"Aku kan sudah bilang, diam saja saat ada yang bertanya padamu!! Aku tidak suka melihat mu dekat dengan laki-laki lain." suara teriakan Rolan menggema di dalam kamar.
Saat ini Rolan tengah memarahi istrinya, Alisa. Wanita cantik dan ayu tengah menangis pilu di pojok kamar.
"Biar ku obati lukamu!" ucap Rolan dengan suara yang lembut.
Rolan menarik paksa tangan Alisa dan membawanya duduk di tepian ranjang yang berukuran king size.
"Maafkan aku ya," Rolan menghapus air mata yang menetes di wajah Alisa yang lebam, karena habis kena tamparan tangan Rolan.
"Aku tidak akan seperti ini lagi!" Rolan menyentuh dagu Alisa, dan mencium lembut bibir Alisa.
"Aku ingin cerai." lirih Alisa namun masih bisa di dengar Rolan.
"Sampai kapan pun aku tidak akan menceraikan mu." ucap Rolan yang dengan kasar mendorong tubuh Alisa ke lantai.
"Aku lelah dengan mu, ceraikan aku. Kamu jahat, kamu psikopat, kamu gila, kamu iblis." makian keluar dari mulut Alisa di sela isak tangisnya.
Rolan mendekati tubuh Alisa yang terduduk di lantai dan mencekik leher jenjang Alisa, "Sampai kapan pun, kau tetap istriku.. tidak ada yang bisa menyentuh mu selain aku. Camkan itu." ucap Rolan.
Rolan melepaskan cekikannya saat Alisa hampir kehabisan nafas.
"Maafkan aku yang baru saja menyakitmu sayang." Rolan membawa Alisa dalam dekapannya.
Selama 2 tahun Alisa bersabar menghadapi sikap Rolan, yang bersikap manis di depan semua orang maupun koleganya.
Tapi saat sedang bersama Alisa, hanya ada kata manis namun bagai duri yang saat menyentuh penuh luka, tubuh Alisa penuh luka, namun di tutupinya dengan dress panjang yang selalu di kenakan Alisa saat keluar dari rumah.
Saat bersama dengan Rolan di kamar, Alisa hanya di perbolehkan mengenakan baju minim bahan. Berusaha kabar, nampaknya hanya sia-sia dan hanya menambah siksaan yang akan di berikan Rolan padanya.
Di taman belakang rumah besar yang di tempati Rolan dan Alisa. Sudah berdiri beberapa anak buah Rolan yang mengelilingi Doni, laki-laki yang berusaha membawa lari Alisa dari tangan Rolan, namu gagal karena ketahuan.
"Tangan mana yang sudah menyentuh wanitaku ini, hah!" tanya Rolan dengan pistol di tangan kanannya.
"Ka- ka- kanan tu- tu- tuan." ucap Doni gugup karena saking takut.
Dor.. dor..
"Aakkh tidak, tangan ku.." teriak kesakitan Dini yang menerima tembakan di tangan kanannya.
"Jangan sakiti dia, ini salah ku." pinta Alisa dengan memeluk kaki kanan Rolan.
"Masih ingin kau lari dari ku?" tanya Rolan dengan suara lembut, sedang tangan kirinya menarik tangan kanan Alisa hingga Alisa berdiri.
"Aku tidak akan lari lagi." ucap Alisa.
"Terlambat sayang." ucap Rolan dan menembak kembali ke arah kedua kaki Doni.
Dor.. dor.. Doni berlutut menahan sakit di kedua kakinya.
"Akkh, bajing** kau Rolan." ucap Doni dengan penuh amarah.
"Roy.." panggil Rolan.
Roy, si bodyguard pun langsung membawa samurai mendekat ke arah Rolan.
"Pegang dia."
"Maaf nyonya." Roy menahan tangan Alisa agar tidak menghentikan niat Rolan.
Orang yang berusaha menolong Alisa kabur dari Rolan, akan bernasib sama dengan Doni dan yang lainnya, tidak pandang itu wanita ataupun laki-laki, hanya satu kata 'mati'.
"Ini karena kau sudah berani ikut campur."
Pesss...
Samurai menebas leher Doni dan kepalanya pun terlepas dari badannya. Badannya ambruk, bersamaan dengan itu, 🐕 peliharaan Rolan di lepas dan di biarkan memakan tubuh Doni yang sudah tidak berdaya.
Alisa hanya mampu menangisi kekecewaannya, karena Alisa lah Doni harus kehilangan nyawa.
"Bawa nyonya ke kamar." pinta Rolan.
Roy pun langsung membawa Alisa ke kamar.
Sedangkan Rolan membersihkan dirinya dari darah yang mengenai tubuhnya.
Di kamar Alisa termenung..
"Apa yang harus aku lakukan?" tanyanya pada diri sendiri.
Rolan masuk ke dalam kamar dan melihat Alisa yang duduk di pinggir kasur dengan pandangan mata kosong.
"Apa yang kau pikirkan?" tanya Rolan sambil menidurkan tubuhnya di atas ranjang dengan paha Alisa yang di jadikan bantal.
"Tidak ada." ucap Alisa datar.
"Kau marah padaku?" tanya Rolan sambil menggigit perut Alisa.
"Iissh.." Alisa menahan sakit pada bagian yang di gigit.
""Mau berapa nyawa lagi yang melayang karena mu Alisa?" tanya Rolan.
"Maaf." ucap Alisa lirih.
"Untuk apa? masih berusaha mencari cara untuk kabur lagi?" tanya Rolan yang kini duduk di samping Alisa.
Alisa hanya diam, masih berfikir cara untuk bisa lepas dari Rolan yang psikopat, mampu membunuh orang tanpa rasa sesal hanya demi Alisa tetap berada di sisinya.
"Sudah banyak nyawa yang melayang karena mu Alisa." Rolan mengingatkan.
Alisa menyaksika sendiri betapa sadisnya Rolan membunuh pelayan wanita yang berusaha melarikan Alisa dari tangan Rolan.
Wajahnya lebam di pukuli benda tumpul, tangannya melepuh karena di siram air panas dan kakinya di cambuk, lalu saat tubuh pelayan wanita itu sudah tidak berdaya, di berikan pada 🐕 peliharaan Rolan.
Tukang kebun yang baru bekerja 2 hari harus bernasib tragis, karena tidak sengaja melihat Rolan yang sedang menyiksa Alisa.
Kedua matanya di congkel dengan kater, tangan dan kakinya di tebas dengan samurai, sedangkan tubuhnya di lembar ke kandang buaya.
Satpam yang bekerja di rumah pun tidak luput dari Rolan, karena berani melirik Alisa. Kedua matanya di tusuk dengan garpu, jantungnya tertancap busur panah, kakinya melepuh karena di suram air keras, hingga ia meregang nyawa.
"Menurut lah pada ku.." pinta Rolan dengan menindih tubuh Alisa.
"Kau, psikopat Rolan." ujar Alisa dengan tangan memukul dada bidang Rolan, suaminya.
"Aku seperti ini karena mu Alisa."
Rolan memaksa Alisa melayaninya meski Alisa menolak, tamparan pun melayang di pipi Alisa..
terjadi lah malam panjang untuk Alisa dan Rolan..
kaya tidak berarti bahagia, bahagia kata yang terdengar sederhana namun sulit di lakukan bagi orang yang sudah cinta buta, semua yang di lakukan akan di anggapnya benar, meskipun harus menghilang kan nyawa orang lain.
jauh kan hamba dari orang kaya gitu 🤲
itu cuma pemikiran penulis ya,, jangan di bully 😊😊