Pagi yang cerah, diikuti gelombang pantai yang tenang. Hari yang indah
bagi masyarakat pesisir untuk beraktivitas. Tapi tidak bagi Sin, Dia tidak ahli di
bidang nelayan, sejak kepergian ayahnya Ia harus berusaha mencari nafkah untuk
Ibu dan adiknya, setiap hari ia lewati dengan penuh kerja keras, tetapi ia tetap
gigih dan bersekolah hingga lulus.
Sudah seminggu sejak kelulusannya tapi belum juga mendapatkan
pekerjaan. Sin duduk di dekat jendela rumahnya, menatap pantai sambil mengeluh
“Apa yang harus kulakukan hari ini?, dimana aku bisa mendapatkannya?”.
“Kenapa kakak tidak ke kota saja?” sambung adiknya. “Kalau aku ke kota” –
berdiri menghampiri adiknya– “Bagaimana dengan Ibu?.” “Kan ada aku,” Kata
adiknya, “Aku akan menjaga Ibu.” “Itu tidak mungkin, kau baru saja masuk SMA,
jika aku pergi dari mana kau akan dapat uang?” ujar Sin kepada adiknya itu. “Aku
tahu kakak bukan mengkhawatirkan itu, kakak tidak ingin pergi karena takut
kehilangan kami, benar kan...?” “Tentu saja aku mengkhawatirkan itu, kenapa aku
harus takut kehilangan kalian” jawab Sin dengan terbata-bata.
Sementara itu, Ibu Sin yang mendengar percakapan tersebut merasa telah
membebani pikiran Sin, dan tanpa sengaja menjatuhkan gelas. “Praakkkk…,”
bunyi gelas pecah, mendengar hal itu Sin dan adiknya bergegas ke kamar Ibunya.
“Bu ada apa?,” Tanya Sin, “Kenapa gelasnya jatuh?, apa Ibu baik-baik saja?.”
“Apa Ibu terluka?,” usul adiknya. “Tenanglah Ibu baik-baik saja” –memegang
tangan Sin– “Sin maafkan Ibu karena sudah membebani hidupmu, karena Ibu
yang sakit sakitan kau harus berusaha menafkahi keluarga ini, jika kau ingin ke
kota maka pergilah dan jangan khawatirkan Ibu dan Lina, Dia bisa berjualan
untuk keperluan kami.” “Ibu benar kau harus memiliki jalan hidupmu sendiri,”
ujar Lina, “Kau ingat kata ayah, „Jangan pernah hidup seperti batu yang hanyut‟
kau harus hidup tanpa beban, jangan seperti batu yang berat tapi hanyut.”
“Baiklah aku akan memikirkannya.” jawab Sin dengan pelan. Untuk menenangkan diri Sin pergi berkeliling pantai, hingga ia sampai di
dekat sebuah batu karang. Sin duduk di atas karang tersebut hingga sore, Sin
merenung dan terus memikirkan ucapan Ibunya sampai tiba tiba ombak mulai
naik, sehingga membasahi Sin yang duduk di atasnya. “Ombak sepertinya mulai
naik, sebaiknya aku segera pulang.” ucap Sin berdiri dan bergegas pulang. “Hey
kau Sin, bukan?” sebuah suara misterius memanggil Sin. “Apakah ada orang
disini?” tanya Sin kebingungan. “Lihatlah ke dalam air ini!” seru suara misterius
tersebut.
Sin pun memberanikan diri untuk melihat ke dalam air, Sin melihat sebuah
batu yang tidak menyentuh pasir tidak juga mengambang di atas air. Sin mencoba
mengangkat batu tersebut, tapi betapa kagetnya dia saat mengetahui batu tersebut
sangat berat. “Kau sudah lihat, bukan?” ujar suara misterius yang tidak diketahui
asalnya. “sebenarnya siapa kau?, dimana kau berada!!” geram Sin yang kesal dan
ketakutan. “kau akan tau jika mengambil bola biru yang terletak di bawah batu
yang kau lihat” jawab suara aneh tadi. Sin semakin kebingungan saat disuruh
mengambil sebuah bola dibawah batu. Sin berkata “Yang benar saja mana
mungkin ada bola yang bisa tenang di bawah arus laut yang kencang.” “Maka
cobalah jika tidak percaya” sambung suara aneh tersebut dengan lembut.”
Seketika sebuah cahaya keluar dari dalam air, Sin lagi lagi memberanikan
diri untuk melihat ke dalam air. Benar adanya Sin melihat sebuah bola biru kecil
bersinar terang, Sin pun mengambilnya. “Akulah yang berbicara denganmu dari
tadi” ujar bola biru tersebut. Terungkaplah asal suara yang berbicara pada Sin,
betapa terkejutnya Sin saat mengetahuinya. “Bagaimana caranya, kenapa kau bisa
berbicara?” Tanya Sin kepada bola biru tersebut. Bola itu pun berkata “Aku
adalah batu hanyut yang dibicarakan ayahmu, saat ayahmu masih hidup Ia sering
berbagi cerita denganku, karena itulah aku bisa tahu namamu.” “Tunggu, aku
tidak mengerti apa ini!” seru Sin kebingungan. Tentu saja Sin di buat bingung
dengan kejadian aneh tersebut, Bola biru itu pun akhirnya menjelaskan semua
yang terjadi. Hari sudah malam, setelah mendengar penjelasan, Sin meletakkan bola itu
kembali ke dalam air dan bergegas pulang. Keesokan harinya Sin kembali lagi ke
tempat dimana dia bertemu bola biru kemarin. “Kira-kira kakak kemana ya pagipagi begini udah keluar rumah?, di hari minggu lagi!!” ujar adiknya yang
penasaran, lalu di sambung ibunya “Sudahlah, biarkan saja, Sin mungkin ingin
menghibur dirinya juga.” Sementara itu ditempat Sin berada, Dia sedang mencari
batu yang hanyut, yang ternyata sudah hanyut terbawa arus. “Apakah dia
hanyut?” ujar Sin, “dimana ya aku bisa mencarinya?” di tengah kebingungan Sin,
tiba-tiba lewat seorang nelayan, Sin lalu bertanya “Pak tadi malam arusnya kearah
mana,ya?” “Tadi malam arusnya kencang, mungkin kearah barat pantai, apakah
ada sesuatu?” Jawab nelayan tersebut sekaligus bertanya. “Tidak, hanya saja ada
benda milik saya yang hanyut” ucap Sin kepada nelayan. “Begitu, sebaiknya kau
segera mencarinya sebelum arus kembali naik” ujar sang nelayan.
Sin pergi menyusuri Pantai, hingga akhirnya sampai di dekat sebuah
pohon bakau, benar saja batu yang dia cari ada disitu. Sin berusaha mengangkat
batu tersebut tapi lagi lagi dia gagal, Sin mencoba meraba selah-selah di bawah
batu, tapi anehnya bola birunya tidak ada. Dia memanggil bola tersebut, tidak ada
suara yang menjawab. Sin mulai putus asa dan berpikir kalau kemarin dia hanya
mimpi.
Kembali ke waktu kemarin, disaat bola biru menjelaskan semuanya
kepada Sin. Bola Biru berkata “Sin, perkenalkan namaku adalah Soul. Dulu
namaku adalah Seena, aku adalah wanita yang kaya, tapi karena kekayaan aku
jadi sombong. Suatu hari saat aku berlayar, angina sangat kencang, aku meminta
agar kapalku di labuhkan di pulau kecil yang saat itu jaraknya tidak jauh dari
kapal. Para awak menolak, tapi aku bersikeras, Aku melabuhkan kapal di pulau
itu. Tapi tanpa sengaja kapalnya menabrak sebuah rumah, para awak semuanya
tewas, kapalnya juga rusak, dan malangnya lagi rumah yang aku tabrak adalah
rumah seorang penyihir, tanpa basa basi penyihir itu mrngutuk diriku dan kapalku
menjadi batu dan sebuah bola, setiap hari aku hanyut terbawa arus, hingga suatu
hari aku bertemu ayahmu dia sudah kuanggap seperti ayahku sendiri, sejak bersamanya aku jadi tau tentang kutukan ini, dia menaruh impian padaku. Sejak
hari itu aku bersinar terang, aku jadi tau kalau kutukan ini bisa terlepas jika aku
berhasil membantu seseorang mencapai tujuan hidupnya. Aku kira aku akan
berhasil membantu ayahmu, sanyangnya nasib buruk menimpanya. Sin, kali ini
aku akan membantumu mencapai tujuan hidupmu, maukah kau menerima
bantuanku?” Disaat itu Sin mengingat semua masa kecil bersama ayahnya. Sin
pun akhirnya menyetujui bantuan Soul tersebut. “Baiklah, mari kita saling bantu
ya jawab Sin
Kembali ke waktu sekarang, disaat Sin sudah putus asa. Tiba-tiba “Sin,
Apa itu kau?” teriak Soul. Sektika Sin tersadar “Soul, kau dimana” Tanya Sin
mencari arah suara Soul. “Aku terkubur di pasir” ujar Soul minta tolong. Sin
segera mengali pasir di sekitaran batu dengan tangannya. Akhirnya Ia berhasil
menemukan Soul. “Soul, besok aku akan ke kota. Apa kau mau ikut denganku?”
Tanya Sin. “Baiklah” jawab Soul.
Keesokan harinya Sin pamit kepada Ibu dan adiknya, Dia berangkat ke
kota berbekalkan Ijazah sekolah, dan beberapa pakaian, di temani Soul, yang
berada didalam Tasnya. Diperjalanan Sin memikirkan pekerjaan apa yang harus ia
dapatkan, tak terasa mereka hampir sampai di kota. Sesampainya di Kota, Sin
segera mencari pekerjaan, satu per satu kantor di kota ia datangi untuk melamar
pekerjaan, tidak satu pun yang mau menerimanya. “Heii kau gila ya, pengalaman
kerjamu hanya membersihkan jalanan dan bekerja di bengkel mana mungkin kau
bisa bekerja di perusahaan sebesar ini!!. Tidak perlu melihat nilai sekolahmu aku
sudah tau kau pasti bodoh!.” Bentak seorang kepala perusahaan. “Tapi, Pak…,”
jawab Sin terbata-bata. “Tidak ada kata „Tapi!‟ keluar sana” bentak kepala
perusahaan tersebut sekali lagi.
Hari sudah sore, Sin pun memutuskan untuk mencari tempat tinggal yang
disewakan. Setelah mendapatkan tempat tinggal Sin mengeluarkan Soul, Sin
merasa lelah dan akhirnya tertidur. Tiga hari telah berlalu, Sin akhirnya
mendapatkan pekerjaan disebuah perusahaan kecil. Sin bekerja keras tiap harinya, Ia juga ramah dengan seluruh pegawai di kantor, karena sifatnya itu iya disukai
teman-teman sekantornya. “Hai Sin, apakah kau akan lembur hari ini?” tanya
salah seorang dikantornya. “Iya, aku butuh uang tambahan” Ujar Sin tersenyum.
“Baiklah, semoga beruntung ya!” ucap teman sekantornya tadi. Sudah enam bulan
Ia di kota, Sin memutuskan untuk pulang kampung. Sin akhirnya pulang
kampung, sesampainya di depan rumah, “Ibuuu…, Aku pulang!” teriaknya
dengan raut wajah gembira, Tapi raut wajah itu tak bertahan lama. Satu jam
sebelum kedatangan Sin, Ibunya telah meninggal. Beruntung Sin masih bisa
melihat jenazah Ibunya untuk terakhir kali.
Malam itu Isak tangis dan rasa pedih di hati membanjiri rumah Sin, Ia dan
adiknya tak tau harus berkata apa lagi, hanya rasa menyesal yang memenuhi
pikirannya. “Andai aku tak pergi ke kota” Ucapnya sambil menangis. Keesokan
harinya Sin demam dan tidak bisa kembali ke kota, Dia pun meminta adiknya
untuk menghubungi Bos perusahaannya. Sudah lima hari Sin demam, akhirnya
Dia sembuh, Sin mengajak adiknya, Lina pergi ke kota. Kini Sin hidup berdua
dengan Lina adiknya. Sejak kepulangannya dari desa kualitas kerjanya menurun.
Teman teman kerja yang mengkawatirkannya pun melapor ke Bos
perusahaan, Bosnya pun memberinya waktu libur. Sin yang sedang libur pun
pergi ke dokter. “Apakah Anda mengalami tekanan yang sangat berat akhir akhir
ini?” Tanya Dokter kepada Sin. “Ibu saya baru saja meninggal, saya sangat sedih”
jawab Sin. “hmm..., Anda mengalami trauma ringan. Jadi anda harus banyak
beristirahat dan juga Saya sarankan ada melakukan terapi agar menghilangkan
trauma.
Tanpa membuang buang waktu Sin pun menggunakan waktu liburnya
untuk melakukan terapi. Setiap hari Ia menjalani terapi, selama dua
minggu.Akhirnya Sin mulai kembali seperti dulu, Ia kembali rajin bekerja dan
kualitas kerja pun semakin meningkat. Hingga akhirnya Sin di angkat menjadi
manager di perusahaan tersebut. Kini Lina telah lulus sekolah dan akan bekerja.
Tapi hal itu dihentikan oleh Sin. Sin menyuruhnya untuk kuliah terlebih dahulu. Lina bersikeras ingin langsung bekerja untuk membantu kakaknya itu. Akhirnya
Sin setuju Lina bekerja dangan syarat “Baiklah kau boleh bekerja, Tapi...,” “Tapia
pa kak?” tanggapnya dengan cepat. “Tapi, Sambil kuliah, itupun jika kau mau!”
seru Sin. “Baiklah aku setuju” jawab Lina dengan penuh semangat.
Keesokan harinya Sin pergi menemani adiknya itu ke Sebuah Univeritas
untuk mendaftar. Tak lama adiknya pun keluar dengan raut wajah yang gembira.
“Kakkk… Aku diterima,” ujarnya kepada Sin, “Katanya nilaiku sangat bagus.”
“Baguslah kalau begitu” ucap Sin “Ngomong-ngomong kamu mau bekerja
dimana?” “Hmmm… sepertinya aku akan bekerja disebuah Entertaiment, mereka
merekrutku tiga hari yang lalu.” Jawabnya kepada Sin. “Waahh… Kamu hebat,
kakak bangga sama kamu” Kata Sin sambil tersenyum.
Hari demi hari telah berlalu, kini Lina telah memasuki tahun kedua
Kuliah. “Kak, boleh aku bertanya sesuatu?” ujar Lina kepada kakaknya. “Aku
juga ingin memberitahumu sesuatu!” seru Sin. “Baiklah kakak bicara dulu” jawab
Lina. “Lihatlah ini…, Ini adalah bola jiwa namanya Soul. Aku memberitahumu
karena dia sebentar lagi akan lepas dari kutukannya, cepat atau lambat kau akan
tahu.” “Waahh…,Bagaimana kakak bisa memilikinya?” Tanya Lina terheran dan
takjub. Sin pun menceritakan semuannya kepada adiknya itu. “Begitulah,
ceritanya.” Kata Sin setelah menceritakan semuanya kepada Lina. “Jadi bola ini
Bisa berbicara?, hebat sekali!” Ujarnya yang masih merasa takjub.
Sin pun bertanya, apa yang ingin adiknya sampaikan tadi. “Tadi kamu
mau nanya apa?” Tanya Sin kepada Lina. Lina pun mengatakannya “Hmm…,
Kak aku mendapatkan beasiswa pertukaran pelajar dari kam...,” “Waah adikku
memang sangat hebat” sambung Sin. “kakak aku belum selesai bicara sudah
dipotong, fyuhh…” ujar lina yang kesal. “Baiklah, maaf. Kau boleh bicara
sekarang.” Ucap Sin kepada Lina sambil senyum. “Jadii, aku harus ke luar negeri,
aku bingung harus bagaimana!” seru Lina. “tenang kakak sudah punya cukup
banyak tabungan, jadi bisa ikut denganmu.” Jawab Sin. “Lalu, pekerjaan kakak
bagaimana?” Tanya Lina. Sin berkata “Tentu saja kakak akan berhenti.” Jawabnya dengan santai. “Kakak kan sudah jadi manager, apakah tak masalah
bagi kakak?” Tanya Lina sambil sedih.
Sin dan Lina akhirnya mengurus berkas-berkas mereka, dan membuat
paspor. Sin langsung mengantar Lina ke bandara. “Lin, kamu hati-hati ya!, kakak
akan berangkat menyusulmu sekitar dua jam lagi.” Ucap Sin kepada adiknya.
Lina akhirnya berangkat dengan pesawat menuju Korea. Sesampainya Di Seoul,
Ia langsung ikut Bus menuju universitas Internasional, tempatnya melakukan
Pertukaran pelajar. Beberapa jam kemudian Sin juga akhirnya Sampai, tiba-tiba
souls merasakan sesuatu. Souls minta diantarkan ke suatu tempat yang ada air. Sin
akhirnya memesan taksi. “Hi Sir, can you take me to a place with lots of water,
like the beach?” pinta Sin kepada supir taxi. Supir itu pun berkata “죄송합니다,
저는 영어를 할 수 없습니다,” yang artinya dia tidak bisa berbahasa inggris.
Sin terpaksa harus menerjemahkannya ke bahasa korea, dikarenakan Sang supir
yang tidak mengerti. Lalu “Annyeonghaseyo seonsaengnim, haebyeongwa gat-I
mul-I manh-eun gos-eulo jeoleul delgyeoga jusigessseubnikka?” ucap Sin terbata bata. Sang Supir tertawa lalu, “Ayolah, kau tertipu denganku?” ucap supir yang
ternyata orang Indonesia. Supir itu pun mengantar Sin ke tepi sungai Han, setelah
sampai supir itu langsung pergi.
Sin Lalu mencelupkan Soul ke air, yang perlahan hancur dan seketika
berubah kembali menjadi wujud Seena. “Sin, akhirnya kutukanku lepas”
jawabnya dengan lemas, seketika Seena langsung jatuh Pingsan. Sin yang panic
langsung menelpon layanan darurat daerah Seoul. Ambulance pun dengan cepat
datang, menurut dokter, Seena mengalami kelelahan yang berlebihan. Sin
menelpon Lina, dan memberitahu kalau Dia sudah sampai di Seoul, Sin juga
memberitahu kalau kutukan Seena sudah berakhir. Setelah mendapatkan
perawatan dirumah sakit, Sin mengajak Seena untuk membeli beberapa pakaian
baru. Setelah membeli pakaian Sin mengajak Seena menemui Lina, Lina sangat
terkejut melihat Seena yang ternyata sangat cantik. Hari mulai malam Sin
memutuskan untuk menyewa Dua Apartemen untuknya dan Seena. Sembilan bulan telah berlalu, kini waktu pertukaran pelajar tinggal tiga
bulan lagi. Tapi Lina memutuskan Untuk kuliah di Korea sampai selesai,
dikarenakan Dia mendapat kontrak dengan Sebuah Entertaiment. Sin dan Seena
juga memutuskan untuk menikah. Setelah lulus kuliah, Lina kini telah menjadi
staf di entertainment besar, Seena juga telah menjadi penulis terkena dengan
bukunya yang berjudul „The Story of Drifting Rock‟, Ia juga telah memiliki dua
orang anak bersama Sin.
Hingga suatu hari, “Breaking News, Satu keluarga yang merupakan warga
Negara Indonesia mengalami kecelakaan di jalan tol Seoul, Korea Selatan.
Menurut rekaman dari kamera pengawas, kecelakaan di sebabkan oleh Supir Truk
yang Mengantuk. Menurut hasil otopsi korban diketahui yaitu Lina seorang Staf
SG Entertaiment yang berusia 22 tahun, Dan mengejutkan lagi bagi para fans
Penulis Seena, karena Ia juga dinyatakan meninggal dunia, bersama anak
perempuannya yang juga dinyatakan meninggal dunia, beruntung suami dan anak
laki-laki selamat, walau dalam keaadan kritis.” Sebuah Liputan berita tersebar ke
seluruh dunia.
Kembali ke 24 jam sebelum kecelakaan mereka memutuskan
memutuskan untuk berlibur ke Pulau Jeju. Mereka bersenang senang seharian,
mulai dari jalan jalan di kebun jeruk, bermain di pantai, hingga saatnya mereka
kembali ke Seoul. Mereka pulang dengan pesawat keberangkatan terakhir.
Sampainya di Seoul, Sin menyewa sebuah mobil untuk pulang. Naasnya
diperjalanan mereka harus mengalami kecelakaan.
Satu bulan kemudian Sin akhirnya sadar setelah mengalami masa kritis.
Dokter memberitahu semua yang terjadi, Sin hanya bisa menangis sambil
memeluk anaknya yang masih hidup. Sejak itu Sin kembali Trauma, Dia
memutuskan untuk pulang ke Indonesia, dan Kembali ke kampung halamannya.
Sejak saat itu juga Sin selalu menjaga anaknya, hidupnya benar-benar seperti batu
yang hanyut. Di saat anaknya berusia 25 tahun, Sin akhirnya meninggal Dunia,
kini Dia telah kembali bersama semua orang yang disayanginya.