Anak yang berprestasi. Otak jenius. Berbakat dalam banyak hal. Memiliki banyak teman. Memiliki banyak harta. Aku mempunyai semua itu. Banyak orang iri padaku. Karna hidupku yang terlihat sangat sempurna. Bagi mereka.. .
Mereka kata, aku adalah anak yang paling bahagia di dunia ini, karna aku memiliki segalanya. Tidak ada yang cacat dalam kehidupanku.
Tapi...
Sepertinya mereka salah.
Entah mengapa, kalimat 'bahagia' itu.. terasa sangat janggal untuk aku terima.
Aku merasa, seperti ada yang kurang di dalam diriku. Aku tidak bisa merasakan perasaan apapun. Sedih, gembira, marah.
Aku merasa seperti boneka mati yang di berikan nyawa. Yang hidup karena di perintahkan untuk hidup.
***
Dari sekian lamanya aku hidup. Baru kali ini aku mendapatkan nilai jelek. Tidak, kalau di perhatikan lebih teliti lagi. Ini bukanlah tulisan tanganku. Seperti nya, lembar jawabku di tukar oleh seseorang.
"Bagaimana hasil ulangan mu?"
Suara berat dari ruang tamu yang menyambut kepulangan ku. Dia adalah ayahku. Satu-satunya orang yang menjaga dan merawat ku sampai sekarang. Ibuku meninggal setelah melahirkan aku.
Aku memberikan selembar kertas ulangan dengan bertuliskan nilai merah itu.
Wajah ayah yang lembut. Seketika berubah menjadi seperti beruang yang mengamuk. Ayah beranjak dari duduknya dan pergi ke gudang belakang.
Dia kembali dengan sebuah sabuk kulit di sebelah tangannya. Ekspresi marah yang tidak pernah ku lihat sebelumnya. Dia mengayunkan sabuk itu dengan tangannya ke arahku, dengan sangat cepat. Meninggalkan bekas merah, rasa panas perih.
Ini menyakitkan. Tapi entah mengapa, aku masih tidak bisa merasakan apapun kecuali rasa sakit itu. Aku tidak bisa merasakan perasaan marah, ataupun lainnya itu. Aku hanya menerima rasa sakit itu.
***
Ayah berhenti mengayunkan sabuk kulitnya. Banyak bekas merah di sekujur tubuhku. Ekspresi ayah kembali menjadi tenang. Dia menyuruhku untuk mengupas beberapa buah-buahan yang ada di kulkas, untuk temannya yang akan mampir sore ini.
Aku bangkit dari dudukku. Segera pergi ke dapur untuk mengupas buah. Aku membawa buah buahan yang ku ambil dari kulkas. Aku mengambil pisau buah.
Namun.. .
Ketika aku menggenggam pisau itu di tanganku. Ada perasaan yang sulit untuk aku jelaskan dengan otak.
Jantungku berdetak dengan sangat kencang dari biasanya. Sentuhan yang membuatku bergairah. Membuat ku ingin melakukannya.. .
Aku berjalan menuju kamar Ayah tanpa sebab. Tubuhku bergerak dengan sendirinya. Aku tidak bisa mengontrol tubuhku. Ini di luar kuasaku.
Terlihat ayah yang tengah mengenakan kemeja putihnya. Ayah mengatakan sesuatu yang tidak begitu jelas di telingaku.
Aku tidak bisa mendengarkan suara sekitar. Hanya ada suara detak jantung ku yang bisa aku dengar.
Tubuhku terus berjalan, mendekati ayah. Ayah berbalik ke arahku. Entah apa yang membuatnya berekspresi seperti itu.
Dia keliatan sangat ketakutan. Ekspresi terkejutnya. Membuat jantungku makin berdegup kencang.
Ayah tersandung, terduduk ke belakang. Ayah menangis. Dia memejamkan matanya. Mulutnya terbuka lebar.
Tanganku bergerak dengan sendirinya. Mengayunkan pisau buah itu, ke arah ayah. Dengan sangat cepat. Darah bercipratan kemana mana. Menodai wajahku. Menodai lantai. Mengotori tangan kecilku.
Perasaan apa ini. Aku tersenyum? Aku tertawa? Aku merasa lega? Aku merasa puas?
***
Aku sudah bisa mengendalikan diriku kembali.
Tubuh ayah tergeletak, tidak bergerak. Seperti mayat. Bau darah segar, memenuhi paru paru ku.
Aku berjalan menuju dapur untuk melanjutkan kegiatanku. Mengupas buah untuk teman ayah.
#Tingtong
Suara bel rumah.
Mungkin kah itu kawan ayah?
Tubuhku mulai bereaksi tanpa kendali. Berjalan menuju pintu. Membukakan pintu untuk tamu ayah.
Dan...
Memberikan nya sebuah sambutan yang hangat...
-END-