"Apa an sih, ganggu aja. Minggir gak, halangi jalan tau?!" aku menghardik pada seseorang yang sengaja menjegal jalanku.
"Widi cantik-cantik kok galak bener, kalau pakai hijab itu harus lemah lembut sayangku" godanya yang membuat aku malas menanggapi lagi.
Aku pergi begitu saja karena aku mau menghadiri ospek dan gak mau terlambat masuk, karena nanti bisa kenapa hukuman aku kalau sampai terlambat.
Aku berdiri di barisan paling belakang jadi aku tak bisa melihat siapa-siapa kakak tingkat yang lagi bicara di atas podium, aku hanya bisa mendengar teriakan gemuruh dari para mahasiswi dan menyerukan nama Radit.
Akhirnya setelah berdiri lama selesai juga ceramahnya. Kami masing-masing dibagi beberapa kelompok, jadi selama ospek kelompok yang ditunjuk akan selalu bersama sampai ospek berakhir.
"Hay, siapa nama kamu? Aku Anisa, kita satu kelompok" dia memperkenalkan dirinya padaku dan menyodorkan tangannya padaku.
"Hay Anisa, aku Safira, mohon kerjasamanya selama ospek ini" sambut ku dengan ramah.
Dalam kelompokku ada 5 orang termasuk diriku. Abay, Anisa, Bayu, Paris dan aku Safira. Setelah kami saling kenalan dan bertukar nomor telepon, kami maju kedepan untuk mengambil papan nama kelompok kami.
"Wah kita dapat nama ayam kampung" seru Paris sambil mengangkat tinggi papan nama itu.
Bruk
"Aduh, kenapa jalan gak pakek mata sih" ketus ku pada seseorang yang menabrak ku.
"Kau bilang apa tadi?!" teriaknya di dekat telingaku, dan membuat aku terkejud.
Aku tak tau siap dia, tapi karena kata-kata ku tadi membuat dia marah dan menarik tanganku dengan paksa.
"Apa kakak sudah gila.! Sudah menabrak tak mau minta maaf malah menari-narik aku kek gini, lepaskan?!" teriakku sambil berusaha menarik tanganku dari genggamannya.
"Aduh, apa - apa an sih. Kakak jangan mentang-mentang jadi kating ya bisa seenaknya begini" teriakku marah tepat di depan mukanya karena merasa sakit di dorong ke dalam ruangan dengan paksa.
Tanpa berkata-kata dia langsung menutup pintu ruangan itu, menguncinya dan meninggalkan aku sendirian di dalam.
Teriakan ku tak ada yang dengar, aku tak tau tempat apa itu. Tapi sejak aku ditarik ke tempat ini, aku tak melihat ada satupun orang yang melintas di koridor ini, semuanya sepi dan hening.
Aku terus berteriak sampai suaraku serak dan habis, tapi tak kunjung ada orang yang datang. Aku tak bawah Hp karena tasku ku tinggalkan di Anisa.
Hari pun sudah malam, dan tak ada penerangan. Aku mulai menangis karena takut dengan kegelapan.
Ceklek, krieeet
"Deg, si-siapa?" jantungku berdebar sangat cepat, apalagi ku dengar ada langkah kaki yang mendekat.
Tap tap tap
"Bagaimana? Kau sudah tau harus bilang apa padaku?!" suaranya yang menakutkan itu membuatku merinding.
"Ma-maaf, tolong maafkan aku. Bebaskan aku dari sini, tolong...?" kataku memelas
"Baik, dengan syarat" katanya lagi dengan nada yang seram.
"Apa pun itu aku akan setuju syaratnya" jawabku tanpa pikir panjang.
Dia langsung menyalakan lampu sorot yang tempat menyinari wajahnya yang penuh dengan noda merah, entah itu darah atau apa.
"Aaaaaaarrrrggg..!" teriakku sambil menutup mukaku dengan kedua telapak tangan ku.
Dia langsung menari ku keluar dan entah membawah ku kemana, dia menyeka mukanya dan membersihkan noda merah di wajahnya. Lalu membawah ku dengan motor sportnya.
"Naiklah ke atap atas mobil itu" perintahnya pada ku.
Aku menatap teruk besar itu, dan aku berfikir untuk apa aku harus naik ke atap depan truk itu.
"Ingat, kau tadi sudah berjanji pada ku akan melakukan apa pun syaratnya. Jadi sekarang lakukan, naik ke atap truk itu. Kau harus bisa bertahan dalam 5 putaran, jika kau tak bisa bertahan dan jatuh itu bukan tanggung jawabku, mau kau kehilangan tangan atau kaki mu yang terlindas truk itu bukan urusanku." katanya sambil mengangkat bahunua.
"A-apa maksud kakak?" aku semakin takut dengan apa yang akan dia lakukan.
"Oh iya lupa, jangan berteriak karena jika kau berteriak maka nyawamu dan aku akan melayang" sambil menggerakkan tangan seperti sedang memotong leher.
"Ayo semua gadis naik.!" teriak seseorang dari pengeras suara.
"Cepat naik dan bertahanlah sampai 5 putaran" teriaknya padaku. Dan aku pun bergegas naik dengan susah paya.
"Tidak boleh duduk, semuanya harus berdiri dengan tegap" suara yang lagi-lagi muncul dengan pengeras suara.
Brum... Brum
Mesin teruk itu dinyalakan dan seluruh tubuhku bergetar. Seketika truk itu melaju dengan kecepatan tinggi yang melebihi kecepatan normal, berbelok dengan sangat cepat dan tajam sehingga membuat tubuhku terayun ke kanan dan kiri. Aku terus memegangi besi yang ada dan terpasang diantara bodi truk, yang aku rasa emang sengaja dipasang di situ.
Truk yang melaju dengan kecepatan di atas normal dan berbelok tajam itu membuat tubuhku yang ada diatasnya terguncang ke kanan dan ke kiri sesuai dengan laju truk secara terus menerus.
Rasanya aku ingin teriak untuk minta turun, namun aku teringat dengan kata-kata orang gila yang sedang melajukan truk ini. Karena jika aku teriak maka nyawa kami akan melayang, kalau cuma dia tak Maslaah tapi aku gak mau mati konyol di tempat asing ini.
Saat belokan ke 3 pertahananku hampir lumpuh, tapi aku tetap berusaha bertahan, karena aku harus bertahan dan setelah selesai ini aku gak mau berurusan dengan orang yang sakit jiwa ini lagi.
Saat belokan ke 4 ada satu gadis yang jatuh, dan dia terlindas truk, aku tak tau bagai mana nasibnya. Aku tak berani melihat ke arah bawah, karena aku tak sanggup untuk membayangkan seperti apa jadinya gadis itu.
"Radit... Radit... Radit..." teriak orang-orang memecah keheningan malam itu.
Kakiku melemas dan aku terduduk di atas truk, seluruh tubuhku bergetar hebat seakan kakiku tak mampu untuk menjadi tumpuan dari berat badanku.
Sekitar 10 menit aku pun mulai turun dari atas truk walau tubuh ku masih saja bergetar, dan sesampainya di bawah aku lagi-lagi kehilangan kekuatan kakiku.
Setelah aku di antar pulang, aku tak mengucapkan terima kasih atau pun salam. Aku langsung lari masuk ke dalam rumah.
Keesokan harinya, di kampus semua mahasiswi sangat menyanjung dan menghormatinya. Namanya selalu dielu-elukan oleh semua orang, bahkan dosen pun juga selalu mengandalkan dia.
"Ya ampun kak Radit keren ya, uda cakep, pinter, kaya, mapan. Duh suami idaman banget deh dia" puji Paris padanya, dan di iyakan sama Anisa dan teman-teman satu kelompok ku.
"Dia adalah orang gila, dia itu psikopat" jawabku dengan kesal
"Hus, kau ini bicara apa Fir?" tegur Nisa padaku.
Dalam hari-hari ospek sangat tenang dia tak menggangguku sama sekali, bahkan kami seolah tak saling kenal. Emang gak kenal sih karena dia gak tanya namaku dan aku juga gak mau tau tentangnya.
"Ah, uda hari akhir aja nih ospek. Besok kita sudah resmi jadi mahasiswi di kampus ini yeeee..!" Anisa berseru dengan sangat senang sambil loncat-loncat
"Dengar semuanya di hari penutupan ini akan ada undian, yang mananya keluar dia harus maju dan memecahkan balon yang di dalamnya ada tulisan, dan dia harus melakukan apa yang tertulis di dalam tulisan itu" seru kak Doni yang disambut meriah sama semua mahasiswa dan mahasiswi.
Nama kami pun dikocok dalam wadah besar yang bisa dilihat dari layar besar di depan kami semua. SYAFIRA MAHARANI,
"Hah? Itu namaku" pekikku setelah membaca nama yang tertera dalam layar itu.
Aku berdiri dan memecahkan 1 balon, air dalam balon yang tumpak membasahi tubuhku, dan aku memungut kertas yang terbungkus dengan plastic lalu menyerahkan pada kak Doni.
CIUM BEM RADITYA ANGGARA
"Waaaaaoooo, keren. Cakep sekali kaka itu.!" teriak semua orang
"Gak mau, aku gak Sudi.! Lagian ini adalah kampus, bukan ajang pencarian jodoh." teriakku dan langsung turun dari podium.
Namun tanganku ditarik seseorang dan tubuhku yang tak seimbang jatuh dalam pelukan seseorang, dan detik berikutnya mulutku dibungkam, dia menuntut lagi dan lagi sampai terakhir dia menggigit di sana.
Teriak semua orang memenuhi aula itu, dan tanganku langsung mendarat di pipi orang itu.
Dan setelah sadar aku melangkah mundur, tapi dia telah meraih tanganku membawah ku pergi meninggalkan tempat itu.
"Arena balap?" kataku mulai ketakutan.
"Kak, apa yang mau kakak lakukan? Kenapa tangan dan kakiku diikat kak?!" kesal ku pada kak Radit.
Ternyata dia lagi-lagi ikut balapan, tapi kali ini dengan mobil sportnya. Dia melaju dengan kecepatan yang sangat cepat.
Aku tak berani teriak atau pun membuka mata, aku hanya menutup mata sambil pegangan dengan erat pada pegangan di atas pintu mobil.
"Wah wah hebat banget kau Ga, dapat dimana kau barang seperti dia ini? Boleh gak aku meminjamnya saat ikut balapan nanti?" Tanya temannya yang mendekatiku dan mengangkat daguku.
"Pinjam? Dia pikir aku ini barang apa" keluhku dalam hati.
"Bagaimana, apa kau menyukainya?" tanyanya padaku tanpa memikirkan tubuh ku yang sudah bergetar hebat.
"Dasar psikopat, kau gila. Kau seorang psikopat, kau sakit jiwa.?!" teriakku sambil berurai air mata.
"Kenapa?! Kenapa kau tak mau menatapku? Semua orang begitu antusias padaku, kenapa kau membenciku?! Dengar aku akan menjadikanmu milikku, kau lihat saja" bicara dengan menggertakkan gigi dan memegang rahang ku dengan kuat.
Aku tak peduli lagi dengan teman-temanku yang selalu memuja dan menyanjung kak Radit. Mereka gak ada yang tau sifat kak Radit yang sebenarnya suka balapan dan mempertaruhkan nyawa seseorang sebagai taruhannya.
Luka yang membekas di bahuku semakin hari semakin melebar karna goresan yang terjadi setiap kalian dia membawaku ke arena balapan dan menjadikan aku sebagai taruhannya.
Siang itu kulihat mukanya ditekuk, ada raut sedih yang mendalam dalam pandangannya. Seolah dia menanggung beban yang amat sangat berat di dunia ini sendirian.
"Fira kau melihat apa sih, sampek bengong gitu?" tegur Bayu padaku yang ikutan memiringkan kepalanya melihat ke arah pandangku.
"Gak papa, cuma itu kak Radit kayak lagi galau gitu" jawabku dan pergi meninggalkan Bayu.
"Ya elah jadi kau lihat sampek miring-miring gitu cuma ngawasin kak Radit toh" gerutunya sambil ngikutin langkahku.
"Ya giman gak miring, orang kita di lantai 2 sedangkan dia di lantai dasar, kau ini" ku pukul bahunya karena kesal dengan omongannya.
"Hey Fira kau sudah dateng ya. Itu bunga dan susu di mejamu ada suratnya" teriak Abay yang dianggukin oleh Anisa di sebelahnya.
Ya belakangan ini mejaku emang selalu ada bunga mawar, susu dan roti setiap paginya. Tak ada yang tau siapa yang melakukan itu, dan aku juga tak berani memakannya, jadi aku hanya mengumpulkannya di dalam lokerku.
'Datanglah Ke Lapangan Basket Nanti Sore.!' pesan yang tertulis di kertas putih itu
"Wah siapa ya Fir, kok nyuruh kamu dateng ke lapangan basket? Misterius sekali." Tanya Anisa sambil memandangku.
"Gak tau, uda abaikan saja Nis" aku meremas dan membuang kerta itu sembarangan.
"Jangan gitu Fir kasian, sapa tau itu penting hayo...Gini aja, gimana kalau kita datangi rame-rame, kalau rame kan gak mungkin bisa berbuat jahat" usul Abay padaku
Dan tepat sore hari aku, Anisa, Bayu dan Abay juga Paris dateng ke lapangan basket, namun di sana sepi gak ada apa-apa.
Bayu yang teriak-teriak juga gak ada orang yang keluar, akhirnya kami memutuskan untuk pergi, tapi tiba-tiba ada seseorang yang menarik ku.
"Aaaahh.! Kak Radit?!" teriakku kesal.
"Bukankah aku menyuruhmu dateng sendirian, kenapa kau membawah serta pasukanmu?" katanya pelan tapi sangat menyeramkan.
"Ya, aku sengaja" kesal ku sambil menatap wajahnya.
"Kalian pergilah, aku ingin bicara berdua dengannya" usirnya pada teman-temanku dengan dingin.
"Tidak.! Kalian jangan beranjak sedikit pun dari sana, karena aku gak mau berdua saja dengan orang ini.!" jawabku ketus.
"Jadi kau ingin mereka semua tau, hah?!" bentaknya padaku.
"Iya, aku ingin mereka tau siapa kakak sebenarnya, dan seperti kelakuan kakak di belakang mereka.! Seperti apa kelakuan orang yang selalu dipuja oleh mereka ini." kataku sambil mencibirnya.
"Baik, kalau begitu aku akan melakukannya dengan senang hati. Aku tak perduli walau perbuatan ku ini direkam cctv dan disebarkan ke seluruh penjuru kampus ini" seringainya dan terus melangkah maju ke arahku.
"Dasar psikopat, sakit jiwa, orang stres. Percuma cakep, pinter kalau gak punya empati gak pantas bergaul dengan manusia." olok ku padanya sambil terus menghindarinya, dengan melangkah mundur.
"Ah.!" ku tak bisa lagi menghindar dan melangkah mundur karena di belakangku sudah ada dinding.
"Psikopat, orang gila, stres, gak pantas bergaul dengan manusia? Apa sudah selesai ocehan mu itu?! Akan ku tunjukkan seperti apa sifatku yang asli padamu sekarang." katanya dengan kesal dan menahan emosinya padaku.
"Tunjukkan saja, biar mereka semua tau siap kakak sebenarnya da... Hapm" belum selesai aku bicara.
"💋💋💋 hem.!" kak Radit menarik pinggangku dan menahan tengkukku.
"Le-pas em kan" aku berusaha lepas dengan mendorongnya
"💋💋💋💋" eksistensinya semakin lama dan dalam, seolah menuntut untuk mengambil semuanya dariku.
Setelah usahaku menjauhkannya dariku sia-sia, aku pun diam tanpa membalasnya. Dan tiba-tiba nafasku sesak, ku pukul punggungnya berkali-kali dan syukurlah dia paham lalu mengurai ciumannya.
"Syafira aku mencintaimu, sungguh sangat mencintaimu. Maafkan atas perbuatanku selama ini, maaf atas segala perilakuku yang kasar padamu. Aku melakukan semua itu hanya untuk menahan mu disisi ku, aku menanamkan rasa takut padamu agar kau tak berani melawan atau meninggalkan diriku. Aku tak mau sendirian, aku tak mau ditinggalkan" katanya panjang lebar padaku, sambil menitikkan air mata dari ke dua pelupuk matanya yang tajam itu.
"Deg.! Apa an ini semua?" batinku yang tiba-tiba terharu dan merasa kasian padanya.
"Aku yang selama ini memberimu bunga dan makanan itu, namum aku sangat sedih saat kamu tak menyentuh makanan itu dan hanya menyimpannya saja" katanya lagi dan dia mulai melemas.
Tubuh kak Radit tersungkur di lantai dan tanpa sadar aku pun mengikutinya. Ku tatap wajahnya yang tertunduk dan air matanya yang masih berderai dengan derasnya.
Di sebuah rumah mewah ada seorang bocah kecil yang terduduk di sudut ruangan, dengan takut dia memegangi kedua lututnya sambil menangis.
"Apa yang sebenarnya yang inginkan dariku. Kenapa kau melakukan ini?! Kenapa, kenapa kau tega melakukan ini padaku, katakan kenapa!?" teriak pria itu histeris tak terima.
"Kenapa? Kau tanya kenapa mas? Karena aku sudah tak butuh dengan pria cacat sepertimu?! Suami tak berguna.!" wanita melangkah pergi.
"Mamaaaa, mama jangan pergi maaaa... Jangan tinggalkan Adi maaa... Papa, mamaaa.. Mama jangan pergi, Pa. Papaaaa" Radit
"Setelah kepergian mamaku, aku tinggal bersama dengan tanteku dan juga papaku yang kehilangan kakinya karna sebuah kecelakan, tabrak lari. Dengan itu aku mulai menanamkan prinsip yang salah, bahwa jika aku menanamkan rasa takut pada orang yang ku sukai makan dia tak akan pergi meninggalkan diriku. Hiks, hiks." Radit
Setelah mendengar cerita yang begitu pilu dari kisah hidup kak Radit, aku mulai merasa iba. Dan entah dari mana taman bunga dalam hatiku yang tiba-tiba saja muncul.
Ku usap keningnya dengan bibir ku , dan aku melakukannya untuk menguatkan hatinya yang pilu dan sakit, namun dia malah melakukannya lebih dari yang ku lakukan.
Hari-hatiku mulai tenang dan terus berbunga-bunga, serta membuat semua wanita yang mengagumi sosok Kak Radit yang tampan, pandai dan mapan itu iri padaku. Mereka selalu berteriak histeris tiap kalian kak Radit memelukku atau menggandeng tanganku.
Tak ada lagi balapan liar dan tak ada lagi Radit yang psikopat, yang tega melukai orang lain. Dia telah merawat luka-lukaku akibat balapan yang dia lakukan dengan mengikatku di atas mobil atau di dalam mobil, dan dia mengobatinya dengan sangat baik.
Pacaranku dengan kak Radit bisa dibilang berani, karna kak Radit selalu mengekspresikan cintanya tanpa melihat situasi. Dan dia selalu memberiku hukuman setiap kesalahanku dengan cara yang bikin aku deg deg an.
Kak Radit akan tiba-tina memelukku dengan erat jika aku tak menerima panggilannya atau menjawab sapaannya, dia juga selalu meninggalkan tanda merah padaku dimana saja, juga menguasai bibir ku sesuka hatinya.
I Love You cowok psiko ku.