"Aku tak menyangka jika gadis seperti Zuhana, bisa sekejam itu" ucap Yamako, sambil mengunyah sisa kentang gorengnya.
"Kejam bagai mana? Ahhh apa kau ditolaknya?" Todong pemuda didepannya itu, yang dia tahu temannya satu ini menyukai rekan kerjanya itu.
"Bukan itu, aku serius tentang dia yang kejam, ahhh aku menyesal telah menyukainya dulu" jawaban Yamako malah membuat pemuda itu bingung.
"Memang apa yang sebenarnya terjadi?" Tanya Michiru, pemuda itu terlihat kebingungan.
"Apa kau belum tahu? kasus yang menimpa Zuhana?" Tanya Yamako.
"Belum! Memangnya Zu terlibat kasus apa?" Tanya Michiru
"Ahhh, jika ku ceritakan pun kau tak akan percaya" jawab Yamako.
"Ceritakan!" Pinta Michiru
"Kau tahu pengasuhnya Zuhana?" Tanya Yamako kembali, yang hanya mendapat anggukan oleh Michiru.
"Dia membunuh pengasuhnya sendri dengan sadis" ucap Yamako
"Ahhh.. mana mungkin" sangsi Michiru, walau mereka tidak bisa dibilang teman dekat, tapi Zuhana adalah partnernya dalam memecahkan misi, sekaligus teman satu ruangannya, otomatis dia tahu banyak tentang gadis manis itu yang penuh dengan kelembutan dan keceriaan.
"Kan sudah ku katakan jika kau tak akan percaya hal ini" kelu Yamako
"Ya pasti tidak akan ada yang percaya, bisa saja itu fitnah bukan" Michiru menyanggahnya, dia benar - benar tak percaya jika Zuhana bisa melakukan pembunuhan.
"Tapi itulah kenyataannya, ada saksi yang melihat kelakuannya saat itu" ujar Yamako
"Bisa saja saksi palsu" Michiru masih saja tak percaya dengan insiden yang menimpah temannya itu.
sudah dua bulan lalu Michi tak berjumpa dengan Zuhana, karna dia memiliki kasus baru yang harus diselesaikannya, sayangnya kasus itu harus ditutup sampai beberapa waktu, karna kurangnya informasi, dan bukti yang tidak seberapa.
"Ahhhh aku tak pernah menyangka jika gadis semanis Zuhana bisa melakukan itu" ucap Yamako
"Bisa saja kan itu saksi palsu" Michiru mengulang kata - katanya.
"Apa mungkin Sham memberikan keterangan palsu pada ketua?" Tanya Yamako, nada bicaranya sedikit ketus.
"Maksudmu Shamuel?" Tanya Michiru memastikan.
"Ya siapa lagi pria berkulit legam disini selain si bule Sham" ucap Yamako
"Kau tahu, bagai mana sadisnya Zuhana membunuh madam Zie waktu itu, dia mengeluarkan hampir seluruh isi dalaman perut wanita tua itu, bahkan jari jemarinya ada beberapa yang hilang, entah dikemanakan olehnya, seram bukan" tutur Yamako
"Mustahil" gumam Michiru tak percaya benar - benar tak percaya.
"Jika tak percaya tanyakan langsung saja padanya, saat ini orangnya sedang ada ditempat isolasi" Yamako
"Ruang isolasi?" tanya Michiru masih saja tak percaya sepertinya.
"Ya dan kau tahu, tak ada yang berani menginterogasinya" jawab Yamako
"Mengapa demikian?" Tanya Michiru
"Dia sikopat Michi, siapa yang mau menginterogasinya? salah - salah bukan menginterogasinya kita yang mati karna dibunuh" ungkap Yamako.
"Atas dasar apa kau menyebutnya sikopat Yama?" Tanya Michiru, jujur saja Michiru tak mempercayai apa yang didengarnya ini, sebelum bukti benar - benar terlihat matanya, hanya sekedar omongan saja dia tak akan percaya.
"Dia telah membunuh madam Zie begitu sadis, dan kau tahu Sham juga menjadi korbannya, apa dia tidak bisa dikatagorikan seorang sikopat?" Tanya Yamako menggebu.
"Shamuel?" gumam Michiru
"Sehari setelah Sham menceritakan semua itu pada ketua, Daisy menemukan Sham sudah tak bernyawa ditempat pembuangan sampah terakhir diakantor ini" jelas Yamako
Ahhhh...
Michiru mendesah merasa tak percaya jika salah satu rekannya telah tiada, "Apa mungkin?" Michiru tak melanjutkan kata - katanya
"Mungkin saja, tak ada saksi yang bisa ditanyai, bahkan Daisy saja jatuh pingsan sesaat setelah menemukan mayat Sham, saat ini dia masih dirumah sakit, kata dokter dia terkena serangan shock" jelas Yamako bercerita.
"Kau tahu, mayat Sham hampir sama mengenaskannya dengan mayat madam Zie, entah kenapa dia suka membuat mayat - mayat itu tercabik seperti itu, tidak bisakah membunuhnya saja tanpa mencabik tubuh korbannya aku tak mengerti" lanjut Yamako, Michiru hanya mendengarkan saja
"Ada yang aneh juga" ucap Yamako tiba - tiba
"Apa?" Tanya Michiru yang memang sudah dari 15 menit lalu penasaran dengan kasus ini.
"Ada nomor disetiap tubuh korban, seperti kode atau sandi" ucap Yamako
"Maksudnya?" Michiru tak mengerti
"Sepertinya dia sengaja menulis nomor itu didada sikorban dengan darah" jawab Yamako
"Kau mengingat nomor - nomor itu?" Tanya Michiru
"Ahh. Kasus ini ditangani langsung oleh ketua, sangat sulit mendapatkan informasinya, aku hanya memiliki ini saja" keluh Yamako, Michiru tampak tersenyum melihat melihat apa yang disodorkan sahabatnya itu.
Tentu saja itu berguna, dua buah potret itu memperlihatkan dua jasad yang mengenaskan, ini bisa jadi petunjuk besar untuk Michiru, dia heran terhadap temannya ini, entah bagai mana selalu bisa mendapatkan bukti - bukti yang kongkrit seperti ini padahal ketua terkenal sekali tertutupnya jika sedang menyelesaikan kasus.
Ya pantaslah menyandang gelar detektif pro, Michiru melihat Poto itu dengan teliti, apa yang dikatakan Yamako benar, dikedua dada korban tertulis tiga digit angka, entah dimaksudkan untuk sandi atau apa Michi masih tak mengerti.
"096 dan 097" gumam Michiru
"Ya entah itu ditunjukan sebagai kode untuk seseorang, atau mungkin saja sudah sebayak nomor itu sipelaku membunuh korbannya" jawab Yamako
"Bisa saja keduanya benar bisa juga tidak" jawab Michiru.
"Kau benar, ahhh padahal dia seorang gadis tak ku sangka ditubuhnya terdapat monster sekejam itu, sangat disayangkan" ungkap Yamako
"Jika tidak ada yang menginterogasinya itu berarti masih ada kemungkinan bukan Zu pelakunya" Michiru masih tak percaya jika orang seperti Zuhana melakukan hal sekejam itu.
'Bagai mana dia melakukannya, jika dia sendiri takut terhadap darah ahhh, ini aneh' batin Michiru.
"Mungkin saja, tapi jika demikian mengapa ketua menempatkannya diruang isolasi?" gumam Yamako bertanya - tanya.
"Itu yang harus diselidiki" jawab Michiru
"Kau yakin dengan apa yang kau katakan barusan Michi?" Tanya Yamako kaget, dia tahu betul siapa sahabatnya ini, jika mengatakan menyelidiki itu berarti dia akan memecahkan kasus ini, walau sedang ditangani oleh orang lain, Michiru bisa punya seribu cara untuk memecahkan kasus yang dia anggapnya menarik, dia bisa menyelidiki secara diam - diam, jika mengingat hal itu Yamako bisa geleng - geleng kepala.
Tapi kali ini yang akan dihadapi adalah seorang sikopat, tentu saja Yamako tidak ingin sahabatnya itu mengalami nasib buruk bukan, walaupun Zuhana sudah berada diruang isolasi bukan berarti dia tak memiliki rencana bukan.
"Kau akan menemuinya?" Tanya Yamako, yang dijawab anggukan Yamako
"Kau sudah gila kalau melakukan hal itu, kali ini yang kau hadapi seorang sikopat Michi, salah - salah kau yang menjadi korban selanjutnya Michi" kesal Yamako
"Tenang saja ruang isolasi dilapisi kaca anti peluru jadi tak mungkin bisa dihancurkan pula olehnya" jawab santai Michiru, lantas pergi melangkah meninggalkan Yamako yang terbengong.
"Ahhh dasar Michi" desah Yamako.
****
Hari itu pada akhirnya Michiru tak jadi menemui Zuhana, hanya sekedar untuk mengobrol saja, karena ketua memintanya untuk datang memberikan hasil dari penyelidikan kasus yang ditangani oleh Michiru.
Ahhhhh ...
Michiru mendesah lelah, kasus yang ditanganinya kali ini membuatnya pusing tujuh keliling, semua bukti yang dimilikinya tak membantu banyak untuk menemukan pelaku atas pembunuhan tuan Yohanes, semua seakan buntu.
"Ada nomor disetiap tubuh korban, seperti kode atau sandi" tiba - tiba saja ucapan Yamako kemarin sore terlintas dalam otaknya.
Michiru membuka tasnya lantas mengeluarkan dua lembar foto yang kemarin diambil dari Yamako, dia memperhatikan kembali dua foto yang memperlihatkan tubuh tanpa nyawa itu, ada desir halus menyelimutinya membuatnya meremang sendiri.
Tiba - tiba saja dia membayangkan kejadian itu, ahhh begitu sadis pikirnya namun dia masih belum percaya jika Zuhana pelakunya.
"Akan ku selidiki nanti" ucapnya, hai tunggu dulu mata jelinya melihat sesuatu.
"dua nomor ini" gumam Michiru, tak lama dia kembali menggeledah tas kerjanya, mengambil amplop coklat lantas membukanya, Michiru mengambil benda yang sama persis yang berada dihadapannya dengan wajah yang berbeda, namun keadaannya tak jauh berbeda dengan dua foto yang berada dimeja.
"079" gumam Michiru, sedikit berfikir lantas dia bergegas pergi dari rumahnya.
****
"Kau akan menemuinya?" Tanya Reka, yang dijawab anggukan saja.
"Belum pernah ada yang kemari walau sekedar untuk menjenguknya, selama dia berada disini" bisik Reka yang hanya disambut anggukan saja oleh Michiru dia paham betul ketakutan rekan - rekannya terhadap Zuhana yang dikabarkan seorang psikopat itu, tapi saat ini penting baginya untuk menemui Zuhana, semua ini sepertinya ada sangkut pautnya dengan kasus yang ditanganinya.
"Apa dia sehat?" Tanya Michiru pada Reka, Reka yang ditugaskan untuk menjaga ruang isolasi itu menoleh kearah Michiru yang berjalan disampingnya. "Sehat, tapi entahlah jiwanya" ucap Reka.
"Nah aku hanya mengantar sampai sini, sisanya kau lanjutkan sendiri" lanjut Reka sambil membukakan pintu.
"Hubungi aku bila terjadi sesuatu, aku berada diluar" tambah Reka, Michiru mengangguk saja.
****
"Apa kau menganggap ku sama seperti mereka menganggap ku?" Pertanyaan itu terucap dari mulut mungil seorang wanita yang sedikit kucal namun masih terlihat cantik dimata Michiru, setelah 15 menit kesunyian melanda mereka akhirnya Zuhana sendri yang mengatakan kalimat pembuka untuk mereka mengobrol.
"Sejujurnya tidak! Tapi jika semua bukti mengarah padamu aku bisa apa?" Keluh Michiru, Zuhana tersenyum tipis.
"Kau penganalisis hebat Hiru, ku harap kau bisa memecahkan teka-teki ini, aku tak akan membela diri ku dihadapan mu Hiru, yang ku inginkan pecahkan teka-tekinya, sampai kau tahu siapa pelakunya" pinta Zuhana, dia begitu santai menghadapi semua yang dialaminya, membuat Michiru berfikir jika yang dikatakan Yamako benar adanya jika Zuhana seorang sikopat, mana mungkin orang normal ditangkap dan diisolasi hampir 15 hari masih bisa setenang itu.
Ahhhh Michiru mulai ragu, namun dia tetap menganggukkan kepalanya tanda dia akan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
"Baiklah, akan aku pastikan itu" jawab Michiru, setelahnya mereka terlibat obrolan hangat, Michiru pamit untuk pulang.
"Kalau begitu aku pulang dulu, istirahat makan siang besok aku akan sempatkan waktu datang kemari" pamit Michiru sekaligus menjanjikan akan datang lagi besok siang.
"Ku sarankan jauhi Yamako dan dekati ketua" Zuhana mengucapkan sesuatu yang tak dipahami oleh Michiru namun dia memilih untuk tetap mengangguk saja.
***
Selang dua minggu pencarian kasus yang dihadapi oleh Zuhana tak mendapat perkembangan apapun, tapi tak membuat Michiru menyerah, dia sudah berjanji akan mencari tahu kebenarannya, lagi pula kasus ini berhubungan dengan kasus yang sedang dia tangani.
"Apa maksud Zu ya dengan bicara jauhi Yamako dan dekati ketua?" Gumam Michiru.
"Ada apa?" Michiru terlonjak kaget karna sebuah pertanyaan.
"Kau sedang melamunkan apa Michi? hingga aku datang kau sekaget itu" tanya Yamako
"Ahhh .. tidak" elak Michiru, mana mungkin dia berkata jujur dengan mengatakan jika dirinya diminta menjauhi Yamako.
"Kau tahu Michi, telah terjadi pembunuhan kembali, kali ini didaerah pinggir kota" ucap Yamako
"oh ya? Ko aku tak mengetahuinya?" Tanya Michiru
"Kau selalu telat mengetahui berita Michi" ucap Yamako
"Kali ini siapa korbanya?" Tanya Michiru
"Lukman Sergio" jawab Yamako
"Seorang hakim?" Tanya Michiru yang dijawab anggukan oleh Yamako
"Keadaannya sama mengenaskannya dengan yang dialami oleh madam Zie dan Shamuel, ada tertera pula nomor didadanya sama seperti madam Zie, Sham dan tuan Jotho" tutur Yamako
"Tuan Jotho?" Gumam Michiru.
"Iya, kasus yang sedang kau tangani" jawab Yamako, membuat Michiru mengguk saja.
****
📨 Michi keruangan saya 📨
Pesan dari ketua membuat Michiru berbelok kembali kedalam kantor untuk menemui ketua dan menunda kepulangannya.
"Ketua memanggil saya?" Tanya Michiru padahal dirinya sudah tahu, hanya sekedar untuk kesopanan.
"Ahhh, ya duduklah Michi" pinta wanita yang berada dihadapannya tengah duduk dikursi kebesarannya, wanita cantik nan sexi, itu mengeluarkan notebooknya lantas menyerahkannya kepada Michiru.
"Tulis laporan mu disini, besok siang aku ingin laporan mu sudah ada dimeja ku", titah wanita seksi itu.
"Baik" jawab Michiru.
****
"Maaf ku fikir tidak ada tamu, lain kali saja kalau begitu" ucap Michiru, dia hendak memberikan laporannya pada ketua, tapi ternyata Yamako juga ada diruangan ketua.
"Tidak apa masuklah Michi" titah ketua
"Apa tidak mengganggu?" Tanya ketua
"Tidak, lagi pula ada hal yang mau aku sampaikan juga, duduklah" titah wanita itu, pada akhirnya Michiru masuk dan duduk juga.
"Katakan apa kau sudah punya gambaran tentang siapa dibalik kematian tuan Jotho Sergio?" tanya wanita berbaju merah maroon itu.
"Masih sama saja" jawab Michiru
"Apa kau tidak mencurigai sesuatu Michi? seperti misalnya pembunuhan itu ada sangkut pautnya dengan kasus yang dialami sahabatmu itu?" Tanya ketua
"Ketua benar, memang ada sangkut pautnya dengan kasus itu" jujur Michiru
"Itu artinya kau mengakui kalau Zuhana dalangnya, ahhhh dia benar - benar sikopat sejati kalau gitu ceritanya, entah berapa puluh orang yang sudah dia bunuh" ucap Yamako.
"098 benarkan ketua?" Tanya Michiru pada wanita dihadapannya.
"Apa maksudmu mana aku tahu Zuhana membunuh sebanyak itu" ucap wanita itu.
"Kita tidak sedang membicarakan Zu ketua, kita membicarakan korban yang telah meninggal" ucap santai Michiru.
"Terus maksudnya menanyakan padaku apa? jelas sudah jika Zuhanalah yang membunuh mereka semua dengan sadisnya" pungkas ketua
"Benarkah itu? jika memang benar lantas mengapa masih ada korban saat Zu sudah anda isolasi ketua, disini sudah membuktikan jika Zu tidak salah" ungkap Michiru.
."Lantas siapa orangnya?" Tanya Yamako
"Apa kau pura - pura tidak tahu, atau memang kau merasa takut untuk mengakuinya Yama?" Tanya Michiru.
"Apa maksudmu?" Tanya Yamako tak paham.
"Seharusnya aku sadar dari awal saat kau memberi ku dua Poto korban, kau mengatakan sendiri bukan jika kasus ini ditangani langsung oleh ketua, dan kamu sendiri yang bilang jika ketua sudah bertindak akan sulit untuk menggali informasi sekecil apapun" terang Michiru, Yamako bukanlah orang bodoh yang tak mengerti penjelasan dari Michiru.
"Lantas mengapa kau sampai bisa mendapatkan Poto itu?" tanya Michiru, Yamako hanya menyeringai saja.
"Lantas apa yang sudah kau ketahui Michi?" tanya wanita dewasa itu.
"Semuanya" jawab Michiru santai.
"Jujur saja tak yakin, awalnya karna bukti yang ku miliki sangat minim, namun setelah ketua sendiri yang memberikan listnya baru aku sadar siapa pelakunya, ketua sepertinya tak sadar memberikan notebook yang ada listnya, yang aku heran mengapa kamu ikut terlibat juga Yamako?" Tanya Michiru.
"Kau hebat Michi, belum genap dua minggu kau sudah menemukan siapa pelakunya" santai sekali wanita itu berucap.
"Kenapa ketua melakukan hal ini?" Michiru
"Manusia memiliki sis gelapnya masing - Mading Michi, kau tahu ada kesenangan tersendiri saat aku melihat betapa tak berdaya orang - orang itu, kau tahu rasanya sangat menyenangkan mendengar jeritan kesakitan itu tanpa bisa meminta tolong" jelas wanita itu dengan seriangainya.
"Ahhh aku jadi ingin melakukannya lagi, bukankah kau dan gadis itu ada dalam list itu, bagai mana jika sekarang waktunya biarkan gadis itu terkahir dibunuh oleh ku" sesekali terdengar tawa ketua yang menurut Yamako menyeramkan, dia baru tahu jika ketua semenyeramkan itu, padahal ketuanya sangat enerjik baik dan cantik walau temperamennya sedikit naik.
"Dan kau Yama, jadilah dokumentasi yang baik jika tidak ingin menjadi salah satu korban ku" titah wanita itu tegas Yamako hanya mengangguk saja, wajahnya terlihat sedikit pucat mungkin karna rasa takut.
"Ada apa Yama bukankah kau sering melihatnya membunuh, mengapa sekarang ketakutan seperti itu?" tanya Michiru, Yamako hanya diam saja namun mengikuti apa yang diperintahkan oleh ketuanya.
"Kau mau kematian seperti apa Michi?" tanya ketua
"Ah iya satu lagi, izinkan aku memiliki satu jari kelingking mu dan dua jari manis mu, untuk koleksi ku, kau dan Zuhana menjadikan list itu sempurna" ucap wanita itu.
"Kau benar - benar tidak punya hati ketua" sinis Michiru yang hanya dibalas senyum tipis saja, ketua sudah mengeluarkan pisau lipatnya, pisau yang sudah memakan korban 98 orang itu, kali ini giliran Michiru yang akan bermain dengannya.
Yamako nampak menikmati itu, menikmati rasa takut ketegangan yang dirasakan Michiru, Michiru tersenyum sinis, "Ternyata bukan hanya ketua yang sikopat kau juga memiliki monster dalam tubuhmu Yamako, pantas saja kau tahu tentang siapa korban kasus yang ku tangani itu" ucap Michiru panjang lebar yang hanya mendapat seringai dari Yamako.
Ahhh Michi dalam bahaya saat ini dikelilingi dua orang sikopat, bagai mana tidak membuatnya takut, tapi jika dia takut dia tak akan bisa pergi.
Ahhhh Michi sepertinya persiapan mu kurang matang, entah bagai mana Michiru akan menghadapi situasi seperti ini.
Saat ketakutan susah mencapai ubun - ubun dan sepertinya ajal sudah terlihat didepan mata, nyawa Michiru seakan dipaksa untuk terbang dari tubuhnya sebelum waktunya.
"Nona Debora anda kami tangkap atas tuduhan pembunuhan berencana dan berantai terhadap ke 98 korban" pada akhirnya kepolisian datang tepat pada waktunya.
'Ahhhh melegakan sekali' batin Michiru
"Kasus clear" lanjutnya lantas berlalu dari ruangan itu, tanpa memperdulikan keadaan diruangan itu, baginya kasusnya sudah beres, dan saat ini dia hanya ingin merebahkan tubuh lelahnya diatas kasur empuknya.
The end...