KRING.....KRING....!!!
Bel sekolah berbunyi di pagi hari bersamaan dengan ratusan siswa/siswi baru berdiri bersiap di halaman sekolah. Bermacam suku dan agama bercampur menjadi satu melebur dalam teriknya mentari pagi.
"Hari ini bakal masuk kelas mana ya?"
"Widih cewek-ceweknya cakep."
"Pelajaran lagi pelajaran lagi, membosankan."
"Eh, eh, kamu tinggal dimana?"
Terdengar berbagai macam suara percakapan bercampur riuh.
"SEMUANYA SIAP!" Teriak salah seorang lelaki memberi perintah.
"Silahkan, Ketua." Sambungnya mempersilahkan seorang wanita memimpin acara pengenalan tersebut.
"Sebelumnya saya ucapkan terimakasih telah bersedia berkumpul disini dan mengikuti aturan yang ada. Kalian boleh panggil saya Anggi, lengkapnya Anggita putri."
Meski seorang wanita dan baru duduk di bangku kelas 2 SMA, Anggita telah menyandang gelar sebagai ketua OSIS. Pencapaiannya tersebut bukanlah hal mudah dilihat dari para pesaing yang juga menginginkan posisi sama sepertinya.
Sikapnya yang tegas tak takut meski melawan seorang lelaki membuat guru berdecak kagum padanya. Walau begitu, Anggita tetaplah seorang gadis yang selalu menunggu kapan cinta pertamanya mampu menerjang hatinya.
Setelah melakukan ospek keseluruh siswa/siswi baru, kegiatan sekolah kembali seperti biasa, seperti halnya pembagian ruang kelas dan juga saling perkenalan kecil.
Siswa/siswi baru angkatan 2000 tersebut terbagi menjadi tiga ruang kelas, A, B dan C. Namun, sebuah kisah terlahir dari ruang B.
Senin pukul 8:30 di ruang kelas B.
KLETAK!!!! (Spidol terbang mengarah mengenai seorang murid lelaki yang tidur di ruangan kelas pagi hari).
"Ha...ha..ha...ha." (Seisi ruangan tertawa bersaut-sautan menyaksikan hal tersebut).
Mengelus kepala merasakan sakit lemparan tersebut, terbangun dengan tatapan mata masih merasakan kantuk teramat berat.
"Ya, kamu! Sini maju dan perkenalkan diri."
Berjalan sembari menguap tak memperdulikan rambut meski berantakan. Ketika sampai di sebelah meja guru, berbalik menatap seluruh murid kelas, mengangkat tangan kanan sejajar bahu, "Rio."
"Seperti itu cara memperkenalkan diri yang baik?" pekik guru tersebut.
Diantara kebanyakan murid, Rio adalah murid lelaki yang paling berpotensi di keluarkan dari sekolah. Pasalnya, walau sebenarnya dia pemuda yang pintar dan jenius, Ia tak begitu menyukai seluruh mata pelajaran.
Bagi Rio, metode cara mengajar seorang guru terlalu berbelit membuat rumit hal yang seharusnya mudah.
"Belajar, belajar dan belajar. Hal membosankan!" batin Rio sembari menguap kecil.
"Kamu seorang siswa atau bukan? Siswa mana jam pagi yang harusnya penuh semangat belajar malah menguap gak jelas terus rambut juga berantakan. Belum lagi mata merah seperti ikan gembung begitu," lanjut guru melirik Rio dari ujung kaki sampai kepala.
"Sabar, sabar, ingat Rio. Tetaplah putus asa dan jangan semangat dan teruslah menjadi beban keluarga," batin Rio meledek ucapan guru.
Perkenalan tersebut usai dan waktu terus berptutar dengan cepatnya. Detik demi detik dan hari demi hari terus Rio jalani tanpa semangat belajar.
"Tuh, apa ku bilang, udah pasti bakalan naik kelas walau sekolah gak ada semangat begini," pekik Rio melihat daftar kenaikan kelas di majalah dinding sekolah.
Rio yang acuh dengan mata pelajaran, selalu bolos dengan alasan yang tak masuk akal.
"Dimana Rio?" tanya guru fisika di jam 9 pagi.
"Kemesjid bu, sholat bilangnya."
Pukul 11:00.
"Bapak liat Rio gak hadir ya? Ada yang tau dia kemana?" tanya guru Matematika.
"Kemesjid pak, sholat."
Hal tersebut terus Rio lakukan hingga akhirnya dirinya tertangkap oleh Anggita yang sedang berpatroli.
"Buk, rokok sebatang," ucap Rio berjongkok di kantin sekolah.
"Jangan bilang-bilang ya."
Menurut isu yang beredar pasal bandalnya siswa lelaki yang berani merokok di kantin halaman sekolah, membuat OSIS harus bekerja lebih ekstra.
"Ingatlah baik-baik, jika kalian tertangkap sedang merokok, kalian akan langsung di keluarkan dari sekolah!" seru Anggita memberi pengumuman berjalan menuju area kantin dengan toaknya.
Seluruh siswa yang merokok saat itu berlarian cukup gelisah, tapi tidak dengan Rio yang duduk tenang menikmati rokoknya.
Jelas saja Anggita menangkap dirinya dan tanpa perlawanan, Rio ikut bersama Anggita menuju ruang osis.
"Kenapa ke ruang osis? Kok gak ruang kepala sekolah?" singkat Rio melirik Anggita.
"Hal apa yang membuat kamu jadi seperti ini?" pekik Anggita.
"Gak ada, bagiku semua hal begitu membosankan."
"Heh, ternyata lelaki pecundang."
"Apa kamu bilang?" lanjut Rio menekuk alis.
"Kamu lelaki pecundang yang baru pertama kali aku temui. Kamu pasti lari dari kenyataan berdalih membosankan padahal memang lelaki yang gak mampu melakukan apapun."
"Kamu tau apa?"
"Buktikan padaku kalau peryataanku salah!"
"Baiklah, tapi ingat, tanggung sendiri resikonya."
Anggita memberi Rio kesempatan bukan tanpa alasan, di mata Anggita, Rio adalah pemuda yang berbeda.
Benar saja, dalam waktu satu semester Rio begitu banyak mencapai prestasi, dari menjadi juara kelas serta membawa kelas B juara dalam bola Volly, Catur tingkat provinsi maupun sepakbola dan lainnya.
Kini kelas B jauh mengungguli seluruh kelas yang ada dan akhirnya hari kelulusan Anggita tiba.
"Kamu bisa ikut aku sebentar?" ujar Rika menemui Rio bermain gitar sudut ruang sekolah.
"Mau kemana?"
"Ada seseorang yang ingin bertemu kamu, sebentar aja."
Rio menyetujui dan mengikuti Rika hingga tiba di kantin sekolah.
Pukul 15:00.
"Anggita?" batin Rio melirik Anggita terduduk di bangku kantin bawah pohon.
Segera Rika meninggalkan Rio bersama Anggita.
"Aku telah lulus," lirih Anggita.
"Oh, selamat kalau begitu."
"Kamu gak ingin ungkapin sesuatu?" tanya lembut Anggita.
"Barusan aku udah ucapin selamat bukan?"
"Lain dari itu?"
"Gak ada sih, apalagi memangnya?"
"Selama ini bukannya kita terlihat semakin akrab semenjak terakhir kali kamu mengikat janji denganku di ruang OSIS," ketus Anggita.
"Aku mau apa? Aku juga bingung."
"Contohnya nembak aku!" pekik Anggita.
"Ngeri kali! Bisa masuk penjara aku nanti."
"Bukan nembak itu, itu loh yang aku maksud pacaran."
"Yaudah kita jalani bersama, oke?" balas Rio menyetujui ungkapan Anggita.
Keduanya saling menikmati suasana bahagia, berkeliling mengukur jalanan dan tertawa berbagi cinta diatas sepeda motor.