Penulis: RatuNna
Tangisku pecah seketika tak tertahan lagi, setelah kubaca chat di whatsweb nya Mas Doni. aku sengaja menyadap WhatsApp nya setelah Bianca sahabatku, tak sengaja melihat Mas Doni sedang asik berdua di sebuah cafe sore kemarin. Ternyata di luar selain bekerja dia juga asik chatting dengan wanita lain, padahal pernikahan kami belum genap setahun. Dan sekarang aku hamil anak pertama kami, tapi bisa-bisanya diluar sana Mas Doni main gila.
Pantas saja aku merasakan ada rasa tidak nyaman dalam rumah tanggaku beberapa bulan terakhir ini, selain selalu pulang malam terus, dengan alasan lembur dan sebagainya. Padahal dia menghabiskan waktunya dengan seorang perempuan idaman lain. Baiklah Mas! Jika itu yang kamu mau. Kamu telah mempermainkan hidupku! maka kamu harus membayar sakit hati ini.
Remuk redam hatiku. Bahkan sekedar untuk bernafas saja aku merasakan sakit yang tak terhingga. Bayi yang ada dalam kandunganku pun seakan turut merasakan gundahnya hati ini, dia menendang-nendang perutku hingga terasa ngilu sekali.
"Ibu, baik-baik saja, Nak, jangan khawatir ibumu masih kuat jika hanya untuk memberi pelajaran seorang bajingan!" guman ku penuh dendam dan derai airmata.
Kuelus perutku dengan perasaan tak menentu. sungguh aku penasaran dengan wanita itu, ku cari di Facebook, nama yang tertera di whatweb Mas Doni, Lia Apriliani namanya dan kutemukan dia di aplikasi berlogo biru itu, sama persis dengan foto profilnya yang ada di Whatswebku.
Untung saja mas Doni menyimpan namanya dengan lengkap. Jadi aku tidak susah mencarinya.
Pucuk dicinta, ulam pun tiba. Semua tentang Lia terpampang jelas di layar gawaiku, seorang wanita berhijab dan bersuami dengan satu anak, yang berprofesi sebagai Guru TK.
Wow … aku takjub dengan wanita itu, penampilan yang syar'i bahkan suaminya seorang pengurus pondok pesantren, tapi masih bisa main gila dengan suami orang.
Mas Doni dan Lia sama-sama harus ku beri pelajaran! Aku simpan semua foto-fotonya dari Facebook. Awas saja kamu Lia! aku tidak akan membiarkanmu hidup tenang! kamu telah mengusik rumah tanggaku.
Ku save semua screenshot chat antara Mas Doni dan Lia, lalu ku kirim ke emailku yang lain. Aku harus memiliki bukti kuat sebelum mengungkap semua kebejatan suamiku dengan Lia. Aku tersenyum sinis membaca chattingan mereka, berbahagia lah sekarang! karena besok-besok akan ku buat kalian malu seumur hidup. Sehingga untuk sekedar tersenyum saja kalian tidak mampu.
Ku seka air mata yang datang terus menerus tanpa permisi, dan bangkit untuk menunaikan Sholat Magrib, aku tidak boleh lemah dihadapan Mas Doni.
Juga, tidak boleh gegabah dalam hal ini, akan ku hancurkan keduanya di waktu yang tepat! Sebagaimana mereka menghancurkan hatiku saat ini. Biarlah sekarang aku yang sakit dan menderita tapi akan kupastikan balasan yang akan mereka terima lebih sakit dari yang aku alami.
Jangan pernah membalas perlakuan buruk orang lain. Selalu ku ingat pesan almarhum Emak, dan itu dulu sekali Selalu kulakukan seperti petuah Emakku, yang membesarkan aku. Tapi sekarang Emak sudah tiada dan aku berjuang sendiri, akan aku balas semua yang mempermainkan hidupku.
Aku terdiam di balkon kamarku menatap langit malam yang pekat seperti isi hatiku yang menggelap penuh amarah, pikiranku menerawang ke masa lalu saat sebelum menikah dengan Doni.
Aku seorang pengusaha wanita, pemilik butik terkenal di kota ini. Memilih menyerahkan pengurusan butik pada Dina adiknya Doni beberapa bulanan lalu, karena ingin fokus pada kehamilanku yang sudah memasuki trimester ke-3. Laporan keuangan pun tak seperti dulu lagi saat butik masih kupegang sendiri, Tapi aku tidak mempermasalahkan nya. Aku memilih untuk lebih fokus sama kehamilan pertamaku.
Aku biarkan Dina menikmati uangku terlebih dahulu, akan ada masanya ku perhitungkan semua yang dengan jelas mencurangiku.
Ren ….
Aku tak bergeming pada panggilan Doni. Pikiranku menerawang jauh meski ragaku tegap berdiri di ujung balkon.
Ren….
Doni mendekatiku dan mengusap lembut pundakku.
Renata melonjak kaget "Eh?!? Mas … Mas Doni sudah pulang?"
Doni terlihat menghela nafas, mungkin heran denganku yang tidak seperti biasanya. Hari ini aku berusaha terlihat tenang, tapi sepertinya Mas Doni tau ada sesuatu yang aku sembunyikan, kulihat dari raut mukanya nya keheranan.
"Kamu baik-baik saja, Ren?" tanyanya padaku.
"Kenapa, Mas?" tanyaku dengan tak acuh.
"E … engga ada," sahutnya gugup.
Entah kenapa hanya dengan pertanyaan begitu saja membuat Mas Doni terkesiap kaget. Mungkin dia mulai was-was dengan kebohongannya.
"Kamu ko belum tidur?" tanyanya lagi.
"Belum ngantuk, Mas," sahutku dan kembali memandang langit yang pekat itu! Sungguh rasanya ingin sekali menggaruk mukanya Mas Doni yang sok tanpa dosa itu.
"Aku tidur duluan, ya?"
Aku tak menyahut, tentu saja suamiku capek dan ingin segera tidur, setelah seharian bekerja lalu menghabiskan waktu dengan gundikmu itu Mas. Aku menangis dalam diam, perih dan sakit sekali rasanya. Aku yang menyerahkan segala hidupku pada padanya. Tapi yang aku dapatkan malah dihancurkannya seluruh harga diri ini.
Memang keterlaluan kalau sampai aku tidak membalas semua perlakuan Mas Doni, yang menghancurkanku tanpa sisa.
———
Seperti biasa, pagi ini aku masih menjalankan rutinitas seperti hari sebelumnya, tanganku mengaduk kopi hitam untuk Mas Doni tapi pikiranku masih menerawang dengan chattingan antara Mas Doni dan Lia.
"Selamat pagi, sayang," sapanya padaku
"Pagi, Mas," jawabku dengan intonasi dingin dan bergetar, dadaku bergemuruh menahan amarah sejak semalam.
Kami sarapan dengan diam, suasana begitu mencekam hanya denting sendok yang bersahutan.
"Kamu kenapa, Mas?" tanyaku yang melihatnya makan dengan lesu.
Dia diam tanpa menjawab pertanyaanku, pikirannya pasti berkecamuk, pada bayang-bayang wanita yang perlahan Akan menghapus kepeduliannya padaku. Gadis yang dulu dia kejar-kejar setengah mati, kini seolah sampah yang tak dibutuhkan nya lagi.
Suara Doni memecah keheningan "Aku berangkat," pamitnya. Tanpa menoleh padaku yang terkejut hingga menjatuhkan sendok yang sedang kupegang dan menimbulkan denting bergema.
Aku tidak menjawab, tatapanku terfokus pada piring dihadapanku. Pikiranku menerawang pada kecurangannya. Pengkhianatannya memporak porandakan semua isi hatiku! Aku bisa saja mengungkap semuanya sekarang, namun aku ingin membuat Mas Doni dan Lia mendapat sesuatu yang tidak akan dilupakannya seumur hidup, karena sebaliknya pun aku, tidak mungkin lupa dengan pengkhianatan Mas Doni dan Lia.
Suara mobilnya menderu menjauh, dengan seketika aku sesenggukan, menangis dengan tertahan bagai menahan batu besar yang menghimpit, sakit dan menyesakkan.
Aku bangkit dari kursi dan naik ke kamarku di lantai dua, hari ini aku berencana akan ke rumah Bianca sahabatku. Kupakai terusan warna peach dan blazer putih. Tak ada cela dalam penampilanku. Meski sedang hamil, yang berubah hanya bagian perutku saja yang semakin membuncit.