Haah, udara di sini sangat pengap. Kenapa mereka mengurung ku sih. Mengapa...
.
.
.
Ruangan gelap dengan sedikit cahaya dari lampu yang mulai redup. Rambut panjang terurai dengan bando merah di kepala. Seorang gadis sedang bermain dengan boneka kesayangan nya. Pandangan kosong seakan jiwa gadis itu keluar dari raga nya.
"Ah sungguh bosan, aku ingin keluar"
Ucap gadis itu kepada boneka beruang nya. Lagi- lagi gadis itu mengeluh, sambil berjalan mendekati pintu kamar yang terkunci, gadis itu berteriak.
"KELUARKAN AKU! AKU INGIN BERMAIN!"
Namun tak ada jawaban.
"Ck, lepaskan aku...Bi lepaskan... hiks...aku cuma ingin keluar"
Gadis itu hanya bisa menangis, namun tak lama ia memukul pintu dengan sangat keras! Terlihat tetesan darah mengalir di tangan gadis itu. Ulahnya semakin menjadi- jadi, bahkan ia tertawa sendiri dengan raut wajah mengerikan.
"HAHAHA, BI! LIHAT INI! INI...WARNA MERAH INI SUNGGUH CANTIK BUKAN?! BWAHAHA, hahaha... Bi, bukan nya sudah saatnya aku keluar?"
Isakan tangis terdengar di balik pintu. Terlihat wanita muda dengan pakaian pelayan berjaga di depan pintu kamar sang gadis. Ia hanya bisa menahan tangis nya dengan badan yang bergetar. Namun tak lama, ada seseorang yang menghampiri wanita tersebut.
"Nona... semakin menjadi- jadi ya?"
Tanya wanita setengah baya dengan pakaian yang sama seperti pelayan tersebut.
"A..apakah saya harus membuka 'kan pintu ini? D..dan daritadi Nona memanggil anda secara terus- menerus"
Ucap pelayan sambil menunduk.
Wanita setengah baya itu hanya menghela nafas. Ia memegang pundak sang pelayan dan berkata...
"Aku akan memberimu waktu 5 menit untuk sembunyi, dan ingatkan yang lain untuk jangan keluar dari kamar mereka! Mengerti?!"
Sekujur pelayan muda itu bergetar hebat! Ia hanya mengangguk dan langsung berlari. Sebisa mungkin mengingatkan pelayan dan pekerja lain untuk bersembunyi. Mereka yang mendengar ucapan pelayan wanita itu langsung ketakutan sejadi-jadi nya.Berusaha menghentikan kegiatan mereka dan segera masuk ke kamar masing- masing.
"Sial, apakah kita bisa sampai ke kamar dengan waktu secepat itu!?"
"Lebih baik kau diam! Jangan menakut- nakuti ku bodoh!"
"Bekerja di sini membuat ku gila!!"
Suara ricuh dari orang-orang yang ada di dalam kastil tersebut. Suara hentakan kaki terdengar di mana-mana.
Sampai...5 menit sudah berlalu.
Tok tok tok
"Bi? Bibi!? Hahaha akhirnya, masuklah Bi, aku ingin bermain!"
Wanita setengah baya itu menuruti perintah sang gadis. Mengambil kunci di tangan nya. Dan membuka pintu secara perlahan.
Dengan riang, sang gadis langsung memeluk wanita itu. Dengan senyum hangat, wanita baya itu mengelus kepala sang gadis.
"Akhirnya, aku sudah menunggu mu Bi. Lihatlah, padahal mata boneka ku sudah di ganti dengan yang baru. Tapi seperti nya mata biru tidak cocok dengan nya"
Gadis itu menunjukan boneka nya. Boneka beruang dengan beberapa robekan dan bekas jahitan. Beberapa cairan merah melekat di kain boneka tersebut. Mata biru yang indah terpasang di wajah boneka. Bukan mata yang terbuat dari kancing baju atau sebagainya... melainkan mata manusia yang nampak sudah membusuk. Bekas jahitan dan tusukan terlihat jelas di mata nya.
Namun tak lama, gadis itu tertawa terbahak-bahak.
"Tapi seperti nya mata hijau Bibi cantik juga, bolehkah aku memiliki nya?"
Dengan senyum pahit sambil menahan air mata, sang pelayan setengah baya itu bertanya...
"Nona, kenapa dengan tangan anda? Kan sudah saya bilang tolong jangan melukai diri anda sendiri"
"Cih, Bibi selalu cuek dengan ku. Ah! Pintunya terbuka, aku boleh keluarkan? Hihihi, saatnya bermain, fufufu🎶"
Gadis itu keluar sambil membawa pisau di tangan nya. Tak lupa ia juga membawa boneka di tangan nya.
"Ah, DAN JANGAN BUANG MAINAN KU!"
Mata dengan aura ancaman tidak membuat wanita itu takut. Ia hanya mengangguk pelan. Gadis itu kembali tersenyum dan mulai pergi meninggalkan wanita setengah baya.
Setelah gadis itu pergi, sudah tugas sang pelayan untuk membersihkan kamar Tuan nya. Ia menyapu dan membersihkan debu yang ada. Mengepel walau banyak sekali bercak warna merah di lantai. Di pojok kamar, terlihat mayat-mayat menumpuk dengan kulit dan organ yang sudah di pisah. Sang wanita setengah baya hanya menghela nafas.
"Haah, apakah aku harus membuang organ yang sudah busuk ini? Sepertinya jangan, Nona suka sekali memasukan benda ini ke beberapa boneka nya"
Sang pelayan kembali acuh, ia hanya membersihkan kasur milik Tuan nya dan segera pergi dari sana.
Suara teriakan terdengar, disusul oleh gema yang di buat. Jeritan kesakitan, dan juga suara tawaan... dengan perasaan puas.
Jalan kalian lambat, kan sudah ku bilang untuk bersembunyi dengan cepat.
Batin nya sambil berjalan dengan tatapan kosong.
"Berapa lama lagi aku harus bertahan di keluarga gila ini"
......
Sedangkan di tempat sang gadis.
Ia tanpa sengaja melihat seseorang di ujung lorong. Dengan perasaan senang gadis itu berlari sambil membawa pisau di tangan nya. Terlihat target gadis itu sangat ketakutan. Wajah nya yang pucat membuat gadis itu semakin senang. Bahkan pria itu tak dapat berjalan dan hanya bisa diam. Kaki nya sangat lemas saking ketakutan nya.
Gadis itu semakin mendekat dan mendekat. Bahkan gadis tersebut sudah ada di hadapan pria yang terduduk lemas di lantai.
"HAHAHA, kenapa paman takut? Lihatlah, aku membawa boneka, ayo bermain!"
Badan pria itu bergetar hebat. Ia melihat boneka dengan mata manusia sebagai hiasan.
"Hihihi, atau paman mau jadi sahabat boneka ku?"
Pisau tajam mendarat tepat di mata pelayan pria yang tidak bersalah. Sang gadis dengan hasrat nya langsung menusuk badan target tanpa ampun.
"AKKHHHHH!!!"
"BWAHAHAHA, INI..SANGAT...SERUUUU!!"
Muncratan darah tersebar dimana- mana. Pria itu sudah kehilangan banyak darah, tak butuh waktu lama, nyawa pria tersebut tak bisa di selamatkan lagi.
"Eh loh? Kok udahan? Cih, lemah sekali"
Ucap sang gadis yang langsung mencongkel mata si korban.
Tak lama terdengar suara langkah kaki mengarah ke gadis itu. Suara yang khas membuat nya menjadi senang dan tertawa kegirangan.
"Mama, Papa! Kalian sudah pulang!?"
Ucap gadis dengan senang.
"Wah, kamu dapat warna apa nak?"
Tanya pria ber jas menghampiri sang gadis. Menyesuaikan tinggi nya dan mengelus dengan lembut kepala gadis itu.
"Warna coklat Pa, haah padahal aku ingin warna yang lebih cantik"
Jawab sang gadis sambil menunjukan 2 bola mata ke pria tersebut.
"Astaga, dimana Bi Asih? Walaupun ini memang indah tetap saja darah ini harus segera di bersihkan"
Ucap wanita yang ada di sebelah pria ber jas. Namun tak lama mereka bertiga saling bertatapan. Mereka tertawa terbahak- bahak tanpa alasan.
"Hahaha, nak, bagaimana jika kita berburu lagi?"
"Oke Ma!"
.
.
.
Yo, cerita ini hanya fiksi, enjoy✌🏻