• "Hihihi.....Hahaha......khahhhh" tawa kejam vison bercermin menatap wajahnya penuh bercak darah di sebuah pecahan kaca, vison baru saja membunuh dan mencabik cabik tubuh seseorang yang sedang mengunjugi pulau tempat dia tinggal.
• Vison adalah seorang yang umurnya beranjak 19 tahun, vison dulunya tinggal bersama ibu dan ayahnya,namun ibu dan ayahnya tewas di akibatkan ulah vison sendiri yang tidak tahan dengan perlakuan orang tuanya dikarenakan orang tuanya sering menyiksanya
• Pada waktu saat dimana vison berkeliling mencari korban lagi, dia menemukan seruling yang ditutupi oleh rumput laut di tepi pulau, dia meraih seruling itu dan mencoba memainkannya, vison memainkan seruling itu dengan baik dan tanpa ia sadari ia membuat sebuah nada lagu yang sangat tenang dan lembut, alunan seruling itu pun membuat vison hanyut dalam ketenangan dan kedamaian tanpa ia sadari hari sudah senja.
• "Hah..sudah senja sebaiknya aku pulang" ucap vison sembari membawa seruling itu pulang
• Dan setelah sesampainya di rumah vison meletakkan seruling itu di antara tengkorak kepala ayah dan ibunya, tengkorak itu ia sudah simpan selama 16 tahun, vison selalu membawa kedua tengkorak itu ketika ingin membunuh atau memutilasi korbannya, setiap dia melihat kedua tengkorak itu vison mengingat semua siksaan yang telah dilakukan orang tuanya kepada dirinya, dan seketika vison meluapkan kemarahannya itu kepada korbannya dan memotong,melobangi,dan menyayat badan korbannya secara membabi buta
• Setelah beres beres vison kemudian masuk ke sebuah ruangan dan duduk di satu kursi yang dimana posisi kursi tersebut berada di tengah tengah, dan bagian bawah kursi itu di penuhi darah yang sudah mengental dan ada juga yang sudah kering, vison kemudian mengingat seruling itu dan segera mengambilnya dan memainkan seruling itu di ruangan yang sama
• Kemudian vison melihat ada ukiran di seruling itu yang berwujud kakek tua dengan tongkat di tangannya, ia tidak memperdulikan ukiran itu, dan masih memainkan seruling itu
• "Aku...mmm, bisakah aku berhenti menjadi Psikopat, aku sudah bosan dengan kesendirian" ungkap vison memandangi seruling itu, dan yah, walaupun iya tau tidak akan ada balasan
• Tiba pada suatu hari vison keluar dari rumah untuk mencari apakah ada korban lagi, saat berjalan voson melihat dari kejauhan ada seseorang yang seperti kebingungan, vison kemudian mengeluarkan sebuah pisau dan berjalan kearah orang tadi,namun saat sudah dekat orang tersebut melihat vison yang menuju ke arahnya sembari membawa pisau
• "Hey!! Kau, apakah kamu terdampar juga sama sepertiku"
• "Ehh.." vison kaget baru kali ini ada seseorang yang melihatnya membawa pisau namun orang itu tidak lari atau pun berteriak
• Seketika vison menghampiri orang itu dan entah kenapa vison tidak membuhuh atau menusuk orang itu, padahal biasanya jika vison sudah berhadapan dengan seseorang ia akan langsung menusuk atau membunuh siapapun dia
• "Iya? Kenapa? Apakah kau terdampar" tanya vison dan masih pisau ituada di tangannya
• "Iya, aku terdampar kapalku bocor dan aku melihat pulau ini dan bermaksud singgah dan memperbaikinya" jawab orang itu dengan tenang
• Vison terdiam sejenak dan memandangi pisau ditangannya "andai aku mau, bisa saja aku langsung menusuk dahi orang ini" ucap vison dalam hati
• "Hey.. kamu dengar"
• "Ehh..iya maaf" kaget vison
• Mereka berdua pun berkenalan, dan seiring berjalannya hari Vison dan orang tadi bersama sama memperbaiki kapal yang bocor itu, dan kapal itu pun siap dan aman untuk digunkan lagi, orang itu berterimakah kasih dan mengajak vison untuk ikut dengannya ke kota(daratan yang di penuhi gedung)
• Namun vison berpikir sejenak dan meminta untuk orang itu menunggunya disini, sembari dia pulang kerumah dan menyiapkan barang barangnya
• "Sudah waktunya aku berenti menjadi psikopat, yang hanya tinggal sendiri dan sehariannya hanya mencari korban" ucap vison sambil mengemasi barang barangnya, tiba tiba ada seorang kakek tua memegang tongkat di tangannya dan berkata "inilah dirimu sebenarnya, ikutlah bersama kami di alam kedamaian dan ketengangan"
• Dan ketika mengemas barang begitupun seruling itu ikut di bawanya, ia sadar bahwa ukiran kakek di seruling itu telah hilang