Matahari mulai terbit memancarkan sinar kuningnya yang begitu indah menyinari kota untuk menyambut hari pagi yang membahagiakan. Cuit... cuit... cuit... suara burung burung terdengar seraya menyambut hari yang indah ini.
Disebuah jembatan lebih tepatnya dibawah jembatan terdapat seekor hewan yang tengah membuka matanya. Hewan itu membuka matanya karena cahaya yang menerpanya membuat hewan itu bangun dari tidurnya.
Hewan itu tak lain adalah seekor kucing. Kucing itu memiliki bulu berwarna oren dan mata berwarna kuning dengan pupil tajam berada ditengahnya. Si kucing tampak lusuh karena tinggal dibawah jembatan tersebut.
Setelah membuka matanya kucing oren itu mulai meregangkan tubuhnya untuk membuat otot ototnya yang kaku kembali bekerja. Setelah meregangkan tubuhnya sang kucing berjalan ke arah sungai yang kebetulan berada dekat dengan jembatan.
Kucing itu menjulurkan lidahnya untuk meminum air sungai tersebut. Setelah rasa hausnya hilang kucing itu langsung pergi dari sana untuk pergi mencari makan. Karena sudah dua hari dia tidak makan. Sehingga menyebabkan perutnya bersuara keras.
Dalam perjalan kucing itu melihat banyak kendaraan yang sudah memenuhi jalan raya. Banyak asap putih yang muncul karena kendaraan itu. Ditengah jalan raya ia melihat seorang manusia yang sering disebut sebagai polisi tengah mengatur jalannya lalu lintas kendaraan.
Si kucing sudah sampai ditempat yang selalu disebut sebagai surganya makanan untuk hewan jalanan, yaitu tempat sampah. Kucing itu segara naik ke tempat sampah itu untuk mencari makanan yang bisa ia makan.
Kucing itu mengais ngais berharap ia menemukan ikan sisa yang menjadi makan favorit bagi setiap kucing. Tak lama kemudian ia menemukan beberapa sisa ikan setelah susah payah mengais ngais tempat sampah itu. Si kucing melihat yang tersisa di ikan itu hanyalah tulang dan kepalanya saja.
Tanpa menunggu lama si kucing mulai menyantap ikan itu. Dengan lahap ikan itu di makan oleh kucing itu. Tak terhindar ia mulai tersedak oleh makanannya. Ia merasa ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya. Kucing itu mulai batuk batuk, berharap benda yang menyangkut di tenggorokannya keluar. Uhuk... Uhuk... tak lama kemudian sebuah tulang ikan keluar dari mulutnya. Tulang itulah yang menyebabkan si kucing tersedak.
Kucing oren itu pun mulai melanjutkan makannya yang belum selesai tadi. Setelah selesai makan kucing itu pergi tuk mencari makan lagi, karena perutnya masih berbunyi menandakan ia masih lapar.
1 jam berlalu kucing itu sudah berkeliling tetapi tak kunjung menemukan makanan, sampai ia melihat sebuah warung makan yang berada di ujung jalan. Si kucing langsung berlari menghampiri warung makan tersebut. Setelah ia tiba di warung itu si kucing menghampiri salah satu orang yang berada disana.
Kebetulan orang yang kucing hampiri itu adalah pemilik warung makan itu. Dengan raut wajah memelas kucing itu mengeong kepada pemilik warung tersebut berharap ia diberi makan.
"Jadi ini totalnya berapa?" pembeli berbaju hijau bertanya ke penjual. "Tiga puluh empat ribu mas," jawab sang penjual. "Pak tolong tambah es.tehnya satu lagi," ucap pembeli berbaju merah yang sedang makan. "Oh ya tunggu sebentar," ucap pemilik warung sambil segera membuatkan teh.
Sementara itu si kucing oren yang terus mengeong dibiarkan saja dan lebih mementingkan para pelanggannya. Si kucing yang tidak mendapat respon dari pemilik warung langsung pergi tuk mencari makanan.
Si kucing terus berjalan dibawah teriknya matahari yang sudah sangat panas. Meskipun ia tahu bahwa hari sudah siang tetapi ia tetap berjalan untuk mencari makan dan memuaskan cacing alaska yang ada diperutnya.
Tiba tiba si kucing mencium bau ikan yang tak jauh dari tempat ia berjalan. Tak menunggu waktu lama si kucing itu langsung berlari menghampir baui ikan tersebut dengan mengandalkan indra penciumannya tuk menuntunnya ke arah ikan itu.
Sesampainya di lokasi bau tersebut si kucing oren melihat seekor kucing kuning yang tengah memakan ikan yang masih terlihat segar. Kucing kuning itu terlihat sudah kenyang dan meninggalkan ikan yang masih tersisa.
Melihat ikan yang masih tersisa yang ditinggalkan kucing kuning itu. Si kucing oren langsung menghampiri ikan tersebut. Dengan raut wajah yang senang ia mulai memakan ikan itu. Ia merasa beruntung karena mendapat ikan yang masih tersisa setengah, tetapi keberuntungannya berakhir disana. Dia tiba tiba melihat seorang pra dewasa yang bernafas ngos ngosan sambil membawa sebuah tongkat.
Pria dewasa itu mendekati si kucing oren dengan raut wajah yang marah sambil berkata. "Dasar kucing pencuri, beraninya kau mencuri ikan yang ada di tokoku." Mendengar itu si kucing oren kebingungan. Ia tidak tahu bahwa ikan yang ia makan adalah ikan curian kucing kuning dari toko milik pria tersebut.
Kucing oren pun langsung lari melihat pria dihadapannya yang hendak memukulnya dengan sebuah tongkat yang ia bawa. Tetapi naas si kucing tetap saja terkena pukul oleh pria tersebut.
Dibawah pohon besar rindang yang lokasinya dipinggir jalan terlihat si kucing oren yang tengah beristirahat. Ia terlihat kesakitan karena luka pukulan yang berada disekitar perutnya. Si kucing mencoba tidur dibawah pohon dengan perut yang masih lapar sambil mencoba menahan rasa sakit akibat pukulan dari seorang pria tadi.
Tak jauh dari tempat si kucing tidur terlihat seorang gadis kecil yang berjalan dengan riang tengah menuju rumahnya. Gadis kecil itu habis selesai sekolah dan ingin segera pulang tuk mencoba masakan ibunya Gadis kecil itu berjalan sambil menyanyikan sebuah lagu, " Tinggi tinggi sekali.. kiri kanan.. ," sambil menengok kiri kanannya, dan tak sengaja ia melihat si kucing yang tengah beristirahat.
Dengan pelan pelan gadis kecil itu menghampiri si kucing. Ia melihat si kucing tengah merintih kesakitan karena luka yang ada di bagian perutnya.
Tak tega melihatnya gadis kecil itu pun langsung menggendong si kucing untuk dibawa kerumahnya.
Sesampai di rumah si kucing langsung di obati dan dikasih makan. Kucing itu langsung memakan makanannya dengan lahap hingga sampai habis. Si kucing berterimakasih kepada gadis kecil itu dengan cara meliuk liukkan tubuhnya di kaki gadis itu. Sang gadis kecil mengusap kepala si kucing dengan senyuman diwajahnya sambil berkata, "Mulai sekarang tempat ini akan menjadi rumahmu, kamu tidak usah susah payah mencari makan lagi, karena aku akan merawatmu," ucap si gadis kecil tersebut.
Tamat