Bagaimana jika saat kau sedang asik rebahan tiba-tiba kau mendapatkan pesan dari sahabat kecil dan mantan mu yang berisi hal yang sama mengejutkan nya, jika kau menebak aku mendapatkan undian maka kalian salah, karena isi pesan tersebut adalah
"Fale.... Will you marry me?, jangan langsung ditolak ya, aku sedang dalam perjalanan ke rumah mu sambil membawa kedua orang tua ku, aku akan menunggu jawabanmu nanti" What!? Mengejutkan bukan? 2 cowok loh!! Aku di ajak nikah sama 2 Cowok, mimpi apa aku semalam?!! Astaga-astaga aku harus bagaimana nantinya....
Tring
Sebuah ide muncul di kepalaku
"Oke Fale, pertama tenangkan dirimu Fale! Tarik nafas, hembuskan, hufft.... Oke mari kita berdandan agar tidak membuat malu kanjeng ratu"
Penampilan Falerie yang tadinya berantakan kini telah berubah 180°, kini ia tampak sangat cantik
Falerie pergi kearah cermin dan melihat tampilannya yang memukai "Wow.... Cantik banget hihihi, tapi... Kayaknya ada yang kurang deh, apa ya?" Falerie menatap pantulan dirinya yang ada di cermin, matanya jatuh pada bibirnya, hmm~~ sepertinya bibir ku ini terlihat sedikit pucat, sedikit lip balm pasti akan membuatnya lebih baik
"Perfect.."
Ceklek
Pintu kamar di buka oleh seseorang, Falerie menatap kearah pintu itu, di sana terdapat ibunya, sang ibu menatap anaknya heran, tumben sekali jam segini anaknya yang satu itu sudah rapi, biasanya saja masih asik rebahan, pikirnya
"Tumben Fal, kamu mau kemana pakai baju rapi begitu?" Kata Olive setelah mengamati anaknya dari atas ke bawah
"Ishhh ibu~ Fale masih rebahan dibilang pemalas, eh pas rapi dibilang tumben, kita tuh bakal dapet tamu istimewa, tapi... Fale nggak tau mau jawab apa kalau mereka sudah sampai"
"Tamu istimewa? Siapa emangnya sampai buat kamu bingung jawabnya?" Tanya Olive penasaran, anaknya ini jarang sekali mendapatkan tamu, kalaupun ada paling cuman teman kuliahnya, itupun tak membuat Falerie sampai kebingungan
"Tamunya itu..."
"Fale, kamu dapat tamu tuh, si Marcell dan Mikael"
Mendengar itu hati Falerie menjadi tak karuan, detak jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya, apakah ia memiliki riwayat penyakit jantung?!
"Buuu~ Gimana ini? Masa Falerie punya penyakit jantung?" Hah? Olive menatap anaknya bingung, perasaan dari dulu sampai sekarang Falerie tak pernah punya penyakit itu, dari mana Falerie menyimpulkan bahwa ia punya riwayat jantung?
"Yah... Emang Falerie punya penyakit jantung?" Tanya Olive pada Fathan, karena pekerjaan suaminya itu seorang dokter jadi ia pasti tahu penyakit apa aja yang ada di tubuh Falerie
"Nggak ada tuh, nak kenapa kamu bilang kalau kamu punya penyakit jantung? Coba bilang pada ayah gejalanya"
"Tadi pas ayah bilang kalau Marcell dan Mikael datang detak jantung Fale berubah jadi cepat... Oh iya!! Tadi pas Fale dapat pesan dari mereka berdua jantung Fale berdetak kencang kaya gini!"
""!!?"" Mendengar penuturan Fale pasangan suami istri itu menjadi panik, pasalnya Fale adalah anak perempuan satu-satunya yang mereka miliki
"Emang kamu dapat pesan apa Fale?!"
"Mereka bilang 'Will you marry me' Yah Bu!!" Orang tua Falerie memelototkan matanya
"Yah! Samperin mereka, Ibu akan ke dapur membuat minuman dan mengambil cemilan" Olive berkata dengan semangat, sepertinya ia lupa, kalau Olive si anak bontot perempuan kesayangannya itu mempunya kemungkinan akan di bawa oleh suaminya nanti
Mendengar instruksi Olive, Fathan mengangguk dan segera pergi ke lantai pertama letak ruang tamu berada, pantas saja si duo M itu mengajak orang tua mereka untuk berkunjung, ternyata ini toh alasannya, batin Fathan
"Ayah!! Ibu!! Kok Falerie ditinggal?"
Sepasang suami istri itu mengabaikan perkataan Falerie
"AYAHHH tungguin ishh, ayah belum jawab pertanyaan Falerie tentang Falerie punya penyakit jantung atau nggak!! Ishhh ayahhh"
Akhirnya Falerie tiba di ruang tamu, saat melihat wajah mereka berdua, Falerie rasa ia menyesal mengikuti Ayahnya ke bawah. Mereka berdua adalah orang yang Falerie sayang, sekaligus orang yang Falerie cintai (?) Falerie tak ingin menyakiti salah satu dari mereka, karena.... Mereka mempunyai tempat yang istimewa di hatinya
"Falerie, sini duduk di samping ayah" Falerie mengangguk dan mulai berjalan ke arah ayahnya dengan menunduk
Ekhemm
Fathan berdehem agar menarik perhatian mereka yang ada di ruangan itu
"Jadi, ada gerangan apa kalian semua datang ke rumah kami?" Tanya Fathan seolah-olah tak tahu maksud kedatangan mereka
""Saya ingin melamar anak bapak!"" Kompak mereka berdua, para orang tua hanya terkekeh geli mendengarnya, sedangkan sang bintang untama kini tengah menunduk malu
"Sepertinya mereka berdua sangat bersemangat ya pak Fathan" Kata Sanjaya, ayah Mikael
"Sepertinya begitu" Bertepatan setelah Fathan berkata, Olive datang bersama bi Sur sambil membawa nampan berisi minuman dan camilan
"Silahkan dinikmati.... (?)" Olive menoleh ke arah suaminya yang sedang menepuk-nepuk sofa, ahh~ dia mengangguk paham dan duduk di samping suaminya itu, di rasa tak ada yang perlu dilakukan lagi bi Sur pamit pergi ke dapur
"Jadi gimana nak Falerie?" Kini giliran Dani, ayah Marcell yang bertanya
"Ummm.... Ayah, ibu..." Bukannya menjawab Falerie malah menoleh ke arah ayah dan ibunya
Olive geram, ingin sekali ia menempeleng kepala anaknya yang satu itu, kenapa kebiasaan kecilnya itu masih ada sih? Berbeda dengan Olive yang merasa geram, Fathan hanya tersenyum dan berkata
"Nak semua keputusan ada ditangan kamu, mau kamu menerima salah satu dari mereka atau menolak mereka berdua, itu terserah padamu, ikuti kata hatimu nak" Mendengar nasihat ayahnya Mata Falerie menjadi berkaca-kaca, ya ayahnya benar ia harus mengikuti kata hatinya, jangan sampai karena tak ingin menyakiti salah satu dari mereka, Falerie malah mengambil keputusan yang dapat menyakiti hatinya
"Maaf... Tapi Falerie boleh tidak meminta waktu untuk memikirkannya, 1 Tahun sepertinya cukup"
!!?
Mereka yang ada di sana terkejut dengan tawaran Falerie, kini gantian Fathan yang merasa geram, berbeda dengan reaksi Fathan Olive menatap Falerie dengan bangga. Baguss! Sepertinya bakat tawar menawarnya menurun kepada Falerie
"Nggak! Nggak boleh 1 Tahun, pokoknya 1 hari" Kata Marcell dan di setujui oleh Mikael
"Ihhh, nggak bisa pokoknya 1 tahun!!"
"1 Minggu?" Tawar Mikael
"6 bulan"
"1 bulan gimana?"
"2 bulan"
"Oke deal" Putus Marcell, Mikael menatap tajam Marcell, tidak tahukah dia kalau dirinya dari awal memang sudah menargetkan 2 bulan itu?
"Apa liat-liat? Gw tau gw ganteng, nggak usah di liatin segitunya juga dong ntar suka kan jijik gw" Bisik Marcell di telinga Mikael, niatnya biar para orang tua nggak denger eh malah menimbulkan fitnah, lihatlah sekarang para orang tua sedang menatap mereka aneh
"Ekhem jadi sudah diputuskan kan?" Kata Syafira, ibu dari Mikael memutuskan keheningan yang ada
Mereka semua mengangguk dan berkata akan menanti jawaban dari Falerie
Falerie dan kedua orang tuanya mengantarkan para tamu sampai ke depan pintu gerbang
Falerie menghela nafas, 'Siapa yang akan ku pilih... Apakah aku harus bertanya pada Niken? Sepertinya bukan ide yang buruk', batinnya
Kedua orang tua Falerie tahu anaknya sedang kerepotan sekarang, tapi mereka tak ingin terlalu ikut campur dalam urusan Falerie, mereka tahu bahwa pilihan Falerie adalah yang terbaik. Mungkin terdengar terlalu membebaskan Falerie, tapi tak masalah toh mereka juga sudah kenal dengan orang tua masing-masing sang calon
"Ibu, ayah... Falerie mau ke rumah Niken ya?" Mereka menganggukkan kepala pertanda iya
"Sekalian jalan-jalan juga nggak papa, jngn terlalu dipikirin, kamu masih punya banyak waktu" Kata Olive bijak, Falerie hanya mengangguk
Akhirnya mereka bertiga meninggalkan gerbang, dan pergi ke arah yang berbeda
Butuh sekitar 20 menit agar bisa sampai ke rumah Niken menggunakan motor, orang gila mana yang akan memilih menggunakan mobil di saat siang seperti ini, Jakarta macet oke, nyalipnya susah kalau pake mobil, lagian Falerie juga ingin menghemat BBM
Tok tok tok
Falerie mengetuk pintu rumah Niken 3 kali, tak lama kemudian pintu di buka oleh Maura, ibu dari Niken
"Eh nak Falerie... Apa kabar kamu, kenapa jarang main sih? Tante kan nggak ada temen yang bisa diajak masak bareng-bareng"
"Ehehehe, Falerie sibuk Tan, abisnya kan udah semester 4, Falerie dah mulai magang"
"Ouh jadi gituu, hayuk lah kamu masuk sini, kita ngobrol di dalem aja" Kata Maura sambil mempersilahkan Falerie masuk
Falerie tersenyum dan mengangguk, mereka berjalan beriringan, saat sampai di ruang tamu Maura berkata
"Kamu tunggu di kamarnya Niken saja sana, Tante mau ke dapur dulu ngambil minuman sama cemilan buat kalian"
"Ehhh... Ngak usah Tante, nanti jadi ngerepotin lagi" Tolaknya halus, padahal aslinya dia merasa haus dan sedikit lapar
"Nggak ngerepotin kok, ya sudah Tante tinggal ya"
Falerie berjalan menuju tangga, karena kamar milik Niken ada di lantai dua sama seperti miliknya
Tok tok tok
"Ken... Di dalem nggak?"
"Mmm~ masuk aja" Sahut Niken yang ada di dalam dengan suara serak, khas orang bangun tidur, padahal sudah jam 10, yah Falerie dapat maklum sih, dirinya saja kadang suka malas bangun saat akhir pekan
"Ken bangun, Fale mau cerita"
"Iya hoaamm"
"Ihhh~ bau jigong" Kata Falerie sambil memegang hidungnya
"Cot... Gw ke kamar mandi bentar ye, katanya mau cerita" Niken bangkit dari kasur dan pergi ke kamar mandi
5 menit kemudian
"Mau cerita apa nih?"
"Kamu kenal Marcell sahabat kecil Fale kan?" Niken mengangguk
"Masih inget Mikael mantan Aku" Sekali lagi Niken mengangguk
"Tadi pagi mereka berdua datang ke rumah sambil bawa orang tua mereka, mau ngelamar aku" Niken memelototkan matanya terkejut
"Eh yang bener aje lu bocil" Katanya tak percaya
"Beneran tau, tanya aja sama mereka"
Mau tak mau Niken mengambil hpnya yang ada di nakas, ia menscroll kontak yang ada sampai menemukan 2 kontak yang dia cari, Niken mulai mengetikan sesuatu di hpnya, setelah itu ia pun menghela nafas
"Terus siapa yang bakal lu pilih?" Tanyanya
"Nggak tau, makanya Fale mau konsul ke Niken"
"Hmm~~ Gini deh, lu lebih suka yang mana?"
"Dua-duanya Fale suka"
"Pernah ngerasain jantung berdetak lebih cepat pas lagi berduaan sama mereka?" Tanya Niken sekali lagi
"Sering, kan Niken tahu, kalau dulu Fale pernah suka sama Marcell, tapi ditolak hehehe" Aduh... Ia lupa fakta itu
Memang benar bahwa Falerie pernah merasakan Cinta pada Marcell, dan ia juga pernah confes langsung pada orangnya tapi ia ditolak, dengan alasan.... Marcell tak ingin hubungan persahabatan mereka hancur karena percintaan yang mungkin saja kandas. Mendengar alasan Marcell yang masuk akal Falerie pun berkata bahwa ia paham, akan tetapi di hari berikutnya mereka sama-sama saling menghindar
Ceklek
Pintu kamar dibuka oleh Maura, sedari tadi dia sudah menguping pembicaraan mereka berdua
"Terus kalau Mikael?" Tanya Maura
"Kan Mikael mantan Falerie, jadi Falerie juga pernah ngerasain hal kaya gitu, tapi.... Akhirnya Falerie diputusin karena alasan yang nggak jelas hehehe"
Kasusnya mungkin sedikit berbeda dari Marcell, tapi pada akhirnya Falerie mulai menjauhi Mikael, sampai saat dimana Mikael-Falerie-Marcell bertemu kembali. Karena beberapa alasan mereka mulai dekat lagi
Niken menatap Maura seolah dia sedang berkata 'Mama sih, noh liat anak orang jadi tambah sedih kan' Maura pun menatap balik Niken 'Loh kok nyalahin mama? Kan kamu duluan'
Hufft Niken menghela nafas
"Terus lu masih ngerasain kek gitu lagi nggak?"
"Pernah beberapa kali, tapi nggak sesering dulu. Pas mereka ngetik 'Will you marry me' sama pas mereka bilang 'Saya ingin melamar anak bapak!' detak jantung Falerie bertambah cepat" Kata Falerie sambil memperagakan suara dan penampilan mereka
"Ada yang lain?" Tanya Maura, dalam hari ia bersyukur bahwa Falerie sudah balik ceria lagi
"Nggak ada Tan, eh.... Kayaknya ada deh orang yang bisa bikin Jantung aku kayak gini saat kami bertemu dan bikin Fale terus-menerus ingin berjumpa dengannya"
""Siapa!"" Kompak Maura dan Niken
"Dia....."
Perkataan Falerie terputus karena dia mendapatkan panggilan dari Abang pertamanya, Stefano, dia pun meminta izin untuk mengangkat telepon tersebut
"Halo Bang Fan"
".........."
"Heem itu bener"
".........."
"Lagi di rumah Niken kenapa, lagi ngobrol sama Tante Maura dan Niken kenapa?"
".........."
"Harus ya?"
".........."
"Ya udah Fale ijin dulu ya sama mereka"
".........."
"Bye-bye Bang Fan"
Setelah Telpon mati Falerie pergi masuk ke kamar Niken
"Tante , Niken, Fale pamit pulang ya, udah di tunggu sama Bang Fan dan yang lainnya" Pamitnya pada mereka
"Iya hati-hati ya Fal" kata maura
"iyaa"
"E-ehhhh FALEEE KASIH TAU GW DULU SIAPA ORANGNYA WEHHH JANGAN PULANG DULU"
Pletak
"Jangan teriak-teriak" kata maura sambil menjitak kepala Niken, yang dijitak saat ini hanya menatap kesal pada sang pelaku
"TADI FALE UDAH KASIH TAU NAMANYA LEWAT CHATT" Astaga mereka pikir rumah ini apa? Kebun binatang? Hutan? Main teriak aja, monolog Maura
Meninggalkan Ibunya yang masih berada di ambang pintu, Niken masuk ke dalam kamarnya dan mengambil hp miliknya, dia membelalakkan matanya melihat nama yang tertera di sana
"M-mah..." Niken memanggil Maura dengan terbata-bata
"Kamu kenapa, kaya abis liat hantu saja"
"Ini liat" Niken menyodorkan hpnya, Maura mengambil dan membaca nama itu baik-baik
"K-ken... Maksudnya dia yang itu? Ta-tapi kan dia..." Setelah melihat nama itu, tubuh Maura menegang, ia khawatir bahwa Falerie akan merasakan sakit hati lagi karena telah menempatkan hatinya pada orang yang salah
"Sepertinya tak masalah ma... Fale pasti akan memberitahu keluarganya, kalau keluarganya tahu bahwa dia orang yang tidak tepat pasti ia akan di suruh menjauh" Semoga saja kali ini nasib percintaan Falerie akan menjadi lebih baik
**********
Sesampainya Falerie di rumah ia segera menceritakan semuanya, tanpa melewatkan satu pun
"Fale... Kamu yakin?" Falerie mengangguk menjawab pertanyaan dari Abang ke duanya Bintang
"Ya sudah kalau memang Fale merasa yakin, tapi Fale kamu tahu kan kalau kamu satu-satunya adik perempuan yang kami miliki, kamu satu-satunya Princess disini. Jadi kami harus mencari tahu perasaan laki-laki itu padamu, jika ia tak merasakan apa yang kamu rasakan, kamu mau kan, menjauh darinya" Falerie mengangguk, mengiyakan perkataan Abang ke 3 nya, ian. Ia tahu ia penting di sini, ia tak boleh egois hanya karena satu pria
2 bulan kemudian
Seperti yang sudah dijanjikan, pada hari ini Falerie akan memberi mereka jawaban atas pernyataan mereka 2 bulan lalu
Falerie menolak lamaran keduanya
"Kenapa Fal?" Tanya Marcell
"Nggak papa.... Bukankah Arcel juga pernah berkata bahwa hubungan kita bisa saja berakhir gara-gara hubungan percintaan kita yang bisa kandas?" Jawab Falerie
"Beri gw kesempatan kedua Fal"
"Nggak bisa Arcel"
"Terus kenapa lu nolak gw juga Fal?" Tanya Mikael
"Mikael pernah memutuskan Falerie karena alasan yang tak jelas, bisa saja kan El mengulanginya lagi?"
"......," Mikael diam membisu ia menyesal pernah memutuskan Falerie dengan alasan yang tidak jelas
"Lagi pula Fale sudah punya orang yang mencintai Fale balik" Setelah Fale mengucapkan kata-kata itu datang seorang pria berjas yang sedang menggendong anak kecil di lengannya
Melihat kedatangan mereka, Mikael dan Marcell sama-sama mengetahui bahwa "Jadi.... Nggak ada kesempatan kedua buat kita"
Beberapa bulan kemudian kini rumah yang pernah menjadi saksi, Falerie menolak lamaran kedua orang yang pernah dicintainya tengah ramai oleh para tamu, mereka saat ini sedang menyaksikan acara pernikahan seorang pengusaha muda dengan kekasihnya. Ya mereka menggelar acara pernikahan di rumah Falerie, tempat dimana ia dilahirkan dan dibesarkan
Setelah acara selesai kini Falerie sedang bersama dengan keluarganya, hendak berpamitan, ia akan tinggal mandiri dengan sang suami
"Bang adek kita dah gede ya? Jadi sedih deh" Ucap Abang keempat sekaligus Abang terakhir nya, Vino
"Kalian semua sudah besar, Pangeran dan Princess kami sudah besar semua" Kata Olive sambil memeluk suaminya, tak terasa pernikahan mereka sudah berjalan lebih dari 30 tahun, mereka di karuniai 4 anak laki-laki dan 1 anak perempuan, walaupun dulu mereka suka ribut satu sama lain, syukurlah mereka sangat akur saat besar
Fathan mengelus pundak Olive yg mulai bergetar, perjalanan mereka selama 30 tahun tak mudah, tapi melihat anak-anak mereka saat ini, sepertinya perjuangan mereka tak sia-sia. Bertahan selama itu tak mudah, banyak lika-liku yang harus di lalui, orang ketiga kerap ada dalam hubungan mereka, tapi syukurlah mereka saling mempercayai satu sama lain.
"Sini nak kita pelukan bareng-bareng" Olive merentangkan tangannya diikuti Fathan yang ada di sebelahnya, keempat putra dan satu putri itu langsung memeluk orang tua mereka, mereka menangis bahagia, mereka bahagia akhirnya anak/adek yang telah mereka jaga selama sudah besar dan memang harus pergi jauh dari rumah
"Fale... Rumah ini memang bukan tempat mu pulang lagi, tapi jika kau ingin mengunjunginya, maka pintu rumah akan senantiasa terbuka lebar untuk mu, jangan sungkan-sungkan untuk berkunjung, doa kami akan selalu mengiringi perjalanan pernikahan kalian, semoga pernikahan kalian berjalan sampai maut memisahkan"
"Hiks Ibuuu... Ayah... Abang... Fale akan sering merasakan rindu pada kalian, kalian jaga kesehatan ya, selama Falerie pergi" Mereka melepaskan pelukan mereka, Falerie mendatangi satu persatu abangnya dan memeluknya
"Bang Fan, selamat atas anak keduanya ya"
"Selamat buat anak keduanya Bang Intang"
"Bang ian, selamat ya atas kehamilan kak Putri, cieee bentar lagi jadi ayah, jadi ayah yang baik ya Abang, lindungi anak Abang sampai mereka dewasa, sama seperti Abang melindungi Fale selama ini" Falerie melepaskan pelukannya dan beralih meemluk Vino
"Bang Vino! Cepet-cepet cari istri ya, semangat hihihi"
"Iya-iya bawel, kamu mau kakak ipar yang kaya apa hmm?" Tanya Vino sambil memeluk erat Falerie seakan tak ingin melepaskannya
"Pengennya yang bisa nerima kami apa adanya, yang akan ada saat Abang butuhkan, dan yang paling penting Abang dan dia saling mencintai dan saling melengkapi"
"Eyyy~ emangnya ada"
"Ada dong, makanya semangat nyarinya ya" Vino dengan tak rela melepaskan pelukan mereka berdua
"SEMUANYA!! FALERIE PAMIT YA, SEE YOU ALL" Falerie melambaikan mereka sekeluarga ikut melambaikan tangannya
Kini Falerie beserta Dion, sedang berada di mobil, mereka tak langsung berangkat, Dion memeluk tubuh istrinya dan membisikan kata-kata
"Menangis saja sesukamu, jangan ditahan, aku akan menjagamu sama seperti mereka menjagamu, aku berjanji tak akan menyakiti mu, bila aku menyakitimu kau boleh kembali ke rumah itu lagi, aku tak akan melarangmu"
Falerie mengangguk, ia memandangi rumah besar itu sekali lagi, setelah itu ia menatap sang suami dan mengangguk, Dion tersenyum, mulai menjalankan mobil menjauh dari rumah itu, mereka sudah siap untuk membuka lembaran baru
Dion Nirvana Star, seorang duda tampan kaya raya 7 turunan 7 tanjakan adalah pilihan yang dipilih oleh seorang Falerie Putri Arjudana. Dion merupakan salah satu kerabat jauh dari Olive Margareth Siagian, dia sudah menyukai Falerie sejak lama, ia juaga melindungi Falerie dalam bayang-bayang, menjauhkan seseorang yang membuatnya sakit. Tapi akhir-akhir ini perasaannya tak dapat di bendung lagi, ia mulai mendekati Falerie secara terang-terangan dan berkata bahwa, sebenarnya anaknya yang sekarang bukan anak kandungnya, itu adalah anak dari kakaknya yang meninggal paca kecelakaan beruntun dengan sang istri. Karena tak tega Dion mengangkat anak tersebut sebagai anaknya dan menyebarkan identitasnya sebagai anak kandung Dion. Mengetahui bahwa perasaannya terbalas pada hari dimana Fathan menghubunginya ia langsung mengakui perasaannya pada Falerie.
Dion, Falerie, semoga lika-liku kehidupan dapat kalian jalani dengan baik, jadilah sepasang suami-istri yang bisa melengkapi kekurangan, doa kami akan selalu kami ajukan untuk mu....