja di lantai 17A. Tapi tidak pernah terlihat keluar. Atau turun belanja ke pasar normalnya ART seperti cece ini."
***
"Cece, kamu hebat. Infomu sangat berguna." Ayi menepuk pundakku.
"Kubilang juga apa, ada yang gak beres di lantai 17."
Setelah aku berbincang tadi siang dengan Ayi. Ayi langsung menghubungi pihak pengelola apartemen. Dan pihak apartemen menghubungi Imigrasi. Hari itu juga Imigrasi Hongkong memeriksa seluruh flat di lantai 17.
Menurut catatan. Ada pekerja migran di flat 17C. Namun pemilik rumah tidak dapat menunjukkan keberadaan ARTnya. Dengan dalih sedang liburlah , sedang dirumah nenek lah. Namun saat disuruh melakukan panggilan. Pemilik rumah tidak dapat membuktikan.
Keesokan harinya. Ada berita heboh tentang penyiksaan dan pembunuhan terhadap ART asing. Mayatnya disimpan didalam koper dan dibuang di pinggir laut dekat apartemen.
ART itu dari Indo. Sejak bekerja di lantai 17C. Dia selalu disiksa. Pekerjaannya tidak ada yang benar. Tidak diberi fasilitas kasur selimut. Apalagi di saat musim dingin begini.
Tiga hari yang lalu. Seperti biasa , majikannya tidak puas dengan pekerjaannya. Majikan wanita memukulinya sampai babak belur. Setelah itu menyeret ke dalam kamar mandi. Menelanjangi mbak yang malang itu lalu mengguyur dengan air dingin. Setelah puas menyiksa. Dia dikunci dalam kamar mandi.
Hari ini tidak ada rasa was was akan mengalami kejadian ganjil lagi. Toh mbak yang baru aku ketahui setelah baca berita bernama Winarni. Jasadnya sudah ditemukan. Majikannya juga sudah diproses secara hukum.
Namun , harapanku sia sia. Entah mengapa lift tiba tiba berhenti lagi di lantai 17.
"Ada apa lagi mbak Win... "
.
.
.
.............Tamat.............