Bahkan aku lupa. Kapan aku mulai menjadi wanita yang berhati dingin. Tanpa sifat manja. Masa bodoh . Dan mencoba mandiri dalam segala hal.
Jika kamu ingin tahu siapa manusia paling bodoh di dunia?Jawabnya adalah aku. Bertahun tahun aku selalu membohongi diri sendiri. Tiap mendengar gosip nyelekit tentang keburukan suamiku.
Meskipun jika di pikir dengan akal. Semua itu mungkin ada benarnya. Jika dilihat dari hubungan kami selama ini yang menggantung. Dipertahankan tapi tidak diprioritaskan.
Masa sih? adalah pertanyaan yang melintas pertama kali. Ada perasaan tidak rela jika orang lain mengatakan tentang keburukan suamiku. Bagaimanapun dia suamiku. Jika aku belum benar benar melihat secara langsung. Mungkin aku masih tidak percaya.
"Dek, foto dong trus kirim ke WhatsApp Bunda. Buat obat kalau bunda kangen adek." Ucapku pada putraku yang kala itu berusia enam tahun.
"Sebentar ya Bun,ada kok." celoteh Fahsya. Aku dan putraku sedang video call. Seperti biasa , suamiku tidur sambil membelakangi kamera. Tidak perduli .
Ting!
Pesan masuk ke ponselku. Setelah kulihat , ternyata Fahsya mengirim foto sambil melakukan video call denganku. Tapi...
"Ini foto apa dek?" Aku bingung. Foto yang Fahsya kirim. Adalah screenshot facebook milik orang yang tak aku kenal. Namun foto sampul yang digunakan adalah foto Fashya bersama suamiku.
"Dari mana foto ini sayang... ?" tanyaku pelan ditengah hatiku yang mulai bergejolak.
"Dari ponsel Ayah." jawab Fahsya polos.
Sambil terus melakukan video call. aku buka facebook milik suamiku yang kebetulan aku tahu passwordnya. Hanya , aku sudah lama tidak membuka. Dan ternyata passwordnya masih sama.
Disela sela mengobrol dengan putraku. Aku buka messenger dan membuka satu satu percakapan suamiku. Sampai pada akhirnya aku menemukan percakapan suamiku dengan seseorang. Tapi, ini bukan facebook yang di screenshot tadi. Meskipun ada kesamaan pada satu namanya. Yaitu Ani.
Tangis , tawa , pecah saat itu juga. Tiba juga. Hari dimana aku diharuskan melihat semua kebenaran yang selama ini aku sanggah. Aku masih tidak percaya. Sebodoh itu aku hingga mudah dipermainkan .
Selama ini , aku selalu menipu diriku sendiri. Berkali kali Tuhan menunjukkan sifat asli suamiku lewat orang lain. Aku masih tidak percaya. Tapi hari ini. Tuhan kembali menunjukkan lewat putraku. Tuhanpun tidak patah semangat menyadarkan insan yang dizolimi ini.
Ketulusanku dibalas dengan penghianatan penghianatan.
Delapan bulan berlalu... Aku masih belum melupakan kejadian itu. Rumah tanggaku semakin kacau. Yang awalnya saling tidak memperdulikan. Sekarang semakin tidak saling peduli. Malah hambar .
"Aku tidak pernah meminta apa apa. Perhiasan, pakaian , makan yang enak anak . Tidak sama sekali. Tapi kenapa kamu masih menyakitiku?"
Kamu hanya diam. Kemana mulut besarmu itu. Bukannya kamu sangat pintar bersilat lidah?
"Carilah yang lebih baik dariku. Silahkan... aku tidak menghalangi jalanmu." Aku sudah sampai pada titik lelah dalam perjuanganku. Biarlah, sekeras aku berusaha. Yang benci akan tetap benci. Penghianat akan tetap menjadi penghianat. Pasrah saja.
Tapi suamiku masih tidak benar benar melepasku. Sampai detik ini. Padahal aku tahu. Betapa bencinya dia padaku. Dalam sadar atau saat dia tidak sadar.
Akupun bimbang. Lanjut dengan menanggung resiko. Yaitu sampai kapan aku kuat bertahan. Atau udahan tapi harus siap kehilangan segalanya. Rumah dan buah hatiku.
"Bagus , lain kali kalau ada apa apa. Titip pesan aja sama orang lain. Begitu juga kalau aku ingin tahu kabar Fahsya. Aku akan bertanya lewat tetangga biar disampaikan padamu."ucapku ketus. Ya . Selama delapan bulan ucapanku padanya selalu ketus.
"Aku cuma pengen kamu tahu dengan siapa aku online."Jawab suamiku yang terkesan sombong.Seolah menunjukkan bahwa dia adalah suami setia. Siapa juga yang peduli kamu online dengan siapa. Entah mulai kapan aku tidak peduli hal itu. Masa bodoh pokoknya. Inilah ciri ciri hatiku sudah beku.
"Buat apa!!"
"Aku titip pesan itu sama temanmu sendiri. Itu aja kamu jadikan masalah. Itu temanmu sendiri lo... Gimana kalau orang lain." Lagi lagi ucapannya yang terdengar sombong. Dan seolah olah aku sedang cemburu dan mencari cari masalah.
"Helo... Tidak peduli dia temanku atau bukan. Laki laki atau perempuan. Kamu masih punya nomer whatsaapku kenapa tidak langsung dm aku?" jawabku dengan nada tinggi.
"Ya biar kamu tahu aku online dengan siapa?"
Ah sudahlah , percuma ngotot sama orang yang narsis begini.
Tiap hari suamiku masih menghubungiku. Meskipun tidak ada yang kami obrolkan. Seperti yang aku bilang tadi. Tidak ada mesra mesranya. Hambar.
Aku dan suamiku masih sah . Kami masih ada di perahu yang sama. Tapi dayung kami tak terkayuh. Diam terombang ambing oleh ombak ditengah lautan.
Tanpa sadar. Aku semakin menutup diri. Dari teman, keluarga. Aku kecewa pada suamiku dan keluarganya. Kenapa sampai menyangkut ke keluarga ?
Mereka tahu ulah suamiku yang ternyata tidak hanya itu saja. Tapi mereka tidak memberitahu. Justru disaat masalah rumah tanggaku meledak. Mereka seperti menyiram minyak ke dalam kobaran api. Memanas manasiku dengan berita yang sampai di telinga mereka.
Kenapa baru sekarang ngomong? Dulu kenapa diam dan malah bergosip dibelakangku . Seolah menertawai rumah tanggaku.
Selucu itukah??
Aku tahu ada hukum sebab akibat di dunia ini. Apa yang terjadi sekarang. Mungkin balasan atas perbuatanku di masa lalu. Entah apapun itu. Aku jalani seperti air yang mengalir.
Dan mereka yang hari ini menyakitiku. Ingat karma , roda itu berputar sayang...
Rayuan semaut apa. Laki laki setampan apa. Sudah tak mempan. Hatiku sudah membeku. Mungkin karena sakit hati yang bertumpuk tumpuk hingga membuatnya menjadi mati rasa.
.
.
.
Kamukah yang bisa mencairkan hatiku??