Menjadi seorang pelajar harusnya menjadi momen yang paling berharga dan memiliki banyak kenangan bersama dengan teman-teman. Namun, berbeda denganku. Usiaku sudah tujuhbelas tahun, tetapi belum pernah sekali pun merasakan hidup seperti pelajar pada umumnya.
Aku sangat ingin merasakan datang ke sekolah, bermain bersama teman, bertemu dengan guru, dan lain sebagainya. Namun, aku harus mengubur keinginanku itu. Aku tidak diperbolehkan keluar rumah oleh orang tuaku. Aku memang anak semata wayang mereka dan harus dijaga dengan ketat.
Aku tidak punya teman, hanya seorang diri di rumah besar ini. Sering aku merasa iri pada anak-anak lain yang kulihat dari balik jendela kamar bermain dengan bebas di luar sana. Ya, aku hanya bisa memandang dari balik jendela kamar. Memandang orang-orang di luar sana.
Mereka terlihat sangat bebas dapat pergi ke mana saja. Bebas bertemu dengan siapa saja dan berteman dengan siapa saja. Suatu hari, aku pernah melihat ada seorang anak dengan seragam putih abu khas anak SMA.
Kuperhatikan gerak-geriknya dari dalam kamarku. Anak itu sering sekali lewat dengan membawa bola basket dan memainkannya tepat di depan kamarku.
Hari ini aku kembali menunggu kehadiran anak itu. Tiap hari aku selalu menunggu kemunculannya. Ingin rasanya aku berteman dengannya. Entah mengapa aku merasa tertarik dengan anak itu.
Mataku membulat melihat sosok itu. Bahkan spontan aku menyibak tirai dan membuka jendela. Hal itu membuatnya menoleh ke arahku. Tatapan kami bertemu dan kami sama-sama terdiam. Bahkan bola yang dipegang oleh anak itu jatuh bergulir ke tanah.
Aku tersenyum dan memberanikan diri melambaikan tangan padanya. Tanpa kusangka lambaian tanganku dibalas olehnya. Senyumku makin lebar, tapi hanya sebentar karena tiba-tiba Mami masuk ke kamarku dan menyuruhku untuk menutup jendela. Katanya udara sore tidak bagus untukku.
Wajahku kembali murung dan aku segera menutup jendela seperti apa yang diperintah oleh Mami. Padahal aku masih ingin melihat anak itu. Setelah Mami keluar kamar, aku kembali membuka tirai jendela. Namun, anak itu sudah tidak ada di sana lagi. Membuatku kecewa.
Malam hari setelah selesai makan malam, aku bergegas kembali ke kamar untuk menyelesaikan tugas dari guruku. Ya, aku juga bersekolah tapi di rumah.
Mami meminta guru untuk datang ke rumah. Ketika aku sedang belajar, aku dikejutkan oleh suara berisik dari jendela kamar. Kuberanikan diri untuk melihat apa yang terjadi.
Ternyata ada kerikil yang dilempar ke jendela kamarku. Aku membuka tirai dan ternyata anak yang tadi sore berdiri di depan kamarku. Kubuka jendela kamar untuk menyapanya.
Kulambaikan tangan untuknya dan dia membalas. Lalu dia mengeluarkan ponsel dari saku. Aku mengernyit karena tidak paham, tetapi beberapa saat aku mulai paham apa yang dia maksud. Ah, dia ingin meminta nomorku.
Aku kembali masuk dan menuliskan nomorku di sebuah kertas besar. Kembali ke jendela dan memperlihatkan kertas itu padanya. Beberapa saat kemudian ada pesan masuk ke dalam ponselku. Ternyata itu dia. Nama anak itu adalah Kean. Kami mulai berkirim pesan dan saling mengenalkan diri.
Kean anak yang ramah, dia adalah atlet basket di sekolahnya. Kean banyak menceritakan pengalamannya di sekolah dan makin membuatku merasa ingin bersekolah secara normal.
Suatu hari, Kean mengajakku menonton pertandingan basket. Awalnya aku ragu menyetujui ajakan Kean. Namun, aku juga ingin tahu bagaimana pertandingan basket itu. Biasanya aku hanya menonton di televisi.
Namun, aku bimbang. Aku yakin jika izin pada Papi dan Mami, mereka tidak akan mengizinkan aku keluar. Akhirnya aku diam-diam kabur dari rumah. Kebetulan malam ini mereka sedang tidak ada di rumah. Menghindar dari para pekerja di rumah ini hal yang mudah bagiku.
Kean sudah menunggu di depan kamarku. Aku keluar melewati sebuah pintu yang biasa dilewati oleh tukang kebun di rumah ini. Aku tersenyum puas saat berhasil lolos. Kami pun berangkat menuju GOR tempat dilaksanakannya pertandingan.
Baru pertama kali ini aku naik motor. Kurasakan hembusan semilir angin yang menerpa wajah serta rambutku. Kurentangkan kedua tangan untuk merasakan angin yang berhembus.
"Belom pernah naik motor, ya?" tanya Kean.
"Iya, ini baru pertama kali. Ternyata asyik juga," jawabku tersenyum lebar.
Aku benar-benar merasa bebas. Setelah hampir di sisa hidupku aku tidak pernah bermain keluar seorang diri, kini aku dapat merasakannya. Aku tidak peduli bagaimana nanti reaksi kedua orang tuaku ketika tahu aku keluar rumah tanpa izin mereka.
Kupikir itu hal yang akan kubereskan nanti, saat ini aku akan fokus pada pelarian sementaraku ini. Sebelum nanti kembali terkurung di dalam sangkar emas.
⚜⚜⚜