Ini kisah singkat mengenai perjalanan hidupku yang entah seharusnya ku mulai darimana, kembali ke dua tahun lalu saat umurku 18 tahun di mana kedua mataku masih buta. Namaku Queenza Anastasya semua orang tuaku selalu memanggilku dengan panggilan Queen, pagi itu aku sedang terduduk di kasur seperti hari-hari biasanya.
"Queen hari ini Mama bawakan perawat baru untukmu, dia pria tampan-" Ucap ibuku yang kini ada di samping tempat tidur, aku tanpa pikir panjang memotong pembicaraannya.
"Untuk apa Mama bilang kalau ia tampan padaku, melihatnya saja aku tidak bisa," Balas ku dengan sinis, aku pun tersenyum miris pada kondisiku saat ini.
Aku buta setelah kecelakaan dua bulan lalu, dan kecelakaan itu pun berhasil merenggut segalanya dariku, aku bahkan berharap untuk mati saja saat itu.
"Jangan bicara seperti itu, Mama secepatnya akan mendapat donor mata untukmu," Ibuku kembali bicara sambil mengelus rambutku beberapa kali.
Dari langkah kaki dan suara pintu di buka tampaknya ada seseorang yang berjalan ke arahku, "Sayang ini dia perawat baru mu," Suara ibuku lagi.
Cih, aku tidak bisa melihatnya mengapa ibuku malah bicara seperti itu. Aku sedikit terkejut saat sebuah tangan meraih tanganku untuk bersalaman, "Perkenalkan namaku Alvaro Devano, semoga kau nyaman denganku," Terdengar suara pria tepat di hadapan wajahku.
Dengan cepat aku melepas tangannya, dari suaranya sih dia memang terdengar tampan tapi entahlah lagi pula aku tidak bisa melihatnya.
"Sayang Mama keluar dulu yah, kalian teruskan saja ngobrolnya," Ucap ibuku yang terdengar menjauh dariku.
Tapi aku merasa suara pria itu tidak asing di telingaku, saat ku coba mengingatnya tetap saja aku tidak tau suara pria itu. Rasanya pria itu duduk di sebelahku.
"Sudah makan?" Tanyanya dengan lembut.
"Tidak suka makan," Balas ku singkat padat dan pastinya sangat jelas.
Pria itu malah terdengar sedang terkekeh, "Ngapain ngetawain gue?" Aku rasa ia sedang menertawakan ku.
"Jangan pede, aku tidak menertawakan mu," Balasnya sambil menoyor kepalaku pelan.
Brengsek bagaimana bisa seorang perawat berani menoyor kepala pasiennya, memang dasar pria aneh. Untung saja kali ini aku tidak bisa melihatnya kalau aku sudah punya penglihatan ku lagi ku hajar dia.
"Bagaimana kalau kita keluar jalan-jalan, memangnya kau tidak bosan berada di kamar terus?" Pria itu mengajakku pergi keluar.
"Tidak," Aku menolaknya karena untuk apa aku keluar, toh aku tidak bisa melihat juga.
"Ayolah, kau naik kursi roda saja biar nanti ku dorong," Pria itu terus memaksaku.
"Baiklah karena kau memaksa aku akan keluar sekarang," Dengan sangat terpaksa aku mengiyakan permintaannya.
Tanpa bicara Alvaro menggendong tubuhku dan memindahkannya ke kursi roda, aku hampir di buat jantungan olehnya. Setelah itu kita benar-benar keluar mencari angin segar dan menghirup udara dengan lebih leluasa, dari sana kedekatan ku dengan Alvaro semakin dekat.
Hari demi hari ku lewati bersamanya, kehidupanku mulai kembali berwarna walaupun dalam kegelapan. Aku bahkan kini telah berani pergi keluar untuk belanja dan lain-lainnya.
Kini aku sedang duduk di taman bersama Alvaro, aku sedang memakan eskrim vanila yang tadi ia belikan untukku.
"Kau senang?" Tanya Alvaro.
Sial, tentu saja aku senang mengapa ia harus bertanya lagi akan hal itu, Alvaro menggenggam tanganku, "Aku janji akan menemukan donor mata untukmu secepatnya, aku ingin kau kembali melihat indahnya dunia ini," Ucapnya yang berhasil membuatku semakin luluh padanya.
Aku tersenyum, "Jika seandainya aku tetap buta, apakah kau masih ingin bersamaku lebih lama?" Tanya aku.
"Tentu, biarkan mataku menjadi matamu juga," Balasnya.
Alvaro mendekatkan tubuhnya ke arahku, ia mengangkat tanganku ke udara, "Di sana ada sebuah pohon besar yang indah," Ucapnya, kemudian ia memindahkan kembali arah tanganku ke arah yang berbeda.
"Kalau di sana ada beberapa kursi taman yang sama seperti yang kita duduki," Tambahnya.
"Nah kalau di sana ada abang eskrim yang tadi ku beli eskrim nya," Lanjut Alvaro, aku tersenyum mendengar itu.
"Kau tau siapa nama penjualnya?" Tanyaku.
"Tidak, memangnya kau ingin berkenalan dengannya? Kalau kau mau nanti ku antar kau berkenalan," Balas Alvaro dengan nada bercanda.
Hari itu kami menghabiskan waktu dengan bahagia, saat hari sudah mulai malam Alvaro mengantarkan ku pulang dengan mobilnya.
"Apa kau akan tetap seperti ini setelah tau siapa aku?" Tanya Alvaro memecahkan keheningan di dalam mobil.
"Maksudmu?"
"Iya, jika nanti kau sudah bisa melihat kembali apakah kau masih akan bersikap sama seperti ini?"
"Kau bicara apa sih Alvaro, ya tentu saja. Memangnya kenapa?"
"Tidak aku hanya ingin memastikannya saja."
Tidak lama setelah itu sampailah aku di rumah, setelah mengantarkan ku pulang Alvaro pamit pulang juga karena masih ada beberapa hal yang harus ia kerjakan katanya. Ibuku mengantarku ke kamar, "Ma aku sudah tidak sabar ingin melihat wajah Alvaro," Ucapku dengan penuh kebahagiaan.
Beberapa hari berlalu, setelah hari itu Alvaro tidak lagi menemui ku, hidupku kembali berat setelah kepergiannya. Aku sedang duduk di kasur menunggu Alvaro datang dan menjemput ku pergi keluar seperti biasanya, nafsu makan ku bahkan sudah hilang saat ini.
Suara langkah kaki berjalan perlahan mendekat ke arahku, tapi aku rasa itu bukan langkah kaki Alvaro.
"Sayang Mama sudah mendapatkan donor mata yang cocok untukmu," Ucap ibuku yang berhasil membuatku kembali sedikit semangat.
"Benarkah?" Aku bertanya padanya sekali lagi, siapa tau saja aku hanya salah dengar.
"Benar sayang," Balas ibuku.
Akhirnya setelah sekian lama, Aku bisa mencari keberadaan Alvaro bahkan aku bisa melihat wajahnya ketika kita nanti bertemu.
"Bersiaplah kita akan pergi ke rumah sakit sekarang untuk pengecekan," Ucap ibuku.
Dengan semangat aku berkata, "Iya Ma."
Singkat cerita, saat ini operasi mataku telah selesai dan telah berlalu beberapa hari. Hari ini sudah waktunya buka perban, aku menggenggam tangan ibuku dengan erat takut semuanya gagal.
Dokter membuka perban yang membalut mataku dengan perlahan hingga terbuka semuanya, "Kau coba buka matamu perlahan," Ucap dokter itu.
Aku membuka mataku dengan perlahan, awalnya pandanganku masih kabur dan belum jelas. Tapi setelah mengedipkan nya beberapa kali akhirnya pandanganku mulai jelas aku bahkan sudah bisa menatap wajah ibu kembali, aku memeluknya dengan erat sambil menangis.
"Terimakasih Tuhan, aku sangat berterimakasih padamu," Ucap ku penuh rasa syukur.
Setelah beberapa detik berpelukan aku melepaskan pelukan itu sambil menatap ibuku, "Ma bukannya kemarin Mama mau cari tau keberadaan Alvaro, Mama udah tau dimana dia sekarang?" Tanyaku masih bingung dengan keberadaan Alvaro yang mendadak hilang.
Wajah ibuku malah mendadak murung sambil menundukkan pandangannya, "Ma ada apa?" Tanyaku khawatir.
Ibuku kembali menatapku dan tersenyum kepadaku, "Mama sudah tau dimana dia sekarang, kau tunggu kau pulih dulu baru kita pergi ke sana," Balasnya.
Aku kembali tersenyum ternyata dugaan ku salah, "Aku janji kalau aku akan segera pulih secepatnya."
Dua hari berlalu, di hari ini aku merasa tubuhku sudah membaik dan sudah waktunya aku menemui Alvaro. Di kamar aku menatap pantulan tubuhku di hadapan cermin, dengan sebuah dress biru muda aku akan menemui Alvaro aku sangat senang hari ini.
Aku beberapa kali menyisir rambutku karena aku benar-benar grogi, "Sayang cepat," Ibuku sudah memanggilku di luar.
"Baik Ma aku keluar sekarang," Setelah itu aku pun keluar dan pergi masuk mobil bersama ibuku. Selama perjalanan menuju tempat yang ibuku kunjungi aku terus merasa grogi dan panik, bagaimana jika nanti Alvaro tidak suka dengan penampilanku saat ini, Ah.....Kepala ku bikin pusing saja.
Anehnya ibuku malah pergi ke pemakaman umum, "Turun," Ucap ibuku yang turun duluan dari mobil.
Aku turun dan berpikir mungkin ibu hanya ingin mampir doang sebentar untuk mendoakan seseorang, aku terus berjalan mengikutinya dari belakang hingga di sebuah makam ibuku berhenti.
"Bu kok malah ke pemakaman sih? Bukannya mau ke Alvaro?" Tanyaku, ibuku bagaimana sih aku kan sudah rindu padanya. Mengapa harus di bawa ke pemakaman dulu sih.
"Kau lihat batu nisannya," Titah ibuku, yah emang benar sih aku memang belum melihat batu nisannya.
Setelah aku melihat batu nisan aku benar-benar tidak percaya dengan apa yang ku tatap saat ini, aku kembali menatap ibuku, "Bu ini tidak benar bukan?" Aku tidak akan pernah percaya ini terjadi.
"Alvaro meninggal lima hari yang lalu," Jelas ibuku yang tidak mau aku dengar.
"Bohong, kau pasti bohong kan bu?" Aku tetap tidak percaya dengan hal ini.
Aku menutup telingaku karena tidak mau mendengar ucapan bohong dari ibuku, tanpa sadar air mataku menangis karena hati kecilku percaya akan hal ini. Lutut ku lemas dan terjatuh ke samping batu nisan yang tertulis nama Alvaro di sana.
"Alvaro ternyata punya kanker otak stadium Akhir, dan sebenarnya Alvaro adalah teman sekelas mu dulu di sekolah. Sejak dulu katanya dia suka padamu namun tidak berani bicara karena malu, makannya itu ia mendekatimu saat tau kalau kau buta," Jelas ibuku yang tetap bisa ku dengar walaupun sudah ku coba tidak mendengarnya.
"Ia ingin membantumu di saat-saat terakhirnya," Tambah ibuku yang tidak mau berhenti.
"Ku mohon hentikan dulu bu," Jujur aku sudah tidak kuat menahan semua rasa sakit di hatiku, nafasku kini terasa sangat sesak dan dadaku sakit.
Aku memukul dadaku karena sakit sekali dan tidak bisa bernafas, "Nih," Ibuku menyodorkan sebuah kertas.
Aku mengambilnya namun masih tidak ingin membacanya aku tau kalau aku membacanya akan menimbulkan rasa sakit yang jauh lebih sakit daripada ini. Satu jam kemudian, setelah aku tenang ibu membawaku kembali pulang sesampainya di rumah aku hanya bisa mengurung diri di kamar sambil menatap pantulan wajahku di cermin.
Aku akhirnya memberanikan diri untuk membaca surat yang di tinggalkan Alvaro untukku, "Hay, kalau kau membaca surat ini itu tandanya kau sudah bisa melihat kembali. Selamat untuk itu, maaf karena aku tidak jujur tentang siapa aku sebenarnya padamu saat itu," Air mataku mengalir deras membacanya.
"Terimakasih juga untuk hari-hari yang menyenangkan di sisa hidupku, dengan itu ku hadiahi mata yang indah untukmu. Aku kan dulu pernah janji padamu kalau mataku akan menjadi matamu sekarang ku berikan padamu, jaga yang baik yah karena cuman itu yang bisa ku berikan untukmu sebagai kenang-kenangan."
"Jangan nangis.... Senyum yah dan terus jalani hidupmu," Begitulah isi surat dari Alvaro.
Bukannya senyum aku malah mengencangkan tangisanku, aku memeluk surat itu dengan erat tetesan air mata ikut membasahi kertas. Aku tau hidup memang akan terus berjalan walaupun tanpanya, tapi terbiasa tanpa dirinya dalam menjalani hidup itu yang susah.
Walaupun singkat tapi aku benar-benar merasa kehilangan, sekali lagi aku menatap pantulan wajahku di cermin terlebih di bagian mataku, aku tersenyum seraya meraba kelopak mataku, "Seindah apapun perpisahan itu terjadi, nyatanya ternyata tetap menyedihkan." Gumam ku.
Kembali ke dua tahun kemudian, kini aku sudah dapat hidup biasa walaupun bayang-bayang Alvaro nyatanya masih menyelimuti kehidupanku. Sampai saat ini aku belum punya penggantinya karena memang aku ingin memfokuskan diri ke karirku dulu
Di bawah sinar rembulan aku selalu menyampaikan kerinduanku pada Alvaro lewat bulan dan bintang.
Itulah kisah singkat mengenai hidupku, aku sejujurnya tidak pernah ikhlas tentang kepergiannya. Melainkan terpaksa mengikhlaskan hingga akhirnya terbiasa. Dari awal aku memang salah karena terlalu mencintainya dan lupa kalau perpisahan itu pasti ada walaupun caranya berbeda-beda.
Cintailah orang secukupnya karena semakin dalam kau mencintai seseorang, maka semakin besar juga resiko sakit hati yang akan kau terima nantinya.
Tamat